25. The Right Timing

2082 Words
Wajah bimbang Vizena tergambar jelas, dirinya pun menopang dagunya di atas meja dengan malas, sementara matanya yang begitu indah itu sedang menatap dua gulungan perkamen yang ada dihadapannya. Satu gulungan berwarna hijau tua, di ikat rapi dengan segel lilin diatasnya berasal dari Thymur. Disisi lainnya gulungan berwarna kuning kecokelatan diikat rapi dan tadinya diselipkan pada kaki burung berbulu perak yang sedang menunggu Vizena sembari mematuki biki-bijian. "Kedua orang ini sangat tepat dalam memilih waktu mengirim surat kan?" Guman Vizena. Itu karena dua surat itu tiba ketika Vizena tengah mengerjakan tugas menghafalnya dari guru Daxtern, dan kedatangan surat itu hanya membuag hafalannya kacau saja. Setelah menimbang cukup lama, Vizena mengambil gulungan berwarna kuning kecokelatan kemudian membukanya, itu karena gulungan itu terlihat kecil dan ia menduga pasti isinya pun tidaklah banyak. Setelah membukanya, benar seperti dugaanya, memang tak banyak isi suratnya dan bibirnya yang merah itu tertarik keatas saat membaca isinya. ____ Untuk Puteri Vizena. Perjalanan cukup melelahkan, tapi banyak hal yang harus ku urus setelah kembali. Bagaimana denganmu? Apa lampu itu bekerja dengan baik? D _____ "Dia benar-benar serius kan? Kurasa dia itu sedikit gila. Benarkan?" Vizena bertanya pada burung yang begitu senang menikmati makanan disampingnya. Dia tidak habis pikir dengan pengawal itu, hal pertama yang ditanyakan adalah lampu yang dia berikan karena menang permainan tempo hari dan bukanlah kabarnya. "Haruskah ku balas sekarang?" Burung itu menengok kearahnya, ia mengedipkan matanya dua kali kemudian kembali fokus pada camilannya yang lezat itu. Vizena menganggap isyarat burung itu sebagai kata 'iya'. "Ariah, tolong ambilkan kertas dan pena." Pinta Vizena pada Ariah yang berdiri tak jauh darinya dan menemani dirinya sejak tadi. Ariah pun merasa senang melihat Vizena yang cukup antusias dengan surat-surat yang berdatangan untuknya itu. Sembari menunggu Ariah mengambilkan kertas dan pena untuknya. Vizena membuka gulungan yang lain. Rupanya gulungan itu cukup besar dan isinya pun cukup panjang. Alis Vizena terangkat, Begitu banyakkah yang ingin disampaikan oleh Kusala padanya? Ia pun segera membaca surat tersebut. Tapi, saat ia membaca surat itu Vizena tahu bahkan bukan Kusala yang mengiriminya pesan, melainkan gurunya sendiri. Trugeris Khan. Hanya dari gaya tulisannya saja, Vizena langsung mengenali bahwa penulis surat itu adalah gurunya sendiri dan bukan Pangeran Kusala. _____ Untuk Vizena. Pesanmu sudah sampai padaku. Kusala langsung memberikan herbal itu padaku setelah ia sampai. Apa kau pergi ke gunung untuk menggalinya? Jangan lakukan itu lagi, mengerti? Bagaimana tanganmu? Aku berharap bisa melihatmu memegang pedang yang aku buatkan untukmu. Apa kau menyukainya? Jika kau bosan, pergilah ke Thymur. Kusala akan senang menjemputmu! T. Khan. _____ Vizena menghembuskan nafas melalui bibirnya lalu bersandar pada kursinya. Dia masih memandangi surat tersebut dan membacanya sekali lagi, lalu keningnya yang sudah berkerut semakin berkerut lebih dalam. Tapi bibirnya tetap tersenyum meski tampak samar. Dia tahu, gurunya tidak menyinggung tentang Leoxard karena menjaga perasaan Vizena, dan ia mengharhai niat baik gurunya. "Kenapa dia banyak sekali bertanya, seperti sedang mengujiku saja," gumam Vizena, "dia pasti sangat merindukanku." Ujarnya lagi. Tak berapa lama kemudian, Ariah datang membawa kertas dan juga pena. Vizena menatap kedua pesan itu, lalu melihat burung perak yang sedang menikmati camilannya. "Burung cantik, besok akan aku balas surat dari tuanmu ya. Jadi kau istirahat saja dulu di istanaku." Kata Vizena sembari menepuk-nepuk kepala burung itu. Bukan karena tak ingin segera membalas, tapi ia merasa iba jika melihat burung itu. Pasti lelah melakukan perjalanan yang jauh antara Luxorth dan Sholaire. Sementara itu, Vizena segera menulis surat yang akan diberikannya pada Trugeris. Ketika menulis, sesekali ia seolah berpikir kata apa yang tepat untuk dituliskan olehnya pada secarik kertas didepannya itu. Tak berapa lama setelah itu, soerang pelayan dari Istana Kaisar datang menghadap Vizena dan memberitahu Vizena bahwa Kaisar telah memanggilnya pada untuk pergi ke ruang pribadinya. "Baiklah, aku akan selesaikan ini lalu pergi kesana." Balas Vizena. Dengan menggigit bibirnya Vizena kemudian menuliskan apa yang harus ia tulis di atas kertas itu. Setelah selesai ia lalu mengangkat kertasnya dan tersenyum puas. "Kurasa begini saja cukup, jika aku menuliskan terlalu banyak dia tidak akan merindukanku lagi." Ujarnya. Dengan hati-hati Vizena menggulung kertas suratnya. Ia mengikatnya lalu memberikan segel lilin diatasnya kemudian diberikan kepada Ariah untuk diantarkan pada pengirim surat. "Burung cantik, kau jangan pergi kemana-mana ya? Aku harus menemui ayahku, lalu kembali lagi nanti!" Katanya sembari mengusap lembut bulu burung perak itu. Setelah itu, Vizena berjalan pergi untuk menuju ke ruang pribadi Ayahandanya. °°°°° Jemari Zaviest yang lembut menari di keningnya dengan memijat pelan pelipisnya. Kepalanya terasa akan pecah mendengar ocehan para pejabat mengenai banyak hal. Mulai dari korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh pejabat daerah, kekeringan di yang terjadi di beberapa kota, lalu wabah penyakit kulit yang semakin hari semakin buruk karena akses ke kota wabah itu terhambat. Tapi bukannya memberikan solusi, para pejabat itu malah menjabarkan hal yang tidak perlu dan saling menyalahkan. "Cukup!" Suara berat Zaviest menggema diseluruh ruang persidangan. Hingga para pejabat itu terdiam seribu bahasa, bahkan bernafas pun mereka tak berani. Karena penampilan Zaviest saat ini telah cukup untuk membuat mereka ketakutan. "Perdana Menteri!" Panggil Zaviest dengan menegakkan posisi duduknya. Seorang paruh baya maju keluar barisan, ia berlutut dihadapan Zaviest menunggu perintah Sang Raja. "Hamba menghadap, Yang Mulia." "Aku hanya pergi sebentar, dan semua orang sudah kacau pikirannya?" Tanya Zaviest, ia tidak berniat memelankan suaranya. Matanya nyalang menatap satu persatu pejabat yang beringsut ketakutan. "Mohon tenang, Yang Mulia." "Bagaimana aku bisa tenang, apa gunanya kalian bekerja sebagai menteri dan pejabat tinggi, jika semua masalah harus aku yang memberikan solusi?!" Kemarahan Zaviest menyapu keangkuhan para pejabat. Mereka semua termasuk para pangeran akhirnya berlutut memohon ampunan padanya. "Hal seperti ini, akan jadi terakhir aku dengar. Jika kedepannya masih terjadi hal yang sama, jangan harap menginjakkan kaki kalian di depan gerbang istana!" "Yang Mulia, tenangkan diri anda!" Kata mereka dengan serempak. "Sekertaris negara, dengar dan catat kata-kataku!" Perintah Zaviest. "Kirim pekerja ke kota Cseire untuk membangun kanal yang dihubungkan pada ladang mereka, sementara itu untuk membantu rakyat disana, minta walikota mereka membuka lumbung pangannya dan kirimkan sebagian dari milikku. Lalu, panggil kepala dokter istana ke ruanganku setelah ini." Sekertaris negara pun mencatat semua detailnya tanpa ada yang terlewatkan. "Oh, satu lagi. Pangeran Tarda dan Pangeran Remeus, pergilah kalian untuk menyelidiki kasus korupsi di bagian selatan. Laporkan semuanya padaku." "Kami siap melaksanakan!" Ujar kedua pangeran bersamaan. Setelah mengatakan perintahnya, Zaviest berdiri lalu ia beranjak untuk meninggalkan persidangan pagi. Suasana hatinya sungguh buruk setelah menghadiri persidangan pagi ini. Saat ini ia membutuhkan sesuatu yang bisa membuat keadaan hatinya membaik. Mungkin bersantai di taman rahasia miliknya dan membaca buku sambil menunggu Feiry datang membawa surat balasan padanya. Ah, tapi Zaviest lupa. Dia sudah mengatakan pada Puteri Vizena bahwa tidak perlu membalasnya jika Sang Puteri tidak berkenan. Akan tetapi, setitik harapan itu telah muncul di hatinya. Meski hanya samar, ia tetap berharap Feiry akan datang padanya dan membawa secarik kertas balasan dari surat yang telah dia berikan pada Vizena. °°°°° Vizena berdiri tenang di depan pintu ruangan pribadi ayahandanya. Dirinya menunggu seorang tamu yang sedang berbicara dengan Kaisar. Meski tidak berniat untuk mendengarkan, percakapan mereka terdengar hingga keluar. Tentu saja, Vizena pun tak sengaja mendengarkan semua percakapan itu. "Yang Mulia, mohon pikirkan kembali. Tarik perintah anda terhadap Tuan Muda Jovach." Begitu sekiranya yang didengar Vizena sejak ia datang. Dari suaranya dia mengetahui bahwa pemiliknya yang tak lain dan tak bukan adalah Menteri Pertahanan Louth Meridiam. Kening Vizena mengerut. Rasa penasaran menggelitik pikirannya. Dia sama sekali tidak mendengar masalah tentang Jovach. Ini pertama kalinya ia mendengar bahwa Kaisar telah memberi titah pada Jovach. Namun, tentang apa itu dia tidak mengetahuinya. "Keputusanku sudah bulat, dia bisa kembali jika bisa meredam ketegangan di perbatasan." Kata Kaisar. Mata lembayung milik Vizena pun terbelalak. Dia tidak menyangka bahwa Kaisar akan mengirimkan Jovach ke perbatasan alih-alih mengirimkan seorang yang ahli dibidangnya. Bukan merendahkan, akan tetapi bukan rahasia jika Jovach memang tidak terlalu cakap dalam urusan militer. Saat ikut serta dalam perang pun ia selalu nemilih untuk berada di barisan paling belakang. 'Apa maksud ayahanda dengan mengirimkannya ke perbatasan?' batin Vizena berbisik. "Anda akan menyesali keputusan ini, Yang Mulia." Ujar Louth Meridiam lagi. Tak ada jawaban dari Kaisar. Sesaat kemudian pintu terbuka, Vizena memberikan salamnya pada Louth, dan langkah pria itu terhenti. Dia memandang Vizena dari atas hingga ke bawah. "Sampai kapan seorang puteri yang telah menikah akan tinggal di sisi ayahnya?" Nada bicara Louth begitu tajam, ia kemudian berlalu tanpa menunggu jawaban dari Vizena. Memastikan bahwa Louth telah berjalan cukup jauh, Vizena segera masuk ke ruangan pribadi ayahnya. Terlihat Kaisar duduk ditempatnya sembari memijat tengkuknya. Wajah Kaisar tampak sangat lelah, mungkin karena tekanan yang didapatkannya dari berbagai pihak. "Tormen, tolong buatkan minuman herbal hangat untuk Ayahanda." Kata Vizena pada pelayan Kaisar. "Baik, Yang Mulia." Vizena berjalan mendekat pada ayahnya setelah ia memberikan salamnya. Ia duduk disamping Kaisar, lalu mengambil tangan ayahnya yang digunakan untuk memijat tengkuk itu. "Ayah pasti lelah, biar aku pijit ya." Vizena lalu dengan posisi berlutut dibelakang Kaisar, ia memijit pundak dan tengkuk sang ayahanda dengan lembut, tapi kuat dan pelan. Kaisar sangat menikmati pijatan tangan mungil Vizena pada bahunya. Ia memejamkan matanya sesaat, dan teringat akan permaisurinya sekaligus ibu dari Vizena dan Leoxard yang telah tiada. Mereka dulu adalah pasangan yang sangat bahagia, permaisuri dulunya juga cinta pertama kaisar. Jika dirinya berada dalam keadaan yang lelah, permaisuri selalu menjadi tempat terbaiknya untuk beristirahat. "Terimakasih Tormen." Kata Vizena. Suara merdu itu menarik Kaisar Mouszac dari lamunannya. Ia kemudian membuka matanya, lalu menyentuh tangan Vizena. "Ayah memanggilmu, bukan memintamu untuk memijat ayah. Meski ayah akui pijatan itu sangat menenangkan." Kata Kaisar. Vizena lalu duduk tepat disamping ayahnya. Menanti apa yang ingin disampaikan oleh Kaisar. "Mulai besok, ikutlah pertemuan pagi dengan menteri dan pejabat." Kata Kaisar tanpa berbasa-basi. Vizena tahu hal semacam ini cepat atau lambat pasti akan terjadi. Namun ini adalah perubahan yang besar, resikonya pun besar. Kemungkinan badai yang akan menghantam pun tinggi. "Apa Ayahanda sudah yakin?" "Tidak diragukan lagi, jika semakin lama aku menundanya maka hanya akan semakin buruk." Kata Kaisar dengan menghela nafasnya. "Itukah sebabnya, Ayah mengirim Kakak Jovach pergi ke perbatasan." Kaisar menoleh kearah Vizena, tangan besarnya terulur untuk membelai rambut Vizena yang hari ini disanggul rapi. "Dia bukan kakakmu, jangan panggil dia seperti itu." °°°°°° Belum usai kepalanya yang pening akibat keributan di dalam ruang persidangan, Zaviest menangkap sosok Ibu Suri Agung telah duduk dengan begitu anggun di tempat duduknya di dalam ruangan pribadi Zaviest sembari menikmati minuman hangat ditangannya. Zaviest pun segera berjalan mendekati Ibu Suri. Membungkuk hormat lalu duduk disamping Ibundanya yang hari ini tampak begitu cantik itu. "Seharusnya saya yang datang mengunjungi Ibunda, mengapa repot-repot kemari?" Tanya Zaviest dengan sesopan mungkin. "Mengunjungi puteraku bukan hal yang merepotkan, kemarilah. Aku sudah lama tidak melihat wajahmu." Ujar Ibu Suri sembari mengulurkan tangannya. Zaviest yang mengerti kemudian memajukan kepalanya untuk dibelai Sang Ibu. "Lihatlah, kau tampak lebih kurus setelah pergi ke Luxorth. Apa mereka tidak mengurusmu dengan baik?" Tanya Ibu Suri. Zaviest kembali mundur, "Tapi saya masih tetap tampan," katanya dengan menyeringai. "Rupanya kepercayaan dirimu belum juga luntur." Kata Ibu Suri sembari mengambil lagi cangkirnya dan menyesap isinya yang berwarna kecokelatan itu. "Tentu saja!" "Kalau kau sangat percaya diri, maka pemilihan ratu akan berjalan dengan lancar, ini juga waktu yang sangat tepat." Mata Zaviest terbelalak, ia melupakan satu hal ini. Dirinya sudah membuat kesepakatan dengan Ibu Suri akan menyetujui pemilihan ratu setelah dirinya kembali. "Ehm," Zaviest berdeham untuk membersihkan tenggorokannya sekaligus mencari akal untuk mengulur pemilihan ratu ini. Dia tidak bisa melakukannya untuk saat ini, apalagi ketika hatinya telah digenggam oleh orang yang kini berada jauh darinya. "Bagaimana? Ibu sudah memilihkan beberapa Puteri Bangsawan yang mungkin cocok denganmu. Kau bisa menemui mereka saat kau punya waktu luang." "Apa?!" Zaviest tidak percaya bahwa Ibunya akan bertindak secepat ini. Tapi setidaknya ini lebih baik, daripada hanya ada satu pilihan. Setidaknya ia masih memiliki waktu. Ibu Suri Agung tersenyum penuh kemenangan melihat wajah terkejut Zaviest. Dengan senyum puas itu ia menghabiskan minumannya lalu pergi. "Ibu tunggu kabar baiknya, ya?" Kata Ibu Suri sebelum akhirnya meninggalkan kediaman Zaviest. Sepeninggal Ibu Suri Agung, bahu Zaviest merosot dan tubuhnya yang tadinya duduk tegap kini melorot ke lantai. Dia ingin sekali menyerah pada hidupnya yang diliputi masalah secara bertubi-tubi, kini harus direpotkan dengan pemilihan Ratu. Tapi Zaviest tidak bisa menyerah secepat itu. Dia akan menyelesaikan semua persoalan bahkan perkara pemilihan ratunya. "Tidak ada wanita yang pantas menjadi ratuku, selain dia." Gumam Zaviest. Ia lalu pergi ke ruang pribadinya. Melihat ke sekeliling, memperhatikan lukisan-lukisan yang tergantung disana. Senyumnya tipis mengembang penuh makna. "Aku akan membawa Ratu pada saat yang tepat nanti." . . . ::Bersambung::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD