Ini sudah hampir setengah hari tapi Vizena belum mengalihkan tatapannya dari sebuah lampu yang terbuat dari kayu dengan lapisan kertas di semua bagian sisinya. Pada bagian kertasnya terdapat sebuah lukisan, jadi jika dinyalakan saat malam hari lampu itu akan berputar dengan gambar yang ada pada kertasnya menjadi bayangan besar dapat menghiasi dinding kamar.
Bukan itu yang membuat Vizena terus memandangi lampu itu sepanjang pagi ini sejak ia bangun tidur. Melainkan makna dari lampu itu, ia bahkan belum menyalakan lampunya. Karena semua ucapan dari 'Si Pengawal Negara Asing' itu terus terngiang-ngiang dan membuatnya sedikit takut.
'Semoga anda memiliki mimpi yang sama dengan saya.'
Seperti yang dikatakan oleh pria itu pemilik permainan itu, bahwa lampu itu biasanya diberikan kepada seorang pria pada kekasih hatinya. Sedangkan pengawal itu bukanlah suaminya, mengapa repot-repot memberikan lampu ini padanya. Apakah ia menganggap serius ucapan pria pemilik permainan itu, atau dia hanya memberikannya dengan maksud yang lain.
Jika dia menganggap ucapan pria pemilik permainan itu, sudah jelas itu tidak mungkin. Status Vizena saat ini adalah isteri seorang Jenderal, dia telah bersuami. Lalu mungkin saja dia bermaksud lain.
'Ya, mungkin saja dia bermaksud lain." Vizena terus meyakinkan dirinya sendiri.
Namun,
Setiap kali hatinya merasa yakin, saat itu juga runtuh ketika ia selalu terbayang-bayang wajah pria itu, perlakuan pria itu, sikapnya saat mencium tangannya yang cacat, caranya tersenyum yang membuat matanya berkerut tapi tak mengurangi kadar ketampanannya, selain itu, aroma tubuhnya yang hanya dimiliki oleh dirinya seorang.
Kepala Vizena digelengkan dengan kuat-kuat untuk mengenyahkan bayangan pria itu dari benaknya. Dia tidak boleh memikirkan pria lain di saat dirinya sendiri sudah bersuami. Apalagi orang itu bahkan bukan berasal dari negaranya sendiri.
"Apa yang kulakukan, mengapa malah memikirkannya." Vizena menggerutu kesal.
"Yang Mulia! Yang Mulia!" Ariah berlarian kecil ke kamarnya, seolah dia sedang terburu-buru.
Alis Vizena terangkat, ia menegakkan punggungnya, segera berbalik untuk melihat Ariah. Gadis itu memang tampak terburu-buru.
"Ada apa sebenarnya?"
"Itu, pengawal dari Sholaire, Yang Mulia."
"Mereka sudah akan berangkat untuk kembali?!" Pekik Vizena, belum sempat Ariah menjawab Vizena sudah berlari lebih dulu keluar dari kamarnya sampai lupa bahwa ia tidak menggunakan alas kakinya.
Vizena mengerahkan seluruh tenaga pada kakinya agar ia bisa berlari secepat mungkin. Dia tidak ingin menahan pengawal itu, hanya ingin menanyakan maksudnya memberikan lampu itu dan setidaknya mengucapkan selamat tinggal. Ya, hanya itu niat hatinya.
Setelah berlarian sepanjang teras rumahnya hingga menuju pintu depan rumah, mendadak langkah Vizena terhenti begitu saja. Sesosok pria tinggi sedang berdiri menyamping dengan seekor burung berada ditangannya tepat berada di antara halaman rumahnya dan pintu depan. Dengan nafasnya yang tersengal-sengal itu, Vizena mendekati pria itu.
Ketika jarak mereka sudah lebih dekat, pria itu menoleh padanya dengan senyuman lebar diwajahnya yang menarik kulit-kulit disekitar pelipis hingga mengerut. Disisi lain, Vizena berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah, dengan menyincingkan ujung roknya ia berjalan lebih mendekat lagi. Semakin dekat, hingga Vizena bisa melihat mata keemasan milik pria itu.
"Tuan Dranis, kau disini?" Tanya Vizena dengan kepala mendongak untuk menatap wajah Zaviest.
Tidak ada jawaban dari Zaviest, tapi tiba-tiba saja dia berjongkok dihadapan Vizena sementara burung yang tadi bertengger ditangannya beralih ke bahu lebar Zaviest. Seketika Vizena mundur satu langkah, tapi Zaviest malah mengulurkan tangannya untuk menyentuh kakinya.
"Apa yang kau lakukan, Tuan Dranis?" Tanya Vizena dengan mengerutkan keningnya.
"Bagaimana anda bisa berlarian tanpa alas kaki." Balas Zaviest, sembari membersihkan kaki Vizena secara bergantian kanan dan kiri.
"Aku, aku," Vizena bingung harus menjawab apa. Dia berlarian karena mengira mungkin Zaviest akan segera pergi. Namun tidak mungkin baginya untuk mengatakan alasan yang sebenarnya, itu hanya akan menambah kesalah pahaman.
"Anda sangat tidak sabar untuk bertemu denganku ya?" Zaviest kemudian berdiri. Sesaat ia melihat sosok Ariah berdiri tak jauh dari mereka dan, tersenyum, "Nona Ariah, tolong ambilkan sepatu Puteri Vizena."
Wajah Vizena pun memerah menahan malu, untung saja dia tidak sampai keluar dari tempat tinggalnya atau dia akan menjadi bahan tertawaan di seluruh istana. Kebetulan saat itu Ariah datang membawa sepatu dan mantel miliknya, Vizena pun menyadari bahwa dia masih mengenakan pakaian tidurnya yang tipis dan berwarna putih. Rasanya ia ingin sekali kembali berlari ke kamarnya, dan membenamkan kepalanya di bantal.
"Akhir-akhir ini angin cukup kencang, Anda akan terserang sakit jika keluar dengan pakaian setipis ini." Ujar Zaviest, lalu mengambil mantel yang di bawa oleh Ariah dan memasangkannya di bahu Vizena. Sementara Vizena hanya bisa memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan pipinya yang merona.
Setelah memasangkan mantel, Zaviest mengambil sepatu kemudian berjongkok lagi. Ia meraih kaki putih Vizena dan memasangkan sepatu itu di kaki Vizena. Melihat perlakuan Zaviest yang lembut pada tuannya, Ariah tersenyum begitu lebar. Ia tahu ini bukan saatnya mengganggu, lalu ia pun segera beranjak pergi.
"Terimakasih," kata Vizena dengan suara yang lirih.
Zaviest bangkit untuk berdiri, ia menatap wajah Vizena yang berpaling darinya. Senyum tipis kembali mengembang di wajah Zaviest, ia tahu bahwa Vizena sedang merasa malu.
"Saya kemari untuk mengucapkan selamat tinggal." Kata Zaviest membuka percakapan di antara mereka.
Akhirnya Vizena pun menoleh dan menatap Zaviest, meski berusaha dengan keras ia mampu mengontrol perasaannya sendiri.
"Jadi begitu, baiklah. Kau memang harus segera kembali ke Sholaire." Begitu ucap Vizena, terdengar ada nada kecewa dalam tiap kalimatnya yang terlontar itu.
Memang Vizena merasa kecewa dan sedih, ia sudah mulai terbiasa dengan keberadaan Zaviest, mereka selalu bertemu pada saat dan tempat yang tidak terduga, selain itu selalu muncul dengan tidak biasa.
"Hanya itu yang ingin anda katakan?" Tanya Zaviest.
"Apa?!"
Zaviest kemudian terkekeh, sangat menyenangkan bisa melihat raut wajah kesal Vizena.
"Kenapa kau tertawa, Tuan Dranis? Tidak ada yang lucu." Vizena mendengus kesal. Tapi sesaat kemudian, burung yang bertengger di bahu Zaviest terbang dan mendarat di kepala Vizena, tawa Zaviest pun semakin kencang.
"Lihatlah, bahkan Feiry pun menyukaimu Puteri." Decak Zaviest. Ia mengulurkan tangannya untuk mengambik Feiry dan burung itu menurut.
"Sepertinya burung ini tidaklah asing." Kata Vizena sembari mengamati burung yang kini dengan santainya bertengger di lengan Zaviest.
"Benarkah, apakah burung seperti ini cukup banyak disini?"
Vizena menggeleng, ia mencoba mengingat dan akhirnya ia menyadarinya. Burung berbulu perak yang selalu datang padanya ketika suasana hatinya buruk. Tapi Vizena masih tidak tahu, apakah burung itu adalah burung yang sama dengan yang kini ada dihadapannya, karena sudah lama burung itu tidak datang padanya.
"Berarti bisa jadi itu adalah Feiry, dia suka bepergian jauh." Kata Zaviest sembari mengusap-usap bulu kepala Feiry.
"Aku pikir dia tidak memiliki tuan." Kata Vizena sembari mengusap bulu kepala Feiry. Burung itu tampak begitu menyukai sentuhan tangan Vizena.
"Anda ingin jadi tuannya?"
Mata lembayung Vizena melebar, dia tidak menyangka Zaviest akan melepaskan burung itu begitu saja.
"Atau, aku bisa mengirimnya kemari lebih sering." Imbuh Zaviest.
"Dia akan kelelahan jika harus melakukan perjalanan jauh kemari."
"Tapi dengan begitu kita bisa tetap saling memberi kabar, aku bisa mengirimkan surat melalui Feiry." Zaviest tersenyum ketika mengatakan hal itu.
Deg deg
Deg deg
Deg deg
Jantung Vizena berdebar lebih kencang. Gagasan berkirim surat itu tidak pernah terpikir olehnya. Tatapan matanya tepat mengarah pada iris emas milik Zaviest, meski mengatakan hal itu dengan senyum yang terkesan main-main itu, tapi mata Zaviest mengatakan sebaliknya.
"Aku tidak mengharapkan balasan." Kata Zaviest saat melihat Vizena tidak memberikan reaksi apapun padanya, "tentu akan sangat baik jika Puteri membalasnya kelak, tapi sebenarnya itu hanya keinginanku jadi Anda tidak perlu memikirkannya."
"Kita akan lihat saja nanti, apakah aku akan membalas atau tidak." Jawab Vizena.
Jika Vizena tidak ada di hadapannya saat ini maka Zaviest pasti sudah pasti melompat kegirangan. Setidaknya dia memiliki harapan bahwa akan mendapatkan balasan. Tapi, Zaviest hanya memasang senyum lebih lebar lagi.
"Baiklah!" Ujarnya, "sepertinya saya harus segera pergi." Mengatakan hal itu rupanya membuat hati Zaviest terasa seperti diremas sampai tak berbentuk. Dirinya ingin tinggal disisi Vizena lebih lama lagi, entah kesempatan seperti ini akan dia dapatkan lagi atau tidak di masa yang akan datang. Tapi tanggung jawab sudah menantinya, ia harus segera kembali.
Vizena menganggukkan kepalanya, hatinya terasa berat untuk mengatakan salam perpisahan. Ia merapatkan lagi mantelnya, lalu tersenyum kearah Zaviest.
"Terimakasih untuk lampu itu." Hanya itu yang mampu dikatakan oleh Vizena.
Sementara dalam hati Zaviest ada gejolak penolakan saat ia akan berbalik dan berjalan pergi, hingga membuatnya terus terpaku di tempatnya sembari memuaskan matanya untuk memandangi kecantikan yang ada di depannya, ia ingin otaknya menyimpan baik-baik gambaran wajah indah milik Vizena.
"Sampai jumpa Puteri, jaga diri anda baik-baik." Kata Zaviest, ia mengangkat tangannya untuk melambai, lalu berbalik dan beranjak pergi.
Vizena pun melambai rendah pada Zaviest. Ia melihat punggung Zaviest menjauh. Tapi baru beberapa langkah Zaviest berjalan ia berbalik, lalu berlari kearah Vizena, dan berhenti tepat di hadapan Sang Puteri. Memandangnya untuk sesaat lalu dengan lengan lebarnya ia mendekap tubuh kecil yang rapuh itu.
Pelukan itu cukup lama, Vizena bimbang harus membalas pelukan itu atau tidak. Pada akhirnya tangan Vizena melingkar pada pinggang Zaviest.
"Kita akan bertemu lagi." Bisik Zaviest. Lalu sebuah asap berwarna keemasan menyelubungi tubuhnya dan membuatnya menghilang, dan Vizena hanya memeluk kehampaan.
Senyum tipis terukir diwajah Vizena, dia tidak pernah bisa menebak jalan pikiran pria itu.
"Dia tidak akan menggunakan cara biasa untuk datang, mustahil dia akan menggunakan cara biasa untuk pergi."
°°°°°
Dalam ruangan yang agung itu begitu suram dan tak seperti istana pada umumnya itu, tubuh Eyster gemetar dengan cukup hebat. Ia telah berlutut di tempatnya saat ini sudah hampir satu hari satu malam. Wajahnya begitu pucat karena ia tidak diberi makan atau pun minum.
Eyster tidak mengetahui mengapa ia dibawa ke tempat ini. Sepengetahuannya, tempat ini merupakan tempat yang biasa digunakan oleh Kaisar untuk menginterogasi seorang penjahat. Lantas mengapa dirinya yang dibawa kemari, ia pun tidak tahu alasannya. Karena setelah dibawa, tidak seorang pun menemuinya. Hanya saja, pengawal yang membawanya memaksanya untuk berlutut, setelah itu ia ditinggal begitu saja.
Kriiieeeeet
Suara pintu terbuka, Eyster tetap bergeming ditempatnya. Sebuah langkah kaki melangkah ke arahnya dengan perlahan. Meski ada rasa takut dalam hatinya, ia berusaha tidak menunjukkannya. Walaupun tubuhnya gemetar karena semakin lemas.
"Kau pikir, aku tidak tahu apa yang telah kau perbuat?" Mendengar orang yang masuk itu berbicara, mata Eyster seketika terbuka dengan lebar, ia pun memutar tubuhnya sehingga berbalik ke belakang.
Bukan hanya Kaisar Mouszac yang tengah berdiri disana, akan tetapi adiknya Jovach berdiri disamping Kaisar dengan wajah iba.
"Kakak." Jovach bergumam.
"Jovach, bagaimana kau bisa kemari?" Eyster hendak berdiri tapi kakinya terlalu sakit untuk berjalan, tubuhnya kembali roboh ke lantai yang kotor itu.
"Apa kau sudah merenungkan semua kesalahanmu, Eyster?"
"Ayahanda! Kesalahan apa yang aku lakukan? Aku dibawa dengan paksa kemari."
Kaisar Mouszac mengerutkan keningnya. Cukup merasa heran dengan Eyster yang tidak merasa bersalah sedikit pun.
"Jovach kemari untuk menggantikan hukumanmu." Kata Kaisaer dengan nada yang kaku. Mata Eyster menatap Jovach sembari menggeleng, ia tidak akan bisa melihat adiknya menderita menggantikan dirinya sendiri.
Dengan kekuatan yang tersisa, Eyster merangkak pada Kaisar. Tangannya meraih ujung jubah milik kaisar, tangisnya meleleh dipipinya. Dia mendongak dan memohon pada Kaisar untuk membebaskan Jovach.
"Biarkan Jovach pergi, Yang Mulia! Saya, saya aku menanggung semuanya! Meski tidak tahu kesalahan apa yang telah ku perbuat, aku rela dihukum."
"Keras kepala!! Sudah membahayakan banyak nyawa kau masih mengelak dan merasa tak bersalah?"
Jovach yang merasa tidak tega, akhirnya berlutut dihadapan kakaknya. Ia menyentuh bahu Eyster.
"Kakak, meminta maaflah pada Ayahanda. Dengan begitu kau akan dibebaskan." Kata Jovach.
"Bahkan adikmu lebih mengerti." Ujar Kaisar dengan dingin, lalu berbalik memunggungi Jovach dan Eyster.
"Aku meminta pada Hakim Agung untuk menyembunyikan kebenaran bahwa kau adalah dalang dibalik p*********n waktu itu, tapi aku tidak bisa tinggal diam karena kau sudah membahayakan kerajaan dan utusan negara lain." Tutur Kaisar dengan nada dingin yang sama.
Eyster sangat terkejut. Dia telah salah menduga, awalnya ia berpikir bahwa sangat beruntung karena Hakim Agung mengumumkan hasil yang salah. Tapi kini dirinya tahu, bahwa ssmua itu hanyalah permainan Kaisar. Kedua tangan Eyster terkepal pada sisi tubuhnya. Meski sudah tertangkap basah, ia tidak akan menyerah.
"Apa dengan aku mengakuinya, anda akan membebaskan Jovach dari hukuman ini?"
"Aku tidak perlu kau mengakuinya, karena memang kaulah pelakunya!" Hardik Kaisar.
"Itu adalah kesalahanku, Yang Mulia." Akhirnya Eyster mengatakannya, tapi rasa dongkol dalam hatinya malah berakar dengan kuat.
"Apa kau tahu karena kau, Lima Negara hampir berperang?"
Eyster tidak bisa mengatakan apapun atau membela dirinya. Jika Kaisar sudah mengetahui rencananya yang gagal itu, berarti semua bukti hanya mengarah padanya. Lagipula membela diri pada saat seperti ini sangat mustahil, dia juga harus memikirkan Jovach yang tidak mengerti apapun tentang rencana ini dan menyelamatkan dari temlat terkutuk ini.
"Dengan siapa kau bekerja sama hingga berani melakukan semua ini?" Tanya Kaisar.
"Aku melakukannya atas kemauanku sendiri."
"Eyster!" Kaisar sangat marah, ia berbalik dan matanya tajam menatap Eyster.
"Sudah kukatakan, aku bekerja sendiri!"
Kaisar menghela nafasnya dengan kasar. Dia tahu dengan cara seperti ini tak akan bisa membuat Eyster membuka mulutnya untuk menyebutkan satu nama. Jika Eyster mengatakannya, bisa dipastikan orang itu tidak akan pernah selamat dari cengkraman Kaisar Mouszac.
"Baiklah," Kaisar menekuk kakinya lalu berjongkok dihadapan Eyster, lalu mengusap rambut cokelat Eyster yang bergelombang itu dengan lembut, "anggap saja kau melakukannya, kita akan melupakannya, dan kau berjanjilah padaku bahwa hal semacam ini tidak akan terjadi lagi."
Jari-jari Eyster terkepal dengan sangat erat hingga ruas jari-jarinya memutih. Dia menggigit bibir bagian dalamnya, lalu mengangguk dengan patuh. Melihat reaksi Eyster, Kaisar cukup puas. Lalu ia mencium puncak kepala anaknya itu.
"Jovach, kau bersiaplah untuk pergi ke perbatasan barat." Ucap Kaisar sembari berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
"Kaisar! Anda tidak bisa melakukan ini!!" Teriak Eyster. Ia hendak berjalan menyusul Kaisar, tapi tubuhnya di dekap oleh Jovach dengan erat.
"Lepaskan aku Jovach!" Ia meronta tapi Jovach jauh lebih kuat darinya.
"Kakak! Jangan bertindak gegabah!"
"Dia! Ini tidak adil, bagaimana dia bisa mengirimu ke perbatasan?!"
"Lebih baik aku pergi ke perbatasan, daripada melihatmu terkurung di tempat yang gelap ini."
Eyster berhenti meronta, ia kemudian jatuh ke dalam pelukan adiknya. Amarahnya terpendam, tapi tangisnya meleleh diwajahnya.
"Ini semua karena Vizena!" Desisnya. Kebencian dan amarah Eyster begitu menancap dihatinya.
.
.
.
::Bersambung::