23. The Blanket

1538 Words
Temaram lampu menemaninya memeriksa tumpukan dokumen kerajaan yang telah menggunung. Padahak Zaviest meninggalkan tugas kenegaraan itu pada perdana menteri dan juga Vein. Hanya saja kedua orang itu terlalu takut untuk mengatasi urusan yang besar dan terlalu penting. Jadi banyak dokumen yang setelah kembali membuat kepala Zaviest pusing hanya dengan melihatnya saja. Entah sudah berapa dokumen yang dia periksa sampai matanya terasa buram dan kepalanya menjadi berat. Untuk menghilangkan kepenatannya Zaviest memijat antara alisnya dengan pelan. Sesaat kemudian Dranis datang membawa minuman hangat untuk Zaviest. "Yang Mulia Raja lebih baik beristirahat, teruskan saja besok. Sejak kembali dari Luxorth anda belum beristirahat sama sekali, dan sekarang anda terlihat sangat buruk." Ucap Dranis dengan panjang lebar. Omelan Dranis itu membuat kepala Zaviest semakin berat saja. Memang sejak kembali dari Luxorth, dia tidak berhenti dan segera mengurusi segala urusan kerajaan yang tertunda. Terutama masalah bencana yang sempat terjadi, kini masalah itu hilang muncul lagi masalah baru. Yaitu wabah, korban bencana mengalami wabah penyakit kulit, sehingga Zaviest harus memikirkan cara untuk segera mengatasi wabah tersebut. Bukan hanya persoalan wabah, melainkan perdagangan keluar dan kedalam mereka terhambat karena adanya perselisihan di jalur sutera dan belum ada keputusan dari Pengawas Lima Negara. Hal itu, menimbulkan dampak pada keuangan negara yang cukup banyak tergantung pada sektor perdagangan. Selain urusan kenegaraan ada pula urusan lain yang selalu menjadi prioritas Zaviest. Yaitu memikirkan gadis yang wajahnya terdapat dalam puluhan lukisan yang telah digambar olehnya. Ya! Vizena, hanya gadis itu yang mampu menarik semua daya pikir dan perhatian Zaviest. Setelah kembali, Zaviest belum mengirimkan Feiry ke Luxorth, ia pikir untuk memberi waktu pada Vizena supaya tidak berpikir macam-macam jika ia langsung mengirimkan Feiry kembali kesana. Gadis itu mudah sekali merasa kasihan pada sesuatu. Tapi disisi lain, Zaviest sudah hampir gila karena tidak mendapatkan kabar apapun dari Luxorth. Dalam benaknya hanya terbayang wajah Vizena saat terakhir kali ia bertemu. "Yang Mulia!" Dranis sudah memanggil Zaviest hampir untuk yang ke eenam kalinya. Hingga ia dengan hati-hati menepuk pelan pundak sang Raja, barulah Zaviest kembali pada kenyataan dan membuyarkan lamunannya. "Ya? Ada apa?!" Tanyanya dengan nada datar. "Anda melamun Yang Mulia, anda terlihat lelah." Kata Dranis. "Kau benar, aku harus segera beristirahat." Zaviest meletakkan kembali dokumen yang dia pegang. Kemudian dibantu oleh Dranis, ia membuka jubah rajanya. "Ambil pakaian santaiku!" Pinta Zaviest. "Yang Mulia, anda akan kemana?" Tanya Dranis yang panik karena ini sudah sangat larut malam. Sebentar lagi pasti sudah pagi. "Luxorth." Jawab Zaviest dengan enteng. Begiti terkejutnya Dranis sampai dia melompat kedepan untuk menghadang langkah Zaviest. Tangannya dibentangkan di depan Sang Raja. Dranis sudah kehilangan akal sampai dia melupakan semua etika yang telah diajarkan padanya. "Yang Mulia! Bagaimana bisa anda ingin pergi kesana, anda baru saja kembali!" Kata Dranis. "Memangnya kenapa? Aku ingin melihatnya, aku...." Ucapan Zaviest tergantung di udara, bayangan Vizena kembali melintas dalam benaknya, ia pun menghela nafasnya, "aku merindukannya," saat mengatakan itu bahu Zaviest merosot. Dranis dengan kuat menggelengkan kepalanya. Dia telah mendengar semua cerita dari Moscha sesaat setelah mereka kembali dari Luxorth. Moscha menceritakan semuanya pada Dranis, bahkan detail tentang status Vizena yang sudah menikah juga tak dilewatkan oleh Moscha. Sejak saat itu, Dranis bertekad untuk membuat Zaviest kembali ke jalan yang seharusnya. Sudah beberapa hari ia secara diam-diam menurunkan beberapa lukisan gadis itu, tapi ternyata dengan berkurangnya lukisan di dalan ruangan raja, perasaan yang muncul di hatinya sama sekali tidak berkurang. "Anda tidak boleh kesana, Yang Mulia!" "Dranis jangan halangi aku, biarkan aku pergi, aku hanya ingin melihat wajahnya saja." Kata Zaviest yang merengek seperti anak kecil dengan menggerakkan badannya. "Yang Mulia! Saya sudah tahu semuanya! Anda tidak boleh kesana lagi! Tuan Puteri itu memiliki suami." Dranis mengatakan sesuatu yang membuat hati Zaviest terasa terhunus oleh ujung tombak yang tajam. "Aku tahu, aku tahu, sudah minggir sana." Zaviest mendorong tubuh Dranis ke samping dengan pelan. "Saya akan terus menempel pada Yang Mulia!" Kata Dranis dengan berjalan menyusul Zaviest. Langkah kaki Zaviest terhenti, ia menoleh kesamping dimana Dranis berada. Tangan Zaviest berkacak dipinggangnya dengan menggigit bibir bawahnya kesal. "Kau ini, benar-benar tidak akan membiarkanku kan?" Dranis menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa ia membiarkan Sang Raja yang terbutakan oleh cintanya menembus jalanan selama berhari-hari hanya untuk melihat wajah gadis yang di cintainya, gadis yang telaj bersuami pula! Meski harus kehilangan nyawanya, Dranis bersedia asalkan Zaviest kembali memiliki akal sehatnya. "Baiklah, baiklah." Kata Zaviest akhirnya, "Aku tidak akan menempuh perjalanan panjang itu kesana. Apa kau senang?" Tanya Zaviest. Helaan nafas lega lolos dari pernafasan Dranis, ia juga tersenyum lebar penuh kemenangan karena berhasil membujuk Zaviest. Kini ia bisa merasa tenang. Zaviest menurunkan tangannya kemudian ia beranjak pergi. Dranis mengekor dibelakangnya. Zaviest pergi ke kamar tidurnya, saat akan menutup pintu Dranis masih berdiri dibelakangnya seolah ia akan ikut masuk kedalam kamar tidur Zaviest. "Apa kau ingin tidur denganku?" Tanya Zaviest ketika ia akan menutup pintu kamarnya. "Apa?!" Pekik Dranis kebingungan, "tidak, tentu saja tidak Yang Mulia. Bagaimana saya berani." Ujarnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Zaviest kemudian menggerakkan kepala dan matanya untuk memberikan isyarat pada Dranis agar mundur. Dranis yang mengerti lalu mundur satu langkah, ia membungkuk untuk memberikan hormat. Setelah menutup pintu, Zaviest menghela nafas lega. Ia bersandar pada pintu sembari mengusap dadanya pelan. "Dia benar-benar keras kepala." Gerutunya kesal. Zaviest berjalan ke arah ranjangnya yang sudah melambai-lambai agar dia berbaring dan mengistirahatkan badannya. Akan tetapi, tepat di depan ranjang itu Zaviest menjulurkan tangan kanannya kedepan, lalu memejamkan matanya dan mengucapkan sebuah mantra dengan bahasa kuno. "Othévoren Luxorth." Dan sebuah lingkaran berwarna emas tercipta di depan Zaviest. Lingkaran itu berputar, dari kecil kemudian menjadi lebih besar hingga seukuran tubuh Zaviest. Itu adalah sebuah portal jarak jauh, itu adalah sihir yang biasanya hanya bisa dilakukan oleh penyihir kuat. Tapi bagaimana pun, sihir seperti ini tidak boleh digunakan sembarangan, selain untuk kepentingan mendesak, juga cukup menguras energi pembuka portal. Semakin jauh jarak yang akan dituju oleh portal tersebut, semakin besar energi yang akan digunakan. Zaviest melangkahkan kakinya melewati portal tersebut. Ia menghilang dari kamarnya, lalu portal itu menghilang. Sesaat kemudian, ia telah berdiri disebuah ruangan yang temaram, namun ada hal yang menarik bagi Zaviest setelah menyadari apa yang dia lihat. Bayangan-bayangan hitam bergerak memutari dinding ruangan tersebut. Disela-sela bayangan itu cahaya lampu berpendar memberikan penerangan menggantikan lampu yang biasa. Zaviest tersenyum ketika ia mendapati lampu yang telah dia menangkan itu berada diatas nakas samping tempat tidur milik Vizena. Ya, saat ini Zaviest telah pergi ke Luxorth melalui portal yang telah ia ciptakan tadi. Zaviest memang mampu pergi ke Luxorth menggunakan sihir yang dia kuasai. Tapi itu tidak begitu efektif. Dia akan di kira mata-mata karena datang dan pergi dengan menggunakan sihir. Selain itu, dia memiliki tanggung jawab seorang raja yang tak bisa dia tinggal sewaktu-waktu. Zaviest berjalan kearah ranjang, ia melihat Vizena tengah berbaring dengan posisi melintang dengan selimut yang sudah jatuh ke lantai. Kebiasaan Vizena memang tidak bisa tidur dengan rapi dan juga sering menendang selimut ketika sudah terlelap. Selimut yang berada di lantai kemudian diambil oleh Zaviest. Ia kemudian menyelubungi tubuh Vizena dengan selimut tersebut. Tapi tak berapa lama kemudian, Vizena kembali menendang selimutnya sembari merubah posisinya menjadi miring ke arah Zaviest dan membuatnya terlonjak. Pikirnya mungkin Vizena terbangun, tapi nyatanya gadis itu hanya merubah posisi tidurnya. Zaviest tidak menyerah, ia kembali mengambil selimut tersebut dan menutupi Vizena lagi. Tapi sepertinya Vizena tidak suka jika sesuatu menutupi tubuhnya. Dia selalu saja menendang kembali selimut itu. "Musim sedang dingin, dan dia terus saja menendangnya." Gerutu Zaviest. Pasa akhirnya, Zaviest naik ke atas ranjang Vizena sembari membawa selimut dan berbaring disamping gadis itu. Ia bergerak dengan perlahan dan berharap tidak mengganggu tidur Vizena atau gadis itu akan terbangun. "Setidaknya jika aku disini, tidak akan terlalu dingin." Gumamnya sembari menarik selimut untuk menyelubungi Vizena dan dirinya sendiri. "Ariaaah buatkan s**u kacang almond." Tubuh Zaviest menegang saat ia mendengar suara Vizena, ia menarik selimut sampai ke atas kepalanya untuk bersembunyi. "Apa dia terbangun?" Gumam Zaviest dibalik selimut. Ia begitu waspada jika sewaktu-waktu Vizena bangun. Sesuatu yang berat terasa menindih perut Zaviest, merasa penasaran dengan hati-hati ia menurunkan sedikit selimut itu sehingga hanya tampak kedua mata emasnya. Rupanya Vizena sudah mengganti lagi posisinya. Kini kakinya berada di perut Zaviest dan tangannya berada di d**a pria itu, sementara kepalanya begitu dekat dengan bahu Zaviest, jaraknya begitu tipis sampai hembusan nafasnya bisa dirasakan oleh Zaviest. Di bawah selimut itu Zaviest tidak bisa berkutik sama sekali. Dirinya takut jika bergerak sedikit saja mungkin bisa membangunkan Vizena. Jadi, ia hanya menolehkan kepalanya sedikit untuk memandangi Vizena yang tengah hanyut dalam mimpinya yang mungkin itu adalah mimpi yang indah karena dengan suara yang cerianya ketika mengigau ia meminta Ariah membuatkan s**u kacang almond. Iris mata keemasan milik Zaviest menjelajahi tiap inchi wajah Vizena yang tanpa menggunakan topeng itu. Ini pertama kalinya bagi Zaviest melihat wajah itu tanpa menggunakan topeng. Luka di wajah kirinya memang cukup buruk, alisnya terbelah, ada lapisan parut di sekitar pelipis hingga di pipi kirinya. Perlahan Zaviest menggerakkan tangannya yang terbebas, ia menjulurkan jari-jarinya untuk menyentuh wajah Vizena itu, tak sampai jarinya menempel ia menggerakkan jarinya seolah sedang menyentuh lembut, mulai dari alis Vizena yang memiliki luka hingga membuat alis itu terbelah, kemudian membelai setiap centi lapisan parutnya. "Ini begitu indah, aku berharap bisa melihatnya setiap hari." gumamnya dengan suara yang begitu lirih dengan senyum terukir tipis di sudut bibirnya. . . . ::Bersambung::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD