Video Call

1231 Words
Pagi itu, setelah percakapan yang menguras perasaan, Dorman akhirnya bersiap berangkat kerja. Ia mengenakan kemejanya yang sudah disiapkan Nariah. Rapi. Seperti biasanya. Namun hari ini… ada sesuatu yang berbeda di antara mereka. Lebih tenang. Lebih hangat… meski masih canggung. Dorman melangkah ke luar rumah. Nariah mengikutinya sampai ke pintu pagar, seperti seorang istri pada umumnya. Langkahnya pelan. Tangannya sesekali merapikan ujung hijabnya. Saat pagar dibuka. Beberapa pasang mata langsung tertuju pada mereka. Tetangga yang sejak kemarin sudah mulai berbisik-bisik. “Eh itu dia…” terdengar samar. “Iya… yang kemarin pulang malam…” sahut yang lain. Nariah langsung menunduk. Dadanya terasa sesak."Ya Allah, kuatkan hamba."Batin Nariah. Bisikan itu memang tidak keras… Tapi cukup untuk melukai. Dorman yang mendengarnya, langsung mengeraskan rahangnya. Tatapannya menyapu ke arah para tetangga itu. Tajam. Seolah memberi peringatan tanpa kata. Namun bisik-bisik itu tetap ada. “Perempuan kok pulang malam sama laki-laki lain…” “Suaminya aja diem aja lagi…” Kalimat itu sampai ke telinga Dorman dengan jelas. Tangannya mengepal. Emosi yang tadi sudah reda… Dorman menoleh pada Nariah. Dilihatnya istrinya itu hanya diam. Menahan semuanya sendirian. Seperti biasa. Tanpa banyak bicara, Dorman melangkah lebih dekat. Lalu untuk pertama kalinya di depan orang lain, Ia meraih tangan Nariah. Menggenggamnya erat. Nariah terkejut. Matanya sedikit membesar, menatap Dorman. "Hati-hati di rumah ya, aku pergi kerja dulu,"ucap Dorman. Tatapannya lurus ke depan. Seolah ingin mengatakan sesuatu pada semua orang yang melihat. “Mas…” bisik Nariah pelan. Namun Dorman hanya berkata singkat, “Masuk… nanti kamu capek berdiri.” Nada suaranya tenang. Namun sikapnya… Melindungi. Ia melepaskan genggamannya perlahan, lalu membuka pagar dan keluar. Sebelum pergi, ia sempat menoleh sekali lagi pada para tetangga.Dorman mencium kening Dorman. Tatapannya dingin tapi tegas. Tanpa kata, tapi cukup jelas,mengatakan. "Jangan ikut campur." Motor Dorman pun melaju pergi. Meninggalkan Nariah yang masih berdiri di sana. Namun kali ini. Hatinya tidak sepenuhnya terluka.Karena untuk pertama kalinya… Ia merasa tidak sendirian menghadapi omongan dunia. Nariah mulai melakukan aktivitas seperti biasa. Tiba-tiba saja ada telpon dari kampung. Nariah baru saja menutup pagar saat ponselnya berdering. Ia mengernyit pelan. Nama ibunya muncul di layar."Ibu?" Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Dengan cepat ia mengangkat telepon itu. “Assalamualaikum, Bu…” Namun belum sempat ia berkata banyak. Suara ibunya terdengar panik di seberang sana. “Waalaikum salam, Nariah! Kamu di mana sekarang?” suara itu bergetar. Nariah langsung menegang. “Di rumah, Bu… kenapa?” Tangannya mulai berkeringat. “Nak… keluarga Dorman datang ke rumah!” ucap ibunya dengan nada cemas. Deg. Jantung Nariah seperti berhenti sesaat. “Apa…?” suaranya melemah. “Mereka marah-marah! Mereka bilang kita bohong! Mereka ancam mau nuntut keluarga kita!” Dunia Nariah seakan runtuh. Ia langsung bersandar pada pagar. Kakinya terasa lemas. “Bo… bohong apa, Bu…?” tanyanya pelan, meski dalam hati ia sudah mulai menebak. “Masalah kamu… soal pernikahan… soal keadaan kita… Ibu juga nggak ngerti semuanya, Nak! Tapi mereka bilang kita menipu keluarga mereka!” Air mata Nariah mulai mengalir lagi. Masalah yang ia kira sudah cukup berat… Ternyata belum selesai. Bahkan kini merembet ke keluarganya. “Ibu sama Ayah takut, Nak…” lanjut suara itu lirih. “Kamu cepat ke sini ya… kita nggak tahu harus gimana…” Nariah menutup mulutnya, menahan tangis. “Baik, Bu… aku ke sana sekarang…” Telepon terputus. Beberapa detik, Nariah hanya diam. Pikirannya kacau. Napasnya terasa sesak. Semua datang bersamaan— Kejadian semalam. Omongan tetangga. Dan sekarang… Keluarga Dorman menyerang keluarganya. Dengan tangan gemetar, Nariah segera masuk ke dalam rumah. Matanya menatap bayinya yang masih tertidur di ranjang. Air matanya jatuh lagi. “Maaf ya, Nak…” bisiknya pelan. Namun kali ini, Ia tidak bisa diam. Ia harus pergi."Tapi...Aku harus izin sama Abang, dia sudah pesan Aku tidak boleh pergi sendirian.,"gumam pelan Nariah. Dia tidak mau lagi berbuat kesalahan. "Sebaiknya Aku izin Abang dulu, dia pasti marah kalau Aku pergi sendirian."Nariah bergegas memandikan Bayinya. "tut tut tut."Suara ponsel Nariah . Dorman menelponnya, Dorman melakukan VC. Jantungnya berdegup kencang. "Assalamualaikum," "Waalaikumsalam." Jawaban Dorman. [Kamu....lagi ...ngapain?] [Aku lagi... mau masak, buat..Abang]Nariah tersipu malu. [Oh. gimana Delisa, nangis terus enggak]Dorman terdengar kaku. Nampak malu-malu menatap Nariah. Sesekali tatapan mereks bertemu. [Eenggak kok bang, Delisa anteng banget, Alhamdulillah] [Syukurlah, ehmm jam 5 Abang pulang ya, enggak sabar makan masakan kamu]Dorman tersenyum tipis. Wajahnya manisnya terlihat jelas saat tersenyum. Senyum yang baru kembali setelah 3 bulan pernikahan mereka. Nariah hanya tersenyum. [Ya sudah, Abang kerja lagi, kamu baik-baik ya di rumah] [I-iya bang] Mereka menutup ponsel mereka masing-masing. Meski hanya 5 menit, tapi mampu membuat jantung mereka berdegup kencang. "Huffft, dia menelponku,"bisik Nariah sambil menarik napas panjang. Dia merasakan seperti ada kupu-kupu beterbangan diatasa kepalanya. ****** Terik matahari menyengat area proyek. Suara mesin dan pekerja saling bersahutan. Namun di tengah kesibukan itu… Suasana tiba-tiba berubah. Dorman yang sedang mengawasi pekerjaan, menghentikan langkahnya saat melihat seseorang berdiri tidak jauh darinya. Tatapan mereka bertemu. Dan seketika— Udara terasa menegang. “Rendi…” gumam Dorman pelan, rahangnya langsung mengeras. Pria itu berdiri santai, mengenakan pakaian kasual, seolah kedatangannya bukan sesuatu yang aneh. Padahal jelas— Kehadirannya tidak diharapkan. “Lama nggak ketemu,” ucap Rendi dengan nada tenang, tapi ada sesuatu yang tersirat di baliknya. Dorman mendekat perlahan. Tatapannya tajam. “Ngapain lo ke sini?” tanyanya tanpa basa-basi. Rendi menyunggingkan senyum tipis. “Cuma mau ketemu lo.” Jawaban itu justru membuat Dorman semakin tidak suka. “Gue lagi kerja. Kalau nggak penting, pergi.” Namun Rendi tidak bergeming. Matanya menatap lurus ke arah Dorman. “Ini penting.” Nada suaranya berubah. Lebih serius. Lebih dalam. Dorman terdiam sejenak. Lalu berkata dingin, “Ngomong.” Rendi menarik napas pelan. “Semalam… gue ketemu Nariah.” Kalimat itu langsung membuat darah Dorman mendidih. Tangannya mengepal. “Apa maksud lo?” suaranya mulai naik. Rendi tetap tenang. “Gue cuma nolong dia. Dia lagi sendirian di halte, bawa bayi… kondisi nggak baik.” Dorman mendekat satu langkah lagi. “Gue udah tahu itu,” ucapnya tajam. Rendi mengangguk pelan. “Tapi kayaknya… lo belum tahu semuanya.” Kalimat itu membuat Dorman terdiam. Tatapannya berubah. “Apa lagi?” tanyanya, kini lebih serius. Rendi menatapnya dalam. “Dia ketakutan, Dorm. Bukan cuma capek. Dia hampir kena hal buruk di jalan.” Dorman langsung membeku. Meski Nariah sudah menceritakan… Mendengar dari orang lain— Terasa berbeda. Lebih nyata. Lebih menampar. “Dan lo tahu?” lanjut Rendi pelan, “dia nggak berhenti gemetar waktu gue antar.” Kalimat itu seperti menusuk. Dorman mengalihkan pandangannya sebentar. Menahan sesuatu dalam dirinya. Namun egonya masih tersisa. “Terus lo ke sini cuma buat cerita itu?” tanyanya dingin. Rendi menggeleng. “Bukan.” Ia melangkah mendekat. “Kita mungkin punya masa lalu yang nggak enak… tapi satu hal yang gue tahu—” Tatapannya tajam. “Nariah itu wanita baik. Dia kuat… tapi bukan berarti dia harus sendirian terus.” Hening. Angin berhembus di antara mereka. Para pekerja mulai melirik, merasakan ketegangan yang tidak biasa. Dorman menatap Rendi lama. Lalu berkata pelan, namun penuh tekanan— “Gue suaminya sekarang.” Rendi mengangguk. “Iya. Makanya gue ke sini.” Satu kalimat singkat.Namun penuh arti. Seolah sedang mengingatkan. Bahwa tanggung jawab itu. Ada di tangan Dorman. Dan tidak boleh lagi diabaikan."Mulai sekarang, lu enggak usah lagi nemuin atau sok jadi pahlawan buat Istri gue."Dorman dengan suara berat. Tangannya mengepal. "Lalu...Bayi yang digendong Nariah. Apa dia anakmu?" "Deg."Jantung Dorman berdegup kencang. Dia mematung sejenak. bersambung... .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD