47. Sparkle of Love

1887 Words
Senja hari itu begitu jingga, dipadukan dengan kubah-kubah istana Luxorth yang berwarna biru seolah melihat sebuah lukisan yang menjadi nyata. Meski cuacanya sangat indah, tapi bukan waktu yang tepat untuk menikmati taman bunga yang mana kelopak-kelopak bunga itu mulai menutup. Setidaknya itulah yang sedang di pikirkan oleh Vizena ketika melihat Kaisar Mouszac sedang berdiri di tengah-tengah taman.  Di tangan Vizena terdapat sebuah mantel milik Kaisar, sengaja ia meminta kepada Tormen untuk mengambilkan mantel tersebut. Beberapa hari ia tidak bertemu secara pribadi dengan Kaisar karena mengurus Ariah. Mereka hanya bertemu ketika persidangan rutin di pagi hari.  Pagi ini setelah ia selesai mengikuti persidangan, Tormen mengejarnya ke luar dari tempat persidangan. Lalu mengatakan sesuatu yang cukup membuat Vizena terkejut.  "Bagaimana bisa, Ayah baik-baik saja selama ini." Decak Vizena kala itu. Dadanya terasa sesak, ia tak bisa mengambil nafas dengan benar. Belum selesai masalah yang menimpa Ariah, kini ia mendapat kabar ayahnya sedang sakit dan sudah terjadi sejak kepergian kakaknya.  "Gejalanya sangat ringan pada awalnya, Yang Mulia Kaisad hanya mengalami batuk ringan. Akan tetapi beberapa hari ini. Keadaannya memburuk." Ujar Tormen. "Apa kau sudah meminta dokter untuk memeriksanya?" Tanya Vizena.  "Dokter sedang memeriksa penyebabnya. Yang Mulia Kaisar pun rutin meminum obatnya." Vizena menghela nafas lega, setidaknya Kaisar menurut dan memimum obatnya dengan rutin. Akan sangat mengkhawatirkan jika Kaisar menolak meminum obatnya.  'Uhukk-uhuk.' Suara batuk Kaisar menggugah Vizena, ia langsung berjalan menuju Kaisar melewati jalan setapak yang berada di tengah-tengah taman. Ketika menyadari kedatangan Vizena, Kaisar menoleh, raut wajahnya tampak terkejut tapi hanya sesaat lalu ia tersenyum. Vizena menyampirkan mantel pada bahu Kaisar. "Ayah, udaranya dingin. Mengapa keluar tanpa mantel?" Tanya Vizena. Kaisar Mouszac tersenyum, tangannya terjulur untuk menepuk lembut kepala Vizena. "Kau mengkhawatirkan ayah?"   Vizena mengangguk pelan. Dia menatap Ayahnya dengan seksama, Kaisar memang terlihat pucat, matanya sayu, bahkan terlihat seolah sangat berusaha keras untuk terbuka.  "Sebentar lagi gelap, sebaiknya kita masuk ke dalam." Ujar Vizena lagi.  "Tentu, mari." Bersama dengan Puterinya, Kaisar berjalan masuk kembali ke dalam istana pribadinya.  "Pelatihan yang kau kerjakan berjalan lancar?" Tanya Kaisar sembari berjalan di lorong teras.  "Sangat lancar, anak-anak di akademi juga belajar dengan giat." Balas Vizena. Kenyataannya memang seperti itu, setiap ia mengunjungi tempat pelatihan mereka tampak sangat antusias. Mereka sangat menyanjung Vizena dan menyayangi Sang Puteri. "Bagaimana keadaanmu?" Tanya Kaisar dengan langkah yang tiba-tiba saja terhenti.  "Semuanya sudah berlalu." Nada suara Vizena berubah dengan drastis. Ia teringat malam kejadian itu, dia harus berterimakasih kepada Kaisar Trugeris Khan yang telah mengajarinya seni bela diri. Jika ia tidak memiliki kemampuan itu, apa yang akan terjadi padanya? Mungkin dia sudah di lecehkan, atau bahkan tak bernyawa. "Maafkan Ayah, begitu terlambat mengetahuinya."  Vizena memakluminya. Tidak seorangpun tahu kepergiannya untuk menyelamatkan Ariah kecuali.... Ya Kecuali pria dengan rambut putih yang datang setelah ia membunuh para bandit itu.  "Ayah akan menghukun Gard ketika ia kembali, Bagaimana bisa ia menyiksa Ariah sampai tiada." Kata Kaisar.  Vizena tak menjawab, dia hanya mendampingi Kaisar hingga masuk ke dalam kamarnya. Sebelum Kaisar bersiap untuk memeriksa banyak dokumen, Vizena meminta Tormen untuk menyiapkan obat yang harus diminum oleh Kaisar.  "Tormen memang tak bisa menjaga mulutnya." Decak Kaisar. "Dia hanya khawatir Ayah, bahkan Ariah pun akan melakukan hal yang sama jika aku terluka atau sakit." Balas Vizena.  Kaisar memandangi puterinya, dia tidaklah buta untuk melihat bahwa Puterinya itu perlahan-lahan tertutup oleh aura yang suram. Dia tak banyak tersenyum, matanya selalu menatap dengan tajam, bicaranya selalu tak bernada atau tanpa emosi. Seandainya saja Kaisar bukan ayahnya, mungkin dia akan menganggap Vizena yang saat ini bukan anaknya yang selalu ceria dan manja.  "Vizena...." Panggil Kaisar dengan suara yang lembut. Vizena menoleh, matanya bertemu dengan lembutnya mata Kaisar.  "Tetap jadilah dirimu sendiri, apapun masalahnya kau tetaplah Vizena. Mengerti?" Vizena hanya tersenyum menanggapi ucapan Ayahnya, garis senyum yang tak sampai pada matanya.  "Apakah Ayah harus memeriksa semua dokumen itu?" Tanya Vizena ketika ia melihat tumpukan dokumen yang menggunung di meja kerja ayahnya.  "Tentu saja, bagaimana aku bisa menyelesaikan masalah di kerajaan ini, jika tidak memeriksanya." Ujar Kaisar.  Vizena menghela nafasnya, menjadi Kaisar memanglah tidak semudah mengedipkan mata. Sesaat kemudian Tormen datang dengan membawa nampan berisi obat dan juga manisan sebagai peredam rasa pahit. Vizena dengan hati-hati membantu ayahnya untuk meminum obat yang sudah disediakan itu. Selanjutnya, Kaisar berjalan ke arah meja kerjanya dan duduk di balik tumpukan dokumen yang setinggi gunung itu. Vizena tak tinggal diam, dia menyusul ayahnya dan duduk di seberangnya. Kaisar memandangnya dengan tatapan penuh tanda tanya.  "Ingin menemaniku? Ini akan memakan waktu yang sangaaat lama." Kata Kaisar.  Vizena menggelengkan kepalanya pelan, dia bukan ingin menemani Kaisar, melainkan ingin membantunya memeriksa semua dokumen tersebut. "Biarkan aku membantu memeriksanya, aku cukup sabar memeriksa dokumen yang banyak ini." Kata Vizena dengan antusias. "Benarkah? Kalau begitu mari kita lihat kemampuanmu, Tuan Puteri." Kaisar kemudian membagi tumpukan itu menjadi dua bagian dan menyerahkan salah satunya kepada Vizena yang tampaknya sangat antusias sekali untuk memeriksa semua dokumen itu. Wajar saja, sebagai Tuan Puteri hampir tidak pernah dirinya menyentuh dokumen kerajaan.  Satu per satu Vizena memeriksanya, membaca dengan seksama, jika ada sesuatu yang tidak dia pahami maka ia akan menanyakannya pada Kaisar. Akan tetapi sebagian besae dokumen yang dibaca oleh Vizena merupakan petisi yang dilayangkan kepada Raja, menuntut Raja untuk mengangkag Putera Keduanya, Jovach, menjadi Pewaris Kerajaan ini.  "Ayah, semua petisi ini, apa yang akan ayah lakukan dengan mereka?" Tanya Vizena.  Kaisar menegakkan kepalanya kemudian melihat kearah dokumen yang di maksud oleh Vizena. Kaisar tidak tampak terkejut melihatnya, ia hanya menghela nafas lalu kembali melihat dokumen yang dia pegang. "Singkirkan saja!" Katanya dengan nada perintah. "Ayah tidak akan menanggapinya?" "Tidak." Vizena merasa cukup aneh, mengapa ayahnya terlihat sangat terganggu dengan petisi ini.  Tiba-tiba saja Kaisar meletakkan dokumen yang dipegang ke atas meja, lalu menatap Vizena. "Vizena." Panggil Kaisar. "Ya, Ayah?" "Semua orang di dunia ini tidak memakai wajah mereka sendiri, tak ada yang benar-benar tulus, menjadi seorang Kaisar berarti hidup dalam kesepian, tidak punya teman, hanya memiliki pengikut. Apabila ingin pengikut yang setia, menjadi Kaisar yang bijaksana saja tidaklah cukup." Hening sejenak. Vizena berusaha mencerna ucapan Ayahnya, ada benarnya apa yang dikatakan oleh ayahnya. Hal yang sama pernah dikatakan oleh Trugeris ketika masih menjadi gurunya dulu.  "Aku mengerti." Balas Vizena dengan suara lirih. Kemudian ia melanjutkan untuk memerikaa dokumen-dokumen tersebut. °°°°° "Apa yang kau temukan?" Eyster bertanya pada pelayannya, Lyse. Dia baru saja kembali dari mengintai tempat tinggal Vizena. Sudah sejak berita kematian Ariah tersebar di seantero kerajaan, Lyse ditugaskan oleh Eyster untuk mengintai rumah Sang Puteri.  "Tidak ada." Jawab Lyse dengan suara lirih.  Eyster tampak kecewa, padahal dia sangat yakin sekali apa yang dia dengar dari para pelayan yang suka bergosip itu benar adanya. Mereka mengatakan bahwa Vizena menyimpan seorang pemuda di dalam kamarnya, dan bersenang-senang dengan pemuda itu sepanjang hari hingga malam menjelang. "Tidak mungkin jika ada asap pasti ada api." Gumamnya.  "Nona..." Pelayan lain mengusik angan Eyster. Dia menoleh ke arah pelayan itu.  "Ada apa?" Tanya Eyster dengan kesal. "Tuan Besar Meridiam datang." "Biarkan dia masuk."  Tak lama kemudian Louth Meridiam masuk ke dalam ruangan Eyster. Wajahnya terlihat cerah seolah ia sedang berbahagia. Ia langsung duduk, lalu meminta Eyster untuk duduk. "Ada apa paman? Mengapa malam-malam begini datang kesini?" "Apa kau sudah dengar?" "Dengar? Apa, memangnya apa yang sudah terjadi?" Tanya Eyster yang penasaran.  "Pemberontakan di perbatasan sudah diatasi, saat ini Jovach dan Gard akan kembali untuk mengguncang Ibukota." Mata Eyster membelalak dengan lebar. Ini memang berita yang sangat menggembirakan. Setelah ini dia bisa menguasai seluruh istana, dan membuat semua orang bertekuk lutut padanya, termasuk Vizena. "Aku sudah menyiapkan segalanya, Kaisar tidak akan pernah mengira bahwa akan mendapat serangan seperti itu." Kata Louth dengan bangganya "Ada satu hal lagi paman." Ujar Eyster dengan senyuman liciknya.  Louth Meridiam mendengarkan dengan seksama. Ia pun tampak terkejut mendengar penjelasan Eyster. Jika benar seperti yang dikatakan oleh Eyster, maka reputasi keluarga kerajaan akan benar-benar hancur.  "Baiklah, kita akan mengguncang Istana sesaat sebelum pasukannya datang." °°°°° Mata Vizena berbinar puas ketika dirinya mampu menyelesaikan untuk memeriksa seluruh dokumen yang diberikan oleh Ayahnya. Ia meregangkan kedua tangannya untuk menyingkirkan rasa lelahnya. Lalu pandangannya terarah pada meja tempat Kaisar bekerja, terkihat Kaisar Mouszac tertidur di atas mejanya dengan menggunakan tangannya sebagai bantal. "Memang sangat melelahkan." Gumam Vizena, ia mengambil selimut dari ranjang Kaisar kemudian menggunakannya untuk menyelimuti tubuh Kaisar.  Langkah Vizena dibuat secara perlahan agar tak menimbulkan suara saat keluar dari kamar pribadi Raja. Tepat setelah keluar dari sana ia teringat pada sesuatu.  "Astaga! Dia pasti menungguku." Gumam Vizena karena ia ingat pada Zaviest yang akan datang mengunjunginya.  Vizena menarik gaunnya ke atas, lalu ia mulai berlari menyusuri lorong teras istana raja yang luas ini. Namun, setelah berlari beberapa saat ia menghentikan langkahnya secara mendadak. "Untuk apa aku berlari?" Gumamnya, "dia tidak mungkin menungguku." Ujarnya lagi dengan nada yang sedikit kecewa.  Akhirnya, Vizena menurunkan gaunnya dan berjalan selayaknya seorang puteri, pelan dan anggun.  Sampai di kamarnya Vizena buru-buru membuka pintu kamarnya. Dia harus menelan kekecewaan ketika melihat kamarnya kosong, namun tercium aroma yang menyegarkan, aroma yang sangat familiar bagi indera penciuman Vizena, wewangian yang beraroma sandalwood. "Dia kemari, tapi sudah pergi." Gumamnya. Tiba-tiba saja sebuah pedang terhunus ke leher Vizena sehingga ia tak berani bergerak dengan leluasa. Pedang itu berkilau menunjukkan betapa tajamnya mata pedangnya.  "Jangan pernah lengah dalam keadaan apapun, Puteri."  "Tuan Dranis! Kau rupanya." Decak Vizena dan Zaviest pun menurunkan pedang miliknya. "Apa anda terkejut?" Tanya Zaviest. "Jangan bermain-main, aku pikir kau sudah pergi." Balas Vizena dengan nada yang datar. "Tentu saja tidak, bagaimana aku bisa meninggalkan anda sendirian di kamar gelap ini." Tapi Vizena menyadari kamarnya tidak lagi gelap, lampu putar miliknya kembali bekerja dengan normat. Cahaya yang menimbulkan bayangan menghiasi kamar Vizena.  "Lampu itu..." Vizena berjalan ke arah lampunya dan melihatnya dengan takjub, "kau memperbaikinya?" "Terlalu bosan disini, jadi saya mencari sesuatu untuk dikerjakan." Balas Zaviest dengan senyum bangga.  "Terimakasih." Ujar Vizena dengan lirih.  "Bukan masalah besar," jawab Zaviest, "oiya, hari ini aku berkeliling-" Belum selesai Zaviest menyelesaikan kalimatnya, Vizena sudah menyela lebih dahulu. "Apa, berkeliling?" Tanya Vizena sembari memutar tubuhnya, tak sengaja kakinya menginjak gaunnya sendiri hingga ia terhuyung. Tangan Zaviest menangkap pinggang Vizena hingga tubuh gadis itu tak terjatuh ke lantai. Keduanya saling menatap satu dengan yang lainnya. Udara serasa berhenti di sekitar mereka, keheningan memeluk keduanya, hanya irama jantung mereka saja yang saling beradu, tatapan keduanya bertemu memadukan emosi yang bergejolak dari dalam hati masing-masing.  Dua insan tersebut hanyut dalam momen singkat itu, Vizena memejamkan matanya ketika Zaviest mulai mendekatkan wajahnya. Dalam keadaan itu, Vizena mampu merasakan hembusan nafas hangat Zaviest menyapu wajahnya. Akan tetapi, semakin lama Vizena memejamkan matanya membuat dirinya tak sengaja menggali ingatan buruknya ketika Gard mencoba memaksakan kehendak pada dirinya. Seketika itu, mata Vizena terbuka lebar lalu ia mendorong tubjh Zaviest pelan agar menjauh darinya.  "Puteri, maafkan saya." Kata Zaviest dengan memalingkan wajahnya yang memerah.  "Ini, ini bukan salahmu. Maafkan aku." Balas Vizena. Keadaan berubah menjadi lebih canggung. Mereka berdua terdiam untuk sesaat, lalu... "Aku." "Saya."  Keduanya berbicara secara bersama-sama lalu tertawa karena mereka tak menyangka bisa bicara bersamaan.  "Kau duluan saja, apa yang ingin kau katakan?" Tanya Vizena. "Ketika saya berkeliling, saya melihat seorang pelayan mengendap-endap mengawasi kediaman Puteri." Ungkap Zaviest dengan serius. Vizena tidak terkejut mendengarnya, ini pertanda baik baginya.  "Begitu rupanya, kurasa rencana ini berhasil. Sebaiknya Tuan, sesekali kau harus datang dengan cara yang normal." Usul Vizena sembari berjalan ke melihat lampu yang terus berputar. "Cara yang normal?"  "Masuk lewat pintu depan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD