22. Come With Me

1868 Words
"Mengapa Kaisar begitu tidak adil?" Langkah kaki Vizena terhenti tepat sebelum ia masuk ke dalam kamar Eyster. Di tangannya ia memegang sebuah nampan dengan mangkuk di atasnya yang mengepulkan asap tipis. Tadinya ia akan menjenguk Eyster yang dikabarkan jatuh sakit, Vizena telah meminta Ariah untuk membuatkan satu mangkuk sup kacang polong kesukaan Eyster. Akan tetapi sebuah suara yang begitu dikenal Vizena membuatnya berhenti untuk masuk. Bukan ingin mencuri dengar, tapi tubuhnya menegang begitu saja saat mendengar nama Kaisar disebutkan. "Sudah aku katakan sebelumnya, tidak perlu melibatkan Vizena dalam hal ini. Tapi kau malah mempengaruhi Puteri Kheiraz." Jantung Vizena berdegup kencang, darahnya berdesir keseluruh tubuhnya, gelombang emosi telah memuncak diatas kepalanya, tangannya mencengkram erat kuat nampan yang dia bawa. Vizena sama sekali tidak menduga dia akan mendengar sendiri pengakuan ini, dan semua itu karena Gard. Ya, suara itu milik suaminya, Gard Meridiam. Dia tak mengerti mengapa Gard sepagi ini berada di kamar Eyater, tapi ia tahu satu hal. Dua orang itu terlibat dalam p*********n tempo hari. "Mengapa? Apa kau merasa bersalah? Ingatlah, ini bukan pertama kalinya bagimu." Bukan pertama kalinya? Batin Vizena. Mata biru Vizena melebar, rasa penasaran merong-rong pikirannya. Apa maksud dari 'bukan pertama kalinya'? "Dia sudah terlalu banyak menderita." "Ingat apa yang telah menimpamu dan keluargamu! Kau harus fokus Gard!" Tubuh Vizena terasa lemas, kakinya serasa tak bisa menopang tubuhnya. Ia limbung ke belakang kemudian terjatuh ke lantai. Nampan berisi mangkuk yang dia pegang pun ikut jatuh dan menimbulkan suara yang sangat keras. "Siapa disana?!" Teriak Gard. Segera Gard berjalan ke arah pintu, ia keluar untuk melihat siapa yang sedang menguping mereka. Tidak ada seorang pun, hanya nampan dan mangkuk pecah serta tumpahan sup yang ada di lantai. "Sepertinya seorang pelayan." Kata Gard. "Pelayan? Tidak ada pelayanku yang suka menguping." Balas Eyster sembari berpikir. "Kau harus mencarinya, atau dia akan menyebarkan rumor." Sembari masuk kembali ke dalam kamar Eyster. "Kenapa?" Tanya Eyster dengan nada menggoda, ia berjalan mendekati Gard dengan gerakan yang sengaja ia buat untuk menggoda, "kau takut orang mengetahui hubungan kita, atau kau takut Vizena yang tahu?" Eyster mengalungkan kedua tangannya di leher Gard. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Gard, bergelayut manja pada pria itu. "Jangan selalu melibatkan Vizena pada semua hal." Gumam Gard dengan suara yang serak karena gejolak nafsu di dadanya, ia memeluk pinggang Eyster dan merapatkan tubuh mereka. Lalu berjalan pelan menuju ke ranjang. Gard mengangkat tubuh Eyster, lalu membaringkannya ke ranjang. Dia sendiri lalu menjatuhkan tubuhnya di atas Eyster, satu tangannya menopang tubuh lalu satu tangannya membelai wajah Eyster yang begitu indah dan menawan itu. Mata Gard terpejam saat ia memajukam wajahnya untuk mencium bibir Eyster. Namun, tiba-tiba saat matanya terpejam bayangan wajah Vizena yang pucat muncul dalam benaknya. Serta merta ia membuka matanya dan menarik diri. "Gard, ada apa?" Tanya Eyster. Gard tidak mengerti, mengapa dalam benaknya ia malah melihat wajah Vizena. Kenapa sekarang? "Gard?" Eyster kembali memanggil, ia melihat Gard seperti orang linglung, Eyster kemudian menyentuh bahu Gard, tapi secara refleks Gard mengendikkan bahunya lalu berdiri. "Ma-ma- maaf! Aku harus pergi." Katanya kemudian Gard pergi begitu saja dari kamar Eyster dan meninggalkannya dalam kebingungan. °°°°°° Bruuakk Tubuh Vizena menabrak sesuatu yang cukup keras ketika ia terus berlari tapi pandangannya sering kali menatap ke belakang untuk memastikan bahwa tidak seorang pun sedang mengejarnya. Ia terjatuh ke lantai dan terduduk untuk sesaat. Tubuhnya masih terasa lemas, apalagi setelaj mendengar semua percakapan yang dirinya dengar antara Eyster dan Gard. "Yang Mulia?" Suara berat tersebut mengusik Vizena, ia menoleh dan seseoranh telah berjongkok dihadapannya. Vizena mengerjap beberapa kali. "Pangeran Kusala?" "Ya ini saya, mari saya bantu berdiri." Kata Kusala dengan sopan. Kusala hendak masuk ke tempat tingga Vizena, tapi ia malah ditabrak oleh Vizena yang tak memerhatikan jalannya. Seandainya Kusala memiliki tubuh yang lemah, ia pasti akan ikut terjatuh di tanah. Dengan dibantu oleh Kusala, Vizena kemudian berdiri. Ia berusaha mengarahkan energinya ke seluruh tubuh agar tidak merasa lemas lagi. "Terimakasih banyak." Kata Vizena sembari menepuk-nepuk bagian belakang dan samping gaunnya untuk dibersihkan. "Apa sesuatu mengejar anda? Kenapa terlihat cemas?" Tanya Kusala yang melihay gelagat Vizena terus memerhatikan ke arah dia berlari tadi. "Ah tidak, bukan seperti itu." Balas Vizena sedikit tergagap, ia kemudian memandangi Kusala, alisnya terangkat sedikit, "aku mengira Pangeran sudah kembali ke Thymur." Vizena berusaha mengalihkan perhatian Kusala. "Rencananya saya akan kembali malam ini, itu sebabnya saya kemari. Untuk berpamitan dengan Tuan Puteri." Jawabnya lugas. "Malam-malam berangkat? Mengapa tidak menunggu besok saja, berangkat di pagi hari akan lebih aman untuk perjalanan." "Bagaimana kalau kita pergi berjalan-jalan sembari berbicara?" Ajak Kusala, rasanya memang tidak pas jika berbicara di depan tempat tinggal puteri, sementara dua pria penjaga selalu curi pandang ke arah mereka. "Tentu, mari." Vizena memimpin jalannya meski ia berjalan disamping Kusala. Keduanya berjalan meninggalkan area istana puteri. Tepat disebuah persimpangan keduanya berhenti, tepatnya Vizena yang berhenti. Ia lalu menoleh pada Kusala. "Sudah beberapa lama tinggal disini, anda pasti sudah mengelilingi seluruj istana ini bukan?" Tanya Vizena. "Luxorth memiliki istana yang sangat indah, tapi sayangnya saya hanya pernah pergi ke Istana Utama, dan kediaman anda, Yang Mulia." Jawab Kusala jujur. Pertama kali saat ia datang ke Luxorth, Kusala sangat kagum dan takjub. Jika dilihat dari luar sedikit jauh, istana Luxorth bagaikan ditaburi permata yang dindingnya berkilauan. Tapi nyatanya itu hanya ilusi pelukis dinding saja. Tapi bentuk bangunannya pun sangat indah, pilar-pilar yang besar menyangga setiap sisi bagian istana. Kubah-kubah cantik dengan warna biru indah, di padukan dengan warna utama dinding tiap istana yaitu putih gading. Jika berjalan lebih dalam lagi, lantai seluruh istana terbuat dari marmer, hal iti menambah kecantikan istana Luxorth. "Kalau begitu mari kita pergi ke sisi utara." Ujar Vizena dengan senyum lebar menghiasi bibirnya. "Ada apakah di sisi utara?" "Sudah, ikut saja. Nanti juga akan tahu." Balas Vizena kemudia ia berjalan lebih dulu. Di belakangnya Kusala tersenyum sembari mengekor si Tuan Puteri yang tubuhnya tidak lebih tinggi dari bahunya itu. Setelah berjalan untuk beberapa saat, mereka akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan istana yang sangat megah dan indah, bangunan itu terbuat dari kristal sehingga berkilauan namun juga transparan. "Ini tempat apa, Yang Mulia." "Ahh, ini." Vizena melihat istana ini dengan sendu, tapi itu hanya sesaat saja, kemudian ia tersenyum lebar. "Aku ingat, kalau Kaisar Trugeris selalu mengeluhkan telapak tangan dan wajahnya yang kasar, jadi aku akan mengambilkan beberapa herbal yang ditanam khusus di dalam sana." Kata Vizena lagi, ia menyincingkan gaunnya yang panjang dan berlari kecil memasuki istana kristal itu. "Aku tidak percaya Kaisar bisa mengeluhkan hal sepele seperti itu." Gumam Kusala, segera ia pun mengikuti kemana Vizena melangkah. Ketika Kusala memasuki tempat itu, ia disuguhkan oleh berbagai macam tanaman yang tumbuh disana. Ada rak-rak yang berjejer diatasnya ditumbuhi tanaman beraneka ragam dan warna. Lagi-lagi Kusala di buat takjub dengan hal ini. Tempat ini dari luar tampak megah dan mewah karena terbuat dari kristal, di dalamnya terlihat seperti hutan buatan. Kusala menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi tak menemukan Vizena dimana pun. "Yang Mulia?" Kusala berteriak untuk memanggil Vizena. "Aku disini!!" Suara Vizena menyahut entah darimana. Kusala berjalan, ia harus menyibak beberapa tanaman yang mengganggu jalannya dan menelusuri jalan yang berada diantara tumbuhan-tumbuhan itu. "Yang Mula, anda dimana?" Tanya Kusala lagi, ia sudah masuk sangat jauh dan belum menemukan Vizena. "Disini Pangeran." Balas Vizena. Pandangan Kusala tertunduk dan ia melihat Vizena sedang berjongkok di bawahnya dan menatap kearah dirinya dengan separuh wajahnya tanpa topeng itu kotor terkena tanah. "Apa yang anda lakukan disini?!" Vizena tersenyum lebar menunjukkan giginya yang rapi dan putih seperti seorang anak kecil yang menyeringai. Kusala menghela nafasnya, melihat Vizena yang begitu bebas dan tidak ceria di depannya itu akhirnya ia mengerti sesuatu, yaitu alasan mengapa Kaisar Trugeris menyukai Vizena. Kusala tahu dengan pasti, saat melihat wajah cemas Vizena setelah menubruk dirinya ia tahu gadis itu pasti memiliki masalahnya sendiri. Namun, dengan cepat mampu mengatasi perasaan cemasnya dan tetap menjadi gadis yang ceria dengan senyum lebar yang menawan. "Ini," Vizena mengangkat sebuah tanaman berumbi berwarna kemerahan berbentuk seperti telur ke arah Kusala, "ini bisa membantu membuat kulit semakin halus. Guru, ah maksudku Kaisar harus mencobanya!" Ia kemudian berdiri dan tetap menjulurkan tangan kepada Kusala. Melihat tanaman yang dibawa oleh Vizena, alis Kusala terangkat. Matanya menyipit dan menaruh curiga pada tanaman tersebut. Dia tidak pernah tahu ada umbi-umbian yang bisa membuat kulit menjadi lebih halus. "Apa ini akan berhasil?" Tanya Kusala. "Entah," Vizena mengangkat bahunya, merasa Kusala terlalu lama ia sendiri meraih tangan Kusala dan meletakkan tanaman itu ke tangan besar milik Kusala, "Aku belum pernah mencobanya, hanya teringat kata-kata seseorang." Kusala tiba-tiba saja tertawa mendengar pengakuan Vizena. Dengan wajah polos yang kotor itu dia mengatakannya dan itu terasa lucu sekali untuk Pangeran. "Aku sangat setuju Anda menggunakan Kaisar sebagai percobaan." Ujar Kusala dibalik tawanya yang renyah. "Bukan, bukan seperti itu!" Vizena mengelak dengan menggerakkan tangannya dengan cepat. "Tapi Kaisar akan dengan senang hati menjadi percobaan anda," "Sudahlah," Kata Vizena kemudian mengambil lagi tanaman yang tadinya ia berikan pada Kusala, "lupakan saja! Lagipula mengapa Kaisar harus terganggu dengan tangan kasarnya, dia kan seorang pria." Kusala manggut-manggut menyetujui ucapan Vizena. Untuk apa seorang ahli bela diri dan suka berpetualang seperti Kaisar Trugeris harus mengkhawatirkan kulitnya yang kasar. "Anda benar, baiklah jangan berikan itu padanya. Sebagai gantinya, berikan saja padaku!" Kusala kembali mengambil tanaman itu dari genggaman Vizena. "Baiklah itu untukmu saja," Vizena tiba-tiba berbalik, lalu hendak berjalan pergi. Tapi Kusala menahannya, ia memutar kembali tubuh Vizena agar biar menghadapnya. Satu tangan Kusala yang bebas merogoh saku jubahnya, kemudian ia mengambil sesuatu dari sana. Sebuah sapu tangan rupanya. Ia menjulurkan tangannya pada wajah kotor Vizena lalu mengusap kotoran tersebut dan membersihkan wajah gadis itu. "Anda tahu, Yang Mulia. Tangisanmu itu tidak bisa di tutupi dengan lumpur." Kata Kusala. Sudah sejak awal Kusala menyadari ada jejak airmata di mata Vizena. Dan ia tidak ingin memaksa Vizena dengan bertanya apa yang terjadi. Tapi ia tak bisa membiarkan seorang Puteri yang terhormat tampak kotor. "Tidak ada yang menangis." Balas Vizena memberengut ia juga mengambil sapu tangan itu dan mengusap wajahnya sendiri. "Benarkah? saya pikir anda menangisi saya yang akan segera kembali ke Thymur." Vizena membalikkan badannya, ia cukup terkejut karena Kusala menyadari bahwa airmatanya menetes, tapi dia tidak sengaja mengotori wajahnya dengan lumpur. Vizena menangis bukan karena Kusala akan kembali ke Thymur. Namun, kali ini ia benar-benar akan merasa sendiri. Dulu Vizena pikir memiliki suami akan membuat hari-harinya menyenangkan. Tapi setelah pindah ke kediaman Gard, ia malah kesepian karena hanya berada di rumah sepanjang hari sendirian sedangkan Gard terus pergi ke Istana. Lalu kepergian kakaknya yang entah kapan akan kembali, membuat keadaan semakin berubah. Kaisar memiliki banyak beban, tidak ada tempat berbagi jadi waktunya tidak tersisa. Kehidupannya memang sudah berubah sama sekali. Orang datang dan pergi dari kehidupannya dalam waktu yang cepat. "Jika anda begitu bersedih karena saya pergi, ikutlah dengan saya." Kata Kusala asal. "Jangan bicara omong-kosong, Pangeran!" Kusala meraih lengan Vizena, ia kemudian berjalan kesamping Vizena dan berdiri dihadapan gadis itu. "Kaisar Trugeris akan senang melihat anda, ikutlah." Suara Kusala menjadi lebih lembut dari biasanya. Vizena hanya diam tidak menjawab sembari berjalan pergi. Meski dia sangat menginginkannya, dan ajakan itu sangat menggiurkan dia tidak bisa meninggalkannya. Ada beban yang telah diberikan ke pundaknya. Saat ini ia bukan lagi Vizena yang berjiwa bebas, tapi Vizena yang mengemban tanggung jawab besar. . . . ::Bersambung::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD