Siapa sangka, candaanku dengan Apta malam itu ialah yang terakhir aku bertemu dengannya. Ini tahun 2020, satu tahun setelah pertemuan terakhir itu. Pernah mencoba menemui, tidak, selalu mencoba, bahkan di Bulan Agustus tahun 2019 aku menemui semua adik-adik pun tetap tanpa Apta. Ketika kutanya ke mana Apta, mereka semua hanya tersenyum menjawab tidak tahu.
Selain itu, di akhir tahun 2019, ketika aku mampu menerbitkan dua buku sekaligus secara mandiri, yang salah satunya ialah buku Patriakara. Kisah tentang perjalanan mereka yang aku tulis bak kisah wiracarita. Kala itu langsung aku serahkan pada adik-adik. Mereka bilang, Apta ada tapi di kelas, sedang tidak bisa keluar. Karena aku pun sibuk, maka aku tidak bertemu dengannya lagi dan lagi.
Parahnya lagi, kami tak bisa saling berhubungan, entah di i********: ataupun w******p. Sepertinya aku diblokir dan itu akhirnya menjadi alasanku terus mencarinya. Aku hanya ingin bertanya mengapa dia sama sekali tidak bisa dihubungi. Tahun lalu, aku sempat bertanya pada Risa, apakah Apta berganti nomor telepon? Kata Risa, Apta masih menggunakan nomor yang sama. Tetapi di aku, foto profilnya lenyap, hanya centang satu tanpa pernah bertambah, story pun tiada yang masuk.
Berulang kali aku juga bertanya pada Fikri, sahabat Apta sejak masih dini. Tapi terkadang dia hanya menjawab, Apta lagi ingin fokus sama impiannya tanpa gangguan dari orang lain maka ia menjauh dari dunia. Dan kupikir bukan lantaran itu. Jika ia ingin fokus pada mimpinya, mengapa hanya aku yang dia blokir dan tidak pernah dia temui.
Sejujurnya bukan apa-apa, mungkin karena aku menganggap dia, dan mereka semua adalah adik, tetapi Apta tidak menganggapku sebagai kakak. Kalaupun aku ada salah sampai membuatnya memblokirku, aku hanya ingin meminta maaf. Jika setelah permintaan maaf itu aku diminta pergi, baik, aku akan pergi. Toh, sekarang impianku satu-persatu terwujud, mulai mengisi beberapa seminar di kampus kecil, sekedar berbagi tentang tulisanku hingga saat ini. Tapi aku jadi jauh dari adik-adik, tidak lagi jadi pelatih, sudah sangat sibuk dengan duniaku.
Bahkan dengan beruntungnya penerbit kecil di Jogja menawariku pekerjaan, untuk menjadi asisten dari editor di sana, dan baiknya aku tetap boleh menulis dan menerbitkan novelku sendiri. Allah Swt. itu terlalu baik padaku, Dia memberikan semua yang aku inginkan sedikit demi sedikit. Impian yang mulai tercapai, orang tua yang selalu mendukung putrinya, dan laki-laki yang tak pernah lelah menungguku meski menunggu selalu membosankan.
Hari ini, laki-laki itu tengah cuti tahunan, ia mengantarku ke Jogja, membantu pindahanku. Tangan kekarnya sibuk mengangkat beban berat, cekatan menata beberapa barang-barangku. Peluhnya satu-satu menetes, memang tak ada AC di kamar kos yang sederhana ini.
“Mas, tisu nih,” tawarku.
Mas Gayuh meletakkan meja kecil di pojokan kamar kos, lantas menatapku sambil tersenyum. “Cowok itu ngelap keringat bukan pakai tisu, Dik.” Tangannya berkacak pinggang, dan dia selalu gagah dalam keadaan itu.
“Terus pakai apa? Pakai kain pel?” candaku.
“Pakai tangan kamu,” sambarnya cepat dan membuatku tertawa. “Jangan senyum, nanti Mas ajak ke KUA lho!”
“Ishhh.... Na....”
“Nanti dulu lah, Mas. Ini aku baru masuk kerja, nikahnya nanti dulu kalau udah dapat satu tahun. Aku nggak akan ke mana-mana kok, janji!” potongnya seolah menjadi aku.
Aku tersenyum, mendekatinya yang kembali merapikan kamar kosku. “Pengertian banget sih, Mas. Kan jadi sayang,” kataku mengelap keringat di dahinya dengan tisu.
“Dari dulu, Dik. Kamu aja yang nggak pernah sadar!”
“Sadar kok, Mas. Makanya nggak mau pindah ke yang lain,” godaku menghalanginya yang hendak memindahkan galon air minum ke dekat almari.
Mas Gayuh menatapku dalam, di depan perutnya ada galon, dan di depannya lagi ada aku. “Bukan karena seragamnya, kan?”
Menggeleng cepat. “Kalau karena seragamnya, mending mangkal di depan Markas Paspamres sekalian nyari yang perwira! Hati menetap lantaran rasa bukan seragam tentara dan pangkatnya! Percuma dikasih hati sama Tuhan kalau caranya mencintai dari mata.”
Dia tersenyum. “Ya sudah bantuin, nggak kelar-kelar, nggak jalan-jalan kita!”
“He he he.”
Pagi hingga sore itu kuhabiskan untuk menata kamar kos, dengan pintu dan jendela yang terbuka, suasana Yogyakarta yang penuh romansa dan angin masuk yang justru mengajak kami untuk segera berkeliling Yogyakarta. Kini kedua kaki kami bergantian melangkah, menyusuri trotoar Yogyakarta. Tepatnya di jalanan dekat Kampus UGM dan Mas Gayuh tak menggenggam tanganku. Hanya berjalan bersama romansa Jogja sudah sehangat ini.
“Capek nggak sih Mas Gayuh LDR sama aku?” tanyaku berjalan mundur di sampingnya, menatapnya.
“Sudah risikonya jadi tentara, capek nggak capek ya dijalani.”
“Sayang banget sama aku ya sampai segitu sabarnya mendukung semua keinginanku dan ikhlas menunggu?”
“Pakai tanya lagi, pikir sendiri, Dik.”
“Tapi akhir-akhir ini Mas nggak pernah tuh ngomong sayang sama aku.” Aku terus berjalan mundur.
“Sudah terlalu tua untuk selalu mengungkapkan rasa dengan kata, sementara dengan perbuatan lebih bisa mendeskripsikannya.”
Senyumku melebar. “Yang penulis romance aku, tapi yang selalu bersikap romantis Mas Gayuh.”
“Drama, mulai dramanya!” Mengacak-acak atas kepalaku. “Udah ah, jangan jalan mundur!” Memutar badanku.
Sore ini kami hanya berjalan menikmati kesederhanaan, semakin dewasa dirimu, pertemuan yang sederhana akan terasa mahal harganya. Bahkan meski lebih sering diam tanpa kata dan kamu masih menikmatinya.
“Tadi Mama kamu w******p aku.”
“Apa kata Mama, Mas?”
“Katanya jangan nginep di kosnya Mbak Dara, cari penginapan lain.”
“Aduh, Mama. Ya iya pastinya. Mama pikir anaknya ini cewek apaan coba.”
Mas Gayuh tertawa. “Cewek yang kelakuannya suka nimbulin fitnah!”
“Ishhhh, kelakuan yang mana coba?”
Melirikku sekilas. “Nggak inget suka bercanda sama, siapa itu yang Danton dulu itu?”
“Apta?”
“Ya itu, orang jadi mikirnya aneh-aneh kan, jadi fitnah, kan?”
“Udah lewat juga, Mas. Dia juga sudah menghilang, terakhir ketemu pas kita tunangan itu.”
“Patah hati dia.”
Langkahku terhenti. “Patah hati kenapa?”
Mas Gayuh menatapku. “Enggak. Tebakan aja.”
Mengernyitkan dahi, kembali berjalan nikmati keramaian Jogja. Sesekali berpikir, suatu saat jika bertemu dengan Apta, aku akan bertanya mengapa dia seolah menghindariku.
Sepuluh hari di Yogyakarta di temani Mas Gayuh, setiap malam mencarikanku makan, mengantar, dan menjemputku kerja. Intinya dia habiskan masa cutinya untuk menemaniku, sabar menghadapi sikapku, membuatku tertawa. Kupikir tak ada yang lebih baik darinya. Satu yang tak aku suka dari Mas Gayuh, kata pamitnya.
“Mas besok balik, ya? Jadi nanti malam balik Karanganyar. Jaga diri baik-baik, kerja yang rajin, soalnya sudah Mas kasih waktu,” katanya melewati jalanan Yogyakarta menjelang Magrib.
Aku menyandarkan kepalaku ke punggungnya.
“Jangan buat Mas nggak mau pergi,” katanya lagi, memintaku untuk tidak memelas atau bersikap manja padanya.
“Emang nggak mau kalau Mas pergi.”
“Di dekatmu bikin banyak dosa.”
Aku langsung mengangkat kepalaku.
“Menunggu di sampingmu lebih berat daripada menunggu sembari menjalankan tugasku.”
“Maaf, Mas.”
“Kata maafmu tidak diterima. Cukup selesaikan semua keinginanmu itu lalu ikut aku menghadap.”
“Iya, Mas,” jawabku, menunduk.
Dia pasti sudah sangat lelah menunggu, usianya sudah lebih dari 25 tahun, setiap bulan ada saja temannya yang memberikan undangan, bahkan teman SDnya sudah punya anak, tapi dia tetap sabar menunggu dan memenuhi apa yang aku inginkan. Jika bukan laki-laki baik, mungkin dia sudah meninggalkanku sejak dulu, sejak aku sudah banyak tingkah. Memilikinya ialah keberuntungan terbaik yang aku dapatkan di antara keberuntungan lainnya.
Sampai di depan kos, Mas Gayuh melepas helmku. “Langsung istirahat ya, nggak usah ke mana-mana lagi. Mas sudah belikan makan malam sebelum jemput kamu, Mas gantung di pintu, tinggal diangetin.”
Mataku berkaca-kaca. “Makasih ya, Mas.”
Mas Gayuh mengangguk. “Sampai jumpa beberapa bulan lagi, Dik.” Mengusap kepalaku dua kali.
Aku mengangguk dan menitikan air mata. Setiap kali berpisah, pikirku selalu, “Bisa jadi ini pertemuan terakhir.” Entah, hanya aku saja yang selalu berpikir begitu atau pasangan lain pun berpikir hal yang sama.
“Kalau...”
“Kalau mau perang kabarin,” potong Mas Gayuh yang sudah sangat hafal. “Kalau bukan misi rahasia, Mas pasti jelaskan.”
“Tapi seringnya rahasia.”
“Ya, begitulah.”
Aku menghela napas panjang lantas berbalik, berjalan pelan meninggalkan Mas Gayuh. Kubiarkan ia menatap punggungku pergi tanpa pamit.