Tya dan Bumi berjalan memasuki rumah masih ada Ratih di sana yang sejak tadi juga melihat apa yang terjadi diluar sana melalui jendela. Dalam hatinya juga bertanya-tanya dan penasaran dengan apa yang terjadi. Apalagi ketiganya tadi berdiri cukup lama di luar.
Saat Tya masuk ke dalam, gadis itu sedikit terkejut karena ia kini melhat Ratih yang menatapnya dengan penuh rasa penasaran. Saat melihat Tya dan bumi hendak berjalan masuk Ratih segera melipir dan berdiri tepat di depan pintu.
"Siapa itu tadi?' tanya Ratih penasaran.
"Pacarnya Tya katanya." Bumi menjawab sambil menatap sang adik dengan tatapan iseng.
Tya jelas tak terima, kesal lalu memukul bahu sang kaka. "Bukan ih kak!"
"Lho emangnya kenapa kalau pacaran? Kayaknya juga orangnya ganteng. Kelihatan dari belakang aja udah cakep gitu." Ratih menambahkan dan tentu saja itu membuat Tya jadi semakin kesal dengan kelakuan Yuga padanya.
"Iya, lagian buat apa atasan kamu ngaku-ngaku pacar kamu? enggak ada untungnya buat dia. nah, kalau kamu yang ngaku-ngaku pacarnya dia itu baru masuk akal.' Bumi berkata lagi. Karena jelas menurutnya tak masuk akal jika yuga mau berbohong menjadi kekasih Tya. Ya, karena tak ada untungnya juga jika ia melakukan itu.
"Aku tuh enggak pacaran ya Mas! Terserah ibu sama Mas Bumi, pokoknya aku enggak pacaran sama Pak Yuga!" kesal Tya kemudian melangkahkan kakinya dengan segera menuju kamar.
Jawaban dari Tya malah membuat Ratih dan Bumi terkekeh. Keduanya berpikir kalau Tya malu karena ketauan sudah memiliki kekasih.
"Kayaknya adik kamu malu deh karena ketahuan udah punya pacar." Ratih berkata kepada Bumi.
Bumi menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang dikatakan oleh ibu angkatnya itu. "Tadi juga kayaknya dia marah karena kesel. Mungkin mereka berdua berantem tadi makannya akhirnya cowok itu ngaku kalau dia pacaran sama Tya."
"Syukur deh kalau gitu. Berarti, udah ada nanti yang akan jagain adik kamu. Tinggal kamu kawan aja sampai mereka berdua sah nanti. Ibu juga berharap keduanya bisa sampai nikah karena kayaknya cowok tadi itu baik."
Bumi menganggukan kepalanya setuju mendengar apa yang dikatakan oleh Ratih. Meskipun tadi sang adik marah dan terlihat kesal tapi bumi merasa kalau Tya dan Yuga benar-benar memiliki hubungan khusus.
Sementara saat ini Gadis itu sudah berada di kamarnya. Segera merebahkan tubuh karena merasa benar-benar kesal. Yang paling membuatnya kesal adalah ,sang kakak yang tak percaya pada pengakuannya. Kalau ia sama sekali tak memiliki hubungan dengan pria berkulit putih yang menyebalkan itu. Akan jadi apa besok ia di kantor. Gosip mengenai dirinya pasti sebentar lagi akan menyebar.
Tya cara mengambil ponsel dan memutuskan untuk menghubungi sahabatnya, Vhi. Biasanya ya memang banyak bercerita atau sekedar mencari hiburan dengan menghubungi Vhi. Tak lama sampai panggilan diangkat.
"Hai? Kenapa?"
"Lo lagi sibuk nggak?" Tya bertanya.
"Lagi agak sedikit sibuk sih. Ada sedikit tugas padahal sebenarnya kuliah gue udah selesai. Kenapa?" Vhi bertanya di sana jelas terdengar suara beberapa orang. Obatnya itu tengah berkumpul, mengobrol dan mengerjakan tugas.
Tya jadi tak enak jika ia harus berbicara kepada sahabatnya itu saat ini. Karena ia tak mungkin mengganggu tugas kuliah Vhi. Dan tak mungkin dia menceritakan tentang kejadian di kantor.
"Yaudah, Lo selesaikan dulu tugas Lo, ya?" kata Tya.
"Serius, ada apa?" Vhi bertanya karena penasaran. Ia tak ingin sahabatnya itu menyembunyikan apa yang ingin Ia bicarakan.
Tya jelas saat ini tak mungkin mengganggu Vhi yang tengah sibuk dengan tugasnya. "Nggak ada apa-apa sih. Gue cuman Mau hubungin lo aja. Lagi nyari temen ngobrol."
"Hmm, gimana Kalau tugas gue selesai, gue segera hubungin Lo?" Vhi coba menawarkan diri.
"Okay Vhi, lo kerjain tugas yang bener ya. Gue tunggu telepon dari lo."
" Oke, Babay Ty."
"Babay Vhi." Tya memberikan salam kemudian panggilan dimatikan.
Setelah panggilan dimatikan, Tya kembali merebahkan tubuhnya sambil memeluk guling. Masalahnya benar-benar kacau dan berantakan karena ulah Yuga. Bagaimana bisa pria itu mengakuinya sebagai kekasih? Padahal bisa saja ia memilih wanita yang jelas-jelas lebih cantik dibandingkan dirinya.
