Suasana di depan ruang praktik dokter mata itu terasa begitu menyesakkan. Pendingin ruangan yang bekerja keras pun tak mampu meredakan hawa tegang yang mengikat Davin, Lexsa dan Nyonya Victoria. Suara dokter Lee yang datar barusan masih terngiang di telinga Davin, menusuk hingga ke dasar hatinya. “Mata Anda sudah tidak bisa disembuhkan lagi, Tuan Davin.” Kalimat itu seakan menjadi palu godam yang menghantam batok kepalanya. Tubuh Davin seketika lemas, bahunya merosot, dan jemarinya yang selama ini selalu berusaha tenang kini bergetar hebat. Ia tahu, ia sudah lama tahu bahwa matanya tidak bisa diselamatkan. Namun entah mengapa, setiap kali datang melakukan pemeriksaan rutin, selalu ada secercah harapan kecil di hatinya yang berbisik: “Mungkin kali ini akan ada keajaiban.” Dan setiap kali

