New York

1010 Words
Dylan mendesah lega begitu kakinya bersandar pada meja didepannya. Sambil mengendorkan dasi yang mengikat lehernya ia mengambil napas dalam-dalam dan melirik botol brandi yang kosong di mejanya. Dengan enggan ia memencet tombol untuk memanggil sekretaris yang sedang berjaga di luar kantornya. Alih- alih Robert yang suk sambil berwajah masam. Dylan membatalkan rencananya untuk berleha-leha dan memandang Robert dengan wajah heran. “kau seperti habis jatuh dari neraka saja. Omong-omong aku tidak memanggilmu” Robert mendengus kesal dan tersenyum sinis. Entah kenapa dia sangat kesal melihat tingkah temannya yang selalu tahu cara membuat harinya sibuk. “maksudmu kau memanggil Ms Stacy?” “yea, aku butuh Brandi” “aku disini hanya mengingatkanmu kalau minggu kemarin kau baru saja memecatnya” Dylan melihat Robert yang ekspresinya sudah seperti mom nya saat merajuk. Dia menurunkan kakinya dan bermain dengan kursinya. Robert berjalan menuju sofa dan meluruskan kakinya. Meeting barusan membuat otaknya seperti terbakar. Ia juga mengingat hanya tidur 4 jam setelah selanjutnya menyiapkan proposal. “lalu? Kau belum mendapatkan gantinya?” “sayangnya mencari seseorang yang pas dengan standartmu sangatlah susah” Ujar Robert sambil membenahi kacamatanya yang terlihat baik-baik saja. Dylan tertawa kecil dan membuka ponselnya. “kau benar, so.. good luck!” Robert berusaha memjamkan mata. Sudah menjadi sebuah ritual untuk tidur di kantor Dylan setelah rapat besar yang memang didesign khusus dan sangatlah nyaman. Pesan dari Mom nya membuat Dylan terbangun. Dia berniat untuk membalasnya saat suara telfon menggantikan pesan yang akan dibalas tersebut. Dylan memaki dan berniat untuk mematikan HP nya saat Robert bersuara sambil memjamkan mata “jika kau berniat mematikan telfonmu percuma, aku sudah memberi tahu Mom mu kalau kau bisa dihubungi setelah rapat, dan... kau mungkin mendapatkan kabar menyenangkan hari ini” “apa? Jadi kau memilih menjadi seorang penghianat?” “aku dibayar untuk menjadi seorang penghianat, ingat?” “s**t” Dylan dengan enggan mengangkat telfonnya. Dia sangat jarang melakukan hal tersebut karena membayangkan ocehan momnya membuat kepala nya pening. Entah kenapa waktunya yang sibuk dengan pekerjaan selalu ia sempatkan untuk mengunjungi mom nya di akhir bulan. Dia merupakan satu-satu nya anggota keluarga yag tersisa dan Dylan tahu dia sangat menyayanginya. “yes mom?” “akhirnya! Kenapa begitu lama mengangkat telfon dari mama mu yang sudah semakin tua ini?” Dylan melirik Robert yang sudah mulai tertidur dengan nyamannya. Dia memutar kursinya dan mengarah kepemandangan hiruk pikuk New York. “aku sedang berbicara dengan Robert, sedikit penting” ujarnya asal “benarkah? Kalau begitu sampaikan salamku untuk Robert sebelum aku lupa. Aku berjanji untuk membuatkan anak itu Pie Apel tapi aku tidak juga bertemu dengannya” Dylan tersenyum mendengar suara mom nya “oh jadi Robert sekarang anak mu?” “tentu saja! Anak kandungku sendiri jarang pulang ke rumah. Aku mulai bertanya-tanay apakah menulis Robert ke dalam garis keluarga” Dylan tertawa kecil dan membayangkan wajah momnya. Dia melihat jam tangannya dan ingat kalau dia harus menyelesaikan pekerjaan sisa rapat dengan menandatangani setumpuk dokumen di mejanya. “ada apa mom? Robert bilang kau membawa kabar baik” Dylan selalu tahu bahwa ‘kabar baik’ merupakan sebuah kode untuk topic kencan buta yang selalu disusun oleh momnya. Anehnya Dylan tidak pernah menolak permintaan momnya dan memilih untuk pasrah. Lagi pula hal tersebut tidak pernah berjalan dengan baik. Sifat dingin kurang ajar yang tidak dibuat-buat selalu berhasil membuatnya lolos dari jeratan wanita konglomerat yang ambisius. Dylan menggaruk kepalanya sambil membayangkan anak siapa yang akan ia hadapi selanjutnya. “betul! Kau tahu, anak dari Royal Corp baru saja lulus kuliah masternay di Inggris dan kembali ke Amerika. Mom berharap kau bisa menemaninya untuk makan siang. Kau tahu, mom sangat ingin melihat anak laki-lakinya berjalan di altar secepat mungkin”  Suaranya sangat bersemangat. “kupikir kau sudah cukup sibuk dengan menjaga cucu pertamamu. Lagi pula Sidney memberitahuku kalu dia berencana memiliki momongan lagi” Dylan selalu bersyukur ketika adik perempuannya memutuskan untuk menikah 4 tahun lalu. Usaha mom nya untuk menjodohkan Dylan semakin berkurang. Apalagi saat tahu kelahiran cucunya membuat mom nya semakin sibuk. “aku tahu! Tapi tidak berarti aku menelantarkanmu” ujar mom nya membela. Dylan tertawa kecil sambil memperhatikan gemerlap New York “ aku harus bekerja mom, I love you. Oh ya, mungkin aku akan ke Bali Dua hari lagi untuk mengurusi kerjasama dengan Summer Season, jadi aku akan menemui sebelum berangkat” “lagi? Kau baru saja kembali dari Spain bulan lalu! Aku bertanya-tanya kapan kau bangkrutnya” “kalau anakmu bangkrut siapa yang akan menjaga mu mom?, aku harus pergi sekarang. Bye” “oke baiklah. Jangan lupa makan tepat waktu dan lihat pesanmu! Aku akan rutin mengirimimu wanita cantik yang bisa kau kencani di akhir pekan oke?” “oke mom” Tut Dylan mendesah kecil sambil memasukkan tangannya kedalam saku celananya. Dia sudah sangat sibuk satu bulan belakangan untuk mengurusi kontrak dengan investasi terbarunya bersama Summer Season Hotel. Akan tetapi semua terbayarkan dengan sepadan setelah penulisan kontrak hari ini. Dia membuka HP nay dan melihat foto wanita cantik dengan gaun mewah sedang makan di restoran mahal di Dubai. Dylan bisa langsung menebak bagaimana cara wanita tersebut bersikap ketika bertemu dengannya. Bermain tarik ulur, atau mungkin pura-pura malu untuk mendapatkan perhatiannya. Dylan bersumpah sudah terbiasa menghadapi perilaku mereka. Dia merupakan orang yang tidak sabaran dan membenci hal yang bertele-tele. Begitu juga dengan wanita. Selama ini dia melihat mom nya merupakan sosok ibu yang tulus dan tidak pernah mencoba untuk berbohong dan menghabiskan waktu hanya untuk menarik perhatian seseorang, entah itu wanita atau laki-laki. Dylan tidak pernah berpikir untuk  menikah dengan salah satu wanita yang menghabiskan waktu hanya untuk menarik perhatiannya. Dia juga bertanya-tanya pernahkan dia jatuh cinta dengan seorang wanita karena selama ini yang ia lakukan hanya tidur dengan wanita-wanita yang sukarela datang kepadanya. Dia tidak ingin terlibat dengan sebuah hubungan yang berpotensi mengganggu pekerjaanya yang sudah banyak. Karirnya merupakan sebuah prioritas. Dia melihat dokumennya yang menumpuk di meja dan mendesah kecil. Saat itu Dylan hanya berpikir bahwa dia akan membeli papan surfing yang seksi ketika tiba di Bali nanti. Tidak ada wanita, perjodohan, sedikit pekerjaan dan liburan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD