50. The Fight of Husband and Wife

1179 Words
"Saya bisa membantu." Suara Zaviest tak bisa mengusik Vizena yang sedang duduk di teras paviliun sembari berusaha mengupas kacang kenari kesukaannya. Tatapannya kosong tapi tangannya berusaha mengupas kulit kacang tersebut. Tangan Zaviest menyambar kacang kenari tersebut, saat itulah angan Vizena kembali ke dunia nyata. Dia menatap kacang kenari yang ada di tangan Zaviest, lalu menghela nafasnya. Tampak sekali Vizena seperti tengah memikul beban berat dipundaknya. Tak ada semburat senyum sedikitpun meski Zaviest telah berusaha membuat lelucon yang selucu mungkin. Mungkin jika bisa dilihat maka otak Vizena akan tampak seperti benang kusut.  "Kau harus segera meninggalkan Luxorth, saat ini keadaan sangat genting." Kata Vizena dengan suara yang pelan. Zaviest sangat jengah mendengar ucapan Vizena itu. Sejak kembali dari mengunjungi ayahnya, dia sudah ratusan kali mengatakan itu kepada Zaviest.  "Anda yakin bisa menanganinya sendiri?" Vizena menghela nafasnya kasar, lalu ia bersandar pada sandaran kursi yang ada di belakangnya. Setelah mengunjungi ayahnya, dirinya pergi menemui kakeknya. Sebuah berita yang di dengar sangat mengejutkan dirinya sampai tak bisa menelan ludahnya sendiri. "Gard berniat untuk memberontak, pasukan yang dia bawa kembali adalah pasukan pemberontak. Dia akan menuntut Raja menyerahkan posisi Putera Mahkota kepada Jovach." Kata Kakeknya ketika Vizena meminta penjelasan. Seharusnya Vizena tak terkejut mendengarnya. Pria seperti Gard, yang bisa menghianati hubungan suami-istri mereka, tentu saja dengan mudah akan menghianati negaranya. Namun, Vizena tetap terkejut. Bagaimana pun juga dia pernah berharap bahwa Gard tidak ada kaitannya dengan perebutan kekuasaan di Luxorth. "Bagaimana bisa? Jika anda berada dalam bahaya, saya tidak bisa tinggal diam." Setelah mengetahui kebenarannya Zaviest sangat merasa gelisah. Dia bahkan tidak kembali ke Sholaire sejak kemarin. "Aku tidak selemah itu, Tuan Dranis." Ujar Vizena lalu ia menyambar kacang kenari yang sudah terkupas dari tangan Zaviest. "Mungkin saya bisa memberikan sedikit nasehat? Saya cukup pengalaman menanangi pemberontakan." Kata Zaviest. Dia memajukan tubuhnya, meyakinkan Vizena agar mendengarkan dirinya.  Mata lembayung Vizena menatap Zaviest untuk beberapa lama. Menimbang-nimbang ucapan Zaviest. Apakah dia harus mendengarkan nasihat dari pria yang berasal dari negara asing, atau tidak. Vizena sendiri sebenarnya merasa bimbang. Jika Gard benar-benar memberontak maka dia akan melawan orang yang namanya tercatat dalam sertifikat pernikahan bersama dengan namanya. Sungguh sangat tragis sekali. "Baiklah, apa nasehatmu untukku?" °°°°° Teeeeengg Teeeengg Teeeeengg Dentang lonceng istana bersuara sebanyak tiga kali. Artinya ibukota sedang mengalami kegentingan. Vizena berjalan dengan cepat keluar dari kamarnya, ia sudah menggunakan baju zirahnya yang dia buat sendiri.  Sesaat sebelum Vizena keluar dari pintu utama tempat tinggalnya, seseorang tiba-tiba menghadang langkah Vizena, hingga Vizena tersentak dan mundur satu langkah. Dia mendongak untuk menatap wajah orang itu. "Apa yang kau lakukan disini, Tuan Dranis?" "Memantau, tenang saja Yang Mulia aku akan bersembunyi sehingga tidak ada seorang pun yang tahu." Vizena memutar matanya dengan kesal, melihat Zaviest, ia merasa melihat dirinya sendiri. Keras kepala dan tidak akan menggubris ucapan orang lain. Padahal Vizena sudah meminta Zaviest untuk pergi dan tidak melibatkan diri, tapi pria itu sepertinya memiliki pemikiran yang lebih keras dari batu. "Terserah, tapi kau tidak boleh melibatkan diri. Ini pertarunganku Tuan Dranis." Zaviest mengangguk pelan, sebagai Raja sebuah kerajaan dia tahu pasti masalah internal seperti ini tidak bisa dicampuri oleh kerajaan tetangga. Akan tetapi, Zaviest tidak sedang berusaha mencampuri melainkan melindungi wanita yang dia cintai. Hal itu tidak melanggar hukum. Vizena beranjak pergi, begitu juga dengan Zaviest yang bersembunyi dan menjaga jaraknya agar tetap bisa memantau Vizena. Langkah Vizena menuju ke arah kamp pelatihan militer, tempat dimana pasukan yang berada di bawah komando Gard berlatih. Di tengah arena telah berkumpul banyak sekali prajurit dalam keadaan siaga. Perdana menteri yang memimpin pasukan itu menghampiri Vizena. "Tuan Puteri, Kau tidak perlu ikut dalam pertempuran ini." Ujar Perdana Menteri. Selain dia berpikir jika kondisi Vizena tak memungkinkan, ia juga tak ingin cucunya berada dalam bahaya. "Kakek, aku bisa mengatasinya. Kau tidak perlu khawatir."  Vizena kemudian beranjak, dia berjalan ke arah para prajurit sedang berbaris dengan rapi. Dia memandangi semua prajurit dari ujung ke ujung yang lainnya.  "Aku tahu, kalian pasti saat ini sedang bertanya-tanya mengapa gadis kecil sepertiku ada dihadapan kalian, kalian pasti sedang meremehkanku, mana mungkin seseorang yang cacat akan memimpin kalian." Katanya lalu ia mengambil nafas.  "Kalian benar, aku memang tidak akan bisa memimpin kalian. Meskipun Kaisar telah memberikan lencana ini padaku." Vizena mengangkat jari tangannya yang dilingkari cincin phoenix yang bertanda bahwa dia adalah penguasa para pasukan saat ini. Terlihatnya lencana tersebut membuat para prajurit itu bingung, mereka saling berkasak-kusuk. Khawatir jika benar-benar akan dipimpin oleh seorang wanita bertubuh kecil dan rapuh. "Tapi aku disini sekarang, aku ingin membantu kalian melindungi anak-anak kalian, ibu-ibu kalian, isteri-isteri kalian. Jadi ijinkan Aku untuk berdiri disamping kalian, aku akan berjuang melawan pemberontak bersama kalian! Kita akan bersama-sama melindungi Luxorth, melindungi orang-orang yang kita cintai!! HIDUP LUXORTH!!" Vizena mengepalkan tangannya dan meninju udara di atas kepalanya. Awalnya para prajurit itu ragu-ragu. Lalu salah satu dari mereka berteriak memberi semangat dan semuanya pun serentak bersemengat. "HIDUP LUXORTH!! HIDUP TUAN PUTERI VIZENA!!" Dari samping Vizena, Perdana Menteri tampak begitu bangga kepada cucunya itu. Dia tidak menyangka seorang gadis memiliki aura pemimpin yang begitu kuat. Sementara dari tempatnya berada, Zaviest merasa takjub dengan Vizena yang mampu meyakinkan ratusan prajurit itu.  "Itu dia wanitaku, sangat sempurna." Gumam Zaviest sembari terus memperhatikan. °°°°° Diatas benteng utama ibukota, Vizena bisa melihat ratusan prajurit yang dibawa oleh Gard. Dia juga bisa melihat Gard dan Jovach yang duduk diatas kuda mereka.  "Yang Mulia semuanya sudah siap." Seorang prajurit melaporkan perkembangan persiapan mereka. Seperti yang dikatakan oleh Zaviest sebelumnya. Vizena harus mengevakuasi semua warga kota, ia sudah melakukannya sejak kemarin. Lalu menempatkan prajurit di tempat-tempat strategis, Zaviest mengatakan itu untuk mengantisipasi jika pasukan pemberontak menjadi nekad dan masuk kedalam kota. "Baiklah, sekarang kirimkan pesanku padanya." Vizena memberikan sebuah gulungan kepada prajurit itu dan memintanya untuk memberikan pesannya kepada Gard.  Theriaz mendekati Vizena yang menunggu balasan dari pihak pemberontak. Meski begitu mengagumi Vizena tapi kekhawatirannya tak berkurang sama sekali. Dia menepuk pelan bahu Vizena untuk memberikan dukungannya. "Aku percaya kau pasti bisa melindungi Luxorth." Ujar Theriaz dengan lembut. "Tentu saja kakek, aku tidak akan pernah mengecawakan Ayah dan Kakak." Kata Vizena dengan suara tegas.  "Kau benar, tapi perlukah melakukan duel?" Vizena menoleh pada Theriaz, ia tahu kakeknya sangat khawatir pada kondisinya. Dia lalu hanya tersenyum sebagai jawabannya. "Biarkan kakek yang menggantikanmu, kalau begitu." Vizena menepuk bahu kakeknya, seolah dengan itu ia meminta kakeknya untuk bersikap setenang mungkin. "Aku lebih ahli dalam bela diri daripada kakek." Ujar Vizena dengan nada canda tapi senyumnya tak memiliki garis hingga ke matanya.  Tak berselang lama, prajurit yang di kirim oleh Vizena untuk mengantarkan pesan itu kembali. Dia menyerahkan sebuah gulungan kepada Vizena. Bersama kakeknya, Vizena pun membaca isi pesan tersebut. 'Jovach tidak akan melawan anda, sebagai gantinya Gard Meridiam, suami anda yang akan berduel dengan anda.' Kecemasan Theriaz semakin besar, bagaimana tidak? Semua orang mengenal siapa itu Gard Meridiam, dia adalah jenderal besar yang sudah membawa banyak kemenangan bagi Luxorth, kemampuan bela dirinya pun sangat tinggi. Mustahil bagi seorang wanita seperti Vizena mengalahkannya.  "Aku akan melawan Gard." Kata Theriaz secara naluriah. "Tidak kakek, ini adalah pertarungan antara suami dan isteri. Tidak boleh seorang pun ikut campur."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD