Kening Vizena berkerut begitu dalam ketika matanya terpaku pada sebuah dokumen yang berada dalam pegangannya. Dia tidak tahu harus bereaksi gembira, lega atau justru sedih dan was-was. Dokumen itu merupakan surat keputusan yang berasal dari Dewan Pengawas Daratan Lima Negara.
Jika secara sekilas setelah membaca isi surat tersebut, Vizena harusnya lega. Luxorth terbebas dari tuduhan mengeksploitasi jalur utara dengan menaikkan bea pedagang. Tapi jika dipikir secara matang, Dewan Pengawas seolah sedang memberikan sebuah bom waktu pada semua negara.
Helaan nafas berat lolos dari mulut Vizena, bahunya melorot kebawah seolah-olah ia sedang memikul beban yang teramat berat di atas pundaknya. Vizena bersandar pada kursinya, menengadahkan kepalanya dan melihat ke atas, pada langit-langit istana. Pikirannya melayang jauh memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Gumamnya sembari mengangkat lengannya kemudian menutupi mata menggunakan lengannya tersebut.
Vizena benar-benar merasa sedang dalam persimpangan, saat ini dia sedang berusaha memulihkan stabilitas politik Luxorth, mencoba meraih kembali kepercayaan para menteri dan pejabat istana yang menentang dirinya. Selain itu, kekuatan militernya pun tak cukup kuat karena kehilangan dua jenderal besar mereka dalam waktu yang bersamaan. Jika ada peperangan, dia tidak akan mungkin bisa selamat.
"Jika kau berada disini, kira-kira nasehat apa yang akan kau berikan kepadaku." Vizena kembali bergumam, ingatannya mengenang sosok 'Tuan Dranis'-nya yang selalu muncul tiba-tiba dan pergi tanpa berpamitan.
Merasa jengah karena dilema menentukan keputusan yang tepat ini, Vizena akhirnya beranjak dari ruang kerjanya. Dia memilih untuk berjalan menyusuri jalanan istana, dan menimbang-nimbang keputusan terbaiknya.
Langkah kaki Vizena terhenti saat ia melewati tengah-tengah taman istana. Ia melihat sebuah batu besar, ia jadi teringat bahwa dirinya dulu sering kali bersembunyi di balik batu besar itu sekedar untuk melepaskan penatnya. Disanalah ia melihat Zaviest yang menyamar untuk pertama kalinya. Tanpa disadari oleh Vizena, sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman yang sangat samar.
Namun, senyum yang samar itu lenyap begitu saja. Saat bayangan Gard dan Eyster terlintas dalam benaknya, saat itu disinilah ia mendengar desas-desus tentang suaminya dan kakaknya itu untuk pertama kalinya secara langsung. Saat itu, dia begitu bodoh dan tak menyadari bahwa rumor yanh beredar itu benar adanya. Bukankah tidak akan ada asap jika tidak ada api?
"Satu detik tersenyum, detik berikutnya cemberut, apa yang anda pikirkan sebenarnya, Yang Mulia?" Suara berat nan serak itu mengusik lamunan Vizena dan memaksa Vizena untuk kembali ke dunia nyata secepat mungkin. Vizena menolehkan kepalanya ke samping. Tepat berada di sebelahnya, Trugeris berdiri dengan tangan di belakang punggungnya.
"Guru, kebetulan sekali bertemu di sini." Ujar Vizena.
"Mengapa kau selalu saja mengalihkan pertanyaan pada hal yang lain?" Ujar Trugeris.
"Sudah kebiasaan?" Vizena tertawa sumbang. Trugeris tahu, Vizena dulu merupakan seorang gadis yang sangat spontan. Hingga saat ini Trugeris masih memandang gadis itu dengan cara yang sama. Akan tetapi nampaknya keadaan telah merubah gadis cerianya itu.
"Anggap saja itu kebiasaan, jadi apa yang kau pikirkan?"
Trugeris sebenarnya bisa menebak apa yang ada dalam pikiran kepala Vizena yang kecil itu. Pastinya hal yang tidak jauh dari keputusan Dewan Pengawas. Di sisi lain, keputusan Dewan itu itulah yang membawa Trugeris pergi jauh-jauh ke Luxorth.
Vizena mengamati Trugeris untuk sesaat, dia tidak tahu apakah bisa mempercayai Trugeris atau tidak. Tapi dengan meminta Trugeris tinggal di Istana bukankah merupakan salah satu petunjuk bahwa dia percaya Trugeris berads di sekitarnya. Tapi...... Untuk masalah kerajaannya, dia belum bisa memastikan.
"Tidak nyaman berbicara disini? Mau ke kamarku? Kau benar-benar memberikanku tempat tinggal yang terbaik!"
"Anda adalah tamuku, Yang Mulia Kaisar." Balas Vizena dengan memutar matanya kesal. Trugeris terkekeh, sisi ini rupanya tak hilang dari Vizena. Ia sungguh mudah kesal.
"Jadi?"
Vizena menghela nafasnya secara perlahan, kemudian ia kembali menolehkan kepalanya lurus ke arah taman istana. Tatapannya terus terpatri pada batu besar tempatnya sembunyi itu.
"Jadilah aliansiku." Ucap Vizena dengan tiba-tiba. Bukan itu jawaban yang dikira oleh Trugeris. Dalam benaknya ia mengira mungkin Vizena akan menceritakan masalah yang sedang dihadapinya, bukan menawarkan kerja sama.
"Kusala sangat ahli dalam beraliansi, apakah aku harus memanggilnya?"
"Apa tujuanmu kemari, Guru?" Tentu saja Vizena tak lagi seorang gadis yang naif dan bodoh. Setelah pengamatannya mulai dari pertemuan mereka kembali, Vizena telah merasa Trugeris memiliki tujuannya sendiri. Jika tidak, mengapa seorang penguasa dari kerajaan Thymur repot-repot datang ke negara tetangga sendirian? Untuk menemui mantan muridnya? Memberikan selamat atas penobatan?
Omong Kosong.
"Tujuanku kemari adalah," Trugeris menimang-nimang ucapannya, sesaat kemudian sebuah senyuman terukir di wajahnya yang tampan. "Kau, Vizena."
°°°°°°
Semua kacang polong yang biasanya menjadi kesukaan Vizena saat makan kini tersisih dari piring Sang Kaisar. Sementara pemilik piring itu tanpa sadar dengan tatapan kosongnya terus menyingkirkan kacang polong itu. Sesekali ia bergumam tidak jelas, lalu di detik berikutnya wajahnya memerah seolah ia sedang malu, kemudian setelah itu ia akan menenggelamkan semua wajahnya di lengannya. Entah sudah berapa lama ia melakukan hal semacam itu. Hingga Ariah yang tidak tahan dengan tingkah Vizena akhirnha menepuk pundak Vizena dengan pelan.
"Ada apa?!" Pekik Vizena yang terkesiap karena terkejut dengan tepukan Ariah. Ia menatap Ariah dengan penuh tanda tanya.
"Kasihan sekali semua kacang polong ini, lihatlah Yang Mulia," ujar Ariah sembari menunjukkan kacang polong yang tersisih dari piring Vizena. "Mereka disingkirkan dengan begitu kejamnya." ujar Ariah dengan nada mendramatisir.
"Kenapa bisa begini?!!" Vizena memekik terkejut, dengan buru-buru ia mengembalikan semua kacang polong itu ke dalam piring dan beberapa ke mulutnya sendiri. Melihat tingkah Vizena yang seperti dulu, hati Ariah menghangat.
"Mengapa tidak memberitahuku." Gerutu Vizena sembari terus membersihkan meja.
"Saya sudah berusaha memberitahu, tapi sepertinya lamunan anda sangat indah. Tentang siapa itu? Tuan Dranis?" Celoteh Ariah dengan panjang lebar.
"Bukan," balas Vizena dengan suara yang lirih. Dia memang memikirkan seorang pria, tapi bukan Zaviest, melainkan pria lain. Tapi, bukan berarti ia memikirkannya dengan cara yang romantis.
"Lantas, siapa, siapa yang berhasil membuat wajah anda memerah seperti itu, Yang Mulia?" Ariah begitu penasaran. Karena setahu dirinya, sampai detik ini hanya Zaviest yang berhasil membuat Vizena merona dan melamun seperti yang baru saja terjadi.
Pintu ruang makan Vizena diketuk, Ariah segera membukanya. Rupanya Perdana Menteri sekaligus kakeknya yang hendak menemuinya.
Tak luput dari pengamatan Theriaz bahwa Vizena tidak memakan makanannya dengan benar. Kali ini ia melihatnya sendiri, ada banyak kacang polong yang tercecer di ruang makan.
"Kakek, apa kabarnya dirimu. Aku sangat merindukanmu." Vizena segera bangkit dari meja makannya. Ia berhambur ke pelukan Theriaz. Tangan Theriaz mengusap rambut Vizena hingga ke punggungnya, memberikan kehangatan pada sang cucu yang kini menjadi seorang pemimpin di negaranya.
"Cucuku, kau sudah sangat dewasa. Kau bisa mengatasi masalahmu dengan sangat baik." Theriaz memuji dengan sungguh-sunguh. Vizena mendongakkan kepalanya, lalu ia sedikit memberikan jarak antara dia dan Theria,.
"Tentu, aku punya guru yang terbaik." Balas Vizena.
"Tapi setelah ini, kau harus menjadi kebih dewasa dan kuat menghadapi semua kemungkinan yang terjadi."
"Apa Kakek mengetahui sesuatu?"