Yuga berada di ruangannya merasa kesal karena sejak pagi diajak berbicara mengenai Tya. Jadi kesal setengah mati karena permintaan sang nenek yang tak masuk akal menurutnya. Meskipun sejak dulu memang ia tau kalau petuah sang nenek harus diikuti.Ya tetap saja Yuga kesal. Petuah sang nenek, bukan hanya dikhususkan bagi keluarganya, tapi juga beberapa yang lain di luar keluarga inti. Sepertinya mereka sangat mempercayai apa yang dikatakan oleh Kinar. Karena memang benar, beberapa perkataan dan ucapan wanita paruh baya itu menjadi kenyataan.
Sang CEO memang belum pernah menjalin hubungan dengan wanita. Sejak dulu, fokusnya hanya membesarkan perusahaan saja. Jadi beberapa gadis yang mendekatinya dulu juga ia tolak mentah-mentah. menurutnya, jatuh cinta itu buang-buang waktu. Bagi Yuga tujuan utamanya dalam hidup saat ini adalah mengembangkan perusahaan. Ingin perusahaan di bidang mode yang ia miliki berkembang pesat. Bukan hanya di Asia tapi juga menjajaki pasar Amerika jika mungkin Eropa juga. Akan tetapi, itu bukan berarti pria itu belum pernah jatuh cinta.
Saat itu pintu diketuk, lalu dengan segera Yuga mempersilahkan masuk.
"Permisi pak?" Itu adalah Sandra sekretarisnya.
Setelah mendapat anggukan kepala dari sangat atasan, gadis itu segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan. Sandra terlihat begitu cantik dengan tubuh yang proporsional, didukung dengan wajah blasteran. Ia melangkahkan kakinya menuju meja kerja Yuga, membawa beberapa dokumen yang harus dibaca dan ditandatangani.
"Ini semua sudah saya periksa dan saya cek, Bapak boleh periksa lagi. Dan saya juga sudah memastikan tidak ada poin yang rancu." Sandra berkata sambil melirik ke arah pria itu.
"Kamu yakin sudah melakukan double check? Karena beberapa dokumen kemarin pun ada yang multitafsir. Kamu tahu kan, Saya itu paling nggak suka kalau ada poin dalam dokumen yang tidak jelas." Yuga menekankan itu kepada sang sekretaris.
"Saya minta maaf untuk dokumen yang kemarin. Tapi, untuk dokumen kali ini saya pastikan, Kalau tidak ada lagi poin perjanjian yang multi tafsir." Sarah berkata lagi meyakinkan sang atasan, kalau kali ini ia sudah bekerja dengan lebih baik lagi.
"Hmm, oke," ucap Yuga mendengar perkataan sang sekretaris.
Sandra melirik Yuga, berharap mendapatkan tatapan balasan. Hanya saja Yuga tetap tak bergeming. Sarah memang terlihat memiliki ketertarikan khusus kepada atasannya. Ya karena selain tampan pria itu juga kaya raya. Seperti yang dikatakan sebelumnya, kalau banyak sekali wanita yang mengincar, dan mengidolakan Yuga. Namun, berakhir seperti Sandra, diabaikan.
"Bapak mungkin butuh sesuatu?" Sandra coba menawarkan diri, siapa tahu Yuga memutuskan sesuatu yang bisa membuatnya lebih lama lagi berada di ruangan itu.
Yuga menggelengkan kepalanya, dirinya tak membutuhkan apapun selain ketenangan untuk membaca dan menandatangani dokumen. "Nggak ada. Kamu boleh kembali ke meja kerja kamu."
Raut wajah Sandra menunjukkan kekecewaan. Namun kemudian ia berpamitan untuk segera kembali ke meja kerjanya. "Baik kalau begitu, permisi Pak," pamit Sandra kemudian ia melangkahkan kakinya dengan perlahan ke luar dari ruangan.
"Tunggu," kata Yuga menghentikan langkah Sandra.
Gadis itu menoleh ke arah sang atasan kemudian berjalan mendekat. "Ada apa Pak?"
"Tolong saya, kamu panggil Fatya Sachikirani, dia itu salah satu asisten designer. Kalau enggak salah dia asistennya Gilang." Yuga meminta pada Sandra.
"Minya dia untuk datang ke ruangan bapak?"
Yuga menganggukkan kepalanya. "Minta dia ke sini, terima kasih."
Sandra tersenyum dengan terpaksa, kemudian segera kembali menuju meja kerjanya untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh pria berkulit putih itu. Melakukan panggilan ke ruangan desainer, untuk memanggil gadis yang tadi diperintahkan juga untuk datang ke ruangannya. Sejujurnya itu membuat Sandra merasa penasaran. Karena sepertinya baru kali ini, atasannya itu meminta seorang karyawan perempuan untuk datang ke ruangannya.
Sementara itu, kini Tya tengah merapikan meja kerja Gilang. Pria itu adalah salah satu desainer muda yang bekerja di Karuna fashion. Gilang mendesain pakaian laki-laki dan juga beberapa desain sepatu yang dikeluarkan edisi terbatas per musim.
Saat mendengar telepon di meja kerjanya berdering, gadis bertubuh besar itu segera berjalan menuju kembali ke meja untuk menerima panggilan. Lalu dengan cepat ia menerima panggilan tersebut.
"Halo selamat pagi Karuna fashion, ruangan Bapak Gilang, dengan Tya ada yang bisa saya bantu?"
"Pagi, saya Sandra sekretarisnya Bapak Yuga. Ini Fatya Sachikirani?"
"Iya betul mbak," jawab Tya.
"Fatya Sachikirani, diminta untuk datang ke ruangan bapak Yuga sekarang juga."
"Saya Mbak?" Tya bertanya coba meyakinkan apa yang ia dengar.
"Iya kamu," jawab dan Sandra.
"Baik, mbak Sandra. Terima kasih," ucap Tya kemudian panggilan dimatikan.
Tepat saat hendak berjalan ke luar dari ruangannya, di sana Ini ia bertemu dengan Gilang yang baru saja datang. Pria berkepala botak dan berpenampilan nyentrik itu menatap sang asisten.
"Mau ke mana lo?" tanya Gilang.
"Mau ke ruangan Boss," sahut Tya.
Gilang menatap dengan heran, karena tumben sekali sang atasa memanggil asistennya itu. "Buat kesalahan ya?"
Tya gelengkan kepalanya. Dirinya sama sekali tak tahu kesalahan apa mungkin ia lakukan sampai mendapat panggilan seperti ini. "Kan Mas Gilang tau, aku enggak pernah jauh-jauh dari ruangan. Yaudah aku ke ruangan bos dulu ya?" kata Tya.
"Yaudah sana, nanti kalau balik tolongin gue beli americano." Gilang berpesan.
Tya menganggukan kepalanya sambil berjalan meninggalkan pria itu. Dalam hati juga merasa bingung dan takut sekali mengapa tiba-tiba Ia dipanggil seperti ini. Apa mungkin Ia melakukan kesalahan dalam pekerjaannya? Ataukah ini ada hubungannya dengan masalah pribadi? Tapi apa? Karena selama ini dia jarang berinteraksi ataupun mengobrol dengan kakak dari sahabatnya. Atau mungkin ini ada hubungannya dengan Vhi?
Kemudian setelah semua kebimbangan itu ia sampai di ruangan kerja Yuga. Sandra menatap dengan heran mengapa tiba-tiba Yuga, manggil gadis gemuk seperti yang kini berdiri di hadapannya?
"Fatya?" tanya Sandra.
"Iya betul mbak," jawab Tya.
Sandra kemudian berdiri, lalu berjalan untuk beri tahu atasannya itu, kalau orang yang diminta datang sudah tiba. "Pak, Fatya sudah datang."
"Suruh dia masuk," sahut Yuga.
"Silahkan kamu masuk," kata Sandra mempersilahkan.
"Terima kasih Mbak." Tya berucap kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Yuga masih sibuk dengan dokumen-dokumen yang berada di hadapannya. Bahkan saat Tya jalan masuk menghampiri ia masih menatap pada dokumen itu. Tangan Yuga mempersilahkan Tya untuk duduk, hanya saja tatapan matanya tetap tak berpaling dari dokumen. Bahkan sampai saat ini Tya sudah duduk di sana. Yuga masih tak berpaling.
"Maaf Pak?"
"Tunggu sebentar," ucapnya sambil menandatangani dokumen yang sudah selesai ia baca. Kemudian kini ia menatap Tya.
"Kamu ketemu nenek dan ibu saya kan?"
Tya anggukan kepala. "Iya kenapa ya, Pak?" tanya gadis itu, karena merasa penasaran tiba-tiba mendapat pertanyaan seperti itu dari sang atasan.
Yuga anggukan kepala. "Kita nikah kontrak. Dua tahun saja. Kamu harus setuju."
"Heh?!"