"KENCANN??" teriak Keira hampir tersedak saat meminum jus di depannya.
"Terus... Terus?" sambungnya penasaran dengan jawaban Alia.
"Ya mau gimana lagi? Lo tahu sendirikan Alfa itu susah kalau dibantah, apalagi kalau gue tolak, hufft..." kesalnya sambil menghembuskan napas panjangnya.
"Ternyata Alfa itu romantis ya ?" puji Keira membayangkan sikap Alfa yang selalu menjadi idola setiap perempuan.
"Kayaknya gue ketemu Alfanik lagi disini," ujar Alia.
"Alfanik?" Keira menyerngit heran.
"Iya, salah satu penggemar Alfa, gue juga nggak tahu kenapa banyak orang memberi nama itu, jijik bukan?" timpalnya.
"Nama yang keren," puji Keira.
"Memang keren," sambung Alfa yang tiba-tiba muncul di samping Alia dan langsung merampas jus miliknya.
"Alfa!" kejutnya.
"Tapi gue nggak suka nama itu." Alfa mencomot satu bakso di mangkok Alia tanpa merasa bersalah.
"Alfa itu punya aku," geram Alia marah. Ia kembali cemberut karena ulahnya.
"Punya kamu, punya aku juga. Kamu mengerti!" timpal Alfa tanpa merasa bersalah.
Alia mendengus kesal karena sikapnya yang selalu membuatnya jengkel. Keira yang berada di tengah- tengah keduanya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku kedua temannya.
Alfa bahkan langsung merebut mangkok bakso milik Alia dan memakannya habis. Alia hanya bisa mengelus d**a melihat kelakuannya yang selalu membuatnya kesal setengah mati.
Tanpa mereka sadari, seorang gadis memakai jas OSIS masuk ke dalam diikuti satu anggota OSIS yang lain. Kedatangan mereka sebagai anggota kedisiplinan OSIS membuat banyak anak-anak gelagapan dan langsung merapikan seragam masing-masing, dari yang membenarkan jasnya, dasi yang belum dipakai dan beberapa anak laki-laki merapikan rambut mereka agar terkesan rapi, kalau tidak. Habis sudah mahkota kepala mereka di potong secara paksa dengan gunting ajaib milik anggota OSIS.
Gadis itu celingukan mencari seseorang diantara para murid yang sedang makan di kantin. Dan tatapannya menemukan satu makluk spesial berjenis kelamin laki-laki yang selalu menjadi bahan uring-uringan saat anggota OSIS rapat.
"ALFAA!!"teriakan menggema memekakan telinga Alfa yang sedang enak-enaknya menyantap bakso milik Alia. Sontak saja satu butir bakso terlempar jauh entah kemana.
"Mampus gue"
"Nenek lampir datang." Alfa cepat-cepat menyembunyikan diri di punggung Alia.
"Nenek lampir?" keduanya saling bertanya bingung.
"Jangan bilang aku ada disini, oke"
Alfa mencoba bersembunyi di meja bawah mereka. Alia dan Keira bingung kenapa Alfa harus bersembunyi dari mereka. Bukankan mereka sama-sama anggota OSIS.
Yah, Alfa ikut menjabat sebagai anggota OSIS sejak duduk di kelas 2, atau bisa dibilang alasan ia ikut anggota OSIS hanya untuk melindungi Alia dari hukuman senior waktu MOS di sekolahnya. Karena ia adalah senior dan saat itu Alia baru saja masuk ke SMA kelas 1. Bisa dibayangkan betapa overprotektifnya Alfa saat itu, bahkan tak seorangpun dari anggota OSIS yang berani menghukum Alia kalau ada Alfa yang selalu melindunginya.
Kedua anggota OSIS itu langsung berjalan mendekati meja Alia. "Kalian lihat Alfa?" tanya perempuan yang tadi meneriaki namanya.
"Aaa...kami, kami..." ucap Alia gugup.
"Jangan mencoba menyembunyikan keberadaan Alfa, sekarang dia harus menghadiri rapat anggota." ujarnya masih menahan emosi.
"Tadi kak Alfa ..." Keira pun menjawabnya antara takut dengan anggota OSIS di depannya atau berusaha menyelamatkan Alfa dari mereka.
"Alfa! Jangan sembunyi, keluar Sekarang!" ucap laki-laki yang juga anggota OSIS bernama Dani dan perempuan di sebelahnya tadi bernama Nana.
Alfa mendengus kesal. Selalu saja Dani bisa menemukan keberadaannya bahkan di tempat tersembunyi sekalipun. dengan malas ia keluar dari bawah meja.
"Lo tuh punya indra keenam apa? cepet banget nemuin gue," gerutunya kesal. Dani hanya diam tak bersuara.
"Alfaaa..." geram Nana memandangnya marah. Seketika Alfa bersembunyi di belakang punggung Alia saat melihat aura hitam muncul di balik punggung Nana.
"Nenek lampir muncul, kalau bisa kalian sembunyi sebelum dia ngamuk sekarang" bisik Alfa pada Alia.
"Huh?" keduanya tak paham maksud dari perkataan Alfa.
"Alfa, mendingan lo ikut kita sebelum Nana benar-benar marah sekarang, " sahut Dani.
"Lo nggak lihat, sekarang dia udah marah," balas Alfa memandang ngeri.
"Ini semua gara-gara lo, sekali lagi gue lihat lo bolos rapat. Gue nggak akan maafin lo," bentak Nana penuh emosi.
"Rapat anggota akan dimulai sebentar lagi, mendingan lo ikut kita," ujar Dani.
"Oke oke...tapi waktu gue cuma sampai jam 3 setelah itu gue cabut." ujar Alfa seenaknya.
"Iya iya gue tahu."
Keduanya berhasil membawa Alfa bersama mereka. Alia dan Keira menatap bingung ke arah mereka. "Kak Alfa itu, selain keren dia juga pintar ya," puji Keira.
"Huh?"
"Lo bayangin aja, dia anggota basket, anggota OSIS juga, dan juga dia berada di kelas unggulan. Siapa sih yang bakal nolak cowok sempurna kaya dia." Keira terus saja mengagumi semua yang ada di diri Alfa.
"Gue, gue yang nolak dia. Oke" ketus Alia berjalan pergi.
***
Di tempat lain di sebuah panti asuhan, seorang laki-laki baru saja keluar dari mobilnya, raut wajahnya menunjukkan kerinduan yang besar akan tempat tinggalnya dulu. Tempat yang begitu nyaman dengan banyak tawa di sekitarnya. Laki laki itu tersenyum mengingatnya. Suara tawa itu sampai sekarang masih terdengar, banyak anak-anak berlarian bahkan beberapa ada yang bermain di taman yang memang dikhususkan untuk mereka.
"Hei, masih belum bisa melupakannya?" sahut seorang laki-laki lain di belakangannya, umur keduanya terbilang masih sangat muda sekitar 17 tahunan.
"Jazz, apa menurutmu gue kakak yang baik?" tanyanya tanpa menoleh ke belakang.
"Berhenti menyalahkan diri sendiri Alan, kecelakaan itu semua bukan kesalahan lo," jawab Jazz menasehatinya.
"Benarkah?" ragunya.
"Udah jam 3, waktunya kita kembali. Nenek pasti akan cemas menunggu kita," ujarnya kembali masuk ke dalam mobil. Sementara untuk Alan, perlu beberapa menit untuk melepas kepergian dari tempat yang penuh kenangan itu.
***
"Mau kemana kita?" tanya Alfa berjalan berdampingan dengan Alia sepulang sekolah.
"Terserah," jawabnya malas.
"Baiklah... Sudah diputuskan kita pergi Dufan," ucapnya tanpa pikir panjang.
"Dufan?"
"Tempat kencan pertama kita," timpalnya menyunggingkan senyuman.
"Kencan?"
"Ayooo Alia, sebelum tempatnya tutup." Alfa menarik tangannya dan keduanya berlari bersama.
Bersamaan sebuah mobil melewati keduanya, ternyata mobil itu tak lain adalah mobil Alan dan Jazz yang baru saja lewat. Sebuah desiran aneh muncul, Alan bisa merasakannya, seseorang yang selama ini ingin ditemuinya.
"Alan ada apa?"
"Alfa," kejutnya saat membuka pintu jendela mobil, Alfa yang baru saja melewatinya bersama seorang perempuan tengah berlarian.
....
"Alfa, kenapa kamu suka banget sih ke tempat ini?" tanya Alia di sela sela mereka berjalan sambil menikmati ice cream di tangan masing-masing.
Alfa mendelik kearahnya, sambil sesekali menjilat ice cream rasa vanilla kesukaannya.
"Karena apa ya? Mungkin karena kamu," jawabnya singkat tanpa basa basi.
"Aku serius Alfa," geramnya.
"Aku juga serius, tempat ini jauh lebih romantis daripada taman kota, makanya aku ajak kamu kesini." timpalnya.
Alia hanya nyengir melihat ekspresi yang diperlihatkan Alfa padanya. Kalau seperti ini, Alfa seperti anak kecil berumur 5 tahun yang sangat manja.
"Kamu nggak suka tempat ini?" tanyanya tiba tiba.
"Enggak... Aku suka kok," jawabnya terpaksa.
"Baguslah, kalau kamu suka aku juga suka," ujarnya.
Alia tersenyum saat melihat Alfa bahagia, entah kenapa Alfa selalu menjadi magnet yang kuat untuk merubah setiap pemikirannya, awalnya ia bosan saat harus menemaninya disini, ralat, kencan. Kata yang aneh menurutnya.
Ini kencan pertamaku dengan Alfa, batinnya .
"Alia," panggilnya.
Ia tersentak kaget saat Alfa menggandeng tangannya sementara tangan kanannya menunjuk salah satu wahana seperti sangkar burung atau bianglala.
"Kita naik itu," ajak nya menarik Alia tanpa meminta ini terlebih dahulu padanya.
"Tunggu, Alfa!"
Alfa mengantri untuk masuk ke sana. Tangannya menggenggam erat tangan Alia seakan tak ingin terlepas darinya. Dan inilah saat giliran keduanya memasuki sangkar burung itu atau orang menyebutnya bianglala. Keduanya duduk bersebelahan, perlahan wahana itu berjalan keatas. Keduanya dapat melihat pemandangan di bawahnya yang begitu indah.
"Wah pemandangan dari sini indah banget Alfa," ucap Alia kagum.
"Kan aku udah bilang, " jawabnya sambil menghabiskan ice cream yang masih tersisa.
"Yahh... Abis." gerutunya, ia melihat ice cream Alia yang masih utuh.
Slurpp...
"ALFA!" kesal Alia berteriak saat Alfa menjilat ice creamnya tanpa ijin.
"Ihhh... Ini punya aku,"
"Minta dikit doang,"
"Enak aja, ini punyaku. Kalau punya kamu abis yaudah bukan salahku." geramnya tanpa disadari ice cream itu ikut goyang saat wahana yang ditumpangi keduanya tiba-tiba berhenti tepat saat keduanya berada di atas.
"Alfa, kenapa ini?"
"Mungkin listriknya mati," jawabnya datar.
"Listrik mati? Trus kita gimana?" panik Alia sedikit takut.
"Yaudah tunggu aja bentar lagi."
"Ihhh Alfa, dalam situasi kaya gini kamu malah bersikap seolah nggak akan terjadi apa-apa."
"Emang nggak akan terjadi apa-apa."
"Alfa!" geramnya.
"Lagian ya, berdua sama kamu disini lebih menyenangkan kok," godanya sambil nyengir.
"Ini bukan waktunya untuk bercanda." Alia mulai panik.
"Kenapa kamu takut, kan ada aku disini."
Kriett...
"Suara apa tadi?" Alia semakin panik.
"Mungkin mesinnya ada yang rusak." sambungnya lagi.
"Rusak? Alfa jangan bikin aku takut dong, aku nggak mau mati disini." sahut Alia ketakutan.
Ia mendekatkan dirinya ke tubuh Alfa dan merangkul erat tangannya. "Alfa, aku takut." Alia membenamkan wajahnya diantara sela tangannya. Alfa sendiri hanya terkekeh geli melihat ekspresi lucu yang ditunjukkan Alia.
Kriettt... Krekk...
Wahana itu kembali berjalan normal dan kembali berputar. Saat dirasa semua kembali aman, Alia langsung nelepaskan tangannya dan menjauh darinya.
"Aku tadi cuma takut,"
"Iya aku tahu kok,"
"Jadi aku terpaksa meluk kamu, kamu jangan Geer dulu."
"Iya, aku tahu."
Alfa menghela napas panjang sambil bergumam.
"Coba saja tadi mesinnya benar-benar rusak, jadi bisa dipeluk sama kamu terus." gumamnya berharap.
"Kamu mau mati, kalau mau mati jangan ajak-ajak, aku masih pengen ketemu sama kak Raka," ketusnya.
"Raka!?"
Uppss...
Tadi gue keceplosan ngomong soal Raka, pasti Alfa bakal marah sekarang, batinnya.
"Bukan gitu Alfa, maksud aku..."
"Cowok itu lagi, "
"Bahkan disaat kita sedang bersama kamu ngomongin dia." Alfa menampilkan raut wajah kecewa.
"Maaf," Alia merasa bersalah.
.....
Malam itu, Alia tengkurap di kasur kamar tidurnya sambil memikirkan kejadian tadi, sejak keduanya keluar dari wahana bianglala itu. Alfa dan Alia memutuskan untuk langsung pulang, bahkan saat di jalan, Alfa tak berbicara sedikitpun kadang, raut wajahnya datar menyimpan sebuah kekecewaan besar.
Apa karna dirinya yang tak sengaja membicarakan Raka saat keduanya sedang bersama. Ia menyalahkan kebodohannya.
"ALIA, MAKAN MALAM SUDAH SIAP" teriak mamanya dari bawah.
"Iya maahh. Nanti Alia turun bentar lagi,"
***
Seorang laki-laki berdiri sambil menatap jendela kaca di salah satu Apartemen pribadinya, sorot wajahnya tegas dengan kedua mata kelamnya terkesan sedang menyimpan kesedihan yang mendalam.
"Lo disini rupanya, hei Alan!" Jazz berjalan mendekatinya.
"Produser rekaman udah nungguin lo dari tadi, dan nanti malam kita ada acara di salah satu stasion Televisi ," ujar Jazz panjang lebar. Ia lebih seperti manajernya yang mengatur setiap jadwal yang dilakukan Alan.
Alan berjalan kearahnya namun tak ada satu katapun keluar dari bibir laki-laki itu. "Hei, mau kemana?"
"Gue mau pergi, tolong batalkan semua kegiatan hari ini," ucap Alan seraya keluar dari ruangan itu.
"Batalin, lo nggak bercandakan, semua udah nungguin lo. Gue bisa kena marah sama produser, Alan..." teriakan Jazz bahkan tak dihiraukannya, ia memilih pergi dari tempat itu, segera.
Jazz mengacak-acak rambutnya kesal, terkadang sikap Alan selalu membuatnya susah.
"Gue harus bicara apa sama produser sekarang?" geramnya.
....
Tok...tok...
Alia yang tengah tiduran sambil membaca buku, terdengar suara ketokan dari jendela luar. Ia langsung bangun memastikan siapa yang malam-malam ke balkon atas kamarnya.
"Jangan-jangan pencuri," dengan sigap diambilnya tongkat basbol miliknya dan berjalan menuju ke luar jendela kamarnya. Disibakkan sedikit gordin jendela untuk melihat siapa yang datang malam-malam.
"Pencuri" kejutnya saat melihat sosok laki-laki berjaket hitam memakai hoodie di kepalanya.
"Atau mungkin dia orang jahat, aduh gimana dong!" paniknya.
ia menelan ludahnya sendiri bercampur takut sambil berjalan menuju ke arah pintu luar, tangan kanannya memegang tongkat basbol. Dalam satu hitungan cepat, ia langsung membuka pintu itu dan mengarahkan tongkat mengenai tepat di kepala orang itu cukup keras.
DUG
Brukkk...
Alia berhasil memukulnya, hingga laki-laki itu tersungkur jatuh ke lantai. Saat ia menyadari sesuatu. Ia terkejut mengetahui siapa laki-laki yang baru saja dipukulnya.
"ALFA!",