Melarikan Diri

981 Words
Dylan Baez, seorang millioner sukses, mudah terbangun ketika ia tidur. Matanya langsung terbuka saat kasurnya bergeser atau ketiak ia mendengar suara kecil sekalipun. Dia berbalik untuk melihat penyebabnya.  Seorang wanita cantik telanjang tertidur pulas disampingnya. Sial! Dia menengadah untuk melihat dengan jelas siapa wanita itu. sambil perlahan mengangkat badan dia merasakan kepalanya pening karena brendi yang ia minum saat pesta besar sahabatnya Chris. Dylan mengedipkan mata dan berusaha mencari lokasi jam ketika ia melihat pukul 3 pagi. Dylan yakin tidur sendirian, dan melihat pintu kamarnya sedikit terbuka. Dia mencoba meneliti wajah wanita itu dan mengenalinya. Nicole, salah satu supermodel cantik yang biasa menemani Chris.  Shit! Dia akan mengutuk temannya nanti. Dylan loncat dari tempat tidur dan berlari menuju kursi untuk mengambil kemeja dan jasnya. berusaha memakai semua pakaiannya dalam diam. Dia sangat tidak nyaman jika tertidur dengan seseorang. Untungnya wanita tersebut seperti mabuk berat dan tidak sadar. Dylan berhenti sejenak mengamati situasi dan menemukan dirinya tidak tertarik sedikitpun dengan wanita dalam ranjangnya. Aneh.  Dylan mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang untuk menjemputnya. Dia tidak mau jika pagi nanti harus berurusan dengan tragedi 'after party' yang membuat banyak kabar gosip tentangnya. Media tidak pernah lelah, tidak dengan dirinya.  Dylan segera mengayunkan kakinya melewati ambang jendela dan menajtuhkan dirinya ke atas rumput halaman rumah Chris yang luas. Dylan tidak sadar bahwa rumput tersebut berduri dan melukai kakinya yang telanjang. Dia meringis sedikit dan memaki dalam hati. entah kenapa situasinya sekarang seperti seseorang yang berusaha melarikan diri. Akan tetapi keluar lewat pintu utama merupakan ide yang buruk karena Dylan yakin masih banyak orang yang bangun di ruang tamu atau sedang bermesraan. Membayangkannya saja Dylan sudah malas.  Chris sudah terbiasa menyiapkan kamar mewah itu untuk Dylan tinggali dan dengan mulusnya Dylan selalu tahu spot-spot untuk menghindari kerumunan lewat pengalaman mencari tahu jalur melarikan diri sejak para wanita selalu begitu ambisius. Dylan tidak pernah tertarik akan sebuah pernikahan, tidak sedekat ini. dia masih 31 dan merasa hidupnya penuh dengan kesempurnaan. Berhubungan dengan wanita kaya yang dia temui di setiap pesta mengharuskan dia ekstra hati-hati dan harus mampu melihat siasat licik yang mereka miliki. Dylan tidak mau terperangkap ke dalam pernikahan hanya karena menghamili seseorang. Lebih baik menghabiskan waktu dengan wanita sementara yang selalu ia dapatkan dengan mudah. Dylan menggigil merasakan hembusan angin awal musim semi di halaman Chris. Dia mengetuk jarinya dan melihat Masserati memasuki halaman. Asistennya sudah tiba. Dengan langkah panjang dan terburu-buru ia segera memasuki mobil itu. Pikiran untuk mandi dan menghisap rokok merupakan ide yang menakjubkan dan kemudian kembali tidur di kamarnya yang nyaman. Jendela terbuka dan Dylan melihat Robert asistennya tersenyum sambil bersiul.  "Tidak sampai pagi eh?"  Dylan tidak menanggapui dan menutup pintu sambil melonggarkan kemejanya yang susah payah ia pakai tadi. terdengar sayup-sayup suara musik dan cekikikan para wanita di rumah Chris.  "Menyetirlah dengan cepat, aku butuh tidur"  "Aku sudah memperingatkanmu besok merupakan hari yang sangat penting. Aku tidak akan tanggung jawab jika kau sampai tidak bangun"  Dylan hanya mendesah pelan dan memjamkan mata. Robert merupakan temannya di universitas yang akhirnya ia rekrut menjadi asisten pribadinya sekaligus orang kepercayaannya. Sedari awal sejak ia mewarisi perusahaan milik ayahnya yang telah tiada membuatnya harus sangat hati-hati dalam membuat perhitungan bisnis.  "Kau sudah menyiapkan kontraknya?" tanya Dylan masih memejamkan mata. Maserrati itu perlahan keluar menuju jalan raya "tentu saja! kau pikir kenapa aku bisa masih terjaga hingga larut malam seperti ini. sedangkan orang yang terlibat langsung dengan indahnya pesta dan tidur dengan wanita cantik"   Besok merupakan hari dimana ia akan menuntaskan kontraknya dengan salah satu perusahaan perhotelan terbesar di Amerika. Dylan tidak pernah berpikir untuk berinvestasi dalam dunia pariwisata dan perhotelan karena Bisnis peninggalan ayahnya sudah cukup melelahkan. Akan tetapi Dylan selalu mencari kesibukan baru dikarenakan hidupnya sangat mudah bosan. Ia juga selalu puas dengan kinerja Robert. "Ingat kalau orang yang menggajimu dan suka pesta itu orang yang sama" Robert menginjak pedal gas mobil untuk segera sampai ke tujuan. Dia sangat butuh tidur meskipun hanya beberapa jam.  *** Alicia July berdiri menghadap ke arah cermin, berkacak pinggang, dan mengernyit melihat warna kulitnya. Dia memiringkan kepala, menyipitkan mata menatapnya, melalui mata kiri dan kemudian mata kanannya. Bah! Kulitnya yang gelap merupakan sebuah faktor terbesar kepercayaan dirinya lenyap. Di Indonesia tidak ada yang tidak menginginkan kulit cerah bak artis terkenal Chelsea Islan.  Alice berbalik menyamping meraih tiang tempat tidurnya. Ia berjalan membuka tirai jendelannya dan merasakan angin sepoi-sepoi dari laut menerpa pipinya yang merah. pikirannya tiba-tiba sampai kepada memori saat pertama kali ia sampai di Bali. Begitu polos dan ketakutan. Kalau saja kakaknya tidak bersih keras untuk menyuruhnya pindah dan ia kehilangan pekerjaanya mungkin saat ini Alice masih sibuk dengan kehidupannya sebagai pelayan restoran. Ia tersenyum simpul, mengingat hubungannya dengan kakak perempuannya tidak pernah sedekat sekarang ini. Terlahir dalam keluarga yang rumit membuat Alice terbiasa sendirian.  Mamanya merupakan seorang single parent yang ditinggal mati oleh ayahnya yang tidak pernah ia ketahui. Hingga mama Alice memutuskan untuk menikah kembali dengan Duda pemilik restoran di Bali yang merupakan ayah dari kakak tirinya Jodie saat Alice masih duduk di bangku SMP. Alice tidak pernah menyukai ide untuk pindah dari kampung halamannya di Jakarta dan tinggal di tempat asing. Dia sangat payah jika berhubungan dengan sosialisasi. Rasa takutnya untuk berinteraksi mungki sudah cukup mengerikan. Akan tetapi semua itu berubah sedikit demi sedikit semenjak kabar tentang mama dan ayah tirinya meninggal karena kecelakaan tiga tahun lalu tepat saat ulang tahunnya yang ke 22. Alice masih mengingat dengan jelas rasa sesak di dadanya dan tenggorokannya yang kering hanya untuk berucap satu kata. Alice menggigil kedinginan dan mengusap lengannya. Ia selalu membenci kenangan tentang telfon dari suara bergetarJodie dan bagaimana kakaknya berusaha keras untuk menahan isakan. Alice menghela napas dan mengingat bahwa besok ia harus segera menyiapkan diri untuk menyambut tamu penting yang akan datang karena pekerjaanya sebagai seorang Asisten Manager sebuah Hotel yang ada di Bali. Jadwalnya belakangan ini sangatlah sibuk dan menguras energinya untuk selalu bersosialisasi seharian penuh dengan banyak orang.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD