"Saya sama bapak? Nikah? Ngapain?" tanya Tya bingung karena perkataan Yuga yang sangat tiba-tiba.
Yuga tak kalah bingungnya dengan pertanyaan yang diberikan oleh Tya. "Gimana maksud pertanyaan kamu?"
"Kita nikah kontrak ngapain?"
Yuga hela napasnya, paling kesal kalau orang bertanya dengan pertanyaan yang tak jelas. "Pikirkan dulu kamu mau ngomong apa. Saya enggak suka pertanyaan yang enggak jelas. Pilih kalimat yang efektif." Yuga berkata sambil kemudian menatap kembali pada dokumen di hadapannya.
Gadis bertubuh gemuk itu terdiam sejenak, memikirkan pertanyaan yang akan ia tanyakan kepada Yuga. "Saya, sama bapak nikah kontrak? Kenapa tiba-tiba banget? Alasannya apa? Latar belakang dari pertanyaan bapak itu apa?"
"Pertanyaan atau pernyataan?" tanya Yuga tak menoleh pada Tya.masih sibuk denan dokumen-dokumennya yang jelas lebih penting dibandingkan pertanyaan Tya barusan.
Tya mempoutkan bibirnya, salah lagi dan salah lagi. Jadi bingung, sebenarnya pria di hadapannya ini adalah CEO atau editor naskah?
"Saya mau tau alasan bapak ajak saya nikah kontrak?" tanya Tya kemudian.
Yuga kini menatap ke arah Tya, mulai fokus dengan pembicaraan setelah Tya bertanya dengan jelas. "Nenek saya minta, saya untuk nikah sama perempuan gemuk berdasarkan perhitungan yang dia buat."
"Perhitungan apa Pak?" Tya bertanya karena penasaran.
"Kalkulus," jawab Yuga asal.
Tya anggukan kepalanya, ia percaya dengan apa yang dikatakan oleh Yuga. Padahal jelas Yuga hanya menjawab dnegan asal. Bibir gadis itu bahkan kini menunjukkan huruf 'o' tanpa suara.
Yuga berdecak kesal sendiri kenapa Tya begitu bodoh dan mudah dikelabui? Ia kemudian berkata, "Kamu ini bodoh atau gimana sih?"
"Memangnya kenapa pak?" Tya bertanya dan menatap dengan tatapan innocent.
Yuga memegangi keningnya, sakit kepala, jadi pusing sendiri. Ia tak suka gadis lemot seperti Tya. Bisa pusing setengah mati menghadapi Tya nanti. "Kok Vhi mau sih temenan sama kamu?" tanya Yuga kesal.
Tya menatap pada Yuga memikirkan pertanyaan dari atasannya itu. Ia mencari jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh Yuga. Yuga bisa melihat kalau saat ini Tya tengah sibuk mencari jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan.
"Aish! Stop mikir. Enggak semua pertanyaan harus kamu jawab," kesal Yuga.
"Nanti kalau enggak saya jawab, bapak marah?" tanya Tya.
"Ya, kamu pilah dong. Yang mana pertanyaan yang harus kamu jawab dan yang enggak perlu kamu jawab." Yuga memegangi leher belakanganya. Rasanya jika bersama-sama Tya lebih lama lagi dia bisa terkena serangan darah tinggi.
Tya menggembungkan pipinya sambil anggukan kepalanya. Jadi bingung juga kenapa Yuga begitu kesal, padahal ia merasa tak melakukan kesalahan.
"Jadi kamu mau kan nikah kontrak? Saya akan gaji kamu, kamu juga boleh lanjut kuliah dan saya akan biayai itu. Saya diminta untuk PDKT sama kamu. Saya enggak mau buang-buang waktu untu PDKT sama perempuan, pekerjaan saya banyak. " Yuga menjelaskan lagi.
"Kenapa harus saya?" tanya Tya.
"Karena nenek yang memilih kamu,' jawab Yuga.
"Saya enggak bisa Pak, menikah karena kontrak dan terpaksa gini. Lagian bapak baru lima menit sama saya udah malah-marah gitu. Gimana dua tahun? Bapak kejang-kejang nanti," kata Tya pada Yuga.
Sebenarnya Yuga juga setuju dengan apa yang dikatakan oleh Tya. Baru sebentar saja, tengkuknya sudah terasa sakit sekali. Bagaimana jika harus menjalani dua tahun bersama Tya?
"Setelah kamu keluar dari pintu itu, pastikan semua pembicaraan kita barusan lenyap. Mengerti?" tanya Yuga.
Tya anggukan kepalanya, kemudian menjawab, "Saya ngerti Pak."
"Kamu boleh keluar ruangan."
"Permisi," ucap Tya kemudian, bangkit dari duduknya, tapi belum sempat melangkah Tya kembali duduk.
Yuga menatap dengan heran. "Kenapa lagi?"
"Kalau ada yang tanya saya jawab apa? Di luar pasti banyak orang yang kepo." Gadis itu meminta solusi pada Yuga.
"Bilang aja saya tanya masalah pribadi, tentang Vhi. Bilang aja kamu teman SMA adik saya." Yuga menjawab, lalu kembali dengan pekerjaannya. Tangan Yuga kemudian bergerak mengusir Tya.
Tya membecik, merasa diusir seperti ayam. Gadis itu lalu berjalan ke luar ruangan. Menatap pada Sandra yang terlihat penasaran. Namun, Tya memilih segera pergi meninggalkan tempat itu dan segera kembali ke ruang kerjanya.
Begit masuk ke dalam lift, ia ingat kalau Gilang tadi memintanya untuk membelikan americano. Tya memutuskan untuk segera berjalan ke luar kantor dan membeli apa yang tadi diperintahkan. Tya termasuk pegawai yang patuh dan tak neko-neko. Maka acap kali Gilang mendapatkan pekerjaan diluar perusahaan, ia selalu meminta Tya untuk membantunya.
Pekerjaan hari ini seolah berlalu begitu saja. Tya kemudian segera melangkahkan kakinya uuntuk pulang. Di depan gedung terlihat motor sang kakak. Tya tersenyum, tadi sudah membayangkan akan membosankan pulang sendirian. Tapi, ketika melihat Bumi yang tersenyum sambil melambaikan tangannya buat gadis itu merasa senang sekali.
Tya mencium tangan sang kakak. "Katanya Mas Bumi mau ada tugas kampus?" tanya Tya.
"Iya, udah selesai. Langsung ke sini," jawab sang kakak lalu mengacak rambut adik kesayangannya itu. "Ayo naik, keburu hujan," titah Bumi.
Tya segera baik ke atas motor sang kakak. Motor itu jadi lebih pendek ketika Tya menaikinya. Setelahnya Bumi segera melajukan motornya, membelah ibu kota untuk segera kembali pulang.
Keduanya memang begitu saling menyayangi, karena tak lagi memiliki orang tua dan keduanya saling menyayangi dan memiliki satu sama lain. Bumi seolah akan melakukan apapun untuk berusaha membuat adik semata wayangnya itu bahagia. tak mau kalau ada satu orang yang menyakiti Tya.
Setelah sampai di rumah, mereka melihat mobil Ratih sudah berada di parkiran. Tya menatap sang kakak, Bumi tersenyum dirinya memang sudah tau kalau Ratih tiba hari ini. Tya berjalan cepat masuk ke dalam. Sudah kangen sekali pada wanita yang selama ini ia jadikan sebagai pengganti mendiang ibunya.
"Mamih!" seru Tya dari luar. Sambil berjalan cepat menuju dapur.
Aroma masakan yang berada di ruangan membuat Tya yakin sekali kalau Ratih ada di dapur. Benar saja, Ratih ada di sana, berdiri sambil memasak untuk Tya dan Bumi. Tya berlari mendekat lalu memeluk wanita itu.
"Mamih!" seru Tya dengan nada yang menyebalkan, Karena tau kalau Ratih tak suka dipanggil mami.
"Nduk, kamu tuh memang suka ya bikin Ibu kesal?" tanya Ratih.
Bumi juga masuk kemudian mencium tangan Ratih. "Cubit aja Bu, emang dari dulu isengnya enggak hilang udah gede masih gitu."
Ratih kemudian memegang wajah Tya dengan kedua tangannya dengan sedikit di tekan hingga wajah gadis itu terlihat lucu sekali di matanya. Ratih lalu ciumi wajah anak gadisnya itu. "Kok kamu masih gemesin sih?"
"Bu lepasin," ucap Tya memohon dengan bibirnya yang nampak mengerucut akibat tekanan tangan ratih.
Ratih melepaskan tangannya dari wajah Tya. "kamu udah punya pacar ya?" tanya Ratih.
Tya gelengkan kepalanya. "Enggak laku udah di obral murah," jawab Tya sambil mencium tangan Ratih.
"Hush! kalau ngomong kok ya asal." kesal Ratih karena memang Tya sering sekali bicara asal seperti itu.
"Heheheh," kekeh gadis gemuk itu kemudian berjalan menuju kulkas untu meneguk air dingin.
"Habis itu mandi sana, nanti kita makan sama-sama. Ibu masak enak nih."
Tya anggukan kepala, setelah meneguk minumannya ia segera melangkahkan kakinya menuju kamar untuk segera mandi dan berganti pakaian.