49. Surprising News

1288 Words
Kepulan asap tebal keluar dari dapur tempat tinggal Vizena. Asap itu sampai ke kamar tidur Vizena. Akibatnya, Vizena yang masih terlelap itupun terbangun karena asap membuat nafasnya menjadi sulit. Vizena terduduk di pinggir ranjangnya, sembari mencerna informasi kejadian di pagi hari ini.  "Asap?" Gumamnya. "KEBAKARAN!" Teriaknya. Seketika Vizena berlari keluar dari kamarnya dengan menyincingkan gaun tidurnya.  "Ada kebakaran!!" Ia berteriak lagi hingga penjaga tempat tinggalnya datang. Mereka menatap Vizena lalu melihat ke sekeliling mencoba menerka darimana datangnya asap ini.  "Ada apa, uhuk-uhuk!" Seorang pria keluar dari sisi bagian dapur, dan berjalan ke arah Vizena. Penampilannya sangat kacau, pakaiannya kotor terkena abu, wajahnya tercoreng abu dan rambutnya tak bisa dikatakan itu rambut karena sangat berantakan. Vizena dan penjaganya menatap pria itu dengan tatapan yang aneh. Apalagi penjaga Vizena yang waspada, mereka segera bersiaga di sisi kanan dan kiri Vizena. "Perlukah kami menangkapnya, Yang Mulia?" Tanya seorang penjaga. "Tidak, aku mengenal pria ini. Kalian boleh kembali." Jawab Vizena, matanya masih fokus pada sosok pria berpenampilan kacau yang sedang menyeringai ke arahnya.  Setelah semua penjaga itu pergi, Vizena melangkah ke arah pria tersebut. Dia memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki, tak ada yang bisa diselamatkan kecuali jika pria ini tidak berendam di kolam. Abunya menempel dengan sangat kuat di setiap sudut tubuhnya.  "Tuan Dranis, apakah isi kepalamu masih ada?" "Apa?" "Ah sudahlah, apa yang kau lakukan disana?" Tanya Vizena. "Memastikan anda makan dengan benar, tapi kurasa......" Boooomm Ledakan itu berasal dari arah dapur. Seketika keduanya berlari kesana disusul oleh penjaga yang tadi kembali ke tempat jaga mereka. "Apa, apa yang terjadi?" Vizena tercengang melihat kepulan asap hitam keluar dari dapurnya. Dia menatap Zaviest yang tertegun di sampingnya tanpa bisa melakukan apapun.  "Sepertinya aku meledakkan tungku apinya." Gumam Zaviest. Penjaga dan Vizena menatapnya tak percaya.  "Bagaimana bisa? Bagaimana caranya?" Tanya Vizena dengan suara yang begitu lirih. Airmatanya hampir keluar bukan karena sedih melainkan ia sudah menahan tawanya sejak tadi.  "Entahlah. Bagaimana ini?" Zaviest menoleh pada Vizena dengan wajah bingung tergambar jelas. Pada akhirnya Vizena tak bisa menahan tawanya. Tubuhnya bergetar dengan sangat kencang karena tertawa terbahak-bahak. Sementara penjaga yang berada di belakangnya saling menatap kebingungan.  "Apa yang anda tertawakan, Puteri?" Tanya Zaviest. Bukan menjawab tapi Vizena terus saja tertawa.  "Apa majikan kalian kehilangan otaknya?" Bisik Zaviest pada penjaga yang ada di balik punggung Vizena.  "Sepertinya begitu." Gumam salah seorang penjaga. Tawa Vizena seketika terhenti, ia berbalik dan menatap tajam penjaganya itu.  "Awas kalian! Berani mengataiku!" Vizena mengangkat tangannya berpura-pura akan memukul, dan para penjaga itu lari tunggang langgang kembali ke pintu utama.  "Huuuuuft." Hembusan nafas kasar keluar dari pernafasan Zaviest. Bahunya lunglai dan dia tidak memiliki semangat sama sekali. Dia sudah berusaha sejak pagi, ia bahkan mempertaruhkan persidangan paginya untuk pergi kemari hanya demi mempersiapkan makanan untuk Vizena.  Namun, yang terjadi malah sesuatu yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Ia merusak tungku api dan membuat ledakan kecil.  "Bagaimana ini, padahal aku ingin sekali membuat masakan untuk Puteri. Apakah seharusnya aku menyuruh seseorang saja." Zaviest berbicara sendiri. Tapi Vizena mendengarnya, ia juga memperhatikan bagaimana ekspresi di wajah Zaviest, sedih, bingung, dan kecewa. Melihat wajah Zaviest yang semakin kusut itu, Vizena menarik lengan Zaviest lalu membawanya ke dalam kamar. Sementara pandangan Zaviest terus terpaku pada dapur yang berasap.  "Sudah jangan pikirkan makanan untukku, sekarang bersihkan dirimu." Kata Vizena. "Tapi....." Zaviest masih terlihat sedih dengan kegagalan dirinya.  Tok tok.  Sebuah ketukan di jendela menarik perhatian Vizena dan Zaviest. Untuk sejenak mereka melupakan insiden yang terjadi di dapur lalu berjalan ke arah jendela. Vizena membuka jendela dan Rasheq muncul dari sana. Rasheq segera masuk ke kamar Vizena, ia memberi hormat pada Vizena dan salam kepada Zaviest.  "Bagaimana kakimu, mengapa datang dengan sembunyi-sembunyi?" Tanya Vizena sembari memandangi kaki Rasheq.  "Kaki saya sudah sembuh Yang Mulia, Ada sesuatu yang harus saya beritahukan kepada Anda." Ujar Rasheq. Tatapan matanya tertuju pada Zaviest yang berdiri di samping Vizena.  "Tidak apa-apa, katakan saja, dia ada di pihak kita." Ujar Vizena. Ucapan Vizena itu mampu membuat wajah suram Zaviest berubah menjadi sangat cerah. Samar-samar ia tersenyum. Karena Vizena sudah mempercayai dirinya. "Rumor beredar di kalangan masyarakat terutama yang saat ini mengikuti pelatihan yang anda dirikan Yang Mulia." Ujar Rasheq. Lalu ia menyerahkan sebuah kertas yang dia simpan di sakunya.  Vizena membaca isi kertas tersebut dengan seksama. Membaca kata demi kata dan mencoba memahami maksudnya. PUTERI VIZENA BUKAN CONTOH YANG BAIK BAGI MASYARAKAT. BAGAIMANA SEORANG PUTERI DARI KELUARGA KERAJAAN YANG SUDAH MENIKAH MENYIMPAN PRIA LAIN DI KAMARNYA SELAGI SUAMINYA MENGABDI PADA NEGARA?  PUTERI VIZENA TIDAK BERMORAL HARUS DIHUKUM DAN DIUSIR DARI ISTANA! USIR PUTERI TIDAK BERMORAL!! Bibir Vizena melengkung sempurna membentuk sebuah senyuman puas di wajahnya. Tapi tidak dengan Zaviest, dia merasa cukuo khawatir karean bukan hanya reputask Vizena melainkan seluruh kerajaan. Bagaimana jika rakyat sudah tidak percaya lagi dengan pemimpin mereka? Akan terjadi kekacauan yang pelik. "Puteri, apa anda sangat yakin dengan rencana kita?" Tanya Zaviest. "Yang Mulia, selebaran ini telah sampai pada para cendekiawan. Kabarnya mereka mengirimkan petisi kepada Kaisar." Rasheq menambahkan dengan kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya.  "Ini akan menjadi pertunjukkan yang luar biasa." Gumam Vizena sembari menyimpan kertas tersebut ke dalam laci meja riasnya. °°°°° Kabar burung telah tersebar hingga ke seluruh penjuru kerajaan Luxorth. Bahkan perjalanan kepulangan Gard dari perbatasan selalu di hubungkan dengan skandal yang terjadi di Istana Puteri.   Semakin hari Vizena semakin tersudutkan dan Kaisar telah ditekan pada batas kesabarannya. Tak bisa lagi Kaisar berdiam diri melihat Vizena terus mendapatkan fitnah se-keji itu. Akhirnya dia memanggil perdana menteri untuk mendapatkan bantuan.  Bukan bantuan yang dia dapatkan, tapi malah sebuah informasi yang sangat mengejutkan Kaisar, hingga Kaisar jatuh sakit. Mendengar kabar Kaisar jatuh sakit, Vizena langsung berlari dari kamarnya hingga menuju ke kediaman pribadi Kaisar. Tidak pernah ia menyangka bahwa rencana yang ia lakukan akan membuat kesehatan Kaisar memburuk. Tepat di depan pintu kamar Kaisar, saat Vizena akan masuk pintu kamar tersebut terbuka dan sosok Theriaz muncul dari balik pintu dengan wajah terlihat gelisah. "Kakek, apa yang terjadi?" Tanya Vizena yang panik. "Kaisar sedang beristirahat, temui dia lalu temui aku setelahnya." Ujar Theriaz pelan. "Baiklah." Setelah kakeknya beranjak pergi, Vizena segera masuk kedalam kamar Kaisar. Jantungnya serasa berhenti berdenyut ketika ia melihat sosok ayahnya terbaring di atas ranjang dengan keadaan yang tak berdaya dengan mata terpejam dan wajah yang sangat pucat. Pelan-pelan Vizena mendekati ranjang Kaisar. Satu bulir airmata jatuh melewati pipinya, hatinya serasa diremukkan ketika melihat kondisi ayahnya tak bertenaga itu. Kaisar hanya sebuah gelar saja, ayahnya tetaplah seorang manusia biasa yang tak bisa luput dari rasa sakit.  "Vizenaa." Rupanya Kaisar terbangun dan melihat Vizena yang terlihat begitu sedih. "Ayah, mengapa ayah terbangun?" Tanya Vizena, "Ayah harus istirahat agar lekas pulih." Kaisar hanya tersenyum sebagai balasan, dengan tangan lemahnya ia mencoba menggapai kepala Vizena. Mengerti dengan maksud ayahnya, Vizena bergerak lebih dekat. Kaisar mengusap kepala Vizena dengan lembut. "Puteri ayah, kau puteri kesayangan ayah." Kata Kaisar dengan suara yang sangat pelan. "Aku memang puteri kesayangan ayah, jadi ayah harus segera pulih." "Uhuk-uhuk." Kaisar terbatuk-batuk.  "Ayah harus beristirahat." Vizena membantu Kaisar dengan meletakkan kembali tangan kaisar ke samping tubuhnya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Ambil cincin phoenix di bawah bantalku." Bisik Kaisar.  Vizena menuruti permintaan Kaisar dan mengambil cincin emas dengan ukiran halus di sekitar cincinnya dan terdapat lempengan bundar di atasnya.  "Ini adalah lencana militer, kau bisa menggunakan lencana ini ketika keadaan genting." "Keadaan genting? Apa maksud ayah?" Vizena merasa curiga, jika tidak ada yang terjadi tidak mungkin Kaisar akan menyerahkan sebuah lencana sepenting ini kepadanya. Namun, Kaisar tak menjawab. Dia hanya tersenyum, terlihat lelah lalu ia memejamkan matanya untuk tidur. Vizena tak lagi bertanya, ayahnya pasti memiliki sebuah alasan melakukan hal ini. Jika tidak, mana mungkin menyerahkan benda sepenting itu diserahkan kepadanya.  "Kakek!" Vizena teringat bahwa dirinya harus menemui kakeknya. Mungkin sang kakek akan memiliki jawaban atas semua pertanyaannya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD