Shaka kembali duduk di tepi ranjang. "Gak usah takut. Aku akan temani sampai kamu tidur." Digenggamnya tangan sang istri. "Tidurlah." Aneska menurut mata, berusaha untuk tidur. Tetapi bayang-bayang kejadian tadi kembali terekam dalam ingatan dan membuatnya tidak bisa beristirahat. Kedua mata kembali terbuka. "Kenapa?" tanya Shaka yang sejak tadi memperhatikan sang istri. Aneska hanya menggeleng. Tidak terbiasa bercerita pada orang lain. Ditatapnya sang suami yang tampak menghela napas panjang. Ia pun tidak protes ketika pria itu naik ke atas ranjang dan berbaring di sampingnya. "Om Ikbal bicara apa sama kamu?" tanya Shaka, berbaring menyamping menghadap ke arah sang istri. Tatapnya lembut. "Aku takut," cicit Aneska, sejenak balas menatap suami lalu menunduk. "Takut apa?" Aneska diam

