Kondisi Ava begitu memprihatinkan. Wanita itu tidak hanya mendapatkan kekerasan fisik, tetapi juga mental. Ia tidak hanya di sakiti secara fisik, tapi juga mendapatkan pecelahan. Wajahnya penuh lebam dan tubuhnya penuh tanda kepemilikan. Ava hanya bisa diam dengan kondisi terikat kaki dan tangan. Kini, ia tidak lagi berada di ruang bawah tanah rumah Raymond. Namun ia berada di tempat yang tidak asing baginya. Tempat ia menghabiskan masa kecilnya hingga remaja. Hingga ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri, ke dua orang tuanya dihabisi ketika usianya masih tujuh belas tahun, di tempat itu. Ava berada di ruangan yang lebih layak dan lebih baik, namun ruangan itu tidak membuat ia nyaman sama sekali. Justru sebaliknya, kengerian empat belas tahun silam, kembali membekas dalam ingatan

