51. Whose The Winner?

1275 Words
Angin semilir berhembus dingin menerpa rambut Vizena hingga anak-anak rambut Vizena beterbangan. Matanya menatap lurus ke depan, memerhatikan Gard yang kelihatannya cukup terkejut dengan keberadaan Vizena.  "Saya tidak berpikir, Yang Mulia akan benar-benar berduel. Dimana ksatria lain di Luxorth?" Tanya Gard.  Senyum mengembang di wajah Vizena. Kemudian ia melepaskan baju zirahnya yang berat dan hanya menyisakan pakaian berlatihnya saja. Mata Gard melihat aksi Vizena, jika saja dia tidak ingat dengan misinya maka ia akan membatalkan duel ini.  Tangan Gard mengepal di kedua sisinya, hatinya memberontak, dia tidak ingin melawan Vizena, dia tidak bisa membiarkan gadis yang tidak memiliki fisik sempurna itu menjadi lawannya.  Tapi jauh di atas persembunyiannya, meski hatinya cemas tapi senyum tetap mengembang di wajah Zaviest. Hatinya membuncah dengan kebanggaan dan kecemasan secara bersamaan. Zaviest cukup merasa tenang, karena dia mengetahui kemampuan Vizena, meski tak sepenuhnya. Tapi di sisi lain dia tidak percaya pada Gard, pria itu bisa saja melukai Vizena.  "Mengapa anda melepas baju zirah itu, saya bisa melukai anda dengan mudah." Kata Gard.  "Tuan Gard Meridiam, dengarkan aku baik-baik." Vizena memberi jeda untuk mengambil nafasnya, "Jika aku menang dalam duel ini, aku akan membawamu dan Jovach ke hadapan Kaisar sebagai pemberontak, tapi jika aku kalah, maka seluruh kerajaan ini akan menjadi milik kalian." Semua orang tertegun kaget, apalagi perdana menteri, tak luput juga Zaviest sampai tak menyadari bahwa mulutnya terbuka dengan lebar.  "Yang Mulia....." Gard mendesis, ia sangat terkejut dengan keberanian Vizena. Sosok di depannya itu bukanlah sosok yang dikawalnya dulu. Wanita yang kini berdiri dihadapannya itu adalah wanita yang berbeda, kuat, dan berani.  "Kita mulai sekarang?" Tanya Vizena dengan nada menantang.  "Bawa senjata anda, Yang Mulia." Ujar Gard.  Vizena mengambil belati yang tergantung di pinggangnya. Ia memutar belati itu dengan jarinya, lalu menggenggamnya dengan erat.  "Hanya itu, anda membutuhkan pedang panjang setidaknya untuk melukaiku." Ucap Gard.  Vizena menatap belati berwarna hitam yang ada di tangannya itu. Dia sudah memegang tiga senjata sekaligus. Dia tidak membutuhkan yang lain.  "Kenapa? Kau takut aku kalah?" Tanya Vizena.  "Baiklah jika memang begitu, aku akan berhati-hati." Vizena ingin sekali tertawa, tapi ia menahannya. Lalu Vizena memasang kuda-kudanya, dengan tangan kirinya yang memegang belati itu ada di depannya, dan kaki kanan berada di depan. Melihat bagaimana Vizena memegang belatinya membuat Gard kembali tercengang, sepengetahuannya tangan kiri Vizena terluka, ia tak bisa menggunakan tangan kidalnya lagi untuk beraktifitas. Tapi sekarang.... Gard pun mulai memasang kuda-kudanya. Dia mencoba mengimbangi Vizena tanpa menggunakan pedang, namun pedangnya masih tetap tersampir di pinggangnya.  Tap Kaki kanan Vizena menapak, memberikan sokongan pada tubuhnya untuk melompat. Ia menyerang Gard lebih dahulu dengan belatinya. Namun, Gard terus menghindari serangan Vizena tanpa memberikan perlawanan. Tak! Belati yang digunakan oleh Gard untuk menangkis serangan Vizena menjadi kepingan debu seketika saat mengenai belati Vizena setelah beberapa kali serangan. Tubuh Gard terhuyung dan ia melangkah mundur beberapa langkah  'Bagaimana dia bisa sekuat ini' Gumam Gard dalam hatinya.  Mata Gard memandangi belati yang hanya tersisa gagangnya. Tangannya bahkan memerah karena harus memegang belati itu dengan sangat kuat agar bisa menangikis serangan istrinya yang membabi buta.  "Mengalah hanya akan merugikanmu, Tuan Gard Meridiam. Kau harus menyerangku agar aku bisa mengalahkanmu." Ujar Vizena. 'Dia sangat percaya diri sekali.' Gard membatin dalam hatinya. Kini dia di serang dilema, dia harus memenangkan duel ini agar rencananya berhasil, tapi dia juga tak ingin melukai Vizena.  Kata-kata yang dikatakan oleh Vizena sebelum duel dimulai tiba-tiba terngiang dalam telinga Gard.  "Apa yang kau pikirkan! Ambil pedangmu!" Teriak Vizena. Suaranya menarik Gard dari lamunannya. Dia menatap Vizena lekat-lekat, ia tahu bahwa kemarahan sedang mengontrol Vizena saat ini. Ragu-ragu tangan Gard bergerak menarik pedang dari sarungnya. Pedang yang sangat besar jika dibandingkan dengan belati Vizena yang kecil. Bahkan jika pedang itu menebas tubuh Vizena tak ada jaminan bahwa tubuh Vizena akan utuh. "Benar sekali dugaanku! Dia bahkan mengeluarkan pedangnya! Cuih pengecut!" Decak Zaviest dari tempat persembunyiannya. Kerutan di dahi Zaviest semakin dalam ketika ia melihat Vizena tak mengubah belatinya menjadi pedang.  "Apa yang dia rencanakan sebenarnya? Haruskah aku ikut campur?" Zaviest terus bicara sendiri, tapi ia teringat bahwa Vizena tak ingin dirinya ikut campur. Akhirnya Zaviest mengurungkan niatnya, dan kembali duduk tenang di tempatnya untuk mengawasi.  Dengan gerakan cepat, Vizena melangkah ke arah Gard. Langkahnya tampak berbeda, terlihat begitu anggun seperti sebuah tarian. Vizena memutar tubuhnya, sementara Gard bersiap untuk bertahan. Ketika tubuh Vizena menghadap pada Gard, belati yang dia gunakan memanjang dan membentuk sebuah pedang tipis tapi terlihat kokoh. Gard terkejut, ketika pedang tersebut hampir menghunus wajahnya. Segera ia menangkisnya dengan pedang miliknya.  Suara adu pedang bergema di seluruh arena pertarungan itu. Vizena terus menyerang tanpa henti dan Gard seolah-olah tak memiliki tenaga dia hanya bertahan menerima semua serangan Vizena itu.  Pertarungan tersebut seolah tak akan memiliki akhirnya dan tak bisa ditentukan siapa yang akan menang. Namun, jika Vizena terus menyerang maka tenaganya akan segera terkuras habis.  Traang. Tiba-tiba saja Gard membalik pedangnya kemudian ia mengayunkan pedangnya dari atas. Karena postur Vizena yang pendek ia pun dengan mudah tersudutkan. Kini Vizena yang harus bertahan dari pedang berat milik Gard.  "Akhirnya kau menyerang juga, Tuan Gard Meridiam." Vizena menyeringai. Sesaat kemudian ia membuat gerakan yang sama sekali tak terduga. Ia menjatuhkan dirinya sendiri ke tanah, lalu bergerak ke belakang dan mengiris kaki Gard tepat di atas tumitnya sehingga pria itu roboh dengan seketika berlutut di tanah. Vizena tak membuang waktunya, ia berdiri kemudian tangan kanannya mengapit kepala Gard dan tangan kirinya menghunuskan belati ke leher Gard. "Kau kalah, Tuan Gard Meridiam!" Semua orang tak percaya bahwa Gard kalah dari seorang wanita bertubuh rapuh. Mereka begitu terkejut karena Jenderal yang di elu-elukan itu kalah di tangan seorang wanita. Tentu saja, mereka berpikir pasti Gard sengaja mengalah, hanya saja sangat janggal sekali. Jika dia memang berniat memberontak mengapa dia mengalah dan mempertaruhkan nyawanya dan orang lain yang ikut dalam pemberontakan itu. °°°°° Dengan rantai yang telah di persiapkan, Vizena sendiri yang mengikat Gard dan juga Jovach. Lalu dengan pengawalan ketat, kedua pimpinan pemberontak itu di bawa langsung ke pengadilan Istana. Disana Kaisar Mouszac telah menunggu dengan duduk tenang di dampingi oleh Hakim Agung. Sementara pasukan Gard di amankan dan dibawa ke penjara untuk di adili kemudian.  "Gard Meridiam," suara Kaisar terdengar sangat berwibawa meski kesehatannya sedang menurun. "Kau adalah menantu keluarga kerajaan, suami Vizena, tapi kau membelot. Katakan apa alasanmu?" Tanya Kaisar, dia berusaha untuk memberikan Gard kesempatan memperbaiki kesalahannya. Namun, Tidak ada jawaban dari Gard. Dia tertunduk dengan darah yang menetes dari lehernya sedikit demi sedikit.  "Jovach, apa kau membenciku? Kau benar-benar ingin menjadi Kaisar?" Tatapan Kaisar berubah menjadi sedikit lebih lembut ketika bicara dengan Jovach. Sama halnya dengan Gard, tidak ada suara apapun yang keluar dari bibir Jovach. "Baiklah baiklah, aku rasa kini saatnya Hakim Agung yang memutuskan hukuman apa yang pantas bagi seorang pemberontak." Desah Kaisar.  Hakim Agung, orang kepercayaan Kaisar setelah Perdana Menteri. Dia berdiri di hadapan semua orang. Sosoknya yang gagah begitu di hormati semua kalangan. Dia dikenal sangat adil dalam memberikan hukuman, jadi kali ink banyak yang menggantungkan harapan mereka pada keputusan akhir darinya. "Setelah menimbang, dan mempertimbangkan segala aspek. Gard Meridiam dan Jovach telah memimpin sebuah pemberontakan yang mengakibatkan ketakutan pasa masyarakat dan mengganggu stabilitas politik kerajaan Luxorth dengan ini aku-". "TUNGGUUU!!!" Sebuah teriakan menghentikan ucapan Sang Hakim Agung. Semua orang yang berada di dalam pengadilan itu menoleh pada pemilik suara. Di sana telah berdiri Eyster dengan airmata yang berderai. "Aku menuntut keadilan!!" Tentu saja semua orang bingung, keadilan apa yang coba di tuntut oleh Eyster sebagai anak seorang selir. "Nona Eyster, disini bukan tempatmu untuk berbicara!" Hardik Theriaz. Eyster tidak menghiraukan Theriaz, dia berjalan ke tengah ruangan. Lalu berlutut tepat di samping Gard dan Jovach. Tangisnya pecah sehingga membuat seisi ruangan menjadi bingung. "Aku menuntut keadilan untuk anakku!"  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD