Setelah makan siang di resto hotel Jerome membawa Irza pulang ke rumahnya. Selama perjalanan Irza tidak banyak bicara. Pikirannya masih melayang jauh mencari tahu siapa yang menyampaikan kabar soal pernikahannya ke keluarganya. Sedangkan dia sudah tidak pernah berkomunikasi dengan satupun pihak saudara ataupun orang dari daerah asalnya sejak bertahun-tahun yang lalu. “Memikirkan apa?” tanya Jerome. “Masih penasaran siapa yang membawa pria setan itu ke Jakarta,” jawab Irza ketus. “Sebesar apa dosa yang dilakukan dia padamu, sampai kamu tidak ada segan menyebut dia seperti itu?” “Bukannya kamu nggak tertarik sama latar belakangku? Kenapa sekarang tanya dosa yang sudah pernah dia lakukan sama aku?” jawab Irza, masih dengan nada bicara ketus. Jerome tidak lagi membahas. Dia memilih f

