bc

Possesive Boyfriend

book_age0+
937
FOLLOW
9.3K
READ
love-triangle
possessive
playboy
arrogant
badboy
goodgirl
student
drama
sweet
like
intro-logo
Blurb

Katakan kau suka aku

“kau sudah bernjanji untuk tidak membuatku talut lagi.”

Alfano Mahendra selalu dikelilingi gadis cantik, sangat populer dan juga anggota OSIS yang sangat terkenal. Walaupun sangatpopuler tapi Alfa selalu mengganggu Alia Seravina. Ia berusaha mencium dan melakukan sesuatu yang lebih dari yang bisa dibyangkan Alia. Walaupun di sisi lain Alia menyukai kakak kelasnya Raka Ardiansyah yang selalu ia puji karena kepintarannya, tapi kenapa Alia tidak bisa menolak Alfa di sisinya?

Di sisi lain, seorang penyanyi terkenal bernama Alano Alvaro dari Starisv Intertainment yang memiliki hubungan dekat dengan Alfa dan ingin mencoa menyambung kembali hubungan persaudaraan mereka setelah terpisah selama 7 tahun. Akankah masalalu Alfa dan Alan yang kelam akan kembali bersatu sebagai satu saudara, atau memang hati Alfa sudah terkunci dengan membencinya?

Lalu bagaimana kisah Alia dan Alfa selanjutnya, dengan hadirnya Raka di sisinya?

chap-preview
Free preview
Chapter 1 : Si Pengganggu
"Walaupun kamu tidak menyukaiku, aku tidak akan pernah melepaskanmu pergi" *** "Bagaimana ini?? harusnya aku  menolaknya, tapi sekarang??" .... "Tunggu Alfa!" cegah Alia saat bibir Alfa hampir menyentuh bibirnya. Saat ini kita berada di balkon atap sekolah sekarang. Alia berusaha mundur beberapa langkah ke belakang. Namun gerakannya langsung terbaca oleh Alfa hingga ia menarik kembali ke dalam pelukannya dan mendekatkan wajahnya beberapa senti di depan wajah Alia. Bodoh.  Alia menutup mataku, Alfa pasti akan menciumnya lagi. “Enggak ini nggak boleh dibiarin, aku harus menolaknya.” Kedua tangan Alia gemetar, terdengar deru napasnya yang semakin mendekat, Alia masih menutup matanya sambil menahan napas. "Jangan lakukan ini!" Alia mendorong tubuh Alfa menjauh beberapa senti dan hampir membuatnya terjungkal ke belakang padahal ia belum melakukan apa-apa padanya. Tiba-tiba saja ia mundur beberapa langkah. Alia akhirnya membuka matanya dan melihat Alfa yang masih berdiri tepat di depan. "Alia," lirihnya dengan suara serak, ia kembali melangkah mendekat. “Jangan mendekat!” cegah Alia. "Aku harus pulang sekarang!" ucap Alia  dengan wajah gelisah, kemudian ia mengambil tas ransel yang dilepar sembarang tempat tadi. Alfanio Alexander Mahendra, atau biasa dipanggil Alfa. Cowok bertinggi 175 cm ini memiliki sifat pemaksa, terutama untuk seorang gadis yang ia pilih untuk dijadikan pacarnya. Aliana Seravina. Sifat yang cenderung menyebalkan ini justru sama sekali tak disukai oleh Alia sendiri,  Alfa selalu memaksa tanpa persetujuan darinya terlebih dahulu. Seperti saat ini, tiba-tiba saja Alfa membawa Alia menuju ke balkon atas sepulang pelajaran usai.  Ingin sekali Alia menolaknya, dengan  beralasan apapun, tapi tetap saja semua alasan yang ia berikan pada Alfa sama sekali tak digubris—dan anehnya setiap kali Alfa membawanya pergi, Alia yang selalu ingin menolak hanya bisa menurutinya. Alfa seperti magnet yang selalu membuat Alia harus bertekuk lutut dihadapannya. Bahkan satu sekolah pun tahu hubungan mereka. “Tapi, bukan Alfa yang aku suka, bukan dia ...” "Mau aku antar pulang??" tawar Alfa memanggil Alia lebih lembut kali ini.  "Nggak perlu," tolak Alia dengan tergesa-gesa pergi dari tempat itu. "Alia!" tariknya sebelum Alia melangkah pergi. Ia kembali memelukku. "Aku minta maaf. Membuat kamu takut lagi." Bisiknya dengan wajah tertunduk. Pelukannya Alia akui sangat hangat, dan anehnya Alia sendiri tak bisa menolaknya. Sikapnya berubah menjadi lembut sekarang dan ia hanya bisa terdiam pasrah di pelukannya. "Akan aku antar pulang !" tangannya kini menggenggam erat tangan Alia, lantas ia membawa Alia turun dan kami pun pulang bersama seperti biasa. Yah, Kami sering pulang bersama karena rumah berdekatan. *** Alfa dan Aliana telah berteman sejak kecil, rumah mereka pun juga satu komplek. Alfa sangat protektif pada Alia sejak mereka masuk ke bangku SMP dan sejak Alia mulai berteman dekat dengan cowok yang berusaha mendekatinya, walaupun Alia bilang mereka hanya berteman namun tetap saja bagi Alfa pemandangan yang ia lihat saat Alia berdekatan dengan cowok membuatnya kesal. Pernah suatu ketika hanya karena kesalahan kecil saat tak sengaja seorang cowok menolong Alia yang hampir tersandung dan Alfa melihatnya, muncul kebencian dari dirinya pada cowok itu, dan tentu saja satu pukulan dilayangkan Alfa pada cowok yang menyentuh Alia tadi.  Mereka bersekolah disalah satu SMA yang cukup terkenal di Jakarta, SMA Serin. Di sekolah bisa dibilang, Alfa sangat popular terutama di kalangan para gadis, sosoknya yang pintar dalam sehala hal, baik dalam hal akademik maupun non akademik. Alfa juga terpilih sebagai anggota OSIS yang entah kenapa ia justru jarang berkumpul dengan anggota OSIS lainnya. Kerjanya hanya main-main, bahkan sering bolos masuk kelas, alasannya sangat karena ia bosan dan ingin tidur saja di UKS atau balkon atap sekolah. Alasan macam apa itu? Memiliki wajah tampan sama sekali tak membuat Alia suka padanya. Kedatangannya justru selalu membuatnya kesal. Alfa juga selalu memaksa alia harus menemani menonton pertandingan sepak bola di televisi yang berlangsung 2,5 jam, dan tak memperbolehkannya pulang sebelum acara  selesai dan masih banyak hal lain yang Alfa lakukan untuk membuat Alia terus bersamanya. .... "Alfa keren banget, lihat dia main basket." puji seorang gadis berambut panjang yang juga salah satu anggota Cheerleader bernama Amanda. "Mau dong jadi pacarnya ..." sahutnya memasang wajah centil. Alia kini harus berdiri diantara penggemar fanatiknya untuk menonton pertandingan basket di lapangan. Sesekali ia mendengus kesal seakan bosan, kalau bukan Alfa yang meminta mungkin Alia lebih dulu pergi saja dari sana. Ia juga ditugaskan untuk membawakan botol air putih saat Alfa nanti menghampirinya. Selain sepak bola Alfa juga suka basket, dan saat ini ia menjabat sebagai kapten basket. Mengemban dua tugas sekaligus, Alia bahkan tak bisa membayangkan kalau jadi dirinya, herannya juga ia selalu mendapat peringkat lima besar di sekolah dalam hal akademik, mungkin dulu Alfa berguru pada Albert Einstein sebelum meninggal dunia. Melihat penggemarnya yang bisa dibilang banyak. Hei! dia bukan artis! aku tahu wajahnya tampan, tapi aku sama sekali tak tertarik padanya,. batin Alia hanya bisa menggeleng kepala melihat para gadis terhipnotis dengan Alfa. Alia mengedarkan pandangan ke lapangan disebelahnya. Telah berdiri sosok yang cowok tampan yang justru membuat Alia kagum, pesonanya yang mungkin bisa mengalahkan Alfa saat ini, sosok yang selalu membuat jantung Alia berdebar sangat kencang walau hanya melihat dari jarak jauh. Wajahnya yang rupawan, sifatnya yang seperti kakak dengan tubuhnya yang atletis membuat banyak orang pasti mengaguminya. Dia adalah Raka Ardiansyah, cowok yang sudah lama Alia sukai. Saat ini Raka tergabung dalam klub atlet renang dan sering mendapatkan juara nasional. Orangnya sangat ramah pada siapa pun. Ia memang tak sehebat Alfa, tapi di bidang akademik ia juga mendapat juara 5 besar satu sekolah. "Kak Raka," lirih Alia memuji melihat kesempurnaan  dalam diri Raka. Alfa menghentikan pertandingannya saat mengetahui Alia sama sekali tak melihatnya bertanding saat ini. Justru memilih melihat sosok lain di lapangan sebelah. Ia menggeram kesal dan langsung keluar dari arena basket. "Aduh Alfa pasti mau nemuin aku, aduh gimana nih penampilanku udah oke kan?" sahut Amanda anggota Cheerleader  penuh percaya diri saat Alfa berjalan mendekat. "Kak Raka keren." puji Alia sambil terus mengamatinya dari jauh. "Hai Alfa!" sapa gadis itu beranggapan akan menghampirinya, namun dugaannya salah. Ia justru berjalan lurus ke belakangnya. Gadis itu mendengus kesal saat mengetahui Alfa menghampiri Alia yang berada di belakangnya. "Lihat apa sih?!" tangan kanan Alfa menutup kedua mata Alia dan menariknya menjauh. "Alfa,"  "Mata kamu perlu dijaga, biar nggak melihat orang lain, " desis Alfa tak suka saat Alia melihat orang lain selain dirinya. Tiba- tiba saja sebuah kecupan diberikan Alfa di pipi kanan Alia, sontak saja si empu merasa tercengang dan mendorong tubuh Alfa. "Alfa!" Alia mendorong tubuh Alfa menjauh beberapa senti.  "Kamu menyebalkan," teriak sebelum berlari di tengah lapangan karena malu. Semua orang saat ini melihat kami dengan pandangan iri sekaligus benci. Terutama pada Alia, sejak Alfa menjadikannya pacar, seluruh siswi di sekolah selalu menatap Alia dengan pandangan sinis, dan ini membuatnya risih harus selalu mendapat pandangan mematikan dari orang-orang satu sekolah yang tak lain penggemar fanatic Alfa sendiri. Dari jauh Raka melihatnya. Ia baru saja menyelesaikan latihannya. Menatapnya dengan pandangan bingung. …. "Alia tunggu!" tarik Alfa mencegah Alia lantas menarik tangannya ke belakang. Saat ini kami berada di belakang sekolah yang lebih sepi. "Alfa aku nggak suka kamu melakukan kaya tadi, " kesal Alia padanya. "Ya... habisnya kamu melihat orang lain sih," ucap Alfa datar dan sama sekali tak merasa bersalah. Degh... Tatapan yang diberikan Alfa sedikit membuat Alia risih, Alfa menatapnya dengan pandangan mengintimidasi. Bahkan saat ini jarak keduanya sangat kuat. "Aku nggak suka kamu melihat orang lain, cukup lihat aku saja!" suara Alfa seakan mengingatkan Alia bahwa ia miliknya. "Enggak... Aku... Nggak lihat siapa pun," ucap Alia meremas rok seragamnya kuat sambil menundukan wajah ke bawah. "Benarkah?" "Bu-bukan, maksudku..." "Aku...aku...." ucap Alia terbata-bata. Brakk… Tangan Alfa kini berada di belakang punggung Alia, menatapnya dengan sorot mata tajam, sesekali Alia meringis ketakutan melihat Alfa melihatnya seperti ini. Alia hanya bisa menunduk ke bawah berusaha keluar dari rengkuhannya. Namun, bukannya lolos Alfa justru semakin mendekatkan wajahnya untuk melihat Alia lebih intensif. Ia lalu berbisik di telinga kanan Alia yang sebelumnya meniup cuping telinganya hingga membuat Alia merasa geli dengan sensasi aneh yang ditimbulkan. “Alia itu milik Alfa, mengerti!.” Suara bariton Alfa terdengar cukup membuat Alia hanya bisa diam. "Aku... aku nggak pernah suka sama kamu, orang yang ku suka bukan kamu, jadi... Jangan lakukan ini lagi," ucap Alia langsung di depan Alfa tanpa menoleh kearah matanya. Perlahan Alfa melonggarkan rengkuhannya. Alia mendongak ke arah Alfa yang menatap penuh kekecewaan. Kesempatan untuknya kabur, segera ia bergegas pergi meninggalkannya yang masih mematung di sana. Alfa hanya menatap kepergian Alia tanpa aku menoleh kembali ke belakang. Kutinggalkannya begitu saja disana, tanpa mempedulikannya. Alfa pasti marah ... Alfa pasti akan membencinya  Biarkan saja... Alia berjalan cepat menuju ke kelas. Ia tak peduli dengan ucapan yang sedikit kasar pada Alfa tadi. Mungkin sedikit berlebihan harus mengungkapkan pada Alfa kalau ia menyukai orang lain. Biarkan saja, dengan begitu Alfa pasti akan menjauhinya. Itu yang diharapkan bukan. ... "Alia... Lo dari mana saja sih?" teriak seorang gadis yang baru saja datang menghampirinya bernama Keira, gadis berambut pendek dengan kacamata hitam menghiasi matanya. Wajahnya manis khas asia dengan lesung di kedua pipinya. Mereka sudah berteman sejak pertama kali bertemu sebagai murid di tahun ajaran baru dan saat ini mereka juga satu kelas yang sama di X B. Alia menghela napas panjang dan merebahkan kepalanya di meja kelas. "Hei, gue tanya, kenapa malah diam?" Keira duduk di meja sebelahnya, berhubung keduanya memang satu meja. Keira menjatuhkan setumpuk buku di meja lalu kembali menatap Alia sambil menyerngit bingung. "Hei, lo kenapa sih? Marahan lagi sama Alfa?" tanyanya.  "Jangan menyebut namanya,"  "Tuhkan, marahan lagi." "Alfa keterlaluan," "Memangnya dia berbuat apa sama lo? Dia selingkuh atau main mata sama cewek lain?" tuduh Keira. "Enggak,"  "Terus? Dia ngerjain lo lagi?"  "Bukan,"  "Al... Jangan bikin gue bingung deh, terus kenapa lo jadi marah sama Alfa?" Keira geram.  "Soalnya dia nyebelin," gerutu Alia kesal. "Yaelah Al, alasan itu lagi, hari ini lo bilang Alfa nyebelin, besoknya lo bilang Alfa kasar, terus besoknya lagi lo bilang Alfa pemaksa, terus..." "Keira, udah deh, lo sama Alfa sama aja, sama-sama bikin gue kesel hari ini," geram Alia cemberut lantas bangkit dari tempat duduknya sembari berjalan malas keluar kelas. "Eh... Alia, kenapa gue juga kena sasaran juga, Alia!" panggil Keira yang tak terlalu dipedulikan Alia yang berjalan lurus keluar kelas. Alia berlari menjauh keluar dari kelas, padahal sebentar lagi bel masuk akan berdering. Ia memilih pergi menuju balkon atap sekolah. Tempatnya yang selalu membuatnya merasa tenang. "Aaaaaaaa!"  suara teriakannya menggema dari tempat itu. Ia tak peduli orang lain nanti akan mendengarnya. Baginya setelah berteriak tadi. Perasaannya menjadi lega. "ALFA NYEBELIN," Alia tak menyadari, seseorang sejak tadi berada di sana. Tengah bersandar dibalik tembok dengan wajah datarnya. Mengisyaratkan kesedihan juga kekecewaan dalam dirinya. To be Continued 

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Mendadak Jadi Istri CEO

read
1.6M
bc

Bukan Cinta Pertama

read
59.1K
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Symphony

read
184.8K
bc

Skylove

read
115.1K
bc

Marriage Not Dating

read
560.1K
bc

Touch The Cold Boss

read
242.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook