43. In The Middle Of The Forest

1649 Words
Gemuruh di langit Sholaire begitu keras hingga tubuh kokoh Zaviest yang sedang berada dalam fase terhubung dengan Feiry tersentak, mata emasnya terbuka dengan lebar, dahinya berkerut begitu dalam. Dengan tergesa-gesa ia berdiri dari kursinya, kemudian mengambil mantel dan disampirkannya pada bahunya asal. Zaviest menggerakkan kedua tangannya membuat lingkaran tak kasat mata, ia mengucapkan mantranya hingga sebuah portal terbentuk. Saat kakinya akan melangkah, ia berhenti karena teringat akan sesuatu. Satu tangannya menyentuh kepalanya, rambutnya masih berwarna perak. Tak ada waktu untuk mengecat, mungkin nanti dia bisa menggunakan mantra, meski hasilnya tak akan bertahan lama. "Sudahlah, siapa yang peduli jika identitasku terbongkar. Aku harus segera menyusulnya." Zaviest melangkahkan kakinya memasuki portal yang telah dia buat. Sesaat sebelumnya, ketika ia terhubung dengan Feiry. Burung cantik itu terbang landai di sekitar tempat tinggal Vizena, dengan tujuan awal untuk mengirimkan surat yang telah ditulis oleh Zaviest. Namun, rupanya Feiry melihat semua hal yang terjadi di teras paviliun puteri itu. Mata sihirnya menangkap sebuah anak panah yang melesat dan mengenai tiang penyangga, bahkan bisa membaca isi suratnya dengan jelas. Feiry terus mengikuti Vizena sampai dia pergi sesuai dengan instruksi yang ada di dalam surat. Sementara itu, di Sholaire, Zaviest bersiap untuk beristirahat malam ini. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur yang sangat tipis, bahkan ia sudah berbaring dan memejamkan matanya. Namun, bayangan Vizena tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya, hanya rindu yang kini dirasakan oleh Zaviest dan ia ingin melihat wajah gadis itu sekarang. Itu sebabnya, dia berpindah ke tempat kerjanya dan menghubungkan dirinya pada Feiry lalu semua yang dilihat Feiry pun disaksikan oleh Zaviest. "Mengapa aku ada disini?" Zaviest melihat sekelilingnya. Dia berada di kamar Vizena. Dia tidak bisa berpikir lebih jernih, kemudian berlari keluar. "Pinggiran kota." Zaviest teringat isi surat yang diperlihatkan oleh pandangan Feiry. Segera ia bergegas keluar dari kamar Vizena, Zaviest melompat ke atap dan berjalan melewatinya dengan gerakan yang sangat cepat. Sampai di atap gerbang utama istana, Zaviest berhenti sejenak, pandangan matanya diedarkan ke seluruh penjuru kota. Tanpa sadar ia menggigit kuku jarinya tanda sedang sangat gelisah. "Kemana dia sebenarnya?!" Gumamnya. Zaviest memaksakan otaknya untuk berpikir keras. Tidak mungkin ia menelusuri seluruh kota untuk mencari Vizena, itu hanya membuang waktu, semakin banyak waktu yang tersia-sia, kemungkinan Vizena dalam bahaya akan semakin besar. "Pinggiran kota....." Gumamnya, "Tidak mungkin yang dekat dengan gerbang kota, mungkin...." Setelah mendapatkan jawabannya, Zaviest segera melompat kembali dari satu atap ke atap yang lain dengan gerakan secepat kilat hingga hanya bayangannya saja yang terlihat. Zaviest terus mencari Vizena, sampai ia cukup jauh dari pemukiman warga dan kini sudah memasuki hutan belantara. Kini Zaviest berlari untuk mencari sosok Vizena. Sesaat kemudian langkah Zaviest terhenti ketika beberapa kuda berlari ke arahnya dengan ketakutan. Intuisinya mengatakan Vizena tak jauh darinya, kembali dia berlari dengan sangat kencang menelusuri hutan yang gelap itu. Benar dugaan Zaviest tak jauh setelahnya ia melihat sesuatu. Dirinya pun melambatkan larinya, berjalan pelan mendekati sesuatu tersebut. Ketika lebih dekat, jelas terlihat ada beberapa tubuh yang tergeletak di tanah. Bukan sekedae tubuh, tapi tubuh yang hancur dan bersimbah darah segar. Di tengah-tengah genangan darah itu ada sosok lain yang bersimpuh dengan tangan memegang pedang, tubuhnya berlumur darah dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Dia menoleh pada Zaviest, mata lembayungnya gemetar menahan airmata yang akan tumpah. "Aku... Aku membunuh mereka semua." Katanya dengan suara yang parau lalu tubuhnya limbung ke samping. Sebelum kepala Vizena menyentuh tanah Zaviest segera menangkapnya kemudian mendekap Vizena kedalam dadanya. "Apa yang terjadi padamu." Gumam Zaviest. Zaviest mengangkat tubuh Vizena yang tak sadarkan diri. Lalu ia segera kembali ke tempat tinggal Sang Puteri dengan membuka portal. Melihat keadaan Vizena yang berlumur darah, tidak mungkin bagi Zaviest untuk membiarkannya seperti itu. Zaviest membawa Vizena ke ruang mandi. Disana ia melihat bak besar seperti kolam yang telah terisi dengan air. Perlahan, Zaviest berjalan memasuki kolam dengan Vizena berada di dekapannya tanpa membuka sehelai benang pun. Ketika mereka telah berada di tengah kolam, darah yang melumuri tubuh Vizena seketika luntur dan mengubah warna air di dalam bak tersebut. "Untungnya ini bukan darahmu, jika ini milikmu akan kupastikan orang yang membuat darahmu menetes membayarnya dengan sangat mahal." Gumam Zaviest dengan satu tangannya ia membersihkan darah itu dari rambut dan wajah Vizena. Perlahan aroma seng dan anyir darah menjadi samar karena menyatu dengan genangan air yang begitu banyak. Zaviest memastikan semua kotoran dan darah yang menempel di tubuh dan pakaian Vizena telah bersih, lalu ia keluar dari bak tersebut dengan Vizena yang masih tak sadarkan diri. Sebelum membaringkan tubuh Vizena di atas ranjang, Zaviest menegakkan tubuhnya untuk digantikan dengan pakaian yang kering. Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan pakaian tidur yang tersampir tak jauh dari ranjang Vizena. Segera Zaviest mengambilnya lalu kembali, di hadapan Vizena ia terdiam sejenak. "Aku, aku bukan sengaja melakukannya. Kau harus mengerti." Kata Zaviest dengan suara lirih sembari memandangi pakaian tipis yang ada ditangannya. Ini juga pertama kalinya bagi Zaviest untuk menggantikan pakaian seseorang, terlebih lagi seorang perempuan. Zaviest mendekati tubuh Vizena, ia mulai membuka pakaian yang menempel pada tubuh Vizena dengan memalingkan kepalanya ke samping. Tapi metode itu sangat tidak efisien dan memakan waktu yang lama. Akhirnya Zaviest tidak memalingkan wajahnya dan membuka pakaian Vizena. Setiap kali Zaviest akan membuka kancing yang baru, jantungnya berdegup kencang dan nafasnya tercekat. Bagaimana pun ia adalah seorang pria dewasa yang normal dan sangat sehat. Sekuat tenaganya ia menahan hasrat yang bergelora dalam hatinya. "Kau hanya membantunya, Zaviest! Ingat itu!!" Dengusnya. Setelah semua kancingnya terbuka, ia bisa melihat ada lapisan tipis lainnya yang membungkus tubuh Vizena. Tak ingin membuang banyak waktu, ia segera melepaskan pakaian terluar dari Vizena. Saat itulah, Zaviest tercenung ketika matanya menangkap bekas luka bakar berupa parut kulit yang menyambung dari wajah hingga ke bahu dan lengan kirinya. Tangan Zaviest gemetar, tak terasa ia meremas pakaian basah Vizena. Urat nadi di sekitar leher dan kening Zaviest menyembul, ia terlihat seperti orang yang sedang menahan amarahnya. "Mereka yang membuatmu seperti ini akan membayarnya." Janji Zaviest. Masih jelas teringat dalam benak Zaviest kejadian empat tahun yang lalu. Waktu itu akhir musim dingin, dan ia sedang mengunjungi perbatasan antara Luxorth dan Sholaire yang jaraknya tak jauh ibukota Sholaire. Tidak terjadi masalah, itu hanya kunjungan rutinnya. Seorang Jenderal yanh memimpin pasukan perbatasan mengajak Zaviest untuk berburu. Segera dia menyetujuinya, karena Zaviest memang menyukai berburu. Keduanya memasuki hutan untuk mendapatkan buruan mereka. Secara teknis Zaviest tidak mengenal hutan tempatnya berburu itu. Dia hanya memacu kudanya dan mencari mangsa, setelah beberapa saat masuk hutan ia pun mendapatkan beberapa hewan buruan. Tanpa menyadari bahwa dirinya sudah terlalu dalam masuk ke dalam hutan itu. Saat Zaviest hendak kembali, ia terus melewati jalan yang sama berkali-kali, dia tersesat! Sementara langit sudah begitu gelap dan dia belum juga kembali ke kamp perbatasan. Setelah cukup beristirahat, Zaviest kembali melanjutkan kembali perjalanannya mencari jalan untuk kembali. Tak jauh dari tempatnya berangkat, Zaviest melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah cahaya yang membumbung tinggi, tertarik dengan pendar cahaya itu ia segera mencarinya. Tak lama kemudian ia melihat sebuah pondok terbakar sebagian, hal itu cukup membuat Zaviest heran. "Orang bodoh mana yang membakar pondok di tengah hutan? Dia bisa membakar seluruh hutan ini!" Lalu ia membaca sebuah mantra dan api itu padam seketika. Melihat api itu sudah padam Zaviest pun berniat untuk kembali. Ia memutar kudanya, tapi sebuah suara menghentikannya. Dengan seksama ia menajamkan pendengarnya untuk memastikan. Sebuah rintihan kesakitan terdengar oleh telinga Zaviest. Nalurinya pun mendorongnya turun dari kuda dan masuk ke dalam pondok yang terbakar itu. "Eerrghhhh, ttoo-oo-lloooonghhh." Sebuah erangan terdengar lagi. Zaviest mencari sumber suaranya. Dia masuk lebih dalam ke pondok itu, hawa panas dari bekas kobaran api masih terasa. Di tengah rumah itu, pada sebuah tiang seseorang terikat disana. Melihat hal itu Zaviest segera berlari ke arahnya, seorang gadis dengan pakaian dan kulit yang terbakar dari wajah hingga ke bawah tubuhnya. "Nona! Nona bertahanlah!" Kata Zaviest. Gadis itu menatap Zaviest dengan mata lembayungnya meski mata itu tak bisa terbuka dengan lebar. "Kau harus bertahan!" Sebuah gerakan dari tubuh Vizena membuyarkan lamunan Zaviest tentang masa lalunya, segera dia menyelesaikan penggantian pakaian Vizena.Usai mengganti pakaiannya, akhirnya Zaviest bisa menghela nafas dengan lega karena tak perlu lagi bergumul dengan gairahnya yang berniat mengambil alih dirinya. Dia lalu menatap Vizena dengan lembut, membelai rambutnya dengan penuh kasih. "Kau pasti sangat lelah." Zaviest meraih tangan Vizena, lalu ia menepuk-nepuk punggung tangan Vizena dengan lembut dan mengecupnya untuk sekilas. "Seharusnya aku membawamu kembali ke Sholaire." Gumam Zaviest lagi. °°°°° "Tuan, anda akan kemana?" Tanya Liyan yang panik ketika Gard tiba-tiba berhenti dan memutar balik kudanya, padahal mereka baru saja meninggalkan ibukota Luxorth. "Tolong lanjutkan perjalananmu dan pimpin pasukan ini, aku segera menyusul. Ada sesuatu yang harus aku pastikan." Balas Gard sambil berlalu. Dia memacu kudanya dengan kencang, meninggalkan Liyan yang menatapnya dengan penuh tanda tanya. Setelah beberapa jam akhirnya Gard bisa sampai di Ibukota. Tujuan utamanya kembali karena sepanjang jalan menuju perbatasan pikirannya tak bisa lepas dari Vizena. Dia khawatir jika Eyster mungkin akan melakukan hal buruk pada Vizena di belakangnya. Jadi ia harus memastikan bahwa Vizena baik-baik saja, atau setidaknya rencana yang akan dilakukan oleh Eyster bukan hal yang kejam. Langkah Gard di hadang oleh penjaga pintu tempat tinggal Vizena. Dia menatap kedua penjaga itu dengan mata melotot. "Apa yang kau lakukan?!" "Maaf, tapi Yang Mulia Puteri berpesan untuk tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam tempat tinggalnya." Jawab salah seorang penjaga. Terpaksa Gard menyerang kedua penjaga itu dan membuat mereka semua pingsan ditempat. Segera ia langsung masuk ke dalam. Dengan berlari, Gard menuju ke kamar Vizena untuk mencarinya. Di depan pintu kamar Vizena langkaj Gard terhenti. Kenangan malam itu membayanginya kembali. Gard mengepalkan tangannya, berusaha mengenyahkan penyesalannya lalu membuka pintu tersebut. Sebuah hembusan nafas lega lolos dari rongga pernapasan Gard ketika melihat sosok Vizena tengah berbaring nyenyak di atas ranjangnya yang nyaman. Tak kuasa menahan diri, Gard segera berhambur ke arah Vizena lalu berhenti tepat di depan ranjang Vizena. "Kau baik-baik saja." Gumamnya, ia meraih tangan Vizena lalu menggenggamnya dengan lembut, "Untunglah kau baik-baik saja." . . . ::Bersambung::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD