Berbaris dengan rapi Pangeran Kedua, Pangeran Kelima dan juga pengikut setia Raja Zaviest De'Laire di hadapan Yang Mulia Ibu Suri Agung. Ketiganya menunduk dengan tangan diletakkan diatas paha, terdiam seribu bahasa ketika amarah Ibu Suri meluap-luap melalui kata-katanya yang begitu pedas.
Mengetahui bahwa Zaviest pergi secata diam-diam dari istana membuat Ibu Suri marah besar. Seketika ia memanggil anak-anaknya yang tersisa untuk dia jadikan bahan pelampiasan.
"Bagaimana semua ini bisa terjadi! Apa saja sebenarnya kerjamu!" Katanya tajam sembari menuding Dranis yang ketakutan di tempatnya.
"Ibunda, jangan terlalu keras dengannya, lihatlah dia akan mengompol!" Moscha menyela, Vein menyenggol lengan adik bungsunya itu lalu memelototinya. Ini bukan saat yang tepat untuk membuat lelucon.
"Bagaimana aku bisa melahirkan anak sekonyol ini! Siapa yang mengajari kalian?" Bentak Ibu Suri, tak bisa lagi menahan amarahnya.
"Vein, kau lebih dewasa dari adik-adikmu, tapi kenapa kau biarkan kakakmu selalu menyelinap keluar?"
Vein menghela nafas diam-diam, dalam hatinya bergolak penolakan dengan tuduhan seperti itu. Bagaimana bisa dia menahan Zaviest untuk pergi? Mereka tidak tinggal satu atap! Bagaimana Vein tahu kalo Zaviest akan menyelinao sesuka hatinya? Sebenarnya Vein tahu, sudah kebiasaan Zaviest sejak masih muda, suka sekali menyelinap keluar dari istana.
"Dan kau! Bukankah Zaviest paling menyayangimu!" Ibu Suri kini beralih pada Moscha yang sudah tak berani menyunggingkan senyuman jahilnya, "mengapa kau tidak bisa mencegahnya pergi? Apa gunanya kasih sayang Zaviest jika kau tidak pandai memanfaatkan itu?"
"Dia memanfaatkannya Ibunda." Suara lain menyahut, ke empat orang itu menoleh secara bersamaan ke arahnya. Ketiga orang yang sedang mendapatkan hukuman itu seketika berdiri lalu berlari ke arah Zaviest.
Melihat Zaviest begitu sangat melegakan bagi mereka, seolah mereka telah menemukan harta karun yang bisa menyelamatkan hidup mereka.
Sementara Ibu Suri memalingkan wajahnya, dia terlalu marah untuk menghadapi putera sulungnya yang ceroboh itu.
Zaviest melotot pada kedua adiknya lalu pada Dranis. Karena mereka Ibu Suri jadi mengetahui dia sedang menyelinap keluar dan marah-marah.
"Kalian ini! Mengapa membuat Ibu marah?" Desis Zaviest dengan suara yang sangat lirih.
"Bukan aku!" Ujar Moscha sembari menggelengkan kepalanya. Zaviest menatap Vein, dia pun sama menggelengkan kepalanya tanpa bersuara. Lalu ketiganya pun menoleh ke arah Dranis, hanya dia satu-satunya orang yang kemungkinan besar telah membocorkan informasi Zaviest menyelinap.
"Sa-sa-saya tidak sengaja, Yang Mulia." Jawabnya sembari menatap Zaviest dengan mata yang berkaca-kaca.
Dranis memang tidak sengaja melakukan kesalahan. Ketika Moscha memintanya untuk memanggil Tetua Penyihir dan Pangeran Kedua Vein, ia menggerutu sendiri. Tapi siapa yang menyangka saat itu ada Ibu Suri yang hendak mengunjungi Raja, dan mendengar semua ucapan Dranis.
"Ah sudahlah." Gumam Zaviest, dia kemudian melangkah maju menuju ke Ibu Suri. Setelah dekat, kemudian ia meraih tangan sang Ibunda, di genggamnya lembut, di ciumnya dengan penuh kasih, lalu di belainya.
"Kenapa kau ini sangat ceroboh sekali, kau adalah seorang Raja." Ibu Suri mulai bercuit lagi. Zaviest tersenyum cerah agar sang Ibu terhibur, sementara satu tangannya yang lain ia kibaskan ke arah adik dan pengikutnya mengisyaratkan pada ketiga orang itu pergi.
Melihat tanda dari Raja, ke tiganya langsung berlari pergi meninggalkan Putera Sulung dengan Ibunya itu.
"Maafkan aku Ibunda, aku benar-benar tidak tahan jika harua berdiam diri di kamar."
"Banyak tugas yang harus kau selesaikan, nak. Kau ini seorang Raja."
Ibu Suri mengingatkan berkali-kali. Seperti Zaviest begitu mudah lupa dengan tanggung jawabnya.
"Bukankah aku telah menyelesaikannya dengan baik?" Tanya Zaviest dengan suara manjanya. Ia pun menuntun Ibu Suri untuk menuju ke sebuah paviliun kecil yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.
Zaviest duduk disamping Ibunya, ia menatap sang Ibu yang sudah berumur namun tetap begitu cantik. Bahkan kemarahan tak membuat keriputnya bertambah.
"Memangnya apa yang menarik sampai kau suka sekali menyelinap, apa di luar istana begitu hebat?"
Zaviest menggeleng perlahan, bukan di luar istana yang sangat hebat. Tapi daya tarik seseoranglah yang membuat dia tidak tahan untuk duduk diam berada dikamarnya sepanjang malam.
"Lalu kemana kau pergi? Aku dengar Dranis mengatakan kau pergi lebih jauh, kemana?"
"Luxorth." Jawab Zaviest tanpa ragu. Dia tidak perlu menyembunyikan apapun pada ibunya. Toh, semua orang di Daratan Lima Negara mengetahui bahwa Luxorth memang kerajaan yang indah.
Mata indah Ibu Suri membelalak dengan lebar, ia sangat terkejut sampai tak berkedip menatap anaknya. Mencari kebohongan atau sedikit saja kejenakaan di mata Zaviest, tapi tak menemukannya. Seketika itu, kedua tangannya menangkup wajah Zaviest dan membelainya.
"Oh Puteraku, kenapa kau gunakan energimu untuk perjalanan jauh seperti itu. Apa kau lupa, kau tidak bisa menggunakan energimu untuk hal seperti itu."
Zaviest menghela nafasnya. Dia tidak lupa atau semacamnya. Masih segar dalam ingatannya peringatan yang dia dapatkan ketika baru saja tersadar setelah mengalami kejadian nahas di usianya yang masih belia.
'Saat ini energi dalam tubuhmu sangat lemah karena pengaruh sihir gelap! Lihat ayahmu, dia meninggal karena menyelamatkan nyawamu! Kau tidak boleh menggunakan energimu sembarangan atau nyawamu menjadi taruhannya!'
Perasaan takut saat itu masih menghantuinya bahkan hingga saat ini. Tapi Zaviest sudah berlatih untuk mengendalikan dan melatih kembali energi sihirnya. Hal itu tidak lagi membuatnya gentar.
"Yang Mulia...." Ibu Suri memanggil, suaranya menembus ke dalam angan Zaviest dan menariknya ke luar dari lamunannya.
"Ya Ibunda?"
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Zaviest hanya menggeleng, Ibu Suri merasa heran dengan perubahan sikap anaknya itu. Zaviest tak terbuka seperti biasanya. Seolah ada yang di sembunyikan.
"Kau tidak sering menyelinap karena Ibu memintamu untuk memilih calon Ratu kan?"
Mendengar pertanyaan Ibu Suri, tawa Zaviest tumpah begitu saja. Ia tergelak dan tak bisa mengontrol tawanya.
"Mengapa berpikir demikian?" Tanya Zaviest setelah melihat wajah cemberut Ibu Suri.
"Lalu apa hanya karena bosan kau pergi ke Luxorth?" Desak Ibu Suri. Pasti ada hal yang menarik perhatian Zaviest hingga pergi ke negara yang begitu jauhnya dengan mengorbankan energinya.
Zaviest mendekatkan kepalanya pada Ibu Suri, sembari tersenyum ia membisikkan sesuatu ke telinga sang Ibunda, "Calon ratuku, dia tinggal disana."
"APAA?!" Pekik Ibu Suri, ia kemudian memukul pundak Zaviest agar memundurkan bahunya.
"Iya Ibu, dia tinggal disana."
"Aku bisa gila! Yang Mulia, apa kepalamu tertukar dengan kepala Moscha?" Tanya Ibu Suri sembari memeriksa kepala Zaviest.
"Kepalaku masih sama Ibunda." Desah Zaviest.
"Lalu kenapa, kenapa tidak dibawa kemari?" Tanya Ibu Suri, kali ini ia terlihat antusias. Lama sekali ia menantikan hari dimana Zaviest akan menikah, bahkan ia sudah berusaha memilihkan calon Ratu, dan sekarang Zaviet membawa kabar baik bagi dirinya, ini sungguh berita yang luar biasa.
"Saat ini belum waktunya, ketika waktunya telah tiba aku akan membawanya kemari sebagai seorang Ratu." Kata Zaviest dengan sungguh. Tiap katanya mengandung janji yang dia tekankan pada dirinya sendiri.
"Aku tidak mengerti, mengapa harus menunggu waktu yang cepat?"
Zaviest hanya terdiam sambil menyunggingkan senyuman terindahnya kepada Ibu Suri.
°°°°°
Menjelang istirahat Raja, Dranis memeriksa minyak pada setiap lampu tidur Raja. Dia juga memastikan tempat tidur raja rapi dan bersih. Setelah itu ia melapor pada Zaviest yang memeriksa tumpukan dokumen di ruang kerjanya.
"Sudah selesai?" Tanya Zaviest, ia kemudian menutup sebuah dokumen dan beranjak dari mejanya.
"Sudah, Yang Mulia."
"Dranis, sebelum persidangan besok tolong panggilkan Tetua Penyihir." Kata Zaviest. Ia berjalan ke arah ranjangnya lalu melepaskan alas kakinya dan bersiap untuk menuju ke alam mimpi.
Sesaat sebelum Zaviest memejamkan matanya, ia teringat sesuatu. Sebelum dirinya kembali dari Luxorth, ada hal yang membuat hatinya begitu gembira sehingga dengan senang hati ia kembali ke Sholaire.
Di hadapannya Vizena sedang menatap papan permainan caturnya dengan sangat serius, keningnya berkerut begitu dalam dan ia menggigiti kuku jari tangannya yang menandakan ia sedang berpikir sangat serius.
"Jadi saya boleh kembali kapanpun aku mau?" Tanya Zaviest.
"Hmm." Balas Vizena sembari mengangguk tapi tatapan matanya masih fokus pada permainan caturnya. Keputusan terakhirnya, ia menggerakkan pionnya ke depan satu langkah, menghalangi sebuah bidak untuk melangkah.
"Menyenangkan sekali, saya akan sering kemari seperti yang anda katakan dan menciptakan rumor." Balas Zaviest, jari tangannya menyingkirkan kuda milik Vizena dan menghadang benteng si musuh.
"Ah sial!" Decak Vizena Frustasi karena 'Raja' miliknya terancam musnah dan hampir tak bisa bergerak. Ini sudah ke sekian kalinya dia hampir kalah, tapi anehnya Zaviest selalu memberi celah bagi Vizena untuk melarikan diri.
Melihat raut wajah Vizena dengan ekspresi kesal sangat menyenangkan bagi Zaviest, ia terus menatapnya tanpa berkedip sama sekali.
"Jadi apa yang ingin anda lakukan untuk membalas perbuatan mereka."
"Ssssshhhh!" Vizena mengerucutkan bibirnya memikirkan caranya untuk mengeluarkan 'raja'nya dari kematian yang tragis itu, Zaviest hanya terkekeh melihatnya. "Arghh, aku tidak tahu lagi!! Mengapa kau memojokkanku!" Pekik Vizena karena ia tak menemukan cara untuk kabur.
"Menyerah?"
"Tidak! Aku tidak akan menyerah sampai menang." Balas Vizena bersungut. Matanya hampir keluar dari tempatnya karena menatap papan catur tanpa berkedip.
Menunggu Vizena memikirkan langkah selanjutnya, Zaviest mengupas buah dengan tenang, ia mengirisnya menjadi beberapa bagian lalu satu bagian ia suapkan pada gadis yang begitu serius bermain catur itu.
"Aa! Aku tahu! Begini!" Vizena menggerakkan rajanya dan memakan menteri milik Zaviest dan berhasil keluar dari kekalahan.
Pandangan Zaviest tak lepas dari Vizena, ia begitu menikmati perubahan ekspresi yang di miliki oleh Tuan Puteri itu.
"Tapi anda tetap kalah, Puteri." Balas Zaviest dan ia menyingkirkan benteng yang melindungi raja dan membuat Vizena kalah telak secara tragis setelah sekian lama bertahan.
Vizena begitu lesu, bahunya merosot kecewa melihat kekalahannya yang tak terhindarkan lagi. Mendengar Zaviest terkekeh ia langsung melempar tatapan tajamnya ke arahnya.
"Kau pasti curang!"
"Tidak, bagaimana mungkin?" Zaviest tidak bisa menahan tawanya. Dia tidak akan bisa melakukan kecurangan sementara tatapan matanya hanya memandangi Vizena seorang sepanjang permainan.
"Lalu bagaimana kau bisa menang terus dariku, Leoxard tidak pernah menang menghadapiku." Balas Vizena dengan kesal.
"Karena hanya saya yang bisa mengalahkan anda." Sahut Zaviest dengan bangga.
"Ah sudahlah, lebih baik main yang lain saja."
"Kita masih memiliki banyak waktu, hari ini saya harus kembali."
Mata Vizena sedikit melebar, meski dia tahu cepat atau lambat Zaviest akan pergi tapi tetap saja, saat ini Zaviest adalah teman bermain yang menyenangkan.
"Baiklah, ingat kau harus datang setiap sore atau malam sampai rumor itu benar-benar menyebar."
"Tentu saja!"
"Aku menunggumu."
Kalimat terakhir dari Vizena itu sungguh membuat perasaan bahagia dalam hati Zaviest membuncah. Dia tidak akan pernah melupakannya meski waktu berlalu seratus abad sekali pun. Mengingat hal itu, Zaviest terus tersenyum sampai matanya yang mengantuk itu terpejam. Dirinya sungguh tidak sabar untuk menunggu esok hari demi bertemu dengan Vizena lagi.
.
.
.
::Bersambung::