***
Yuga ini tengah duduk di ruang tengah seraya mengobati kakinya yang terasa sakit dan juga sedikit bengkak. Pria itu mengoleskan krim untuk meredakan bengkak yang ia rasakan akibat injakan kaki Tya. Sekali ia mendesis merasakan sakit seraya mengumpat di dalam hati.
Itu sang Mami berjalan mendekat lalu duduk di samping putra sulungnya. Ia menatap Yuga saran mengapa tiba-tiba saja mengobati kaki. Memang terlihat kaki Yuga sedikit memar.
"Kaki kamu kenapa?"
Yuga melirik sekilas ke arah sang Mami lalu kembali mengusap-ngusap kakinya. "Karena permintaan nenek dan mami. Usaha buat deketin Tya, lihat apa yang terjadi sama kaki aku? Ini masih tega nyuruh aku buat ngedeketin dia?"
"Loh, emangnya Tya ngapain kamu?"
"Dia injak kaki aku. Udahlah, Kenapa sih permintaan Mami sama nenek itu aneh-aneh aja?" Yuga bertanya dirinya kini benar-benar merasa kesal dan marah dengan permintaan nenek dan maminha itu.
"Kamu nggak boleh kayak gitu. Mungkin kamu nggak ingat, dulu Om Budi pernah ngelawan apa yang dibilang oleh nenek. Nenek bilang Om Budi nggak boleh nikah sama janda. Ternyata benar kan, akhirnya hartanya dibawa kabur semua sama istrinya itu. Sekarang dia malah nggak nikah-nikah."
Yuga tau jelas aja iya juga ingat mengenai kejadian itu. Hanya saja, masih tak mempercayai Kalau ia harus menikahi Tya. Lagi pula seharusnya akan lebih mudah mendekati gadis itu. Namun, nyatanya lebih sulit dibandingkan harus membayar perempuan lain.
"Gimana kalau yang lain aja tapi juga gemuk?" tanya Yuga.
"Nggak bisa, weton kamu sama fotonya dia tuh udah cocok."
Yuga menggelengkan kepalanya mendengar perkataan sang mami. "Itu apa lagi sih Mi? Weton apa?"
Nindi putranya itu dengan antusias. Sudah bersiap untuk menjelaskan mengenai perhitungan sang nenek kepada putra sulungnya itu. "Pokoknya perhitungan weton kamu, kamu anak sulung dan dia anak bungsu, terus juga zodiak dia itu pas Pisces, anaknya itu penyayang, MBTI nya juga ENFP. Udah pisces, enfp, double kill kalau jatuh cinta." Nindi kepada putra sulungnya, yang membuat Yuga geleng-geleng kepala heran.
"Mami tahu dari mana sih semua info itu?" Yuga pasaran, dari mana sang Mami bisa mendapatkan semua info detail itu seperti seorang detektif.
"Mami baru ingat. Kalau Mami sama dia itu berteman di f*******:. Tya, Kadang-kadang suka ngepost tentang zodiak dan juga MBTI. Jadi mami iseng-iseng cari tahu deh," jawab. Nindi. Wanita itu menjelaskan dengan antusias dan juga terlihat bangga sekali kepada putra sulungnya.
Yuga jadi tak habis pikir. Bagaimana sang Mami bisa kepikiran tentang hal-hal seperti itu. Sifatnya benar-benar mirip dengan sang adik yang random dan kadang memang tak jelas.
"Kalau mbti kamu apa Nak?" Nindi bertanya pada Yuga.
MBTI adalah salah satu psikologi yang dilakukan untuk mengenal pribadi seseorang secara lengkap. Dan tes seperti ini kini sudah banyak ada di internet.
"ISTP," jawab pria itu cepat.
"ISTP itu apa? Tunggu mami cari di internet."
Nindi kemudian berselancar di dunia maya untuk mencari informasi tentang MBTI ISTP. Yuga tak terlalu memperdulikan sang ibu. Ia fokus terhadap penyembuhan terhadap kakinya. Besok pria itu harus mengecek pabrik. Jadi tak mungkin kalau harus berada di lapangan dengan kondisi kaki yang sakit seperti ini.
"Ah!" Nindi kemudian bersorak setelah ia menemukan informasi yang ia cari. "ISTP, Introvert, Sensing, Thinking, Perceiving. Kelebihannya adalah rasional bla bla bla. Dan kekurangannya adalah, enggak peka, keras kepala, suliy berkomitmen, sulit didekati. Benar-benar cocok sama kamu." Nindi berkata sambil menggelengkan kepalanya.
"Kelebihan Mami nggak sebutin. Begitu kekurangan Mami sebutin semua?" Yuga jadi kesal.
Nindi terkekeh geli karena kelakuan putranya yang satu itu. "emangnya kenapa? Yang paling penting kan memang kekurangan kamu. Makanya Mami cari perempuan seperti Tya, biar hidup kamu lebih berwarna."
Yuga berdecak, memutuskan untuk berjalan ke kamar. Tinggal pasang Mami sendirian duduk dengan ponselnya mencari informasi mengenai zodiak dan MBTI.