EMPRESS: 9. Mourning Gift
Perlahan cahaya samar memasuki mata Vizena, ia mengedipkan kelopak matanya dengan pelan untuk berusaha mengembalikan penglihatannya yang buram. Setelah semuanya jelas, ia menoleh kesamping kiri, lalu kekanan dan mengamati seluruh ruangan. Vizena menyadari bahwa dirinya tidak berada di kamarnya sendiri yang berada di kediaman Gard, ini adalah kamarnya di dalam istana.
Dengan mengerahkan kekuatannya yang lemah ia berusaha bergerak. Tubuhnya serasa kaku dan sakit dibeberapa tempat, kepalanya pun pening saat ia berusaha untuk duduk.
"Apa yang anda lakukan, Yang Mulia!" Suara berat ini membuat Vizena menjadi semakin sadar. Seseorang meraih tubuhnya dan membantunya untuk duduk, "anda tidak boleh banyak bergerak," katanya lagi.
"Gard," suara Vizena begitu serak karena tenggorokannya kering. Ia masih tak percaya jika ia melihat Gard berada disampingnya ketika pertama kali membuka mata dan membantunya untuk duduk. "Mengapa aku ada disini?" Tanya Vizena, ia tidak ingat mengapa ia sampai disini. Terakhir ingatannya tentang dirinya yang diam-diam menguping pembicaraan dalam persidangan istana.
"Anda pingsan selama satu minggu setelah bersembunyi," balas Gard. Mata indah Vizena pun melebar, dia tidak percaya bahwa telah tidak sadarkan diri selama itu.
"Lalu mengapa aku disini?" Tanya Vizena sembari memegangi kepalanya yang berdenyut, "bukan di rumah kita?"
"Yang Mulia, jangan terlalu banyak berpikir, Anda harus beristirahat " Mendengar Gard memanggilnya seperti itu membuat kepalanya lebih berdenyut. Lagipula, mengapa pria itu disini? Menunggunya? Sungguh Sulit dipercaya.
"Dimana Ariah?"
"Ariah sedang membantu pelayan yang lainnya, Anda membutuhkan sesuatu?" Tanya Gard, suaranya lembut tidak seperti biasanya yang begitu dingin terhadap Vizena.
"Apakah ada kabar dari Kakak?" Tanya Vizena lagi, tenggorokannya begitu kering tapi ia tidak ingin mengatakannya pada Gard, entah mengapa keberadaan pria itu didekatnya malah membuatnya merasa aneh. Biasanya Gard yang bersikap dingin seolah sedang memainkan peran menjadi suami yang lembut.
Seolah bisa membaca pikiran Vizena, tanpa mengatakan apapun Gard mengambilkan segelas air yang tadinya telah disiapkan. Ia memberikan gelas itu kepada Vizena, "Yang Mulia minumlah ini," ucapnya. Jantung Vizena dibuat berdebar dengan sangat kencang. Ini pertama kalinya setelah pernikahannya Gard berbuat lembut padanya.
"Jika Yang Mulia takut minuman ini diracuni, aku bisa meminumnya terlebih dahulu." Kata Gard lalu hendak meminum air tersebut. Segera Vizena menahannya, ia lalu menenggak habis air didalam gelas itu.
Rasanya begitu lega ketika air yang sejuk itu melewati gersangnya tenggorokan milik Vizena.
"Pencarian sudah diperluas, tapi belum ada hasilnya." Ujar Gard secara tiba-tiba seolah ia mengerti kegelisahan yang dirasakan oleh Vizena.
"Kau bersama Kakakku kan? Apa kau tidak tahu?"
Setelah mengembalikan gelas air ketempatnya, Gard lalu kembali dan ia duduk disamping Vizena. Matanya menatap mata lembayung Sang Puteri yang begitu sendu.
"Aku tahu, Anda begitu gelisah." Suara Gard sangat lembut, ia juga meraih telapak tangan Vizena dan menggenggamnya dengan kehangatan yang selalu didambakan oleh Vizena selama ini. Vizena pun terpaku dengan sikap Gard yang berubah drastis itu, "tapi Yang Mulia, anda harus tetap sehat, nanti saat Putera Mahkota kembali dan melihat adiknya sakit, hatinya pasti hancur." Ujar Gard lagi-lagi dengan cara yang sangat lembut, bahkan tatapannya pun melunak, begitu sendu ketika menatap mata Vizena.
Seperti terhipnotis oleh kelembutan Gard kepala Vizena mengangguk pertanda ia akan menuruti perintah Gard, lalu tanpa mengatakan apa-apa Vizena memeluk Gard, membuat pria itu terkejut hingga melebarkan matanya. Gard ragu, apakah ia harus membalas pelukan itu atau membiarkan dirinya dipeluk saja. Pada akhirnya, Gard meletakkan kedua tangannya tanpa membalas Vizena. Hatinya begitu berat seakan-akan terganjal sesuatu yang membuat Gard merasa tidak pantas untuk membalas pelukan Vizena.
Sepanjang hari, setelah Vizena mendapatkan pemeriksaan dari dokter kerajaan dan dipastikan keadaannya sudah membaik, Gard mengambil alih tugas Ariah. Ia membantu membasuh wajah, tangan dan kaki Vizena. Memberikannya makan bahkan menyuapi Vizena dengan sabar.
Sikap Gard yang begitu baik benar-benar membuat Vizena terbuai. Samar-samar ia pun mulai tersenyum, rona wajahnya yang pucat kini sudah mulai berseri dan harapan dihatinya pun semakin besar untuk dirinya dan Gard.
"Sampai kapan aku harus di Istana?" Tanya Vizena setelah ia merasa dirinya cukup sehat untuk kembali ke kediaman Gard.
"Anda belum mengunjungi Yang Mulia Kaisar, bagaimana jika anda mengunjunginya?" Usul Gard.
"Benar juga, baiklah aku akan minta Ariah menyiapkan kudapan kesukaan Ayahanda," Ujar Vizena sembari tersenyum dengan lebar. Senyumnya pun menular pada Gard, pria itu tersenyum sehingga pesona ketampanannya semakin tampak.
Ketika malam tiba dan rembulan yang sedang purnama begitu cantik tergantung diatas langit Luxorth, Vizena berjalan bersama dengan Ariah untuk mengunjungi Ayahnya. Selama pemulihan dirinya ia belum bertemu dengan Ayahnya, dan sang Ayah pun begitu susah membagi waktunya dikarenakan tekanan yang begitu besar dari segala sisi mengenai status Putera Mahkota.
Dengan harapan ia bisa menghibur ayahnya dengan kue buatan Ariah itu Vizena tersenyum sembari membawa piring berisi kue. Saat Vizena memasuki kediaman Kaisar, kebetulan sekali Ayahnya itu tengah berada di paviliunnya, sendirian sembari menatap keatas langit.
Dengan perlahan Vizena pun mendekat, semakin dekat ia melihat ayahnya semakin jelas tampak wajah sang ayah yang sudah mulai menua, rambut putihnya mulai tumbuh menghiasi kepalanya, tatapannya pun begitu sayu karena batinnya dipenuhi oleh duka dan tekanan yang tiada hentinya.
"Vizena memberikan hormat kepada Ayahanda," suara Vizena menyadarkan Kaisar Mouszac dari renungannya. Ia pun menoleh kearah Vizena, sejenak ia terpaku akan kecantikan Vizena meski separuh wajahnya ditutupi oleh topeng emas buatannya. Menatap puterinya yang tumbuh menjadi wanita secantik itu membuat Kaisar teringat pada mendiang Permaisuri, yang memiliki paras indah serupa puterinya.
Dalam hatinya ia selalu menyesal seumur hidupnya karena membawa wanita lain kedalam istana mereka. Ia telah melukai hati isterinya dan tak bisa menyembuhkan luka tersebut hingga isterinya tiada. Penyesalan itu pun menggerogoti jiwa Kaisar yang sudah menua dan rapuh.
"Kemarilah, Puteriku." Pinta Kaisar. Vizena pun mendekat, ia menunjukkan piring yang dia bawa pada Kaisar.
"Ariah membuatkan kudapan untuk Ayah, ini adalah kue kesukaan ayahanda kan?" Katanya dengan suara yang dibuat seceria mungkin. Vizena menarik tangan Ayahnya agar duduk bersamanya.
Kaisar menatap kue yang dibawa oleh Vizena. Itu adalah kue anggur, bukan hanya kesukaannya tetapi juga kesukaan Leoxard. Hati Kaisar pun terasa ngilu, ia teringat saat pertama kali Leoxard bisa berbicara dan memakan kue tersebut lalu berusaha mengatakan rasa kue itu sangat lezat. Tanpa sadar, setitik air mata pun terjatuh bergulir diwajah Kaisar Mouszac.
"Ayah," Vizena tahu rasanya merasakan sakit hati karena duka yang mendalam. Mereka berdua sangat menyayangi Pangeran dengan sangat besar. "Kakak pasti akan kembali, dia telah berjanji padaku akan kembali dengan selamat." Vizena mencoba menghibur ayahnya. Tapi rasanya begitu berat, kehilangan yang mereka rasakan bukan hanya sekedar perpisahan sesaat, melainkan kehilangan selamanya yang tidak akan pernah bertemu lagi dalam kehidupan ini.
Kaisar Mouszac mengangkat kepalanya kemudian memandangi Vizena. Banyak perasaan bercampur yang terpancar dari matanya.
"Pasti, kakakmu pasti akan kembali," Ujar Kaisar meski hatinya begitu ragu, apakah Putera kesayangannya benar-benar akan kembali.
_______
Tiga bulan kemudian....
Boneka manusia dari jerami yang digunakan untuk berlatih terbelah akibat pedang panjang milik Vizena. Sepanjang hari ia berlatih tanpa henti hingga membuat keringatnya mengucur sangat deras dan nafasnya menderu tanpa henti.
Dari setiap gerakan Vizena, tiap-tiap ayunan pedangnya yang sangat akurat dan bertekanan tinggi menunjukkan bahwa emosinya sedang dalam keadaan yang tak bisa diusik.
Meski sudah diresmikan kematian Leoxard, batin Vizena masih tidak percaya bahwa kakaknya tewas dalam pertempuran, sangat mustahil. Jika Leoxard kalah, seharusnya dirinya kalah dengan seorang yang sepadan dengannya. Misalnya saja Raja Negeri Sholaire yang terkenal akan kebengisannya itu.
Itulah sebabnya, Vizena tak bisa lagi menahan amarahnya yang sudah dia tahan berminggu-minggu itu. Dia kesal pada pejabat dan menteri yang terus mendesak ayahnya untuk menghentikan pencarian dan menyerah.
Satu ayunan lagi berhasil menebas patung kayu menjadi dua, lalu ia tancapkan pedangnya kedalam tanah dan ia menengadah ke arah langit yang begitu cerah berwarna biru.
Sesaat kemudian seekor burung terbang melesat kearah Vizena. Setelah terbang rendah ia langsung mendarat dibahu Vizena, burung itu sangat indah dengan bulunya yang berwarna perak.
"Sudah puas bermain-main?" Tanya Vizena pada burung tersebut. Burung itu sudah menjadi teman Vizena selain Ariah, ia menemukannya saat sedang beristirahat di kediaman puteri di Istana. Burung itu selalu menghampirinya dan tetap berada disamping Vizena sejak itu untuk menemami Vizena.
"Kau selalu datang kapan saja saat suasana hatiku sedang buruk ya," ujar Vizena lagi, "tapi suasana hatiku tidak pernah membaik, itu sebabnya kau terus menerus datang,"
Ia kemudian berjalan kesamping arena latihan dan duduk bersandar pada sebuah pohon. Sejak kepergian gurunya, dan merasa tidak ada tempat lain untuk meluapkan emosinya ia selalu datang ketempat latihan ini.
Gard memang telah bersikap lebih baik padanya. Akan tetapi sikap baiknya itu lebih kepada sikap seorang pengawal kepada tuannya dan tidak lebih. Meski begitu, Vizena merasa senang setidaknya sikap Gard tidak sedingin saat mereka baru menjadi pasangan suami isteri.
Hanya saja sikap Gard itu tidak bertahan lama. Setelah Vizena benar-benar sembuh Gard menjadi dingin kembali.
"Coba katakan padaku, kau sudah berkeliling kemana saja?" Tanya Vizena pada burung berbulu perak itu.
Burung tersebut hanya menatap Vizena sembari menyorongkan kepalanya kearah Vizena. "Banyak tempat?" Kata Vizena seolah ia menjawab ucapan burung tadi.
"Aku juga ingin pergi ke banyak tempat, tapi terakhir saat aku pergi jauh yang kudapat hanya kecacatan." Keluh Vizena, kepala burung itu di sandarkan pada kepala Vizena seolah mencoba menghibur Vizena.
"Tidak masalah, kelak saat kakakku kembali aku akan pergi ke banyak tempat, dia pasti akan mengizinkanku." Ujarnya dengan berusaha ceria.
Sementara itu, Ariah berlari kecil kearahnya. Terlihat dari raut wajah gadis itu bahwa ia memiliki sesuatu yang harus segera dilaporkannya pada Vizena. Ketika mendekat, Ariah melihat burung berbulu perak itu sedang menemani Vizena.
"Burung ini sudah kembali rupanya, Yang Mulia." Ujar Ariah.
"Iya, kurasa dia tahu kapan harus menemaniku," balasnya sembari mengusap puncak kepala burung itu.
"Sangat setia sekali, mengapa anda tidak memeliharanya saja, Yang Mulia. Burung ini sangat indah, dia tidak seperti burung yang lainnya." usul Ariah.
"Dia bukan seperti burung yang suka dipelihara, biarkan dia bebas." Balas Vizena.
"Benar juga," Ariah sepakat dengan Vizena, "meski dia bebas tetap saja dia selalu datang pada anda, Yang Mulia." Imbuh Ariah, kemudian ia teringat akan sesuatu yang seharusnya dilaporkan kepada Vizena. "Ohya, Tuan Puteri, seseorang mengirimkan pesan ini." Ariah menyodorkan sebuah amplop yang masih tersegel dengan lambang diatas segelnya yang cukup dikenali oleh Vizena. Itu lambang dari negara Thymur, akan tetapi segel seperti itu hanya dimiliki oleh keluarga kerajaan negara tersebut. Lalu, siapa yang mengiriminya pesan? Vizena merasa tidak pernah memiliki hubungan apapun dari keluarga kerajaan Negara Thymur.
"Siapa yang mengirimnya?" Tanya Vizena.
"Seorang anak kecil, Yang Mulia."
Alis Vizena terangkat karena ia merasa curiga. Siapa yang menyuruh anak kecil itu mengirimkan pesan ke arena latihan rahasianya? Hanya gurunya yang tahu tempat ini, atau mungkin surat tersebut dari gurunya? Vizena yang sangat penasaran pun segera membuka surat tersebut.
Untuk Vizena
Bagaimana kabarmu? Apa kau masih rajin berlatih? Ingatlah, kau harus rajin melatih kemampuan tanganmu agar sempurna.
Aku baik-baik saja disini, banyak hal yang harus kukerjakan sehingga mungkin aku tidak bisa kembali ke Luxorth. Tapi suatu hari aku yakin kita akan bertemu lagi.
Seperti yang pernah aku janjikan padamu, aku telah mengirimkan sesuatu untukmu. Kurasa itu akan sangat berguna kelak. Datanglah ke toko herbal yang berada diujung pasar, dan tunjukkan surat ini dan lencana giok yang kuberikan padamu ke pemilik toko.
Aku tidak bisa mengirimimu banyak surat, tapi ingatlah dengan jelas perkataanku, jangan mudah percaya pada siapapun. Mengerti?
Jaga dirimu baik-baik!
T. Khan
"Ini dari guru!" Pekik Vizena yang kegirangan, ia langsung berdiri kemudian beranjak pergi.
"Tuan Puteri, tunggu!" Ariah menyusul Vizena dengan setengah berlari. Sedangkan burung berbulu perak itu terbang rendah mengikuti langkah Vizena.
Sesuai dengan yang di instruksikan oleh surat dari gurunya itu, Vizena pergi ke toko herbal yang berada di ujung pasar. Toko itu rupanya adalah toko yang besar, banyak orang keluar masuk ketoko tersebut dengan tujuan untuk membeli obat.
Segera ia pun masuk kedalam toko tersebut, ia harus ikut berbaris dengan orang-orang lainnya. Namun seseorang dari toko tersebut tiba-tiba menghampiri Vizena, wajah orang tersebut sangat asing, berbeda dengan kebanyakan penduduk Luxorth, dia memiliki wajah yang bulat seperti telur dengan mata sipit dan tulang pipi yang tinggi, dan cantik.
"Nona muda, mohon ikuti hamba," bisiknya pada Vizena, tentu saja Vizena terkejut, ia mengamati orang itu. Wajahnya memiliki struktur yang sama seperti gurunya yang tampan. Mungkin mereka berasal dari etnis yang sama. Vizena pun mengikuti gadis tersebut bersama dengan Ariah.
Mereka diarahkan ke sebuah ruangan, Vizena cukup bingung mengapa gadis itu membawanya ke ruangan lain sedangkan orang-orang yang lainnya harus mengantre untuk mendapatkan obat.
"Saya melihat surat yang dibawa oleh Nona Muda jadi langsung mengenalinya," ujar gadis itu seolah mampu membaca pikiran Vizena.
"Jadi kau di utus oleh guruku?" Tanya Vizena. Gadis itu mengangguk sembari tersenyum samar. Vizena kemudian mengambik sebuah kantong yang berisi sebuah lencana dengan berhias batu giok di atasnya.
"Yang Mulia Kaisar memberikan saya perintah untuk memberikan ini kepada Anda," Ujarnya sembari mencari sesuatu didalam sebuah lemari yang melekat di dinding.
"Ka-ka-ka, kaisar? Siapa maksudmu kaisar?" Vizena tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat mendengar gadis itu mengatakan kata kaisar dihadapannya.
"Kaisar Trugeris Khan dari Kerajaan Thymur."
"Apa?!" Jantung Vizena serasa berhenti berdetak, ia mundur selangkah karena sangat terkejut dengan fakta bahwa guru yang bersamanya sekian tahun adalah seorang kaisar. Tapi gurunya itu cukup muda, seusia dengan kakaknya.
"Kaisar dinobatkan satu bulan yang lalu, ketika Ayahnya meninggal dunia."
Vizena tak mampu mengatakan apapun, ia sangat terkejut. Selama ini ia berpikir bahwa gurunya hanyalah seorang ahli bela diri saja tidak lebih, tapi faktanya gurunya yang adalah seorang Pangeran waktu itu. Sungguh mengejutkan.
"Dia menyembunyikan identitasnya selama ini, kenapa?"
"Waktu itu dia masih seorang pangeran, ia suka keluar dari istana bahkan kerajaannya untuk berpetualang, dengan menunjukkan identitasnya akan membuatnya sangat kerepotan, itulah sebabnya Yang Mulia Kaisar tidak pernah menunjukkan identitasnya yang asli." Jelas gadis itu, ia kemudian berbalik dan berjalan kearah Vizena sembari membawa sebuah kotak persegi panjang berukuran sedang kepada Vizena.
Kotak itu diukir dengan indah seperti khas kesenian kota Thymur. Gadis tersebut menyerahkan kotak itu kepada Vizena dan membukanya untuk Vizena.
Sebuah belati dengan mata pisaunya yang hitam berkilau memanjakan mata Vizena. Ia begitu takjub dengan belati itu.
"Kaisar membuat sendiri senjata ini untuk anda, Nona." Kata gadis itu lagi, ia kemudian mengambil belati tersebut. "Senjata ini memiliki beberapa kelebihan, akan kuperlihatkan pada Anda," Ujarnya lagi.
Gadis itu menunjukkan kemampuan bela dirinya dengan menggunakan belati tersebut. Lalu ia menekan salah sebuah permata berwarna merah yang terdapat diujung pegangannya dan belati itu berubah menjadi pedang panjang.
"Sungguh luar biasa," decak Vizena yang terpesona dengan keindahan pedang tersebut.
"Tunggu dulu," ujar gadis tersebut, lalu ia mendorong pedang tersebut kedepan tubuhnya. Bagian tengah pedang tersebut kemudian membelah menjadi dua bagian, lalu sebuah tali kecil saling menghubungkan kedua ujungnya dan jadilah pedang tersebut busur panah.
"Sangat menakjubkan!!" Mata Vizena berbinar begitu cerah. Gadis itu tersenyum, ia kemudian menekan kembali tuas dengan permata merah dan busur itu kembali menjadi bentuk belati, lalu menyerahkan senjata langka itu kepada Vizena.
"Senjata ini adalah satu-satunya didunia, harap Nona menjaganya dengan baik. Senjata ini dibuat sendiri oleh kaisar dengan menggunakan batu meteor yang disimpan sebagai harta nasional."
Vizena menerima senjata itu dengan sangat gembira, karena pemberian Khan membuat ia bisa melupakan sejenak kesedihannya karena kehilangan Leoxard.
"Terimakasih, tapi kau ini sebenarnya siapa?" Tanya Vizena yang sebenarnya sudah sangat penasaran dengan gadis itu. Meski tubuh gadis itu seperti Vizena yang kecil dan pendek tapi kemampuan bela dirinya sangat baik.
"Saya pengawal pribadi Kaisar,"
"Begitu rupanya, kuharap kau bisa menyampaikan pesanku pada Kaisar." Vizena memutuskan untuk menulis surat balasa pada Khan. Setelah ia selesai menulis surat dan memberikan surat tersebut kepada pengawal pribadi Khan, ia segera kembali ke rumahnya dengan hati yang gembira.
Akan tetapi, saat ia sudah berada dikamarnya perasaan sedih kembali menyerbu hatinya. Ia memandangi kotak yang berisi senjata pemberian Khan padanya lalu teringat pada Leoxard.
"Seandainya kakak disini, aku bisa menunjukkan senjata baruku padanya." Gumamnya dengan sedih.
::To be continued::