Ini pertama kalinya aku melihat Apta menangis sampai matanya benar-benar merah, rahang dari gigi-giginya yang rapi seolah mengeras. Dia hanya menatapku sekilas. Aku tahu kekecewaan dan rasa bersalahnya pasti tinggi. Mengapa begitu? Sebab dia seorang Komandan Peleton yang tanggung jawabnya besar, yang harus membawahi pasukan lainnya. Dan gagal mempertahankan juara? Tentu dia tertekan.
“Ta?” Aku mendekatinya. “Istirahat di sini saja, ini sudah malam. Dan sangat berisiko kalau kamu pulang dalam keadaan marah.”
Apta menunduk, sekian detik lantas berjongkok dan diam dengan tangisnya.
Aku memintanya duduk, di depan pintu rumahku, aku usap tangannya dan bilang, “it's oke, just a competition. Menang kalah biasa. Just like a football, badminton, etc. Hanya sebuah permainan.”
“No, is not just a competition, is our big dream! But.” Menatapku dengan mata nanar. “Bukan itu masalahnya.” Dengan air mata yang lagi-lagi terjatuh.
Fikri mendekati kami. “Setiap laki-laki yang menangis hanya butuh waktu untuk sendiri, Mbak. Jadi biarkan Apta sendiri dulu,” katanya terdengar cukup dewasa.
“Oke, tapi Apta, dengerin Mbak Dara. Ya, I know, piala-piala itu ialah bentuk fisik impian-impian yang ingin kamu rengkuh. Tapi Allah Swt. memberikan perlombaan untuk menghadirkan yang kalah dan yang menang, memperlihatkan yang diam dan yang mau berjuang. Bahkan berlomba-lomba dalam keimanan saja masih ada yang kalah, ada yang menang. Adanya menang kalah itu bukan lantas membuat manusia lupa diri. Yang menang harus bersyukur, yang kalah harus introspeksi.”
“Mbak.” Fikri justru menarikku untuk segera menjauh.
“Kamu nginep di sini, semua, nggak boleh ada yang pulang dalam keadaan nangis, marah dan lain sebagainya. Paham?”
“Siap, paham!” jawab sebagian dari mereka dengan sisa tangisnya.
Pertama, yang aku lakukan adalah meninggalkan mereka, menyiapkan teh hangat, makanan, dan beberapa camilan. Karena menangis itu butuh lebih banyak tenaga. Baru nanti yang kedua aku mendengarkan mereka sembari makan atau sekedar memberi pelukan.
“Mbak, dicap jelek nih,” kata adikku di dapur.
“Apalagi?”
“Kan, tadi kan Mas Akbar bikin story, terus anak Pasukan Inti SMA-ku kaya gempar gitu. Katanya Mbak sama Mas Apta, kok ganti lagi malah tunangan sama Masnya Mas Akbar. Murahan banget katanya sana sini mau,” jelasnya sedikit menahan kesal.
“Ya sudah biarin, orang nggak tahu apa-apa emang bisanya cuma komentar. Nggak penting lah, hati itu yang tahu cuma Tuhan.” Mengacuhkan lantas membawa satu nampan teh hangat.
“Orang kok nggak peduli banget sama nama baik, yang penting adik-adiknya baik-baik,” gumam adikku terdengar samar. Bukan aku tidak peduli, tetapi menyumpal sumpah serapah orang-orang dengan menjelaskan diri kita baik itu tidak berguna, mereka tidak akan percaya. Mereka tidak akan terkesan juga. Jadi biarkanlah, biar mereka puas dengan peniliaian mereka sendiri.
“Makasih, Mbak,” kata adik-adik ketika aku menurunkan minuman di depan mereka.
“Tangan Mbak Dara jadi cantik karena ada cincinnya di jari manis,” celetuk Fadhila di samping kananku.
Aku tersenyum singkat. “Besok main yuk, melepas penat, buang semua kekecewaan,” usulku, mungkin sedikit holiday membuat otak mereka tidak bekerja terlalu keras.
“Besok praktik kerrja lapangan, Mbak,” balas Febri setelah termenung, bersandarkan tembok.
Menghela napas panjang. “Mbak mau kasih hibur kalian pun, kalian akan tetap seperti ini, kecewa itu tidak akan hilang. Tapi hidup nggak bisa di-undo untuk ditulis ulang, bisanya cuma terus menulis lebih baik. Mengapa tak sehari saja kita meratap dan esok, balas dendam terbaik kita ialah penampilan yang lebih baik. Waktu masih panjang, satu tahun hingga 2020, kan?”
Mereka semua diam.
“Nanti Mbak Dara sudah nikah pasti,” celetuk Fikri.
Aku tersenyum. “Aamiin Ya Rabb.”
Banyak kalimat yang aku sampaikan, entah itu bisa menghibur atau tidak, atau mungkin kalimatnya berguna atau tidak. Yang pasti, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk adik-adik. Hingga purnama semakin ke tengah, menjemput pagi, aku tak terlelap sempurna. Masih menanti kabar Mas Gayuh sampai ke tempat tugasnya. Masih pula menatap adik-adik yang tidur hanya beralaskan karpet, berdesak-desakan di ruang tamu. Sementara tiga orang perempuan ada di kamarku, tak kalah berdesak-desakan karena tempat tidurnya cukup sempit.
Sesekali aku tersenyum, mengingat tangis kecewa mereka sebelumnya, tapi tak lama melihat wajah lelah nan polos mereka terlelap. Memang menangis itu menguras banyak tenaga, mungkin itu kenapa kita perlu bahagia. Setelah sekian lama aku baru sadar, tak ada Apta di dalam rumah. Apa dia pulang? Tanpa pikir panjang, aku menghubungi nomor ponselnya, tapi suara itu tak jauh, baru sekian detik langsung dimatikan. Sedikit samar suara itu ada di luar, aku berjalan pelan mencari di mana Apta.
“Ta,” panggilku sangat pelan.
“Eh.” Seperti sangat kaget, langsung memasukan ponselnya ke dalam saku, dia masih memakai celana OSIS dan kaos oblong warna merah maroon.
“Angin malam nggak baik, Ta.”
“Lebih nggak baik jatuh cinta sendirian,” jawabnya tak menatapku yang duduk di samping kirinya.
Aku tersenyum. “Bucin!”
“Semua orang akan jadi bucin pada masanya dan ini masaku. Semua akan jadi bucin pada satu orang pilihannya.”
“Terus pilihanmu?” potongku.
“Allah Swt.”
Tersenyum di tengah gelap.
“Mbak tahu, kalah itu menyakitkan, tapi merutuki diri sendiri dan mencari celah untuk menyalahkan kontingen lain itu tidak baik. Menang kalah, itu Allah Swt. yang menakdirkan. Ya, mungkin Allah Swt. pengen kita nikmati indahnya berjuang keras, Allah Swt. pengen kita koreksi, kalau perjuangan kita bisa jadi ada yang salah. Setiap jalan kan Allah Swt. yang akhirnya menggariskan. Manusia merencanakan, Tuhanlah yang menyudahi. Tak apa lah, artinya kita harus berjuang lebih keras tahun depan.”
Apta menghela napasnya panjang.
“Mbak sedih kalau lihat kalian nangis kaya tadi, nggak tahu, kaya ada yang menyayat aja. Laki-laki itu jarang menangis, sekali nangis maka ia sungguh-sungguh dengan sedihnya. Jadi kaya gimana aja gitu. Anak-anak perempuan biasanya ceria juga nangisnya sampai kaya gitu.”
Dia sama sekali tak menatapku, tapi aku yakin telinganya mendengar.
“Diratapi malam ini aja ya, Mbak temenin deh. Besok harus lebih semangat lagi.”
Barulah dia menoleh padaku, menatapku di balik gelap. Hanya tersorot lampu jalan desa melalui celah-celah dahan pohon mangga. “Mbak Dara nggak tahu masalahnya, jadi lebih baik Mbak Dara tidur.”
“Loh, Mbak tahu, Ta. Rasanya kalah, rasanya berjuang keras tapi seolah sia-sia. Mbak tahu betul itu bagaimana.”
“Bahkan ibu dan ayahku tidak tahu, jadi Mbak Dara jangan sok tahu!”
Dahiku mengernyit.
“Tidurlah sudah malam.”
“Harusnya Mbak yang bilang gitu, kamu yang paling butuh istirahat. Esok tugasmu masih banyak kan? PKL, tugas-tugas lainnya. Tidur, Ta.”
Dia tersenyum tipis dan ini senyum pertamanya setelah sikap dingin itu. “Seandainya Tuhan masih beri kesempatan sekali lagi untuk berjuang, aku akan berjuang dengan baik dan tak akan melepaskan.” Menatapku dalam.
“Oh iya, insyaAllah Allah Swt. panjangkan umurmu untuk tahun depan berjuang lagi sebagai senior, Ta. Bangkit ayo!”
Apta tersenyum lagi. “Bodohnya. Tapi itu tidak mungkin lagi. Jadi tidur duluan aja, aku mau menikmati jatuh cinta sendirian.”
“Maksudnya gimana? Ini apa kita beda pikiran?”
“Sama kok, sama.” Seperti sedang meyakinkan betul.
“Ya, sudah tidur, ayo, udah malem.”
“Boleh nggak tidur sama Risa?” candanya kecil.
Plakkk... Aku memukul lengannya keras, lengan dengan otot itu. “Otak kamu ya! Ditaruh dengkul!”
Dia hanya tertawa kecil, lantas masuk ke dalam rumah. Di situlah aku sadar, matanya lebih dari sembab, ini sudah bengkak.
“Eh, mata kamu ya ampun. Dikompres pakai es batu ya, takutnya besok bengkak banget malu kamu, Ta.”
Apta menggeleng. “Hati yang luka parah bukan mata.”
“Eh, Bocah, b***k cinta banget sih!”
“Bodo amat, mau tidur!” Meletakkan kepalanya dan langsung memejamkan mata, aku tahu itu hanya paksaan. Tak apalah, daripada dia terjaga di depan rumah.
“Selamat malam, Ta,” ucapku mematikan lampu ruang tamu.
“Hemm, selamat malam.”