61. Preparing

1507 Words
"Apa Kakek mengetahui sesuatu?!" Dalam benaknya, Vizena terus teringat akan pembicaraannya dengan sang kakek tadi malam. Theriaz sudah mengetahui tentang keputusan dari Dewan Pengawas, itulah sebabnya dia datang untuk menemui Vizena dan membicarakan langkah mereka selanjutnya dalam mengatasi kemungkinan terburuk yang akan datang di masa depan. Ada beberapa hal yang diajukan oleh Theriaz, pertama-tama Vizena harus segera mengakhiri protes yang ditujukan padanya dan memenangkan hati para pejabat dan menteri. Masalahnya, Vizena merasa telah kehabisan akalnya. Tidak tahu lagi apa yang bisa ia lakukan untuk memenangkan hati pejabat yang memprotesnya. "Lagi-lagi anda melamun sendirian disini, Yang Mulia." Suara Trugeris membuyarkan angan-angan Vizena. "Guru," Vizena menangguk samar untuk memberikan hormat. Sungguh, dirinya sedang gelisah untuk saat ini. Dia butuh menjernihkan pikirannya. "Apa orang-orang diluar gerbang itu masih mengusik pikiranmu?" Tanya Trugeris. Mata Vizena terbuka lebar, dia tak percaya jika Trugeris bisa membaca pikirannya, seolah-olah itu tertulis di dahinya saja. "Ba-bagaimana—" "Aku melihat Perdana Menteri Theriaz keluar dari kamarmu kemarin. Aku pikir dia pasti membicarakan keputusan Dewan Pengawas." Terang Trugeris. Vizena menghela nafas panjang, membenarkan ucapan Trugeris. Kemudian pandangannya kembali pada taman. Dia masih belum menemukan solusinya. "Berikan saja penawaran bagi mereka yang menentangmu." Trugeris berkata lagi, kini dirinya juga memandang ke arah yang sama dengan Vizena. Tentu saja sebagai seorang Kaisar dia juga pernah menghadapi hal yang serupa dengan apa yang di alami oleh Vizena. Tidak semua orang di Istana menyukai pemimpin mereka, hal tersebut terjadi dimana saja. "Penawaran?" "Mereka pasti memiliki tujuan politik, berikan saja itu." Vizena mendesah, dia juga mengetahuinya dengan pasti. Tapi karena itulah dia tidak melakukan 'penawaran' seperti yang dikatakan oleh Trugeris. Hal itu rasanya hanya akan melemahkan kedaulatannya sebagai seorang Kaisar Wanita. "Tahtamu akan aman, dan kau tidak akan terlihat lemah. Jika penawaran itu berhasil di sepakati, mereka akan menganggapmu sebagai lawan yang kuat." Ujar Trugeris lagi. Dia benar-benar mengerti kegelisahan yang sedang di alami oleh Vizena. "Kurasa itu adalah ide yang bagus." Gumam Vizena lirih, dia tidak yakin apakah akan berhasil, tapi mungkin ia akan mencobanya. "Lalu bagaimana dengan penawaranku?" Tanya Trugeris, pertanyaan yang memicu batuk tak terduga dari Vizena. Hampir saja Vizena melupakan tentang ucapan Trugeris tempo hari. Bahwa tujuan Trugeris ke Luxorth semata-mata untuk Vizena, dia begitu menginginkan Vizena. Hari ini Trugeris kembali menanyakannya, membuat beban dalam hati Vizena menjadi lebih berat. "Itu, aku, itu, bagaimana, aku," Vizena tiba-tiba saja menjadi gugup. Dia tak bisa hanya berdiri dengan tenang. "Bersama denganku dan aku akan mendukungmu dengan penuh. Tak perlu lagi takut dengan ancaman perang dari Narth." 'Aku ingin anda memiliki mimpi yang sama dengan saya' sebuah suara tiba-tiba menghantam pikiran Vizena. Suara dari masa lalunya, diucapkan oleh seorang pria yang selalu datang dengan cara yang tak biasa dan sering kali pergi tanpa berpamitan. Vizena tak mengerti mengapa dia mengingat hal itu di saat seperti ini. "Jangan terburu-buru memikirkannya, aku punya banyak waktu. Saat ini kau selesaikan saja tugasmu." Ujar Trugeris sembari menepuk kepala Vizena dengan lembut lalu beranjak pergi dari tempat tersebut. Vizena yang merasa bingung, memandangi kepergian Trugeris. Melihat bahu lebarnya menjauh lalu menghilang karena berbelok. Vizena mendengus kesal sembari menyentuh puncak kepalanya. "Aku harap dia tidak sungguh-sungguh," gumam Vizena. "Tapi apa sebenarnya maksud guru? Dia menginginkanku sebagai apa?" °°°°° Di luar kediaman Pangeran Moscha, kaki Dranis tak bisa dihentikan. Dia sudah mondar-mandir sejak datang ke tempat tersebut dan menunggu Pangeran mempersilahkannya masuk. Seketika saat pelayan pangeran membiarkannya masuk, ia buru-buru berjalan memasuki kediaman tersebut dan mencari keberadaan Pangeran. Sang Pangeran yang dia cari rupanya sedang memainkan permainan di teras paviliunnya seorang diri. Ada perasaan kesal di hati Dranis, karena dia merasa bahwa Pangeran Moscha sudah kehilangan rasa persaudaraan. Bagaimana tidak, beberapa hari setelah mendapatkan surat dari Dewan Pengawas, Zaviest terlihat sangat berbeda dari biasanya. Sisi baiknya, dia rajin menjalani rituak pengobatan dengan Tetua Penyihir.Tapi sisi buruknya, dia menjadi sangat gila kerja dan berlatih serta ia sendiri yang melatih pasukan militernya. Pagi hingga siang dia begitu serius di persidangan rutin, lalu setelah itu ia kembali ke ruang kerjanya dan mengerjakan semua laporan dan masalah, dia memaksa semua pejabat juga ikut bekerja keras bersamanya. Lalu siang hingga sore harinya, Zaviest akan berlatih bela diri di ruang latihan pribadinya. Dia tidak akan keluar selama berjam-jam dan berlatih terus menerus. Belum sempat Zaviest beristirahat, dia akan pergi ke kamp pasukan militer. Bersama-sama dengan para jenderal besae dia melatih sendiri pasukan itu, memastikan bahwa setiap pasukan melakukan latihan dengan benar. "Salam pada Pangeran Moscha." Ujar Dranis pada Moscha yang sibuk bermain. "Kau disini Dranis, mau bermain?" Tanya Moscha. "Ini bukan waktunya bermain, Yang Mulia." Desah Dranis. "Lantas waktunya apa, kau selalu saja datang membawa berita buruk." Gerutu Moscha. "Hari ini aku hanya ingin mengeluh, Yang Mulia. Jika bukan pada Anda, pada siapa lagi? ujar Dranis kemudian ia duduk diseberang Moscha. Seketika itu Moscha mendongakkan kepalanya untuk melihat Dranis yang terlihat frustasi dan putus asa. "Apa kakakku menyiksamu?" Tanya Moscha, dia tahu hal itu tak mungkin terjadi. Zaviest terlalu baik pada orang sekitarnya, tapi sifat kejahilannya tak ada bandingannya di dunia ini. Jadi pantas saja jika Dranis harus sering mengusap dadanya mengatasi tingkah jahil Zaviest. "Anda harus melihatnya sendiri, Yang Mulia." Ujar Dranis "Apa yang harus aku lihat? Raja? Untuk apaaaa?! Aku bosan melihat wajahnya itu." Keluh Moscha. "Kali ini berbeda, Anda pasti akan terkejut, Yang Mulia." Alis Moscha terangkat secara refleks, nuraninya sedikit tertarik dengan ucapan Dranis. Jika Dranis terlihat begitu frustasi ini menandakan bahwa memang ada perubahan besar dalam diri Zaviest. Moscha memang tidak begitu peka, meski melihat kakaknya setiap pagi pada persidangan rutin, dia tidak begitu memperhatikan adanya perubahan itu. Hanya saja, Zaviest tidak lagi keluar persidangan sebelum hal itu selesai. "Baiklah, tunjukkan padaku." Keduanya segera pergi, Dranis mengajak Moscha pergi ke ruang latihan pribadi milik Zaviest. Keduanya melihat dari kejauhan aktifitas yang dilakukan oleh Zaviest. Sekilas tidak ada yang salah dari latihan yang dilakukan oleh Zaviest itu. Akan tetapi, semakin lama Moscha mengamati maka akan terlihat jelas jika Zaviest bergerak secara membabi buta. Terus menerus menyerang musuhnya, hingga kadang lawan berlatihnya harus terjatuh ke tanah. Terus begitu, sampai Moscha akhirnya melompat ke dalam arena latihan, diam-diam dia mengambil sebuah pedang lalu berlari ke arah dua orang yang masih beradu pedang dengan ganasnya. Pada gerakan terakhir Zaviest, ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi lalu mengayunkannya dengan keras. Saat itu, Moscha datang dan menahan pedang milik Zaviest dengan pedangnya. Moscha meminta lawan berlatih Zaviest untuk segera pergi. "Apa yang kau lakukan?!" Desis Zaviest. Tampak sekali dalam tatapan mata emas Zaviest, emosi itu bergejolak dan hampir tak terbendung lagi. Keringatnya mengucur deras membasahi seluruh wajah dan tubuh Zaviest. "Kakak! Ayo sekarang kau harus melawanku!" Ujar Moscha. Helaan nafas keluar dari mulut Sang Raja, lalu Zaviest menarik pedangnya dan membantu Moscha untuk berdiri dengan benar. "Mengapa menggangguku berlatih, apa kau bosan bermain?" Tanya Zaviest lagi. Sesaat kemudian pandangan matanya menangkap sosok Dranis tak jauh dari sana. Saat itu juga ia bisa menebak, alasan Moscha kemari adalah Dranis. "Mengapa berlatih begitu keras?" Tanya Moscha. "Kurasa aku harus mengganti Dranis dengan pelayan lain." Kata Zaviest tidak sungguh-sungguh. "Hanya dia yang memahamimu, kak. Dia sangat khawatir tentangmu." Zaviest tak memberikan balasan, ia kemudian berjalan ke samping dan menyimpan kembali pedangnya. Moscha mengekor di belakang Zaviest, lalu ikut menyimpan pedang yang tadi ia ambil. "Sebenarnya kenapa kau menyiksa diri seperti ini?" Tanya Moscha. "Baju Zirah ini sangat ringan, tapi sangat aman. Apa kau mau satu? Akan ku minta pembuatnya membuatkan satu untukmu." Ujar Zaviest berusaha mengalihkan perhatian Moscha. "Tentu saja aku mau!" Moscha memang mudah dipengaruhi, dan Zaviest pandai memanfaatkan kelemahan adiknya yang satu ini. "Jadi apa alasannya?" Rupanya kali ini Moscha tidak sebodoh biasanya. Dia masih ingin mengetahui apa alasan Zaviest menghabiskan semua waktunya dengan bekerja keras, berlatih tanpa kenal lelah dan mengawasi seluruh pasukan. Kesekian kalinya Zaviest menghela nafasnya. Kali ini sepertinya dia tak bisa lolos dari cercaan Moscha. Jika ia bisa menghindar hari ini, bukan jaminan jika Dranis mungkin malah akan melapor pada Ibu Suri Agung. "Pernikahan Remeus." Jawab Zaviest dengan singkat. "Ada apa dengan pernikahan Kakak Ke-Tiga?" Tanya Moscha. Beberapa hari setelah mendapatkan surat dari Dewan Pengawas, Zaviest juga menerima surat yang lainnya. Surat yang di tulis oleh tangan gemuk Tarda, mereka memberikan laporan bahwa kejahatan korupsi pada kota yang mereka kunjungi sudah teratasi, pejabat yang terkait sudah dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku di Sholaire. Selain daripada berita tersebut, Tard menuliskan bahwa meminta Raja untuk memberikan restu dan pesta pernikahn untuk Remeus. Pangeran Ke Tiga dari Sholaire itu telah menemukan pujaan hatinya dan berniat melangsungkan pernikahannya di Istana. Moscha merapatkan mulutnya dan bergumam kesal pada dirinya sendiri setelah menyadari kesalahannya. Tentu saja Raja akan merasa kesal, dirinya sendiri belum menikah tapi malah harus menikahkan orang lain di istananya pula. "Aku iri dengan Remeus, seharusnya aku juga membawa Vizena ke Istana." Jawabnya dengan kepala menunduk lalu ia berjalan pergi meninggalkan Moscha yang merasa sangat bersalah pada Zaviest. Setelah kepergian kakaknya, Moscha menghampiri Dranis yang cemas menantikanannya. "Bagaimana Yang Mulia? Anda berhasil meminta Raja untuk mengurangi kegiatannya?" Moscha mengangkat bahunya, "Raja mengatakan akan menggantikan posisimu sebagai pelayan pribadinya." Ujar Moscha berbohong pada Dranis. "Apa? TIDAAAK!" Pekik Dranis histeris. "Tidak! Itu tidak mungkin!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD