Udara begitu sejuk berhembus membelai jubah kerajaan milik Zaviest yang panjang hingga menyapu jalanan taman istana itu. Di sampingnya seorang gadis bergaun kuning dengan tubuh berisi sedang berbicara banyak sekali sembari berjalan mengiringi Zaviest.
Entah apa yang di bicarakan oleh gadis itu, Zaviest tidak mengerti satu pun ucapannya karena terlalu cepat dan banyak. Sesekali dia menganggukkan kepalanya atau sekedar berdeham untuk merespon. Kadang ia berpikir meskipun tak menjawab, gadis itu akan terus saja bicara tanpa henti.
Sesaat kemudian, burung kesayangan Zaviest terbang rendah ke arahnya. Tak perlu diduga, gadis itu sangat antusias melihat burung berekor perak seperti Feiry.
"Wah, Yang Mulia? Apakah ini milik anda? Cantik sekali, jenis apa ini? Mengapa tidak ada di penjual di pasar?"
Zaviest tersenyum ramah, ia teringat pada saat pertama kali Vizena melihat Feiry di sekitarnya. Gadis itu hanya memandangi Feiry tanpa berkedip, bahkan pandangannya mengikuti kemana Feiry terbang.
"Boleh aku memegangnya?" Tanya gadis itu dengan semangat. Tangan kanannya hendak terulur, namun secara spontan Zaviest bergerak mundur menjauhkan Feiry yang sudah bertengger di bahunya itu dari si gadis. Wajah gadis itu berubah menjadi murung seketika.
"Bulunya akan rontok jika di sentuh oleh seorang gadis cantik." Bohong Zaviest. Ini adalah kalimat terpanjangnya hari ini.
"Benarkah? Apa dia memiliki penyakit? Kasihan sekali." Gadis itu memandangi Feiry dengan tatapan iba. Sementara Zaviest hanya menahan tawanya karena ucapan gadis itu.
Feiry menyundulkan kepalanya pada ceruk leher Zaviest meminta perhatian. Lalu Zaviest mengerti, ia menjentikkan jarinya dan muncul satu mangkuk makanan kesukaan Feiry.
"Yang Mulia luar biasa sekali! Memberikan makanan dengan sihir!! Apa bisa buat makanan untukku juga?"
"Makanan untukmu?"
Gadis itu mengangguk dengan antusias. Tapi Zaviest tak yakin, dia lalu menatap Feiry yang tak menyentuh makanannya.
"Kenapa kau tidak mau makan?" Tanya Zaviest kepada Feiry. Si gadis itu pun sepenuhnya teralihkan lalu ikut memandangi Feiry.
"Saya rasa burung ini sungguh sakit." Katanya dengan sedih.
"Apa kau sakit?" Tanya Zaviest pada Feiry.
"......" Tak ada jawaban dari Feiry, ia hanya gelisah sembari menyundulkan kepalanya. Lalu tak lama kemudian ia menyodorkan kaki tempat biasanya Zaviest mengikatkan gulungan kertas yang dia kirimkan untuk Vizena.
"Ah, kau merindukannya ya?" Balas Zaviest sembari tersenyum penuh makna, "aku juga sangat merindukannya."
"Siapa Yang Mulia?"
"Kekasihku." Jawab Zaviest.
Seketika saja mata gadis itu membulat dengan terbuka lebar. Tujuannya berada disini dan berjalan berdampingan dengan Raja hari ini adalah untuk menjadi salah satu kandidat Ratu. Memdengar jawaban Zaviest itu, hatinya sungguh terasa sangat hancur sekali.
"Ba-bagaimana mungkin?" Tanyanya dengan sangat gugup. Zaviest mengerti kekecewaan yang terpancar dari sorot mata gadis itu.
"Dia adalah kekasihku, tapi jangan katakan pada siapapun. Mengerti?"
"Ya-yang Mulia, maksud saya bagaimana bisa anda mencari seorang ratu jika anda memiliki kekasih?" Mata gadis itu berkaca-kaca, hendak menangis tapi ditahan olehnya.
Hari ini dia berdandan secantik mungkin untuk menarik perhatian Raja. Dia menceritakan banyak hal agar disukai oleh Raja, ia bahkan menggunakan pakaian yang lebih sempit dari ukuran badannya agar terlihat lebih ramping dari biasanya. Tapi, ternyata usahanya hari ini menjadi sangat sia-sia setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Zaviest.
"Itu karena Ibu Suri Agung salah paham." Jawab Zaviest dengan sangat tenang.
"Begitu ya." Balas si gadis dengan murung.
Sesaat berlalu, ketika mereka melanjutkan perjalanan melewati taman istana itu, Dranis setengah berlari menghampiri Zaviest. Dalam hatinya, Zaviest merasa terselematkan. Setidaknya jika melihat Dranis berani mengganggu waktu bersantainya pasti ada sesuatu yang mendesak.
"Hormat Yang Mulia." Ujar Dranis sembari memberikan hormat, "salam Nona." Ucapnya sembari mengangguk pada gadis yang ada disamping Zaviest.
"Berita apa yang kau bawa sampai berlarian begitu?"
Dranis tersenyum kaku, sebenarnya berita yang dia bawa tidaklah mendesak. Dia sudah menerima berita itu pagi ini, tapi entah mengapa instingnya mengatakan Zaviest sedang membutuhkan bantuan untuk keluar dari situasi 'Mencari-Kandidat-Ratu', jadi ia berlari untuk mengganggu kegiatan ini.
"Sesuatu yang darurat Yang Mulia, datang dari Pangeran Remeus." Ujar Dranis.
Zaviest teringat, Remeus dan Tarda sedang menjalankan misi untuk menyelidiki kasus Korupsi pejabat daerah. Tapi itu bukan sesuatu yang sangat mendesak, Zaviest mengerti setelah menatap Dranis dengan seksama. Itu hanya strategi Dranis untuk membantunya.
"Nona......" Zaviest bahkan lupa siapa nama gadis yang seharian ini menemaninya.
"Hamara, Yang Mulia."
"Ahh benar, Dranis tolong antarkan Nona Hamara untuk pulang ke rumahnya, dan berikan hadiah yang pantas untuknya." Ujar Zaviest.
"Terimakasih Yang Mulia."
Senyum mengembang di wajah Zaviest sembari dia memandangi kepergian Hamara dan Dranis dari hadapannya.
"Feiry." Panggilnya pada burung cantik yang sedang bertengger di lengannya itu.
"Kwak!"
"Aku akan mengirimkan surat dan kau mau bertelepati denganku?" Tanya Zaviest, "Aku hanya ingin melihatnya, aku sangat merindukannya." Gumam Zaviest.
"Kwak!"
"Baiklah, aku akan segera menghubungkan penglihatanmu denganku."
Zaviest kemudian melakukan prosedur untuk menghubungkan Feiry dengannya. Ia menyentuh kepala Feiry sembari mengucapkan mantra. Seketika dari telapak tangan Zaviest muncul lingkaran kecil kehijauan yang tak lama kemudian terserap ke dalam kepala Feiry.
"Sekarang aku akan menulis surat untuknya."
°°°°°°
Rasa lelah menyerang Vizena, sepanjang hari ini ia telah mengawasi pelatihan kepada janda pasukan perang. Ketika kembali ke tempat tinggalnya ia hanya ingin segera membersihkan dirinya, memakan makanan yang lezat, lalu beristirahat.
"Ariah kemana ya, sejak aku kembali dia belum menemuiku." Gumam Vizena.
Vizena memutuskan untuk mencari Ariah, dia pergi dari kamarnya kemudian berjalan ke arah dapur. Tapi tak ada siapapun disana, lalu Vizena pergi ke taman belakang, berharap sosok Ariah akan dia lihat disana. Lagi-lagi tak ada siapapun disana.
"Apa dia pergi ke pasar? Tapi ini sudah larut malam." Gumamnya lagi.
Terdengar suara langkah kaki seseorang sedang berlari. Vizena segera berjalan ke arah sumber suara itu dan mengira itu mungkin Ariah.
"Yang Mulia!" Rasheq berlari hingga hampir menabrak Vizena.
"Astaga, Rasheq mengapa kau berlari seperti ini?" Tanya Vizena.
Dari raut wajah Rasheq terlihat kegelisahan kekhawatiran tergambar begitu jelas. Melihatnya membuat Vizena menjadi ikut cemas.
"Apa yang terjadi, kenapa kau terlihat cemas?" Tanya Vizena lagi.
"Ariah, dia di tangkap oleh pasukan Tuan Gard."
Mata Vizena melebar, tanpa berpikir panjang ia berjalan terburu-buru melewati Rasheq. Dia ingin menemui Gard dan memintanya untuk melepaskan Ariah.
"Tuan Puteri..." Rasheq mengejar Vizena yang sudah tak bisa menahan kesabarannya.
Bagaimana Vizena bisa bersabar ketika mendengar pengikut setianya ditangkap tanpa alasan yang jelas. Selain itu, yang menangkapnya bukan orang lain tapi suaminya sendiri.
"Yang Mulia!" Rasheq menghadang jalam Vizena. Terlihat olehnya Vizena begitu khawatir, mata lembayungnya gemetar, seolah ia sedang ketakutan.
"Jangan hentikan aku!"
"Saya tidak berani, Yang Mulia! Tapi mohon dengarkan saya." Kata Rasheq.
Vizena menghela nafas dalam-dalam mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Kemudian ia menatap Rasheq, menuntut penjelasan dari pemuda itu.
"Tuan Gard berangkat ke perbatasa beberapa saat yang lalu, Ariah berada dalam pengawasan Nona Eyster." Jelas Rasheq.
"Apa?! Apa maksudnya Eyster?"
Sebuah anak panah tiba-tiba melesat di antara Vizena dan Rasheq lalu menancap pada tiang penyangga. Rasheq dan Vizena saling berpandangan. terdapat sebuah kertas yang diikatkan pada tangkai anak panah itu lalu Vizena mengambil anak panah yang menancap itu.
Perlahan Vizena membuka gulungan kertas itu dan membaca isinya. Ia cukup terkejut dengan isinya karena nama Ariah tertulis disana.
"Yang Mulia, apa isinya?" Tanya Rasheq.
"Bacalah." Vizena menyerahkan kertas itu kepada Rasheq untuk dibaca olehnya. Dengan seksama Rasheq membacanya.
"Datanglah ke pinggir kota jika kau ingin menyelamatkan Ariah, ingat untuk datang sendirian, jika melanggarnya maka dengan senang hati aku akan mengirimkan kepalanya padamu." Begitulah yang tertulis dalam surat yang dibacakan oleh Rasheq.
"Anda tidak berniat menuruti surat ini kan, Yang Mulia?" Rasheq menjadi waspada, dengan sifat Vizena kemungkinan besar kekhawatiran Rasheq akan menjadi nyata.
"Kau sudah membacanya."
"Tidak! Anda tidak boleh pergi ke sana sendirian! Itu sangat berbahaya. Nyawa anda menjadi taruhannya."
"Aku harus menyelamatkan, Ariah. Gadis itu tidak bersalah."
Rasheq menghela nafasnya, dia terus berusaha membujuk Vizena agar tetap tinggal di istana.
"Saya akan mencarinya, Yang Mulia."
Vizena menggelengkan kepalanya dengan perlahan, dia tidak bisa bertatuh atas nyawa Ariah. Jika Rasheq tidak bisa menemukannya, maka Ariah akan berada dalam bahaya. Meski dia tidak tahu apa tujuan mereka melakukan ini padanya, tapi ia tetap harus menyelamatkan Ariah dengan kedua tangannya sendiri.
"Rasheq, dengarkan aku," Vizena menatap Rasheq dengan serius, "kau pergilah mencari keberadaan Ariah, aku akan memancing mereka ke pinggir kota."
Rasheq menggeleng pelan, dia tidak bisa membiarkan Vizena berjalan sukarela ke dalam bahaya yang sudah menanti di depan mata. Tahu bahwa Rasheq tidak akan akan menerimanya begitu saja, Vizena meraih tangan Rasheq dan menepuknya secara perlahan.
"Ini permintaanku, sekaligus perintah." Ucap Vizena dengan tegas.
Tidak ada pilihan lain, dengan berat hati Rasheq mematuhi perintah Vizena.
Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus yang biasa digunakan Vizena untuk berlatih dan menyelipkan belati pemberian gurunya, dia segera meninggalkan tempat tinggalnya. Sementara itu Rasheq sedang menunggu Vizena di depan pintu utama tempat tinggalnya.
"Kau masih disini?" Tanya Vizena.
"Yang Mulia....."
"Sudah Rasheq, jangan merengek! Pergi dan bawalah Ariah kembali dengan selamat."
Keduanya pun berpisah jalan, meski begitu sesekalk Rasheq selalu menoleh ke belakang untuk melihat Vizena yang berjalan memunggunginya. Kekhawatirannya begitu besar terhadap Vizena, namun ia tetap mematuhi perintah Vizena.
Kuda hitam milik Vizena menemaninya menembus jalanan kota yang cukup panjang. Malam itu sudah sangat larut sehingga jalanan itu sangatlah sepi, pertokoan pun tidak banyak yang masih buka. Jika ada biasanya adalah tempat hiburan.
Semakin jauh perjalanannya, Vizena merasakan suasana semakin mencekam karena begitu sepi dan jauh dari pemukiman warga. Sesaat dia akan berhenti, tiba-tiba terdengar langkah kuda dari arah belakang Vizena. Rasa ingin tahu mendorong Vizena untuk menoleh ke belakang dan ia melihat beberapa orang mengendarai kuda dengan kencang.
"Itu dia! Ayo kejar!" Terdengar teriakan diantara pengendara kuda tidak dikenal itu. Merasa bahwa dirinya dalam bahaya, Vizena mempercepatk laju kudanya.
Benar dugaan Vizena, beberapa orang itu rupanya memang mengejarnya. Dia terus mengendarai kudanya melewati jalanan, membelah angin dengan jantung yang berdebar sangat kencang.
Iiiiihhiiiihiiiikkk.
Kuda Vizena meringkik kencang dengan kedua kaki depannya terangkat hingga Vizena terjatuh ke tanah. Ia melihat kudanya terkapar di tanah lalu tewas seketika.
Sesaat kemudian orang-orang yang mengejarnya itu berhasil mendekatinya. Mereka sekitar lima orang, dengan kudanya mengelilingi Vizena.
"Dimana Ariah?"
"Lepas topengmu cantik, mari kita bersenang-senang malam ini." Kata salah satu di antara mereka.
"Siapa yang menyuruh kalian?!" Teriak Vizena.
Ptas!
Sebuah cambuk melayang ke tubuh Vizena hingga dirinya terjatuh ke tanah. Tapi Vizena kembali bangkit, dia tidak akan bersikap lemah di hadapan orang-orang itu.
Ptas!
"Erghh!" Vizena mengerang kesakitan ketika cambuk itu kembali mengenai punggungnya.
"Hey! jangan mencambuk terus! Aku tidak mau tubuhnya penuh luka saat aku menikmati tubuhnya." Kata salah seorang dari mereka.
"Ikutlah dengan kami, lalu kita bisa bersenang-senang." Sahut yang lainnya.
"Dalam mimpimu!!" Bentak Vizena, "Kalian hanya sekumpulan pecundang yang menyerang wanita dari atas kuda!"
"Baiklah, jadi kau ingin bersenang-senang di sini rupanya." Ujar seorang dari mereka. Satu per satu dari mereka pun turun dari kudanya.
Tangan Vizena bersiap mengambil belati yang ada di pinggangnya. Ia mencoba mengatur nafasnya, tapi adrenalin hanya membuatnya bertambah buruk.
Grep
Seseorang mengunci kedua lengan Vizena dari belakang, membuat gadis bertubuh kecil itu tak bisa bergerak sama sekali.
"Gadis kecil, tubuhmu sangat indah." Ujar salah seorang dari mereka.
"Kami akan bermain dengan lembut agar tubuh kecilmu ini tidak rusak." secara bersamaan mereka mendekati Vizena yang terkunci lengannya. Salah satu dari mereka meraih pakaian Vizena dan berusaha untuk membukanya dengan paksa.
"Hentikan kalian pria kotor!" Teriak Vizena.
Kenangan buruknya empat tahun silam tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Kejadian yang begitu serupa, ketika ia di sekap lalu di pukuli sampai sekarat oleh orang-orang yang sama sekali tidak dikenali olehnya, lalu di bawa ke sebuah pondok dan yang diingat oleh Vizena adalah api. Kobaran api yang melahap dinding-dinding pondok tersebut, dan mencona membakar tubuhnya juga.
"Kalian biadab!!" Teriak Vizena, ia kemudian meronta dengan sekuat tenaga. Ia melompat dan menendang salah seorang yang mendekat ke arahnya, lalu melepaskan diri dari cengkraman pria yang mengunci lengannya.
Vizena berjalan mundur, dan ke lima pria itu melangkah mendekatinya secara perlahan dengan senyum dan tawa yang aneh.
"Kau tidak akan bisa melawan kami!"
Vizena menarik belati dari saku yanh terdapat di pinggangnya. Tangannua terjulur ke depan dan belati itu kemudian memanjang seketika, akan tetapi tangannya gemetar dengan hebat. Ketakutan menyelimuti tubuhnya, keringat dingin mengucur deras melalui pori-pori kulitnya dan membasahi tubuhnya.
Perasaannya saat ini begitu mirip dengan empat tahun yang lalu. Takut, Vizena sangat ketakutan, seolah-olah kematian sudah berada dekat dengan dirinya dan menunggu waktu yang tepat untuk menarik nyawanya.
"Tidak perlu takut, simpan saja pedangmu dan kita akan bersenang-senang!!" Mereka semua bergerak maju secara serempak untuk menyerang Vizena.
"Aaaaarrrghhhhh!!!"
"Mati Kalian semua!!!"
.
.
.
::Bersambung::