“Kamu jangan melihat yang lain,
aku tak suka”
Seseorang keluar dari persembunyiannya dan berjalan mendekati Alia yang masih berdiri disana. Tiba-tiba ia mendekapnya dari belakang membuat Alia tersentak kaget. Alia langsung tahu siapa tangan yang merengkuhnya dengan hanya mencium aroma maskulin dengan bau yang sangat familiar dan tak asing baginya.
"Alfa," lirihnya.
Sosok yang sejak tadi bersembunyi tak lain adalah Alfa. Ia memang sering ke atap sekolah saat jam masuk kelas seperti saat ini. Apalagi kalau bukan untuk tidur selain tempatnya di UKS.
"Alfa?"
Alfa masih mengeratkan pelukan posesifnya dengan meletakkan kepalanya di sisi samping leher Alia sambil menyesapi harum bunga mawar parfum kesukaan Alia. Tangannya mengeratkan dekapannya.
"Ke-napa kamu ada di sini?" Alia gemetar. Pelukan Alfa begitu erat.
"Aku merindukanmu," ia semakin mengeratkan tubuhnya.
Kesadaran Alia pulih dan secepatnya mendorong tubuh Alfa menjauh darinya.
"Hentikan!"
Alfa bingung menatap wajah Alia yang ketakutan karenanya. Ia kembali menarik pinggang Alia dan memeluknya posesif dari depan.
"Alfa lepasin," ronta Alia risih berusaha memberontak dengan kedua tangan dipegangnya.
"Lepasin aku, Alfa,"
"Walaupun kamu menolakku, tapi aku nggak akan pernah menyerahkanmu pada siapapun juga, " ucapan Alfa membuatnya terdiam seribu bahasa.
Matanya yang mengisyaratkan kebencian dan juga kekecewaan. Alfa sosok yang selalu ingin ia hindari namun tak pernah bisa. Ia seperti magnet yang begitu kuat menariknya ke dalam tatapannya. Sifat kasar dan pemaksa yang selalu membuat Alia jengkel setengah mati padanya.
"Alfa, aku bilang berhenti!" tangan Alia mendorongnya menjauh. Tubuh Alfa terdorong ke belakang dan hampir terjerembak jatuh ke bawah.
Kini mata Alia menatap geram padanya, sementara Alfa masih menatapnya dengan pandangan datar seakan tak merasa bersalah dengan apa yang diperbuat padanya. Sementara dirinya terbujur kaku sekaligus takut saat Alfa menatapnya seperti saat ini.
"Alia." Tangan Alfa terulur menyentuh pucak kepalanya lalu memeluknya lembut.
"Ayo kita lanjutkan tadi." suara serak Alfa berbisik di telinganya. Membuat jantung Alia berdegub kencang. Mata Alia melotot. Ia harus kembali menyadarkannya saat Alfa bersikap seperti saat ini.
"Alfa, lepasin aku nggak mau, lepasin." Namun tangan Alfa justru membawanya ke dalam pelukannya. Percuma saja memberontak, ia mengunci pergerakan tangan Alia dengan kedua tangannya dan mendorongnya ke tembok di belakangnya. Alia berusaha memberontak dengan menggelengkan kepalanya ingin menolaknya, namun percuma saja. Bahkan saat air mata Alia menetes karena takut, justru Alfa mencium kedua matanya yang berair.
"Berhenti!"
"Ngg—ngg,"
"Alfa, berhenti!"
"Aku nggak akan berhenti sampai kamu bilang suka aku," ucapannya kali ini tak main-main. Tatapan Alfa sangat tajam padanya.
"Alfa nyebelin, aku benci kamu."
"Kalau nggak cepat bilang, aku akan berbuat jauh lagi!" ancamnya dengan kedua tangannya semakin mengeratkan pelukannya.
Alia terdiam. Ia sendiri tak ingin membohongi diri sendiri. Tiba- tiba Alfa melepaskan pelukannya dan mendorong Alia menjauh. Alia berjalan mundur ketakutan dengan tangan gemetar.
"Kenapa bukan aku sih," ucap Alfa dengan wajah kecewa.
***
"HEI RAKA!" teriak salah satu murid berlari kearah Raka yang menuju ke lapangan untuk berlatih.
"Kak Raka!" pandangannya teralihkan saat melihat Raka yang berada di bawahnya.
Tanpa berucap, ia langsung berlari dan turun dari atap sekolah meninggalkan Alfa yang masih menunggu jawabannya. Ia kembali mengacuhkannya lagi. Alfa menyapu pandangan ke arah Raka, sosok yang selalu dipuja Alia. kenapa bukan dirinya, kenapa harus Raka yang ada di hati Alia.
Alfa mengeram kesal sambil memukul tangannya di tembok hingga menimbulkan memar di pergelangan tangannya.
"Raka b******k," upatnya yang masih menatap kepergian Raka dari atas.
***
Alia berdiri dari jauh memandang ke arah Raka yang tengah berlatih renang bersama anggota yang lain. Ia kembali tersenyum mengagumi laki-laki di depannya yang ia anggap sempurna di matanya. Sikapnya, keramahannya selalu membuat Alia kagum padanya. Selain wajahnya yang tampan ia juga baik pada semua orang.
Pernah saat itu Alia terlambat masuk ke sekolah. Dan karena saking paniknya ia berlari menerobos koridor menuju kelasnya. Ia tak menyadari seseorang dari depan tengah berjalan membawa setumpuk buku untuk dibawa ke kantor. Tabrakan keduanya pun tak terelakan dan membuat buku-buku itu jatuh berserakan di lantai.
"Aduhhh... Maaf kak, aku nggak sengaj.," Alia menunduk sambil membantu membereskan buku-buku itu.
"Iya nggak papa." Saat itulah, untuk pertama kalinya Alia bertemu dengan Raka. Bisa dikatakan Alia jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Kamu nggak papakan?" tanya Raka saat melihat Alia melamun.
"Ah... Iya, aku baik-baik aja," ucapnya gugup.
"Maaf ya"
"Aku yang seharusnya minta maaf udah nabrak kakak," ucap Alia malu-malu.
"Kelihatannya kamu buru-buru?" Seketika Alia menyadari keterlambatannya. Ini bukan saatnya berkenalan, lebih tepatnya ia harus segera menuju ke kelas sebelum guru datang.
"Maaf kak, aku harus ke kelas sekarang." ucapnya bergegas pergi setelah membantu memungut buku-buku itu.
"Hati-hati," ucap Raka tersenyum melihat kepergiannya.
Sejak kejadian hari itu, Alia langsung mengagumi sosoknya. Kini di hadapannya sosok yang selalu dipujanya. Walau hanya beberapa kali berbicara dengannya namun tetap saja pesona Raka tak bisa mengalihkan siapapun termasuk Alfa.
Raka sering menjuarai pertandingan renang di tingkat Nasional. Ia juga termasuk murid terpandai dengan mendapatkan predikat A di semua mata pelajarannya.
"Kak Raka," pujinya dari jauh.
"Apanya yang keren ?" terdengar suara disebelahnya, dan saat ia menoleh ke samping.
"ALFA?" kejutnya tak menyadari keberadaan Alfa yang sejak tadi disampingnya.
"Gue juga bisa jadi dia, tapi dia nggak akan bisa jadi gue," gerutunya kesal menatap laki-laki itu.
"Sombong!"
"Ehh... Apanya yang hebat sih, jelas-jelas gue lebih ganteng dari dia." Alfa penuh percaya diri.
Alia menghembuskan napas kasar. Ia tak mau meladeni sikap Alfa yang justru akan berakhir dengan perdebatan panjang diantara keduanya. Ia memutuskan untuk pergi.
"Mau kemana?" cegah Alfa menarik tangan Alia yang beranjak pergi dari tempat itu.
"Pergi," Jawabnya pendek
"Ehh tunggu!" Alfa menarik tangannya hingga membuat Alia tertarik ke belakang menabrak tubuh Alfa.
Jantungnya berdegup kencang saat Alfa memandang ke arahnya, bahkan saat ini wajah keduanya sangat berdekatan.
"Alfa lepas," rontanya. Bukannya melepaskan, Alfa malah menarik pinggangnya lebih dekat.
"Alfa!" Alfa tersenyum licik lalu melirik sekilas ke arah Raka yang baru saja selesai berlatih sebelum ia kembali menatap wajah Alia yang ketakutan.
"Aku mau lihat, gimana reaksi Raka saat ngelihat kita, " desisnya dengan suara serak di telinga Alia.
"Dengan begitu, Raka nggak akan berani deketin kamu," ancamnya membuat Alia berusaha berontak.
"Alfa lepas! Lepasin Alfa!" kesal Alia mencoba melepaskan pelukan darinya.
"Kalau aku nggak mau?"
"Alfa ini di tempat umum," ingatnya.
"Aku nggak peduli."
Dan benar saja, Raka dari jauh tak sengaja melihat kearah keduanya. Awalnya ia tak terlalu memperdulikannya namun sikap laki-laki yang dilihatnya membuatnya geram.
"Alfa!" Alia meronta.
....
"ALFA!" teriak Raka yang berjalan kearahnya.
"Lepasin dia."
Alfa menggeram menoleh ke arah samping saat Raka berjalan mendekatinya. Sial…
Ia melepaskan pelukannya namun tangannya masih menggenggam tangan Alia.
"Lo menyakitinya," bela Raka sekarang di depan mereka.
Alfa mendengus kesal menatap jengah kearahnya.
"Apa urusan lo?" ketusnya.
"Gadis itu kesakitan, bukan begini memperlakukan seorang perempuan." kedua mata mereka saling bertemu.
"Jadi, mau lo apa?" tantang Alfa.
"Gue nggak mau berurusan sama siapapun di sini, gue hanya nggak suka sikap lo yang kasar sama perempuan," ujar Raka.
"Itu terserah gue, karna Alia itu PACAR gue."
"Bu-kan mmpt"Alfa membungkam mulutnya dengan yang tangan kanannya dan merangkul pundaknya posesif.
"Mmmpttt." Alia mendelik kesal kearahnya mencoba melepas tangan Alfa bahkan sampai menggigit tangannya hingga membuat Alfa meringis kesakitan.
"Pacar?"
"Oh... Sorry, gue nggak tahu kalau kalian pacaran. Tapi gue hanya ngasih saran buat memperlakukan pacar lo dengan baik."
"Empptt..." Alia berusaha memberitahunya namun bekapan tangan Alfa menahannya. Raka berbalik dan kembali ke belakang.
Setelah kepergian Raka. Alfa langsung melepas tangannya yang tadi digigit kuat oleh Alia, dan benar saja. Tangannya berdarah karena gigitan Alia.
"Arghhh..."
"RAKA!" Alfa langsung menarik tangannya dan membawanya pergi dari tempat itu.
....
Alfa menarik tangan Alia kasar dan membawanya pergi entah kemana. Ia tak peduli banyak pasang mata melihat keduanya, apalagi saat ini Alfa seakan menarik paksa untuk ikut bersamanya.
"Alfa, lepasin!"
Tangan itu terus membawanya pergi menuju ke ruang kesehatan lalu keduanya masuk kesana .dan menutup pintu
Blamm...
Alfa mendorong Alia masuk secara paksa kedalam. Alia benar-benar takut melihat kilatan kemarahan dari sorotan matanya yang siap untuk menerkam. Ia berjalan mundur kebelakang saat Alfa mendekatinya. "Alfa!" lirihnya.
Alfa berjalan melewatinya dan membuka lemari kecil untuk mengambil obat merah dan kassa.
"Obatin."
"Huh?"
"Kenapa bengong. Lihat, kamu gigit tangan aku, obatin." Alia memberikan obat merah dan kassa padanya.
Keduanya duduk di kursi dan saling berhadapan. Alia merasa bersalah telah membuat tangan Alfa berdarah karena ulah nya.
"Aku minta maaf."
"Dimaafkan."
"Kamu nggak marah?"
"Tergantung."
"Maksud kamu?"
"Tergantung kamu mau kencan dengan ku hari ini. Kalau mau aku maafkan. Kalau enggak ..."
"Kencan?" Alia menggigit bibir bawahnya. Ia bingung harus menjawab apa. Menolak Alfa justru akan membuat masalahnya bertambah. Menerimanya membuatmu merasa tak nyaman.
"T-tapi??"
Alfa menatap tajam kearahnya. Ini yang paling tak disukai Alia. Sorot mata Alfa selalu membuatnya tak bisa menolaknya.
"Ba-baik." ucapnya lirih.
Alfa tersenyum dan menarik tangannya yang sudah di obati Alia.
"Aku suka, kalau kamu nurut sweety pie." Alfa membelai rambut Alia dengan lembut dan menyingkirkan sedikit rambutnya ke belakang telinga.
"Sweety pie, " kejutnya. ia ingat julukan nya yang diberikan padanya saat masih kecil.
Seorang anak kecil bertumbuh gemuk dengan pipi chubby nya menangis di ayunan. Anak kecil itu tak lain adalah dirinya.
Lalu muncul seorang anak laki-laki mendekatinya memberinya satu cokelat padanya.
"Jangan menangis," ucap anak kecil yang tak lain adalah Alfa.
"Hiks...hiks... Tadi aku diledekin sama anak-anak kalau aku
gendut." tangisnya kembali.
"Anak-anak juga bilang, aku jelek, aku nggak pantas buat Alfa. Mereka semua mengejekku."
Alfa malah tertawa mendengar cerita Alia yang selalu membuatnya gemas.
Ia lalu berjongkok tepat di depan Alia yang menangis lalu menghapus air matanya.
"Siapa bilang kamu jelek. Kalau ada yang bilang kamu jelek dia harus berhadapan denganku." bela Alfa membuat Alia berhenti menangis.
"Benarkah?"
"Mama selalu membuatkanku kue pie yang rasanya sangat manis. Kamu seperti kue pie yang sangat manis. Sweety pie ku." ujar Alfa tersenyum kearahnya.
Alia tersenyum lalu kembali tertawa. "Ayo pulang!" ajaknya lalu mengandeng tangan Alia.
Kejadian itu selalu selalu membekas di ingatan Alia. Sosok Alfa waktu itu sangat berbeda dengan sekarang. Dulu, Alfa sangat ramah, dia juga sering mebuatnya tertawa dengan tingkahnya—tapi sekarang, sosoknya membuatnya takut dan menjengkelkan.
...
"Alia, Alia?" panggil Alfa menyadarkan Alia yang melamun.
"Huh?"
"Malah ngelamun."
"Alfa." Alia tersenyum malu-malu.
"Dasar chubby." ejek Alfa mencubit pipi Alia dengan gemas.
"Ihh sakit Alfa, jangan ditarik-tarik." kesal Alia. Alfa tertawa lepas dengan kedua tangan masih mencubit pipi Alia.
"Alfa!"
Tanpa disadari seorang laki-laki mengamati keduanya sejak tadi. Laki-laki itu baru saja berganti pakaian seragam setelah berlatih renang.
"Alia!" ucapnya menyunggingkan senyuman ke arahnya.