Prolog
"Let me go!"
Ujar Alice sambil berusaha keras melepaskan genggaman tangan Dylan. Suara nya terdengar sedih seperti menahan sebuah isakan membuat Dylan goyah. Dia tidak tahu emosi apa yang ia rasakan hanya sebuah pikiran bahwa jika ia melepaskan pergelangan mungil itu merupakan ide yang buruk. Dylan tahu bahwa apa yang ia lakukan sekarang menyakiti wanita yang sangat ia inginkan. Dia perlahan mendekati Alice yang masih berusaha keras untuk melepaskan tangannya, sambil menyudutkan Alice ke dinding kamarnya. Alice membuka matanya terkejut dan menahan napasnya. Dylan fokus melihat d**a Alice yang naik turun dan entah mengapa adrenalinnya terpacu.
'oh God' Dylan mnyumpah dalam hati. Dia melihat dengan jelas betapa cantiknya wanita mungil di depannya. Dia sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya, suara sirine, suara air laut, angin yang masuk dari balkon, hingga Gus Gus anjingnya yang sedang mengamati mereka berdua. Dylan semakin mendekat dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Alice yang selalu memberikannya rasa aman dan nyaman yang jarang ia rasakan. Dylan tahu bahwa ia tidak akan menemukan aroma seperti ini dimanapun. seperti sedang tidur di ladang penuh dengan bunga dan sambil menikmati sebuah pie dan meminum madu.
Memabukkan
Dia melihat lekukan leher dan tulang selangka yang selama ini selalu menghantui tidurnya dan mulai menaruh kepalanya untuk menghirup lebih jauh aroma yang membuat ketagihan itu.
"D.. Dylan! Wait.."
Bahkan suaranya pun membuat Dylan ingin meminta lebih. lebih dari sekedar sebuah penolakan. Alice masih berusaha untuk bebas dari cengkraman Dylan meskipun dia mengetahui fakta bahwa hal tersebut mustahil. badannya yang mungil terlihat sangat jelas menunjukkan ketidakberdayaan jika disandingkan dengan Dylan.
"Alice..uh...jika kamu tidak berhenti bergerak aku tidak akan bisa berhenti dan aku bersumpah sekarang kondisiku sedang tidak baik"
suara Dylan terdengar parau dan napasnya terburu-buru. Alice merasakan situasi yang bahaya dan memutuskan untuk berhenti. dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang seperti berlari. dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.
"ah..good girl"
Dylan mengangkat sudut bibirnya tersenyum. dia mengangkat kepalanya dan mulai meneliti wajah Alice yang ketakutan. dia memegang wajah mungil itu sambil mengagumi mata, hidung, dan bibir Alice yang kehadirannya seperti sebuah neraka untuk Dylan. sambil melihat ekspresi ketakutannya yang entah mengapa sangat cantik dia memikirkan segala kemungkinan Alice akan pergi dan lari darinya. semua usahanya untuk menarik perhatian Alice seperti terbuang sia-sia. dia tidak pernah mengalami sebuah penolakan dalam hidupnya, tapi tidak dengan Alice. Entah kenapa semakin wanita tersebut menolak Dylan, semakin tinggi keinginannya untuk memonopoli Alice. Dia tidak pernah menginginkan apapun seperti dia menginginkan Alice untuk hidupnya. Dia tidak memiliki ketergantungan terhadap alkohol ataupun n*****a, jadi dia berpikir beginilah rasanya. Dylan berharap waktu dapat berhenti saat itu juga agar dia bisa melihat dengan jelas wanita cantik yang ada di depannya. dia pernah mendengar cerita tentang malaikat yang jatuh ke Bumi dan Dylan mulai berpikir bahwa Alice merupakan salah satunya. dia selalu bertanya-tanya tentang pikirannya yang selalu terbang jika berhadapan dengan Alice. Mata hitamnya membuat Dylan seperti masuk ke dalam pribadiyang tidak pernah ia sadari.
'F*ck it' Dylan mulai hilang kesabaran sambil perlahan menyicipi bibir pink wanita di depannya. Dylan memiliki prinsip apa yang ia inginkan harus jatuh ke dalam tangannya apapun caranya.