Mata Zaviest terpejam dengan tangannya menopang kepalanya dengan posisi miring. Ia tengah mendengarkan laporan dari ketua dokter kerajaan Sholaire terkait dengan wabah yang sedang terjadi di Beghoria.
Dokter tersebut melaporkan bahwa kasus wabah ini sudah menjangkiti hampir ratusan penduduk Kota Beghoria. Semakin hari keadaannya menjadi buruk, jika tidak segera ditangani wabah tersebut bisa menyebar ke kota-kota lainnya yang ada di sekitar kota tersebut. Selain itu, belum ditemukan obat untuk wabah ini. Kasus seperti ini adalah baru pertama kali di Luxorth.
"Penyakit kulit ini sangat buruk, Yang Mulia." Ujar ketua dokter itu, "Mereka yang menderita penyakit itu, kulitnya melepuh dan mengeluarkan nanah."
Kening Zaviest berkerut begitu dalam mendengarnya. Bukan itu yang dia dengar, tapi sebuah solusi untuk menangani wabah yang kian memburuk ini. Zaviest benar-benar tak suka hal yang bertele-tele.
"Pengobatannya? Apa di seluruh Sholaire tidak ada bahan yang bisa menyembuhkan penyakit itu?" Tanya Zaviest dengan menahan geraman dari suaranya. Dirinya kesal karena ketika ia pergi hanya untuk sebentar saja negaranya begitu kacau balau.
"Mohon maaf, Yang Mulia. Kami sudah mengupayakan banyak bahan-bahan obat, tapi tidak satu pun berhasil kecuali.. " Dokter itu terlihat ragu mengatakannya. Dia tak yakin apakah ucapannya akan membuat Raja tenang atau malah memantik amarahnya.
"Kecuali apa? Katakan saja!" Perintah Zaviest. Dirinya sudah terlalu bosan mendengarkan hal yang bertele-tele.
"Akar merah, kami memiliki sedikit akar merah, setelah di coba, penderita mengalami perubahan,"
Mata Zaviest terbuka, ia lalu menolehkan kepalanya ke arah si dokter dan menegakkan tubuhnya. Inilah yang dirinya tunggu sejak tadi. Sebuah solusi, bukan hal-hal yang tidak pasti.
"Lalu, produksi saja obat dari akar merah itu! Aku akan menanggung semua biayanya, termasuk biaya percobaan." Kata Zaviest dengan antusias.
"Masalahnya Yang Mulia."
"Masalah apa lagi?"
"Persediaan akar merah di Sholaire sangat sedikit, itu pun sudah habis digunakan, sementara akar merah itu hanya bisa diperoleh jika kita membelinya dari Luxorth." Jelas sang dokter dengan hati-hati, dia tidak ingin sang Raja menjadi kecewa lagi.
"Apa?!" Tidak bisa dipastikan apakah itu nada kekecewaan atau kegirangan. Tapi Zaviest berusaha menyembunyikan senyum tipisnya dengan mengerutkan keningnya.
"Di antara pedagang apakah sudah tidak ada persediaan?"
Dokter tersebut menggeleng pelan. "Akar merah itu sangat langka Yang Mulia, kabarnya hanya ditanam di area istana Luxorth."
"Jadi begitu," Zaviest tampak berpikir, ia menggigit kuku ibu jarinya. Bagaimana dia bisa membawa akar merah itu ke Sholaire dengan cepat? Menggunakan jalur darat, sangatlah tidak mungkin, menggunakan Feiry juga mustahil.
"Beri aku waktu tiga hari, akan kubawakan yang kau butuhkan. Kira-kira untuk ratusan orang itu, berapa yang kau butuhkan?" Tanya Zaviest.
"Sekiranya 150 Kilo, Yang Mulia." Balas si dokter.
"Baiklah, kau boleh pergi sekarang." Ujar Zaviest.
"Baik, Yang Mulia. Hamba undur diri." Dokter itu kemudian berjalan keluar dari ruangan Raja.
Setelah dokter itu pergi, Zaviest melihat ke arah jendela besar yang terletak tak jauh dari sana. Dirinya sedang menanti kedatangan Feiry. Tapi sejak ia mengirim surat Feiry mengirimkan surat, dia tak kembali. Sihir hubungan telepatinya pun telah terputus karena batas waktu.
"Apakah dia benar-benar tak membalas suratku?" Gumam Zaviest, ia kembali menopang kepalanya dengan tetap memandangi ke arah jendela.
Tak lama kemudian, suara ketukan pintu terdengar oleh Zaviest. Dranis memohon ijin untuk masuk, ia tidak sendiri karena di belakangnya ada seorang gadis cantik dengan gaun indah yang melekat di tubuhnya. Zaviest bahkan tidak repot-repot melihat ke arah Dranis.
"Yang Mulia, saya membawa Puteri Pejabat sensor negara bersama saya. Ingin menghadap anda sebagaimana perintah dari Ibu Suri Agung." Kata Dranis.
Kalimat yang terlontar dari bibir Dranis cukup mengusik Zaviest karena ia langsung mengubah posisi duduknya dan menegakkan tubuhnya. Mata emas Zaviest menatap gadis yang berdiri di belakang Dranis. Gadis yang memiliki tubuh tinggi, dengan tubuh kurus, wajahnya cantik, ia memiliki bibir yang tebal dan berwarna merah dan rambutnya yang cokelat berkilau.
"Siapa namamu?" Tanya Zaviest dengan nada kaku.
"Sa-sa-saya Milerva, Yang Mulia." Ujarnya dengan gugup.
Zaviest tersenyum hanya untuk membuat gadis itu tidak merasa tegang. Tapi dia tidak tertarik dengan gadis yang berdiri di belakang Dranis dengan kedua jari tangan yang terjalin di depan tubuhnya itu. Gadis itu bahkan begitu takut hanya untuk menatap wajahnya.
"Nama yang cantik, jadi kau puteri Tuan Dagha?"
"Ya, iya be, benar, Yang Mulia."
Kepaak kepakk
Sebuah kepakan sayap terdengar dan menarik perhatian Zaviest. Seketika ia menoleh ke arah jendela dan melihat burung berbulu perak kesayangannya terbang di luar jendela besarnya. Mata Zaviest pun berbinar melihatnya, seolah dirinya baru saja menemukan harta karun. Tanpa berpikir panjang, ia segere melompat dari tempat duduknya dab berlari ke arah Feiry.
Zaviest meraih Feiry dalam dekapannya dengan erat. Ia mengusap-usap bulu burung itu meski sang burung tampaknya begitu tersiksa dalam dekapan majikannya.
"Ah, Nona Milerva, terimakasih sudah bersusah payah datang kemari! Kau boleh pergi sekarang." Kata Zaviest tanpa menoleh ke arah Milerva.
"Dranis, antarkan Nona Milerva dan berikan hadiah yang pantas untuknya." Ujar Zaviest lagi.
Dranis tampak bingung dan merasa bersalah pada Milerva karena Zaviest yang acuh tak acuh, akan tetapi ia tak bisa melawan kehendak Zaviest, jadi ia segera mengantarkan Milerva yang wajahnya terlihat kecewa keluar dari ruangan tersebut.
Zaviest sangat bahagia sekali melihat Feiry datang disaat pikirannya keruh dengan berbagai masalah yang terjadi di Sholaire. Ia segera mengangkat tubuh Feiry untuk mencari sesuatu, dan ia menemukan sebuah gulungan kecil di ikatkan pada kaki Feiry.
"Dia membalasnya!!" Pekiknya kegirangan. Zaviest memeluk Feiry dengan erat sembari menciumi puncak kepala burung itu.
Kwaak! Kwaak!
Feiry meronta karena merasa tercekik dalam dekapan Zaviest. Tapi majikannya itu tidak sensitif, sampai ia mengambil gulungan kecil suratnya di kaki si burung.
"Kau burung pintar." Untuk terakhir kalinya Zaviest mencium puncak kepala Feiry lalu ia menjentikkan jemarinya dan muncul satu mangkok besar berisi makanan kesukaan sang burung.
"Makan yang banyak, ini hadiah untukmu." Kata Zaviest kemudian dia kembali ke tempat duduknya untuk membaca surat itu.
Jantung Zaviest berdebar-debar dengan kencang selagi dirinya membuka surat itu. Senyumnya merekah dengan sangat lebar saat melihat goresan tangan Vizena di atas kertas tersebut. Zaviest bahkan membayangkan bagaimana raut wajah Vizena saat membalasnya, mungkin kesal tapi juga tersenyum. Zaviest mulai membaca isi dari gulungan kertas yang tidak besar itu.
______________
Untuk Tuan Dranis
Kau pasti sedang sibuk, sampai hanya lampu itu yang kau pikirkan. Tapi kupikir lampu itu efektif, aku pikir melihatmu dalam mimpi!
Siapakah nama burung yang cantik ini? Jangan buat dia kelelahan dengan mengirim banyak surat!
Vizena.
_____________
Senyum mengembang dari wajah Zaviest ketika ia membaca kata perkata dari surat itu. Bahkan ia membacanya berkali-kali dan tak rela jika hasil goresan tangan Vizena itu hilang dari pandangannya.
Setelah puas membaca surat dari Vizena, ia meraih kertas dan pena yang ada di meja kerjanya, dan segera menuliskan balasan untuk Vizena.
"Maaf tapi aku harus merepotkanmu lagi, Feiry." Gumam Zaviest sembari menggulung kertas itu menjadi gulungan kecil kemudian mengikatkannya pada kaki burung yang sedang menikmati kudapan istimewanya.
Feiry hanya mengedipkan matanya dan terlihat kesal pada Zaviest, ia baru sampai dan menikmati makanan istimewanya tapi harus terbang ratusan mil hanys untuk menyampaikan sebuah gulungan kecil.
"Setelah ini kau akan mendapatkan makanan yang lebih enak." Janji Zaviest. "Ini benar-benar penting untuk Sholaire." Katanya lagi meyakinkan Feiry.
Feiry mengepakkan sayapnya dengan malas, ia terbang ke angkasa begitu lambam seolah semua energinya telah terserap habis. Tapi ia tidak menyerah dan tetap terbang untuk menyampaikan pesan dari Zaviest.
"Dranis?" Panggil Zaviest pada Dranis yang tampaknya belum kembali setelah mengantarkan Milerva.
"Penjaga?" Zaviest memanggil penjaga yang ada di luar ruangannya. Salah seorang penjaga lalu masuk kedalam, langsung berlutut, siap menerima perintah Rajanya.
"Tolong panggilkan Pangeran Moscha. Katakan ini penting." Ucap Zaviest.
"Laksanakan. Yang Mulia."
.
.
.
::Bersambung::