Pagi itu, Dorman tidak benar-benar tidur.
Matanya sembab. Pikirannya kacau.
Begitu matahari mulai naik, ia kembali mengambil ponselnya. Nama Nariah lagi, Ditekan.
Memanggil… Masih sama.
Tidak aktif.
Rahangnya mengeras, namun kali ini bukan karena marah.
Melainkan panik.
“Nariah… kamu di mana sih…” gumamnya pelan.
Tanpa membuang waktu, Dorman kembali keluar. Ia menyusuri kota.
Dari satu tempat ke tempat lain.
Rumah sakit. Klinik, tempat umum.
Bahkan beberapa kos-kosan yang ia curigai. Namun hasilnya tetap sama nihil.
Langkahnya mulai melemah.
Namun pikirannya belum mau berhenti.
Satu hal terlintas.
Kampung keluarga Nariah. Dengan cepat ia menekan nomor yang jarang ia hubungi.
Telepon tersambung.
“Assalamualaikum…” suara di seberang terdengar hati-hati.
“Waalaikumsalam… ini Dorman,” jawabnya cepat.
Ada jeda. Suasana canggung terasa bahkan dari jarak jauh.
"Ada apa nak Dorman?"Tanya Ibu Nariah.
“Nariah… pulang ke sana?” tanyanya tanpa basa-basi.
Beberapa detik hening.
“Tidak…” jawab suara itu pelan.
Seolah juga terkejut."Memangnya ada apa, kok kamu enggak tahu Nariah kemana?"
"Eenggak, dia cuma bilang....mau pergi. Itu aja, saya cuma nanya saja kok, enggak ada apa-apa."Dorman dengan gugup lalu Dorman membeku.
“Gak ada di sana?” suara batin Dorman.
Ibu Nariah kembali bicara, "Nak… kami juga tidak tahu Nariah di mana,” jawabnya lagi, kali ini terdengar khawatir.
Jantung Dorman seakan jatuh.
Tangannya gemetar.
“Kalau dia ke sana… tolong kabarin saya,” ucapnya cepat.
“Iya… pasti.”
Telepon terputus. Dorman menurunkan ponselnya perlahan, kosong.Benar-benar kosong,kalau bukan di rumah…
Bukan di kampung…
Lalu di mana?
Ia menyandarkan tubuhnya ke mobil.
Mengusap wajahnya kasar.
Rasa bersalah kini benar-benar menghantam tanpa ampun.
“Dia pergi sendirian… bawa bayi…” bisiknya lirih.
Bayangan Nariah berjalan di malam hari dengan kondisi lelah…
Langsung membuat dadanya semakin sesak.
“Kalau sampai kenapa-kenapa…” ucapnya terhenti.
Ia tidak berani melanjutkan.
Untuk pertama kalinya—
Ego itu runtuh.
Sepenuhnya Dorman kembali menatap ponselnya. Kali ini tanpa ragu Ia membuka pesan. Mengetik cepat. “Nariah, kamu di mana? Aku khawatir.”
“Maaf soal semalam…”
“Tolong kasih kabar…”
Jari nya berhenti sejenak.Lalu lanjut mengetik. “Aku salah.”
Pesan itu terkirim. Dorman menatap layar lama.Berharap sangat berharap. Namun tetap tidak ada balasan. Dan kini yang tersisa hanya satu hal dalam dirinya penyesalan yang terlambat. Dan rasa takut kehilangan yang semakin nyata.
Malam semakin larut.
Angin pelan menyapu wajah Nariah yang berdiri di balkon apartemen kecil itu.
Lampu-lampu kota berkelip indah di hadapannya.
Namun tidak dengan hatinya.
Kosong.
Sepi.
Dan penuh luka.
Bayinya sudah tertidur di dalam, membuat suasana semakin sunyi.
Nariah memeluk tubuhnya sendiri.
Menahan dingin.
Sekaligus menahan perasaan yang terus bergejolak.
“Apa ini yang terbaik…” bisiknya lirih.
Air matanya kembali jatuh.
Namun kali ini… ia tidak menangis keras.
Hanya diam.
Membiarkan rasa sakit itu mengalir perlahan. Tiba-tiba "Ding."
Suara notifikasi ponsel memecah keheningan. Nariah menoleh.
Beberapa detik ia hanya diam.
Seolah ragu untuk melihat.
Namun akhirnya Ia melangkah pelan.
Mengambil ponselnya, layar menyala. Dan di sana, Nama itu Dorman.Jantungnya langsung berdebar. Tangannya sedikit gemetar saat membuka pesan itu.
“Nariah, kamu di mana? Aku khawatir.”
“Maaf soal semalam…”
“Tolong kasih kabar…”
“Aku salah.”
Mata Nariah langsung berkaca-kaca.
Air matanya jatuh lagi.
Namun kali ini berbeda.
Ada rasa hangat…
Di balik luka yang masih menganga.
Ia menggigit bibirnya.
Menahan isak.
“Aku juga sakit, Mas…” bisiknya lirih.
Jarinyanya mulai bergerak di atas layar.
Ingin membalas.
Ingin mengatakan semuanya.
Tentang malam itu.
Tentang rasa takutnya.
Tentang betapa ia membutuhkan Dorman saat itu. Namun Jarinya berhenti.
Terdiam di atas layar.
Bayangan Dorman yang menuduhnya…
Yang berkata ingin berpisah…
Kembali terlintas.
Hatinya kembali mengeras.
Perlahan… ia mematikan layar ponselnya.
Tanpa membalas.Ia kembali melangkah ke balkon. Menatap city light yang sama.
Namun kali ini dengan perasaan yang jauh lebih rumit.Antara rindu Dan luka yang belum sembuh.
Malam itu di dua tempat yang berbeda, dua hati sedang merasakan hal yang sama.
Namun tak saling tahu. Di apartemen kecil itu, Nariah masih berdiri di balkon. tatapannya kosong menembus gemerlap lampu kota. Tangannya menggenggam ponsel erat. Pesan dari Dorman masih tersimpan. Belum terbalas namun sudah ia baca berkali-kali.
“Aku salah…”
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Air matanya jatuh lagi.
“Aku kangen…” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.
Ia merindukan sosok yang sama yang telah melukainya.
Merindukan suara yang tadi menyakitinya.
Ironis. Namun nyata hatinya ingin kembali.
Tapi lukanya menahan di sisi lain Dorman terduduk lemah di lantai kamar.
Punggungnya bersandar di sisi ranjang.
Foto pernikahan itu masih dalam genggamannya.
Matanya menatap kosong.
Ponsel di sebelahnya Masih menunggu balasan yang tak kunjung datang.
“Nariah…” gumamnya pelan. Ada rindu yang menusuk. Ada sesal yang menghimpit.
Ia merindukan suara lembut itu.
Merindukan kehadiran yang selalu menyambutnya pulang.
Namun kini semua terasa jauh.
Padahal belum lama pergi.
Dorman mengusap wajahnya kasar.
“Kenapa jadi kayak gini…” bisiknya frustasi.
Ia ingin mencari.
Ingin memeluk.
Ingin memperbaiki. Namun egonya masih tersisa.
Dan luka di hatinya juga belum sepenuhnya hilang. Mereka sama-sama terdiam.
Sama-sama terluka. Sama-sama merindukan.
Namun tidak ada yang melangkah lebih dulu.Terjebak dalam rasa kecewa. Dan amarah yang belum benar-benar reda.
Seolah hanya dipisahkan oleh jarak.
Padahal yang sebenarnya memisahkan mereka. Adalah hati yang belum saling mengalah.
Malam itu akhirnya meruntuhkan segalanya.Dorman tidak lagi duduk diam.
Tidak lagi menahan.Ia menatap ponselnya sekali lagi. Namun tetap tidak ada balasan.
Dan saat itu, Air matanya jatuh.
Untuk pertama kalinya.
Dorman menangis, bukan sekadar sedih. Tapi hancur, Ia menunduk, kedua tangannya menutup wajah.
“Nariah… maafin aku…” suaranya bergetar.
Penyesalan yang sejak tadi ia tahan kini tumpah sepenuhnya.
Ia tidak peduli lagi soal gengsi.
Tidak peduli lagi soal harga diri.
Yang ia rasakan sekarang hanya satu
Takut kehilangan.
Tanpa berpikir panjang, Dorman langsung berdiri.
Mengambil kunci mobil.
Dan melaju menuju kantor polisi terdekat.
Di kantor polisi…
Suasana cukup sepi.
Beberapa petugas berjaga.
Dorman masuk dengan langkah cepat.
Wajahnya masih terlihat kacau.
“Pak… saya mau buat laporan kehilangan,” ucapnya terburu-buru.
Petugas menatapnya.
“Kehilangan apa, Pak?”
“Istri saya… sama bayi saya,” jawab Dorman, suaranya terdengar berat.
Petugas langsung serius.
“Sejak kapan hilang?”
“Semalam… dia pergi dari rumah… saya gak tahu ke mana…”
Dorman menelan ludah.
“Saya takut terjadi apa-apa…”
Proses laporan dimulai.
Dorman menjelaskan semuanya.
Ciri-ciri Nariah.
Pakaian terakhir.
Kondisi saat pergi.
Hingga membawa bayi mereka.
Tangannya masih gemetar saat mengisi data.
“Nomor HP istri, Pak?” tanya petugas.
Dorman menyebutkan.
“Nomor KTP atau NIK?”
Dorman langsung memberikan.
Semua yang ia punya.
Ia tidak ingin kehilangan jejak sedikit pun.
Petugas mengangguk.
“Kami akan bantu lacak dari sinyal terakhir ponsel dan data kependudukan, Pak. Tapi mohon waktu.”
Dorman mengangguk cepat.
“Berapa lama, Pak?” tanyanya cemas.
“Kami usahakan secepat mungkin. Sementara itu, Bapak juga tetap mencoba hubungi keluarga atau kenalan terdekat.”
Dorman menunduk.
“Sudah… gak ada yang tahu…”
Kalimat itu terasa begitu berat.
Petugas menepuk bahunya pelan.
“Kita usahakan bersama.”
Dorman hanya bisa mengangguk.
Namun saat ia duduk di kursi tunggu…
Menunggu kabar…
Hatinya tidak bisa tenang.
Bayangan Nariah sendirian dengan bayi mereka…
Terus menghantui.
“Harusnya aku jaga dia…” bisiknya lirih.
Kini semuanya terasa terlambat. "Kenapa gua bodoh banget, sampe bikin dia pergi."Dorman mengepalkan tangannya, dan menghantam dinding hingga tangannya memar, namun tak merasakan sakit.
Namun Dorman tidak ingin menyerah.
Kali ini ia akan mencari Nariah. Bukan dengan ego. Tapi dengan hati yang akhirnya sadar.Bahwa wanita itu adalah segalanya. Dia sadar bahwa tak ada manusia yang suci di dunia ini. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia sudah menghakimi Nariah. Bahkan di saat dia hampir saja mengalami kejadian yang buruk di malam itu, Dorman malah menuduh Nariah. "Aaarrrrgh."Dorman kembali mengacak rambutnya.