45. The Rain

1336 Words
Mendung terus menutupi cahaya matahari di langit Luxorth. Beberapa hari begitu tampak suram, tapi tak setitik pun air dari langit jatuh ke tanah. Seolah langit ikut bersedih sama halnya dengan permata Luxorth yang saat ini sedang duduk di pinggir kolam sembari melempari ikan-ikan dengan makanan. "Ini akan menjadi kasus pertama dimana ikan mati karena kekenyangan." Suara berat milik Zaviest tidak mengusik kerumunan ikan yang sedang lahap memakan butiran pakan yang mengambang di air. Mereka berebut tanpa sadar sebentar lagi perut mereka akan meletus karena terlalu banyak makan.  Di samping itu, Vizena tidak mengatakan apapun. Dia hanya menghentikan tangannya dari melempar pakan dan menatap kosong pada kehampaan.  Keheningan menyapa keduanya, hanya hembusan angin dan suara kecipak air di bawah mereka yang menemani. Hal seperti ini sudah terjadi sejak Zaviest tiba di tempat ini.  Malam itu ketika Zaviest melangkahkan kakinya pada kamar Vizena. Dirinya menemukan Vizena tergeletak di sudut ruangan, kecemasan muncul dan menggerogoti tubuh Zaviest, dia menghambur dan berpikir bahwa Vizena terluka akan tetapi setelah ia tahu gadis itu rupanya hanya tertidur di sudut gelap ruangan itu.  Keesokan harinya, ketika bangun pun Vizena tidak terkejut mendapati Zaviest sedang menatapnya dengan mata merah karena tak tidur semalaman untuk menunggunya. Dia hanya mengatakan dua kalimat yang ambigu, apakah itu pertanyaan atau pernyataan Zaviest tak mengerti. "Kau disini." Nadanya cukup datar dengan suara yang begitu lemah. "Ya, saya disini. Bagaimana keadaan anda?" Zaviest tahu keadaan gadis itu tentu tak baik-baik saja, melihat rupanya yang tak secerah biasanya, bibirnya yang hanya terbentuk menjadi satu garis lurus, dalam matanya tak ada emosi apapun. Kosong! Itulah Vizena sekarang, jiwanya tenggelam dalam kehampaan yang tak berdasar. Vizena hanya menjawab dengan anggukan, kemudian ia beranjak dari ranjangnya. Zaviest seketika menahan lengan Vizena hingga gadis itu menoleh padanya, menatap matanya dengan intens. Saat itulah, Zaviest menyadari sesuatu, Vizena sedang menyimpan hal yang mengerikan seperti sebuah peledak yang bisa meledak sewaktu-waktu, dendam.  Suara langkah kaki menyadarkan Zaviest dari lamunannya. Kepalanya menoleh ke kiri, dan Vizena rupanya tengah berjalan pergi dari kolam itu. Buru-buru, Zaviest menyusul Sang Tuan Puteri lalu berjalan di sampingnya.  "Apakah hari ini akan turun hujan?" Tanya Zaviest untuk memecah kebekuan di antara mereka. Vizena berhenti sesaat lalu mendongak ke atas untuk melihat langit. "Bagaimana hujan akan tumpah jika airnya sudah kering?" Kata Vizena lalu ia kembali berjalan.  Zaviest mendongak ke atas dengan keningnya yang berkerut sangat dalam, "bagaimana air hujan bisa mengering?" Gumamnya lalu ia kembali berjalan menyusul Vizena.  Tuan Puteri berjalan dalam diam menyusuri teras istananya. Ia pergi ke paviliun lain dari tempat tinggalnya, masuk ke dalam sebuah kamar yang di jaga ketat oleh dua penjaga. Melihat Vizena datang, kedua penjaga itu segera memberi hormat dan membukakan pintu untuk Sang Puteri. Kamar itu tidak terlalu luas jika dibandingkan dengan milik Vizena, namun cukup nyaman. Di tengah ruangan terdapat sebuah ranjang, dengan seseorang terbaring di atas ranjang itu. Melihat kedatangan Vizena ia segera mencoba untuk duduk, buru-buru Vizena berjalan menghampirinya dan meminta dia untuk tetap berbaring di ranjang. Menyaksikan sosok yang berbaring di ranjang itu, membuat Zaviest tak bisa berkata-kata. Dia bahkan merasa tak bisa bernafas karena rasa terkejutnya yang luar biasa. Hampir saja dia tidak mempercayai penglihatannya sendiri sampai harus mengerjapkan matanya berkali-kali untuk meyakinkan dirinya sendiri. "Bagaimana keadaanmu, Ariah?" Tanya Vizena dengan suara yang lirih. "Sangat baik, Yang Mulia." Balasnya dengan nada lemah. Jelas sekali dia belum pulih sepenuhnya, wajahnya pucat dan masih tampak memarnya yang berwarna keunguan di sekitar wajah dan lehernya. "Syukurlah, dimana Rasheq?" Tanya Vizena. Sesaat kemudian Rasheq masuk, pemuda itu tak lebih baik, kakinya hampir patah sehingga dia harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Dia juga terluka akibat membantu Ariah melarikan diri.  "Jangan pergi sembarangan, nanti kakimu akan lama pulihnya."  Zaviest tercengang, akhirnya dia mendengarkan Vizena bicara begitu panjangnya.  "Tuan Dranis anda disini?" Tanya Ariah yang menyadari sosok Zaviest yang mematung sejak masuk ke kamar ini. Pria itu terkesiap, ia mengangguk pelan sebagai jawabannua untuk Ariah. "Aku tidak menyang-" Zaviest berbicara namun disela oleh Vizena. "Istirahatlah, aku harus kembali." Katanya dengan nada datar lalu ia berbalik dan berjalan pergi. Zaviest segera berbalik dan menyusul Vizena. Melihat Vizena saat ini, jika ia bertanya mungkin tidak akan pernah mendapatkan jawabannya. Meski Zaviest sangat ingin bertanya, ia menahannya dan menunggi waktu yang tepat. Sebagai seorang Raja, ia merasa cukup bodoh melihat apa yang terjadi ini. Tidak!  "Sampai kapan akan menjadi pengawal pribadiku?" Tanya Vizena ketika mereka telah sampai di depan pintu kamar Vizena. "Selamanya?" Jawab Zaviest dengan nada bermain-main. Senyuman samar terlihat di wajah Vizena. Dia kemudian membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam di susul oleh Zaviest.  "Saya tidak mengerti, jika gadis itu masih hidup mengapa Anda begitu berduka?" Tanya Zaviest menuntut jawaban. "Ariah sudah tiada." Suara Vizena sangat dingin. Zaviest semakin tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Vizena.  "Bagaimana mungkin, tapi-" "Untuk menipu musuhmu, kau juga harus menipu dirimu sendiri." Vizena menginterupsi, ia berjalan ke arah jendela yang terdapat di kamarnya, menatap ke luar jendela sembari menerawang jauh. Pagi itu, ketika ia melihat tubuh Ariah hatinya hancur lebur. Ariah terluka begitu parah, wajahnya babak belur dengan darah keluar dari hidung dan sudut bibirnya, tubuhnya memar-memar, mereka yang menyiksanya pun mencabut kuku jari Ariah sampai hanya menyisakan dagingnya saja. Bagaimana hati Vizena tak hancur?  "Yang Mulia, sebaiknya anda-" Saat itu Gard berusaha untuk menenangkan Vizena. Vizena menoleh padanya dengan tatapan tajam dan mata merah penuh air. Ia lalu bangkit, berdiri sejajar dengan Gard. "Pergi kau dari sini! Kau pembunuh! Pembunuh!!" Vizena berteriak dengan histeris sembari memukul d**a Gard. "Yang Mulia, aku tidak-" "Pergi kau! PERGI!!" Vizena mendorong tubuh Gard hingga pria itu tak memiliki pilihan lain dan pergi dari tempat itu.  "Penjaga, bawa Ariah ke paviliun belakang." Pinta Vizena. Dengan sigap penjaga membawa tubuh Ariah ke paviliun yang dimaksud oleh Vizena, penjaga yang lain membantu Rasheq yang juga terluka.  "Panggilkan dokter Pidel, tempat tinggalnya di sebelah alun-alun kota, bawa dia dengan rahasia jangan ada seorang pun yang mengetahuinya." Perintah Vizena. Setelah dokter itu datang, Vizena meminta penjaga menutup pintu utama dan menjaganya agar tak seorang pun masuk ke dalam tempat tinggalnya. Lalu ia meminta sang dokter untuk memeriksa Ariah terlebih dahulu. "Dia mengalami penyiksaan yang luar biasa, tapi untunglah tidak ada organ dalamnya yang mengalami kerusakan parah. Setelah meminum resep obatku, dia akan segera pulih." Jelas dokter Pidel.  Sepanjang malam itu Vizena duduk di samping ranjang Ariah. Tangannya menggenggam tangan Ariah dengan lembut sembari melihat kuku jarinya yang kini sudah terbalut perban. Airmata bening menetes dari mata lembayung Vizena, dan ia terisak pelan. "Maafkan aku, maafkan aku Ariah." Vizena terus mengucapkannya berkali-kali. Namun dalam hatinya ia berkata lain. 'Aku akan membalas mereka yang menyakitimu.' gumam batin Vizena. Setelah memastikan bahwa Ariah bisa di selamatkan. Vizena menyiapkan semua hal, dia meminta penjaganya untuk mencarikan mayat seorang gadis di rumah sakit kota secara diam-diam, lalu memberikan kabar buruk tentang kematian Ariah pada keluarganya.  Vizena berpikir ini akan mengecoh orang yang berusaha untuk mencelakainya dan memberikan dirinya waktu untuk menyusun strategi pembalasan dendamnya. "Haruskah saya membantu Puteri?" Suara Zaviest menarik Vizena kembali pada realita. Ia menoleh dan menatap pria itu dengan seksama.  "Malam itu, di tengah hutan. Kau kah itu?" Tanya Vizena mengalihkan pertanyaan Zaviest dengan pertanyaan yang lain. Samar-sama Vizena melihat sosok yang begitu mirip dengan Zaviest, namun saat itu rambut pria yang datang padanya terlihat sangat cerah.  Zaviest terdiam sesaat, ia begitu hati-jati menilai raut wajah Vizena. Dia tahu, jika ia salah menjawab mungkin saja identitasnya akan terbongkar. "Ahh, tapi dia berambut putih." Ujar Vizena, "tidak mungkin itu kau." 'Warnanya peraaaak bukan putih.' Erang Zaviest dalam hatinya. Dia tersenyum simpul pada Vizena, berharap senyum itu bisa mengalihkan Vizena dari dirinya. "Lantas mengapa kau terus kemari? Apa kau tidak punya pekerjaan lain?" Vizena mulai menyelidiki.  Zaviest tersenyum sesaat sembari memikirkan alasan yang tepat. Tidak mungkin ia tiba-tiba mengatakan datang untuk menghibur Vizena karena kematian Ariah atau Vizena akan semakin mencurigainya.  "Sudahlah, itu tidak penting. Kau selalu muncul di waktu yang tidak terduga. Tiba-tiba muncul dan tiba-tiba menghilang sesuka hati." Balas Vizena.  Diam-diam Zaviest menghela nafasnya, ia begitu lega karena Vizena tidak menggali lebih dalam.  "Sudah terbiasa seperti itu." . . . ::Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD