10. Break The Law

2398 Words
EMPRESS: 10. Break The Law "Apa hanya aku yang merasa, Kakak terus saja tersenyum setelah keputusan itu dibuat?" Suara Moscha setengah berbisik sembari meletakkan bidak caturnya dan melahap pion milik Remeus. Beberapa hari yang lalu Kerajaan Sholaire mendapatkan undangan untuk menghadiri perundingan damai di Luxorth. Perdana Menteri Sholaire meminta pada Raja untuk menunjuk seorang delegasi, namun Raja menolak dan mengatakan akan menghadiri perundingan itu sendiri dengan alasan bahwa ia ingin melihat bagaimana kekuatan kerajaan lain dengan mata kepalanya sendiri. Awalnya Perdana Menteri menolak karena keselamatan Raja sangat penting, apalagi Luxorth bukan negara sahabat, Raja tidak berdebat melainkan merengek pada Perdana Menteri dihadapan semua Menteri dan Pangeran yang membuat Para Pangeran menepuk dahi mereka karena merasa malu dengan sikap Raja sekaligus kakak tertua mereka yang seperti anak kecil. "Aku akan mengajak Vein bersamaku supanya Perdana Menteri tidak khawatir, bagaimana?" Tanya Raja saat itu. "Tapi Yang Mulia, tetap saja! Bagaimana anda bisa menghadiri pertemuan berbahaya itu secara langsung? Negara lain pasti hanya akan mengirimkan delegasi mereka." Ujar Perdana Menteri berusaha membujuk Sang Raja. Namun, Raja memasang wajah cemberutnya dan membuat Perdana Menteri tidak enak hati. "Aku akan menyamar, bagaimana?" Zaviest masih berusaha untuk tawar menawar dengan perdana menteri, "Bagaimana Perdana Menteri?" Rengek Zaviest, seperti seorang anak kecil yang menginginkan sebuah mainan pada orang tuanya. "Ah sudahlah!" Ucap Zaviest yang begitu kesal, "aku akan tetap berangkat meski Perdana Menteri tidak menyetujuinya!" Dan Zaviest meninggalkan persidangannya dengan wajah masam, sementara para menteri dan pangeran hanya bisa menghela nafasnya. "Kurasa kakak benar-benar sudah gila, karena sering bergaul denganmu." Ujar Remeus lagi kemudian ia memangsa bidak catur milik Moscha dan menghimpit rajanya. "Mengapa kau menyalahkanku! Akulah yang dipengaruhi oleh kakak!" Moscha membela dirinya sendiri. "Kau benar, dia yang memengaruhimu!" Gerakan terakhir Remeus membuat Moscha kalah telak. "Apa ini! Kau curang!" Tuding Moscha pada kakaknya itu, akan tetapi Remeus acuh tak acuh. Kali ini yang memenangkan permainan. "Sebenarnya apa yang diinginkan oleh Raja? Apa benar dia hanya ingin melihat kekuatan negara lain? Kupikir dia tidak peduli dengan kekuatan negara lain," selidik Remeus yang tidak bisa percaya begitu saja pada Raja sekaligus kakaknya itu, pasti ada rencana tersembunyi yang sedang di rencanakan oleh Raja. "Mengapa pertanyaanmu banyak sekali," desah Moscha sembari merapikan kotak catur tersebut. Ia kemudian meminta pelayannya untuk mengambilkan minuman dan kudapan. "Aku hanya ingin tahu saja, Raja sangat kesal saat membicarakan masalah pernikahannya, tapi dia sangat gembira saat ada undangan itu, bukankah itu sangat aneh?" "Apa kau sudah menggantikan Menteri Hakim Agung?" Tanya Moscha, "kau bertanya seolah kau ini sedang menginvestigasi sebuah kasus," gerutu Moscha. "Apa kau tidak merasa aneh?" Remeus sungguh penasaran dengan alasan Raja yang begitu gembira akan pergi ke Luxorth. "Sebenarnya tidak aneh sama sekali, apa kau tidak pernah melihat lukisan di kamar Raja?" Tanya Moscha. Remeus mencoba mengingatnya, di kediaman Raja memang terdapat lukisan, tidak hanya satu melainkan beberapa lukisan yang menggambarkan sosok gadis yang sama disetiap lukisannya. "Apa hubungannya dengan kepergiannya ke Luxorth?" Tanya Remeus yang semakin bingung. "Gadis itu memiliki warna mata yang tidak biasa, ungu!" Bisik Moscha seolah itu tidak boleh didengar oleh siapapun. "Lalu?!" "Di Lima Negara, hanya ada satu keluarga yang memiliki garis keturunan dengan warna mata seperti itu." Jelas Moscha pada Remeus. "Benarkah itu?" Remeus cukup terkejut mendengarnya. Ia tidak pernah mendengar kabar seperti ini sebelumnya. "Jadi gadis dalam lukisan itu berada di Luxorth?" Moscha mengangguk samar untuk menjawab pertanyaan Remeus tadi. "Darimana kau tahu?" "Tentu saja dari pelayanku yang cantik itu, kau tahu dia adalah pengumpul berita terhebat di istana!" "Ahhh begitu rupanya," tidak heran lagi jika Moscha mengetahui segala hal yang tidak pernah diajarkan kepada mereka. Pelayannya yang setia merupakan pendengar yang baik jika ada rumor beredar di kalangan masyarakat atau pun keluarga kerajaan. "Jadi sebenarnya, Kakak memaksa pergi ke Luxorth hanya untuk menemui gadis itu, lalu bagaimana dengan Nona Yaesha?" Moscha memutar matanya karena kesal dengan semua pertanyaan yanh diajukan oleh Remeus. Ia kemudian berdiri dengan tiba-tiba lalu berjalan pergi meninggalkan Remeus yang masih punya banyak pertanyaan untuk diajukan. Sementara itu, di kediaman Raja tampak Zaviest yang berada dalam suasana hati yang bahagia, senyumnya terus saja merekah sepanjang hari. Ia bersenandung sembari memeriksa dokumen negara, padahal biasanya ia paling bosan untuk memeriksanya. Berkali-kali juga ia bertanya kepada Dranis apakah persiapan untuk keberangkatannya ke Luxorth sudah siap. Zaviest benar-benar tidak sabar untuk segera pergi ke Luxorth. "Bagaimana Dranis persiapannya?" Tanya Zaviest sembari memeriksa dokumen yang ada di hadapannya. "Persiapannya sudah selesai, Yang Mulia." "Jadi aku bisa segera berangkat," gumamnya. Kemudian Zaviest kembali bersenandung dengan bahagia. Tak lama kemudian senandung kebahagiaan Zaviest harus terjeda karena seorang penjaga istana masuk kedalam ruangannya untuk melaporkan kedatangan Ibunya. Belum usai penjaga itu melaporkan sosok Ibu Zaviest sudah muncul dengan begitu anggun. "Ibunda, mengapa Ibunda tampak murung?" Tanya Zaviest ketika ia menyadari kerutan diantara dahi Ibunya. "Dasar anak nakal!"Hardik Ibunda Zaviest, "bagaimana bisa kau tidak membicarakan masalah ini denganku? Apa kau sudah tidak menganggapku sebagai ibumu lagi?" Zaviest mengerti bahwa pembicaraan ini mengenai keputusannya untuk pergi menghadiri pertemuan Lima Negara. Zaviest berdiri, kemudian ia menghampiri Ibundanya. Ia tuntun sang Ibu agar duduk di tempatnya duduk tadi dan dirinya duduk disampingnya. "Ibunda tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja." Ujar Zaviest berusaha untuk menenangkan Ibunya. "Bagaimana mungkin aku tidak khawatir, bagaimana jika ada salah satu dari mereka yang mencelakaimu?" Zaviest meraih tangan Ibunya, kemudian ia menatap ibunya lekat-lekat, berusaha meyakinkan wanita paruh baya yang begitu anggun tersebut. "Tenanglah, ada Vein bersamaku. Dia akan menjagaku bagaimana pun." kata Zaviest, "Aku juga akan mengubah penampilanku, agar orang-orang itu tidak mengenali siapa aku sebenarnya, jadi Ibunda tidak perlu khawatir." Ibu Suri menghela nafasnya dengan berat. Ia tahu tidak akan pernah menang bila berdebat dengan anaknya, dan sekalinya Raja memiliki keinginan maka tidak ada satu orang pun di Sholaire yang bisa menghentikannya. Akan tetapi ia tahu bahwa ia bisa memulai negosiasi dengan Zaviest untuk mendapatkan peluang supaya keinginannya terpenuhi. "Baiklah, dengan satu syarat." Ujar Ibu Suri. Alis Zaviest terangkat seketika. Ia sungguh merasa takjub pada Ibunya yang sangat pandai untuk mencari kesempatan dalam kesempitan. "Lagi?" "Jika kau tidak mengabulkannya, aku pun tidak akan mengizinkanmu pergi." Melihat wajah murung ibunya Zaviest tidak memiliki pilihan lain. Akhirnya ia mengangguk untuk menyetujui syarat yang akan diajukan oleh Ibunya. "Jadi apa syaratnya?" "Kita laksanakan pilihan Ratu setelah kau kembali." Zaviest kehilangan seluruh kata-katanya. Seharusnya ia bisa menduga bahwa Ibunya pasti akan mengajukan syarat yang seperti itu. Dengan bodohnya ia malah menyetujuinya sebelum mengetahui persyaratan apa yang akan diajukan oleh Ibunya. "Ibunda sangat licik sekali," gerutu Zaviest, namun melihat senyum merekah diwajah Ibunya tidak ada yang lebih baik dari itu. ????? Langkah kaki Vizena begitu tampak ceria, ia melompat dan setengah menari sembari berjalan kembali kerumahnya. Disampingnya Ariah berjalan dengan senyum diwajahnya, ia turut senang melihat suasana hati Vizena membaik setelah mendapatkan hadiah dari gurunya tempo hari. Bahkan karena suasana hatinya yang begitu baik, pagi sekali Vizena meminta Ariah untuk menemaninya pergi ke gunung yang terletak tidak jauh dari kota untuk mencari tanaman herbal. Rencananya ia ingin membalas kebaikan gurunya dan mengirimkan tanaman herbal itu ke Kerajaan Thymur. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, mereka pun segera kembali ke rumahnya. Sesampainya didepan kediaman Gard, berdiri beberapa pria dengan berpakaian seperti pengawal istana. Langkah Vizena pun terhenti, keningnya langsung berkerut. Segera ia menghampiri salah satu pengawal istana itu. "Ada apa ini?" Tanya Vizena dengan was-was. Pria-pria yang mengenali Vizena itu langsung memberikan hormat kepada Vizena. "Tuan Puteri, kami diperintahkan oleh Yang Mulia Kaisar untuk membawa anda ke Istana." Jawab salah seorang pengawal. Alis Vizena pun langsung terangkat. Tidak biasanya kaisar memanggilnya. Tapi Vizena pun tidak bisa menebak hal mendesak apa yang membuat ayahnya sampai memanggil dirinya. "Ayahku? Mengapa? Apa terjadi sesuatu?" Selidik Vizena. "Mohon Maaf Tuan Puteri, akan tetapi kami hanya diperintahkan untuk mengawal Tuan Puteri ke Istana, kami sudah membawakan kereta Istana." Jawab seorang itu. Vizena melirik ke balik bahu pria itu dan melihat keretanya sudah menanti dirinya. Lagi-lagi pikirannya dipenuhi oleh tanya, mengapa repot-repot membawakan kereta untuknya, dan pengawal yang cukup banyak. Apakah ini panggilan resmi atau apa? "Baiklah, aku harus berganti pakaian dulu. Kalian tunggulah disini." kemudian Vizena pun masuk ke dalam rumahnya. Ia segera pergi ke kamarnya, dibantu oleh Ariah ia mengganti pakaiannya yang lusuh karena ia gunakan ke gunung dengan Jubah Puteri Kerajaannya yang berwarna hitam dengan corak naga emas menghiasi bagian tengah jubah tersebut. Vizena mematut wajahnya dicermin. Ia tampak lebih tinggi dan terlihat ia lebih dewasa dari sebelumnya. Keningnya berkerut yang tidak luput dari pengawasan Ariah. "Ada apa, Yang Mulia? Mengapa mengerutkan kening begitu?" Tanya Ariah sembari membenarkan pakaian Vizena. "Menurutmu mengapa Ayah memanggilku ke Istana?" Tanya Vizena dengan ragu-ragu. "Jika Anda tidak tahu, bagaimana hamba yang seorang pelayan bisa mengetahuinya?" Jawab Ariah dengan suara yang pelan. "Benar juga, ngomong-ngomong lihatlah ke cermin!" Pinta Vizena pada Ariah. Seketika Ariah pun menatap cermin yang memantulkan gambaran Vizena. "Coba katakan padaku, apa yang kau lihat?" "Memangnya apalagi, tentu hamba melihat anda, Yang Mulia." Jawab Ariah jujur sembarj memutar matanya dengan kesal. "Bukan itu!!!" Dengus Vizena kesal, dan Ariah terkikik melihatnya. Sudah lama dia tidak menggoda Tuannya itu. "Lihatlah yang benar, apa kau sadar bahwa sepertinya aku menjadi lebih tinggi," "Ya Anda benar, Yang Mulia. Sekarang Anda sudah menjadi wanita dewasa." "Ini seperti aku akan menghadapi dunia yang keras," gumamnya. "Anda sudah menghadapinya sejak menikah dengan Tuan Gard!" Ariah merasa kesal. "Mengapa kau membawa nama Gard?" "Tuan Puteri! Tuan Gard membuat hidup anda sulit! Dia tidak pernah bertindak sebagai suami, tidak pernah menghargai apapun yang anda berikan, dia tidak pernah mencintai anda sebagaimana anda mencintainya dengan sepenuh hati." Ariah melampiaskan kekesalannya. Wajah Vizena pun berubah, rautnya menunjukkan bahwa ia sedang sedih tapi berusaha keras menutupinya. "Yang Mulia, hamba meminta maaf. Seharusnya hamba tida-" "Sudahlah, ayo kita berangkat. Ayahanda sudah menunggu kita." Vizena mengeraskan rahangnya, ia berbalik kemudian memimpin ke keretanya. Sepanjang jalan menuju ke istana, Vizena terus menatap keluar keretanya untuk menikmati pemandangan pasar yang ia lewati. Keriuhan ini, ia selalu menyukainya. Dulu ia berpikir mungkin jika ia menikah dengan Gard maka ia akan merasakan hidupnya lebih berwarna daripada hidup di istana. Tapi apa yang selalu diharapkan oleh Vizena selalu tidak sesuai dengan yang terjadi akhir-akhir ini. Hidup di kediaman Gard yang mewah itu, dirinya malah merasa lebih kesepian. Di dalam istana, setidaknya ia bisa menjahili kakaknya atau mengganggu ayahnya bekerja, teman-temannya juga sering berkunjung, mereka bisa menggosip sepanjang waktu. Atau sekedar bermain kartu bersama. Akan tetapi hidup di kediaman Gard, semua itu tidak bisa ia rasakan lagi. Saat ia pergi kepasar pun, mungkin hatinya akan gembira, namun saat kembali kerumah hatinya seakan kosong. Sesampainya di istana, Vizena langsung diarahkan untuk segera menuji istana Kaisar. Ia pun bergegas menuju kesana. Tak luput dari perhatian Vizena, banyak pelayan dan pengawal yang berlalu lalang di Istana, mengundang rasa ingin tahu Vizena. "Mengapa hari ini Istana sangat sibuk?" Tanya Vizena pada pengawal yang mengantarnya. "Hamba mendengar, bahwa Pengawas Lima Negara memutuskan untuk mengadakan pertemuan Lima Negara akibat perang yang sering terjadi antara Narth dan Luxorth, Yang Mulia." Jawab Pengawal tersebut, "pertemuan diadakan di Luxorth, pelayan dan pengawal bertugas untuk menyiapkan keperluan pertemuan dan keperluan delegasi yang akan dikirimkan oleh masing-masing kerajaan." Lanjut Pengawal itu. "Apakah delegasi Thymur juga?" Tanya Vizena. "Tentu saja Yang Mulia," Senyum merekah diwajah Vizena. Ini merupakan kesempatan yang baik untuknya mengirimkan obat herbal itu untuk gurunya. Sesampainya di Istana Kaisar, Vizena melihat tidak hanya ada ayahnya disana. Ada perdana menteri yang tidak lain adalah Kakeknya sendiri. Melihat kedatangan Vizena, wajah Kaisar yang tadinya cukup muram berubah menjadi lebih cerah, begitu juga dengan perdana menteri. Di mata kedua pria itu, Vizena bagaikan cahaya rembula yang begitu di cintai oleh semua orang dan tidak bisa diabaikan. "Hamba memberi hormat kepada Ayahanda dan Kakek," Vizena membungkuk memberikan hormat pada ayah dan kakeknya. "Tidak perlu formalitas begitu, kemarilah cucuku! Biar kulihat cucuku yang paling cantik ini." Kata Theriaz, sang kakek dengan senyum merekah diwajahnya. Vizena pun segera duduk disamping kakenya. Tangan tua dan keriput milik Theriaz itu terulur untuk menyentuh wajah Vizena. Senyumnya begitu hangat, ada kerinduan yang begitu mendalam dimata Theriaz. "Mengapa kau sangat kurus begini? Apa Gard tidak mengurusmu dengan baik?" Tanya Theriaz dengan raut wajah khawatir. "Itu karena dia terlalu merindukan Kakaknya" timpal Kaisar, "sampai tidak menghadiri pemakaman kakaknya sendiri, dasar anak nakal." "Mohon Yang Mulia tenang, cucuku pasti memiliki alasannya sendiri. Jangan terlalu keras, Yang Mulia." Ucap Theriaz. "Mohon Maaf Ayahanda, aku bersalah, tapi aku masih yakin bahwa Kakak masih hidup. Dia akan kembali." Kata Vizena dengan begitu yakin. Kaisar menghela nafasnya dengan berat. Ia menatap puterinya dengan penuh kasih sayang. "Kemarilah!" Pinta Kaisar, Vizena kemudian beranjak untuk mendekati ayahnya yang merentangkan tangannya untuk memeluk Vizena. "Aku tahu kau pasti sangat merindukannya," ujar Kaisar sembari mengusap punggung puterinya itu, lalu sesaat kemudian ia melonggarkan pelukannya dan menatap mata lembayung Vizena. Tangan Kaisar terulur untuk mengusap rambut hitam lembut milik Vizena, "tapi apa kau hanya merindukan Kakakmu? Bagaimana denganku?" "Aku juga sangat merindukan ayah, setiap hari." Balas Vizena dengan sangat tulus, "aku ingin berada disisi Ayahanda setiap saat." Kata Vizena lagi. "Kalau begitu, tinggalah di istana." "Itu tidak mungkin, hukum mengaturnya bahwa Puteri yang sudah menikah harus tinggal bersama suaminya." Balas Vizena. "Tidak jika Puteri tersebut mewarisi tahta kerajaan." Sahut Theriaz setelah menyesap tehnya. Mendengar ucapan itu, Vizena sangat terkejut hingga ia menatap kakeknya dengan penuh tanda tanya. "Apa maksud kakek? Bagaimana mungkin aku mewarisi tahta?" Tanya Vizena. "Dengar Tuan Puteri, coba kau pikirkan, mengapa Ayahandamu membuat kau belajar bersama kakakmu dengan guru yang sama?" Vizena masih tidak mengerti maksud dari kakeknya. Kemudian ia pun menoleh pada Kaisar untuk meminta jawaban. "Ayahanda, mohon jawab?" "Saat ini negara kita sedang dilanda krisis karena kehilangan satu-satunya kandidat putera mahkota, birokrasi terpecah karena Louth Meridiam menuntut agar Jovach diangkat sebagai keluarga kerajaan dan dijadikan penerus tahta." Jelas Kaisar pada Vizena yang ternganga mulutnya saat mendengar semua itu. Dia tidak menyangka bahwa ayah mertuanya akan mendesak Kaisar untuk melawan hukum. Akan tetapi menjadikan dirinya seorang calon penerus tahta pun menyalahi aturan. Di Luxorth belum pernah terjadi ada seorang raja wanita. Entah apa yang sebenarnya direncanakan oleh kaisar saat ini. Keputusan semacam ini hanya akan membuat kegaduhan di seluruh kerajaan. "Tapi tetap saja, tidak mungkin aku merebut apa yang menjadi milik kakak." "Cucuku, kau tidak merebutnya. Anggap saja kau menjaga milik kakakmu selagi dia belum kembali. Karena Jovach tidak pernah berhak untuk duduk diatas tahta!" Kata Theriaz dengan emosional. "Vizena, dengarkan aku," Kaisar mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Vizena dengan lembu, "kami membutuhkan bantuanmu, jangan biarkan kerajaan kita hancur ditangan orang-orang yang serakah." :: To be continued ::
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD