Untuk Guruku
Mengapa banyak sekali bertanya? Sedang mengujiku?
Herbal itu memang aku gali di gunung bersama dengan Ariah. Bagaimana? Sudah dicoba? Aku juga menggali akar merah yang berguna untuk menghaluskan kulit, tapi Kusala memintanya.
Tentang pedang itu, aku suka sekali. Sangat ringan dan efisien sekali. Boleh buatkan lagi?
Guru, bagaimana kau bisa membodohiku selama ini? Aku terkejut saat mengetahui bahwa kau adalah seorang Kaisar. Ah, haruskah aku panggil Yang Mulia?
Jangan pukul kepalaku! Aku hanya bergurau.
Baiklah guru, ayah memanggilku. Sampai jumpa!
Vizena.
____________________________________
Sudut mata Kaisar Trugeris berkedut ketika membaca surat dari Vizena, bibirnya melengkung karena senyumannya yang menawan. Surat dari Vizena sangat menghibur dirinya itu.
Usai membaca surat itu Trugeris lalu menyimpannya kembali dan meletakkannya dalam laci. Trugeris lalu beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan ke arah jendela besar yang mengarah menampilkan pemandangan seluruh istana Thymur.
"Apa dia masih ceroboh dan jahil?" Gumamnya sambil menatap langit biru Thymur, "dia suka sekali bermain, dia tidak akan tahan jika harus tinggal di istana." Trugeris mengenang kembali masa-masa saat dirinya bersama Vizena dan menjadi gurunya dulu.
Masih segar dalam ingatan Trugeris ketika pertama kali dirinya bertemu dengan Vizena. Itu terjadi sekitar hampir empat tahun yang lalu saat dirinya berkelana dan berakhir di Luxorth untuk beberapa waktu.
Saat itu, di pasar kota seusai dia melakukan pertunjukan seni pedangnya, dia berjalan untuk kembali ke tempat tinggal sementaranya. Ketika itu langit begitu gelap, tapi bintang berkelip dengan indah. Rencananya, setelah melakukan pertunjukan itu dia ingin pergi ke gunung dan menikmati indahnya gelap malam. Tapi, tiba-tiba seorang gadis menghadang jalannya.
"Tuan, keahlianmu berpedang sangat unik. Ajari aku!" Katanya dengan berani. Gadis itu bahkan menatap mata Trugeris tanpa berkedip. Itulah saat pertama kali Trugeris melihat warna mata yang begitu indah, irisnya bagaikan bunga lembayung yang tengah mekar dengan bintik-bintik berwarna perak di sekitar pupilnya.
Untuk sesaat dia terpaku melihat keindahan mata itu, tak pernah ditemui sebelumnya mata yang begitu indah dan mempesona. Namun meski begitu, hanya sekali melihat dia tahu mata itu menyimpan begitu banyak. Entah apa yang disimpan, tapi cukup banyak. Begitulah pikir Trugeris saat itu.
"Tuan, bagaimana kau mau mengajariku kan? Aku akan bayar berapapun!" Suaranya begitu nyaring hingga Trugeris terkesiap dan lamunannya pun menghilang. Dia menatap gadis itu lekat-lekat, gadis ini begitu kekanakan dan sepertinya manja.
"Tidak." Jawabnya dengan tegas. Lalu Trugeris berjalan melewati gadis itu. Saat itu dia pikir, gadis itu akan menahannya lagi. Dan jika itu terjadi, mungkin dia akan mempertimbangkannya. Tapi, dia salah besar, gadis itu hanya bergeming melihatnya pergi menjauh.
Keesokan harinya, tepat setelah usai melakukan pertunjukan gadis itu kembali menahannya sebelum ia berhasil pergi. Tidak ada raut permohonan yang sama seperti hari sebelumnya, gadis itu pun masih berani menatap matanya secara langsung. Jawaban Trugeris pun masih sama dengan sebelumnya.
Meski dia adalah ahlinya dalam seni beladiri dan berpedang, dia tidak pernah mengajari seseorang secara langsung. Kecuali sahabatnya yang mencuri setiap gerakannya hanya dengan melihatnya saja.
Gadis itu terus datang hingga beberapa hari kedepan. Hanya meminta untuk diajari, dengan tatapan yang tegas. Dan Trugeris menolaknya dengan cara yang sama.
Sampai pada hari ke tujuh. Hari ini langit tampaknya sedang mendung karena tak ada bintang ataupun rembulan yang bertengger. Tidak seperti biasanya, Trugeris tidak berlama-lama mengadakan pertunjukannya. Dia tidak ingin orang-orang terjebak hujan jika menontonnya lama.
Entah karena sudah terbiasa, atau karena hal yang lain tapi Trugeris tidak buru-buru untuk membereskan semua alat-alatnya. Dia berpikir mungkin gadia itu akan menghadangnya lagi.
Namun, hujan turun lebih dulu. Semua orang berlarian untuk berteduh, begitu juga dengan Trugeris yang segera melangkah pergi dari sana.
"Tuan," seseorang menarik pakaian Trugeris dan menghentikan langkah pria itu. Hujan turun dengan sangat derasnya, ia berbalik dan melihat gadis itu mendongak untuk menatapnya.
Kali ini gadis itu tampak berbeda, tentu saja! Dia diguyur hujan deras, penampilannya akan sangat berbeda. Tapi ada yang sedikit mengganggu pikiran Trugeris saat memandang gadis itu. Tetesan air hujan seolah menyamarkan mata merahnya yang mungkin sembab habis menangis, atau dia saat ini sedang menangis, dia tak tahu pasti.
"Ajari aku." Kata Gadis itu.
"Aku sudah mengatakannya, jawabanku masih sama." Balas Trugeris, ia hendak berbalik dan pergi tapi tangan gadis itu masih mencengkram ujung bajunya.
"Ajari aku." Suara gadis itu gemetar, tangan kirinya mengangkat sebilah pedang yang kelihatannya sangat susah payah dia lakukan. Tangan kirinya itu gemetae begitu hebatnya, cengkramannya pada pegangan pedang tidak begitu kuat. Trugeris menatap keheranan pada gadis itu, mengapa begitu berusaha meminta dirinya mengajari ilmu seni berpedang?
"Ajari-" Tidak selesai Vizena mengucapkan kalimatnya, pedang yang dengan susah payah dia angkat itu terjatuh dengan ujungnya yang lancip mengarah kebawah tepat dimana kaki gadis itu berada.
Dengan gerakan yang cepat, Trugeris meraih pegangan pedang itu. Keningnya seketika berkerut, di tangannya pedang itu terasa sangat ringat seperti bulu angsa. Tapi mengapa gadis itu begitu bersusah payah mengangkat pedangnya?
"Ikut denganku!" Trugeris meraih tangan gadis itu sembari berjalan menembus hujan.
Sesaat kemudian, mereka sampa pada tempat tinggal sementara Trugeris. Itu sebuah rumah besar dengan arena latihan yang cukup luas. Ia meminta gadis itu duduk di ruang tamunya, lalu ia sendiri masuk kedalam rumahnya.
"Dia gadis gila dan ceroboh, untung saja aku menangkap pedangnya. Apa dia mau melukai kakinya sendiri?" Gerutunya sembari mengganti pakaiannya sendiri, lalu ia memilah-milah baju yang bisa digunakan oleh gadis yang kini duduk di ruang tamunya.
Setelah memilihkan baju kering, ia kemudian membuat sebuah minuman penghangat dan kembali ke ruang tamu. Gadis itu hanya duduk diam dengan bibir yang mulai membiru tapi tubuhnya tak terlihat gemetera kedinginan sama sekali.
"Gunakan ini, lalu kita bicara." Ucap Trugeris. Gadis itu menurut, dan pergi untuk mengganti pakaiannya. Untung saja ada pakaian yang cukup untuk dipakai gadis itu.
Setelah mengganti pakaiannya gadis itu kembali ke ruang tamu. Trugeris menatapnya dengan sebelah alisnya terangkat. Gadis itu sangat cocok menggunakan pakaian khas negaranya.
"Mengapa sangat ingin berlatih ilmu pedang, kau tahu aku adalah orang asing kan?" Tanya Trugeris penuh selidik. Si Gadis mengambil gelas yang terletak di hadapannya. Trugeris terkekeh, bahkan tanpa diminta gadis itu sudah meminumnya. Sungguh terlalu sembrono.
"Aku sudah mempelajarinya, ilmu bela diri dari negaramu melibatkan aliran energi alam yang disebut...." gadis itu tampak berpikir.
"...Qi¹." Trugeris melanjutkan.
"Ah ya. Itu dia!"
"Lantas apa hubungannya denganmu? Maksudku dengan permintaanmu itu."
"Kau sudah melihatnya tadi, tanganku bahkan tidak bisa mengangkat pedang dengan benar." Katanya tanpa ekpresi diwajahnya. Namun hal itu menggelitik rasa penasaran Trugeris.
"Apa yang terjadi?"
Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari kantung yang dia bawa lalu menunjukkan sebuah lencana berbentuk bulat dengan permata berwarna keunguan ditengahnya. Mata Trugeris terbelalak seketika, hanya satu pemilik lencana itu di seluruh dunia. Tuan Puteri Kerajaan Luxorth, Vizena Amaranth-Mahana.
"Kau sudah pasti tahu atau setidaknya mendengar apa yang terjadi padaku." Kata Vizena.
Trugeris kehilangan kata-katanya, dihadapannya itu hanya seorang gadis yang usianya tak lebih dari 15 tahun. Tapi setiap kalimat yang keluar dari bibirnya begitu tegas meski sangat datar nadanya.
Memang bukan lagi rahasia bahwa Puteri Vizena yang terkenal itu mengalami kecelakaan dan menjadi seorang yang cacat. Semua orang tahu bahkan berita itu tidak hanya beredar di Luxorth, tapi semua negara dalam Daratan Lima Negara.
"Tapi tangan kananmu masih bisa di gunakan dengan layak. Mengapa harus repot-repot." Tanya Trugeris tanpa mengubah cara bicaranya meski dia tahu gadis yang ada di depannya adalah seorang Puteri Kaisar.
"Aku pengguna tangan kiri."
Ucapan Vizena hari itu, begitu membekas dalam ingatan Trugeris sampai hari ini. Setelah itu ia melatih Vizena untuk mengolah Qi-nya dan menggunakan lagi tangan kirinya. Dia menjadi saksi perjuangan Vizena untuk membuat tangan kirinya kembali bekerja dengan normal sekaligus memanfaatkan tangan kanannya agar bisa berfungsi dengan baik.
°°°°°
Suara gemerisik terus terdengar setiap kali kaki Vizena melangkah. Itu berasal dari gaunnya dengan bagian belakangnya begitu panjang dengan sulaman dari emas yang menyapu lantai ketika ia berjalan.
Jantung Vizena berdebar dengan kencang, tangannya mengeluarkan keringat dingin. Ini adalah pertama kali baginya menghadiri persidangan rutin yang diadakan setiap pagi, ia merasa begitu gugup.
Di depan pintu besar aula persidangan, Vizena memejamkan matanya dengan kedua tangannya saling meremas untuk menghikangkan kegugupannya. Dia sudah mempelajari semuanya, siapa saja pejabat dan menteri yang bertugas, bagaimana rupa wajahnya, dan sifatnya secara umum. Meski begitu, ia tidak yakin apakah pelajaran yang diberikan oleh Daxtern akan berguna di dalam.
Mendengar namanya dipanggil, Vizena membuka matanya, ia menghela nafas pelan, tangannya diturunkan ke sisi tubuhnya dan ia mengangkat kepalanya supaya terlihat lebih percaya diri.
Pintu besar itu terbuka, saat Vizena mulai melangkahkan kakinya, semua mata memandang kearahnya dengan berbagai macam ekspresi. Ada beberapa orang yang terkejut, ada yang tak bisa menutup mulutnya karena sangat mengherankan, beberapa menggumam kesal, tak jarang yang berdecih sembari memalingkan wajahnya. Mereka semua meremehkan Vizena.
"Yang Mulia, mengapa anda melakukan ini? Seorang wanita dilarang memasuki area ini." Seseorang keluar dari barisannya sembari berlutut, ia berbicara dengan menatap Vizena.
"Tuan Hegelif," Vizena bersuara sembari menoleh pada pria yang sedang memberi protes. Wajah pria itu seketika menjadi sedikit pucat, tidak menyangka bahwa Vizena mengetahui namanya hanya dengan sekali lihat saja.
"Mengapa aku tidak bisa menghadiri rapat persidangan rutin ini? Coba jelaskan padaku." Tanya Vizena, suaranya begitu tenang dan ucapannya sangat santun.
"I, i, itu tidak pernah terjadi! Tradisi Luxorth mengatakan Seorang wanita tidak boleh mengikuti kegiatab politik negara."
Hampir saja Vizena meledak dalam tawanya, beruntungnya dia bisa mengendalikan dirinya. Jadi ia hanya tersenyum saja, lalu kembali menghadap Kaisar Mouszac dengan senyuman cantiknya.
"Tidak ada hukum tertulis yang mengatakan itu, apakah itu hukum Luxorth atau pun hukum Daratan Lima Negara, dan jika anda menyebutkan tentang tradisi, Luxorth tidak pernah melarang seorang wanita untuk berpolitik, bahkan 178 tahun yang lalu, Permaisuri Syrazem secara resmi mendampingi Kaisar Tsagil untuk urusan politik." Jelas Vizena.
Hegelif terdiam, ia beringsut mundur kembali ke barisannya dan mendapatkan tatapan cemoohan dari semua orang di ruangan itu. Karena Hegelif telah menjadi pejabat hampir dua dekade tapi tak bisa berdebat dengan seorang anak yang baru menginjakkan kakinya beberapa menit di aula persidangan.
"Hentikan, seperti yang aku katakan. Mulai saat ini Puteri Vizena secara resmi akan membantuku dalam urusan negara. Seumur hidupnya dia telah memiliki guru yang sama dengan Leoxard, kemampuannya dengan mendiang Putera Mahkota sama hebatnya tak perlu diragukan lagi." Ujar Mouszac.
Semua pejabat mulai berbisik, mereka berasumsi bahwa Kaisar mungkin menempatkan Vizena sebagai pengganti Putera Mahkota dengan maksud untuk menjadikan Vizena sebagai pewaris selanjutnya. Tapi hari ini mereka sudah cukup menerima amarah dari Kaisar Mouszac, mereka tak ingin mendapatkan hukuman jika mengatakan sesuatu yang menyinggung Kaisar.
"Tolong bacakan petisi selanjutnya." Perintah Kaisar. Kemudian sekertaris negara membacakan sebuah dokumen.
Isi dokumen tersebut tentang akademi sihir dan akademi sipil. Masalah yang terjadi hampir serupa. Di kedua akademi itu, puluhan anak dari kalangan rakyat biasa terancam tak bisa melanjutkan sekolah mereka karena biaya. Banyak dari mereka yang ayahnya berangkat berperang mendampingi Leoxard dan tak kembali lagi. Sementara satu-satunya tulang punggung mereka hanya ayah mereka. Perekonomian banyak rakyat kini berada di ujung tanduk.
Seseorang dari barisan diseberang barisan Vizena keluar dari barisan. Ia meminta ijin Kaisar untuk berpendapat. Kaisar hanya mengangguk untuk mempersilahkannya bicara.
"Yang mulia, kita bisa memberikan bantuan kepada puluhan anak itu, dengan menjadi sponsor mereka. Hingga mereka bisa melanjutkan sekolah mereka dengan tenang." Katanya. Solusi itu memang terdengar sangat masuk akal dan paling bisa diterima untuk saat ini. Tapi sepertinya, Kaisar tidak puas dengan solusi tersebut.
"Puteri, apakah kau memiliki pendapat?" Tanya Kaisar yang telah memperhatikan bahwa Vizena seperti sedang menimbang sesuatu.
"Menjawab Yang Mulia. Apa yang dikatakan oleh Tuan Rovhen itu benar adanya, akan tetapi solusi tersebut adalah solusi jangka pendek. Sementara masalahnya bukan hanya pada anak-anak itu melainkan keluarganya." Jawab Vizena, ia menghela nafasnya sejenak untuk memberikan jeda pada pendapatnya kemudian mulai memberikan penjelasan lagi.
"Keluarga prajurit ini telah kehilangan satu-satunya sumber keuangan mereka. Mungkin kehidupan mereka saat ini telah menjadi lebih buruk sejak para prajurit ini gugur dalam pertempuran, itu sebabnya saya memikirkan sebuah cara untuk membantu rakyat ini." Ujarnya.
"Mustahil, kita tidak bisa menanggung mereka selamanya." Jawab Ravhen, dan pejabat lainnya sepakat dengan Ravhen.
"Tentu saja tidak, Tuan Ravhen." Balas Vizena dengan senyum mengembang di wajahnya. Ucapan Vizena kini menarik minat para pejabat bahkan Kaisar.
"Solusi apa yang kau tawarkan, Puteri?" Tanya Kaisar Mouszac.
"Enam bulan. Dengan enam bulan itu, kita bisa membantu keluarga prajurit yang gugur ini dan anak-anak yanh sedang bersekolah, selanjutnya mereka akan bisa mandiri." Ujar Vizena. "Kita bisa menggunakan tiga bulan pertama, mengadakan sebuah pelatihan ketrampilan bagi para keluarga prajurit, kita bisa melibatkan beberapa sektor, misalnya konveksi, masakan, kebersihan, pengobatan dan juga usaha kecil. Setelah pelatihan kita bisa membantu mereka mendapatkan pekerjaan di rumah bangsawan atau sektor usaha yang berkaitan. Maka setelah itu mereka bisa menjadi mandiri dan tidak memerlukan bantuan kita lagi." Terang Vizena.
"Jadi kita hanya perlu memberikan bantuan kepada mereka selama enam bulan?" Tanya Kaisar, dan Vizena mengangguk.
Kaisar Mouszac memundurkan tubuhnya dan bersandar pada singgasananya yang terbuat dari emas dan kristal itu. Dia tampak menimbang-nimbang memikirkan usulan dari Vizena.
"Baiklah, Puteri Vizena tanggung jawab ini aku serahkan padamu. Lakukan yang terbaik dan laporkan hasil yang memuaskan padaku."
.
.
.
::Bersambung::