24. The King is Missing

2390 Words
Sinar mentari yang menerobos jendela melalui sela-sela tirai putih itu begitu silau bagi mata Vizena. Ia pun terbangun karenanya dan meninggalkan dunia mimpinya untuk menjalani hari-harinya di dunia nyata. Vizena menyibakkan selimutnya lalu duduk di tepi ranjangnya, ia hendak memanggil Ariah tapi tertahan karena penciumannya menghirup aroma yang sangat tidak biasa namun begitu familiar baginya. Ia mengendus-endus lagi untuk memastikan bahwa indera penciumannya tidak salah. Semakin ia menghirup aroma wangi sandalwood itu, semakin keningnya berkerut begitu dalam. "Mengapa aku merasa sedang mencium aroma wewangian miliknya dikamarku? Tidak mungkin aku sedang berhalusinasi kan?" Gumamnya, sembari melihat ke sekelilingnya untuk memastikan bahwa orang yang dia maksud tidak berada di dalam kamarnya. Tidak ada siapapun selain dirinya, bahkan tidak ada satu pun jejak di dalam kamarnya. Dia benar-benar sendirian. Dalam dunia mimpinya ia memang sedang melihat pengawal negara asing itu, tapi itu hanya sebatas mimpi belaka. Tidak mungkin jika aroma tubuh pria itu tercium sampai ke kamarnya yang jelas-jelas adalah kenyataan. Bukankah itu mustahil? Memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi, Vizena kemudian mencubit lengannya dengan keras. Ia meringis ketika cubitannya menimbulkan rasa sakit. Ini nyata! Pikirnya. Tapi, Vizena merasa heran. Bagaimana bisa ia memimpikan pria itu dalam tidurnya. Ini sudah hampir dua minggu sejak kepergiannya, dan baru pertama kali memimpikannya. Pria itu tampak nyata dalam tidurnya, bahkan sentuhan tangan di wajahnya masih terasa. Vizena menggelengkan kepalanya dengan perlahan berusaha mengenyahkan pikiran tentang 'Sang Pengawal' yang memiliki mata indah itu. Lalu ia mengambil topeng yang berada dinakasnya untuk dia pakai. Ia bersiap untuk membersihkan dirinya, dan sesaat kemudian Ariah masuk ke kamarnya. "Yang Mulia, sudah bangun. Kebetulan sekali, Tuan Gard sudah menunggu di ruang makan." Kata Ariah, ia mendekati Vizena dan membantu Tuan Puterinya untuk mandi. "Belakangan ini dia jadi rajin sekali mengunjungiku." Gumam Vizena. "Mungkin, Tuan Gard sudah mulai menyukai anda. Yang Mulia?" Ujar Ariah dengan nada datar. Vizena tak menjawab, dalam hatinya ia tahu bahwa itu tidak mungkin terjadi. Fakta bahwa Gard menjadi lebih sering mengunjunginya pasti memiliki tujuan yang lain. Apa tujuannya, Vizena belum bisa memastikannya. "Oh iya, Ariah apa kau mengganti wewangian di ruanganku?" Tanya Vizena lagi. "Tidak, Yang Mulia." Kening Vizena mengerut saat mendengar jawaban dari Ariah. Jika Ariah tidak mengganti wewangian yang ada dalam ruangannya, lantas mengapa aromanya seperti wangi tubuh pengawal itu. Vizena berdecak pelan, ia tidak ingin memgambil hati masalah aroma ini. Lagipula tidak mungkin jika pengawal itu benar-benar nyata berada di kamarnya. Dia baru saja kembali kan? Tapi mengapa Vizena harus memikirkannya? Vizena menenggelamkan seluruh tubuh hingga kepalanya ke dalam air yang terdapat pada sebuah bak berisi dengan air hangat dan ditaburi kelopak bunga mawar yang sebelumnya telah di siapkan untuk mandi Vizena. Ia pun berendam dalam bak itu untuk beberapa saat dan berusaha mengusir semua pikiran negatif dalam pikirannya. Namun semakin ia mencoba untuk melupakan semuanya, ia malah mengingat semua kejadian beserta detailnya. Memang benar ungkapan banyak orang 'semakin kau berusaha untuk melupakan sesuatu maka semakin besar kau akan mengingatnya'. Bukankan itu menyebalkan? Setelah berendam itu Vizena meminta Ariah untuk memberikannya gaun yang sederhana dengan sedikit hiasan. Hari ini jadwalnya cukup padat, ia harus bertemu dengan beberapa guru kerajaaan yang pernah mengajarinya dan Leoxard dulu. Sebuah gaun berwarna hijau, hanya memiliki renda dibagian depannya dan berlengan pendek dipakai oleh Vizena. Ia juga meminta rambutnya di gerai saja. Akan sangat merepotkan jika rambutnya disanggul dan diberi hiasan. Itu hanya menambah beban untuk kepalanya. Setelah selesai berdandan, Vizena segera pergi ke ruang makan dimana Gard sedang menunggunya. Sesaat tepat didepan pintu, Vizena berhenti lalu ia memasang senyum terbaiknya baru kemudian ia melangkah masuk ke dalam. Gard sudah menunggunya, ia terlihat berebeda hari ini. Tidak mengenakan pakaian berlatihnya, ia hanya berpakaian formal biasa, tapi itulah yang membuat dirinya terlihat semakin gagah saja. Gard berdiri menyambut Vizena yang datang, ia sedikit mengangkat alisnya melihat penampilan Vizena yang begitu sederhana tapi tetap terlihat elegan. "Selamat Pagi, Yang Mulia. Aku harap anda tidur dengan baik." Kata Gard, ia membantu menarikkan kursi yang akan diduduki oleh Vizena. "Terimakasih." Ujar Vizena dengan lirih. Gard kembali duduk ditempatnya. Tak lama kemudian seorang pelayan memgantarkan makanan pembuka mereka. Keduanya makan tanpa mengatakan satu patah kata pun. Tapi sesekali Vizena melirik Gard, sudah beberapa hari belakangan ini Gard selalu datang di pagi hari, menemaninya menyantap sarapan paginya. Tapi tidak pernah membicarakan hal yang serius. Ia sama sekali tidak mengerti dengan perubahan sikap Gard ini. Tak berselang lama, makanan utamanya datang. Tapi Vizena sudah tidak bernafsu untuk makan. Ia hanya membiarkan saja makanan yang tersaji di atas meja. Gard menyadari bahwa Vizena tidak menyentuh makanannya itu pun meletakkan sendoknya dan memandangi Vizena. "Apa anda sedang sakit?" Tanya Gard pada Vizena. "Tidak, kenapa?" Tanya Vizena dengan suara yang datar. "Makanannya tidak sesaui dengan selera anda, Yang Mulia?" Tanya Gard lagi. "Bukan, makanan istana selalu yang terbaik." Ujar Vizena. "Lantas apa yang membuat anda risau sampai tidak ingin memakannya?" Vizena menopang dagunya diatas meja sembari memandangi Gard. Tapi seperti biasa, Gard selalu menghindari menatap secara langsung mata Vizena. "Tuan Gard," Vizena mulai berbicara dengan bahasa yang formal. Sementara Gard menelan salivanya karena panggilan itu membuat dirinya seperti sedang tertangkap basah. Ada satu hal yang disadari oleh Gard setelah ia sering mengamati Vizena belakangan ini. Tuan Puteri yang selalu ceria, dengan mata berbinar iti perlahan menghilang dan tergantikan oleh sosok yang lain dan lebih kuat karakternya. Seolah Vizena sedang mengalami metamorfosa. Beberapa hari belakangan, ia tak melihat lagi adanya senyuman yang ditarik dengan indah, senyuman itu tampak seperti dipaksakan. Nada bicara Vizena pun sedikit berubah, dari yang biasanya begitu kekanakkan, menjadi lebih anggun dan tegas. "Apakah ada yang ingin, kau sampaikan padaku?" Tanya Vizena yang menatap lurus pada Gard. Pria itu mengambil satu gelas air di sampingnya lalu menenggak hingga habis. "Tidak Yang Mulia, mengapa anda berpikir demikian?" Balas Gard. "Bukan apa-apa, hanya saja aku tidak terbiasa dengan semua ini." Ungkap Vizena dengan jujur. Bukan tak terbiasa, ia sedang berusaha memancing Gard agar mengatakan tujuannya yang sebenarnya. Gard tersenyum tapi senyuman itu terasa pahit untuk Gard sendiri. "Anda pasti sangat membenci saya." Katanya dengan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Alis Vizena terangkat, tidak mengerti maksud Gard yang sebenarnya. "Tidak." Vizena menggeleng pelan, " aku tidak membencimu. Untuk apa aku membenci suamiku sendiri?" Gard menghela nafas seperti berusaha menyingkirkan beban berat dipundaknya. Namun tentu saja beban itu sama sekali tak berkurang sedikitpun. "Saya menyadari bahwa saya bukan suami yang baik, itu sebabnya saya ingin berusaha." Nafas Vizena tertahan, ia tak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu. Seandainya Vizena mendengar hal ini dulu, dia pasti akan sangat bahagia. Dan mendengarnya sekarang hanya menyakiti telinganya. "Kau tidak perlu mencobanya, seperti yang aku katakan padamu waktu itu," Vizena mengambil jeda, "tetaplah berada ditempatmu sekarang, itu akan lebih mudah." Gard menghela nafas lebih berat, ia merasa beban di pundaknya semakin besar saja. "Baiklah, kalau memang itu keinginan anda. Lalu bolehkah aku bertanya?" "Tentu saja." "Sampai kapan anda akan tinggal di Istana? Orang-orang mulai bergunjing karena anda meninggalkan rumah dan tinggal di Istana." "Tentang itu-" Ucapan Vizena terpotong sesaat setelah seorang pelayan masuk dan memberitahu sesuatu. "Maaf, Yang Mulia Puteri. Hamba memberitahu bahwa Tuan Besar Daxtern sudah tiba dan menunggu anda di taman barat." "Baiklah, terimakasih." Ujar Vizena. Ia pun berdiri diikuti oleh Gard. "Kita bicara lagi nanti." Katanya pada Gard kemudian pergi untuk menemui Daxtern, gurunya. °°°°° Pagi-pagi adalah rutinitas Dranis untuk menyiapkan keperluan Zaviest, mulai dari air mandi, hingga pakaiannya. Tapi pagi ini, sungguh diluar dugaan Dranis. Ketika Dranis akan melaporkan air mandi untuk Sang Raja itu sudah siap, ia pergi ke kamar Raja, mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada jawaban dari dalam. Dranis pun pelan-pelan membuka pintu. Terlihat tirai ranjang milik Raja tertutup, menandakan bahwa pemiliknya masih terlelap. Dari tempatnya berdiri, Dranis memanggil Zaviest. "Yang Mulia, air hangat sudah siap." Katanya dengan tujuan membangunkan Zaviest. Tidak ada jawaban, atu terlihat gerakan sama sekali. Dranis pun melangkah lebih dekat, semakin dekat dan cukup dekat untuk melihat bahwa tidak ada siapapun yang ada di ranjang mewah itu. Jantung Dranis berpacu dengan kencang. Buru-buru ia membuka tirai dan benar saja, ranjang itu kosong bahkan terlihat sangat rapi, menandakan bahwa tidak ada orang yang tidur di atasnya semalaman. "Celaka!" Decak Dranis sembari menepuk dahinya dengan kencang. Dranis dirundung kepanikan, ia segera berlari keluar untuk mencari dimana keberadaan Zaviest, meski dalam hatinya ia tahu bahwa Zaviest mungkin pergi ke Luxorth tanpa sepengetahuannya. "Bagaimana ini, jika semua orang tahu Raja pergi ke Luxorth akan terjadi kekacauan!" Gumamnya sembari terus mencari. Dranis menelusurui area tempat tinggal Raja, mulai dari taman samping istana, tidak ada. Lalu pergi ke taman belakang, tidak ada juga. Dranis terus mencari sampai ia kepayahan. Lalu dengan putus asa ia berjalan kembali ke kamar Raja. "Apakah aku harus beritahu para pangeran?" gumamnya lagi. "Setidaknya jika aku beritahu mereka, berita ini tidak akan sampai ke telinga para pejabat." Katanya lagi. Ia akan berbalik untuk pergi ke Istana pangeran, tapi pikirannya kembali ragu. "Siapa yang harus ku beritahu?" gumam Dranis lagi. Ia menimbang-nimbang cukup lama sampai seseorang telah berdiri di sampingnya. "Mau beritahu apa?" Bisik sebuah suara. Tubuh Dranis terlonjak seketika lalu ia berbalik. Matanya terbelalak ketika melihat empat pangeran sudah berdiri di belakangnya, sedang menatap dirinya dengan tatapan penuh tanda tanya. "Dranis, kenapa kau terlihat bingung?" Tanya Vein. "Itu Pangeran, itu." Dranis tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana. "Hey, tenanglah." Moscha menepuk pundak Dranis untuk menenangkan pengikut setia Zaviest itu. "Seperti Raja sedang kabur saja." Timpal Tarda. Wajah Dranis seketika pucat pasi seolah darahnya telah terhisap dari sana. Semua pangeran saling memandang dengan penuh arti. Mereka tahu sesuatu sedang terjadi di Istana Raja, itulah sebabnya Dranis terlihat kebingungan. "Sesuatu pasti telah terjadi." Ujar Remeus. "Apa yang terjadi Dranis?" Tanya Moscha lagi, ia menatap Dranis menuntut jawaban. "Yang Mulia Raja," Dranis begitu ragu-ragu mengatakanannya. Ia melihat ke samping kanan dan kiri, memastikan hanya mereka berlima yang ada disana. Jika sda orang yang mengetahui hal ini akan membuat seluruh istana kacau. "Raja kemana? Apa dia benar-benar kabur?" Moscha menebak dengan benar. Hanya dia yang terpikir bahwa Zaviest mungkin sungguh diam-diam pergi dari istana. Dengan mata kepalanya sendiri, Moscha telah melihat bagaimana rasa cinta Zaviest untuk Tuan Puteri dari Luxorth itu. "Yang Mulia Pangeran, bisa ikut saya untuk memeriksa kamar, Yang Mulia Raja." Kata Dranis. Kelima orang tersebut pun kemudian berjalan bersama ke kamar Raja untuk memeriksa apakah benar Raja telah kabur dari kamarnya sendiri. Masalah seperti ini adalah pertama kalinya dalam sejarah, jika ini benar terjadi. Sangat wajar, jika seorang Raja menyelinap keluar dari istananya dan pergi ke kota untuk mengamati dan berusaha dekat dengan rakyatnya secara langsung, tapi diam-diam menyelinap dengan tujuan pergi ke negara lain untuk melihat pujaan hatinya, itu tidak pernah tertulis dalam sejarah sebelumnya. Dranis membuka pintu kamar raja, lalu secara bersama-sama dengan para pangeran masuk kedalam. Baru selangkah masuk, kaki mereka terhenti seketika saat kelimanya melihat sosok gagah Sang Raja yang sedang duduk di pinggir ranjang masih dengan pakaian tidurnya dan terlihat seperti orang yang baru saja bangun tidur. "Ya-Yang Mulia!" Seru kelima orang tersebut dengan mata terbelalak. Langsung mereka berlima berlutut untuk memberi hormat pada Zaviest. "Ini masih pagi, mengapa kalian ramai-ramai datang kemari?" Tanya Zaviest dengan suara malas khas orang yang baru saja terbangun. "Dranis mengira anda menghilang, Yang Mulia." Ujar Moscha dengan menatap Dranis. "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak melihat Yang Mulia di kamar, dan...." Dranis ingin melanjutkan ucapannya tapi kemudian ia berlutut lagi dan meminta maaf. "Sudahlah, bangun semuanya." Kata Zaviest, ia menolehkan kepalanya sambil menyangga dagunya dengan malas. Matanya masih terlihat sayu akibat baru saja bangun. "Kalian masih ingin disini?" Tanya Zaviest lagi. "Aku harus bersiap untuk persidangan pagi." Keempat Pangeran saling menatap satu sama lain. Kemudian dengan kompak berdiri. Setelah memberikan hormat, mereka segera undur diri. "Dranis." Panggil Zaviest. "Ya, ya, ya. Yang Mulia." jawab Dranis dengan kepala masih tenggelam dalam sujudnya. Melihat sikap Dranis, senyum terlukis diwajah Zaviest. Dia sangat ingin tertawa, melihat ekspresi terkejut dan heran dari wajah Dranis dan keempat pangeran membuat Zaviest tergelitik sampai-sampai ia harus menahan tawanya sampai perutnya sakit. Seharusnya dia meminta pelukis istana untuk melukis ekspresi wajah para pangeran dan Dranis. Itu pasti akan sangat menyenangkan. "Kurasa air mandiku sudah dingin?" Tanya Zaviest pada Dranis. "Saya akan menghangatkannya lagi, Yang Mulia." "Bukannya membangunkanku, kau malah membawa para pangeran kemari." Zaviest berpura-pura marah. "Maafkan saya, Yang Mulia." "Sudah-sudah, tolong siapkan semuanya lagi. Hari ini sepertinya akan cukup sibuk." °°°°° Tak! Vizena terperanjat saat kepalanya dipukul dengan tongkat oleh Daxtern. Seharian ia belajar mengenai hukum-hukum Lima Negara. Karena terlalu bosan dan kepalanya berdenyut mempelajari semua itu, Vizena tertidur.  "Guru, ini sakit sekali." Keluhnya sembari memegangi kepalanya yang di pukul oleh Daxtern. "Anda belum menyelesaikan hafalannya, tapi malah tertidur." Omel Daxtern pada Vizena yang masih menggosok kepalanya. "Guru, ini sangat membosankan, aku sudah mempelajarinya dulu saat belajar dengan kakak." Vizena sudah mengeluh lebih dari lima kali sehari ini. Pada dasarnya, Vizena sendiri lebih memilih berlatih seharian di arena berlatih daripada harus menghafalkan banyak kata dalam buku. Apa yang dipelajarinya hari ini, dan yang akan dipelajarinya nanti adalah pelajaran yang dia terima saat ikut belajar dengan Leoxard dulu. Rasanya pun masih sama, sangat membosankan. Apalagi buku-buku tebal yang berisi peraturan istana, hukum yang berlaku di Luxorth, dan hukum yang berlaku bagi Lima negara, ia sudah mempelajarinya dulu. Hanya saja, kelas belajar ini adalah perintah Kaisar Mouszac. Meski Vizena merengek, titah ayahnya adalah mutlak. "Baiklah, Yang Mulia hafalkan sampai dengan bab 3. Jika sudah selesai boleh beristirahat." Vizena mendengus, tiga bab masih terlalu banyak dan dirinya sudah sangat lapar sekarang. Bagaimana bisa ia berpikir jika perutnya saja keroncongan. "Guru, Ikan panggang sepertinya lezat. Bagaimana kalau kita makan sekarang?" "Yang Mulia!!" Vizena menyeringai, dia tahu gurunya itu tidak bisa disuap dengan cara apapun. Akhirnya Vizena tetap menurut dan mengerjakan perintah Daxtern untuk menghafalkan buku tebal yang ada dihadapannya sampai tiga bab. "Ini tidak akan berjalan lancar." Dengusnya dengan kening berkerut menatap huruf-huruf kecil yang berjejer rapi di atas kertas yang berwarna kekuningan itu. Dari kejauhan Kaisar Mosuzac sedang mengawasi Puterinya yang sedang belajar di paviliun yang terletak ditaman Istana. Melihat Puterinya itu, senyum Kaisar mengembang dengan lebar. Dia tahu karakter anaknya yang tidak akan bisa duduk diam hanya untuk mempelajari semua buku-buku tebal itu. "Tormen." Panggil Kaisar Mouszac pada pelayan yang mengikuti dibelakangnya. "Ya, Yang Mulia?" "Berikan kudapan kesukaan Puteri Vizena, dia menyukai kue kacang kenari. Berikan itu padanya." Kata Kaisar Mouszac pada Tormen, lalu Kaisar pergi meninggalkan tempat tersebut untuk kembali ke kediamannya. . . . ::Bersambung::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD