Chapter 18 : Perubahan

1217 Words
“Woi Alfa, tangkap!” seru salah  satu anak basket memberi operan padanya saat berlatih. Alfa dengan sigap menangkap bola itu dan langsung dengan gerakan cepat memasukkan bola ke ring dan masuk. “Yeaahhhh, Alfa keren!” Keira berteriak histeris saat melihat latihan basket di lapangan bersama Alia. Alia mengembuskan nafas karena bosan, kenapa ia mau menemani Keira melihat pertandingan basket Alfa, padahal Keira juga tahu kalau ia dan Alfa sedang ada masalah. “Alfa keren kan?!” Keira seakan menggodanya. Alia tak tertarik, ia lebih memilih memalingkan wajahnya karena kesal. “Jangan pasang muak jutek gitu dong Al, lo harus ceria!” Alia tak peduli, “sebenanya lo ngajak ke sini tuh sebenarnya mau apa sih Kei. Udah tahu gue lagi sama Alfa!” “Jangan terlalu marah sama dia!” Dari tengah lapangan, Alfa tersenyum melihat Alia ada di sana. “Udah ah Kei, gue mau ke kelas!” Alia yang terlanjur bosan memilih pergi. “Alia…Alia!” rencana gagal, Keira tak bisa membuat Alia dan Alfa baikan. Ia mengejar Alia yang meninggalkannya. “Alia, tungguin!” Di tempat yang sama juga, Alan menatap dari kejauhan latihan Alfa dari kursi penonton. Ia sangat takjub dengan perkembangan Alfa saat bermain basket. “Kak Alan, aku capek!” Alfa terlihat ngos-ngosan saat mereka bermain basket di belakang panti bersama anak-anak lain. “Alfa!” Alan menghampirinya. “d**a aku sesak Kak, aku nggak kuat lagi.” “Kita ke dalam, biar bunda Riana manggil dokter ke sini.” Alan membawa Alfa ke dalam rumah, mereka berhenti bermain basket. …. “Anak ini memiliki penyakit asma, dia tidak bisa terlalu kelelahan atau melakukan sesuatu yang berat,” kata dokter pada bunda Riana. Alan yang berada di balik pintu mendengar semuanya. “Alfa!” … Kamu nggak bisa main basket lagi Alfa.” “Kenapa? Aku suka basket.” “Percuma, kamu nggak akan bisa.” “Aku bisa, aku pasti bisa.” “Jangan membantah Alfa, kamu terlalu lemah untuk bermain permainan ini.” “Tapi aku menyukai basket.” “Oi Alfa!” salah satu teman melempar botol air mineral ke arahnya setelah latihan selesai. “Hari ini permainan lo keren,” puji salah satu teman satu timnya. “Thanks!” Alfa tersenyum puas. Alfa mendongak ke atas, ia melihat Alan dari arah penonton. Ia tersenyum sinis. “Lo lihat, gue bisa main basket sekarang!” “Ini aneh, Alfa seharusnya nggak bisa main basket, dia terlalu lemah untuk itu!”  Alan menatap bingung. Alfa menderita penyakit asma sejak kecil, ia juga tak bisa melakukan pekerjaan berat dan bahkan untuk sekedar bermain basket saja. Alfa sering mengeluh pada Alan kalau dia ingin bermain basket, tapi larangan Alan justru membuat Alfa semakin kesal. Kantin sekolah “Yah Alia, tadikan lagi seru-serunya liat Alfa main basket, kamu sih main pergi aja!” keluh Keira “Siapa yang nyuruh lo nyusul gue, kalau mau lihat Alfa, ya udah liat aja sana!” “Ini nih kalau udah bête, temen sendiri jadi pelampiasan. Sebenarnya apa sih masalah kalian berdua?” Alia mendengus, “Dia menyebalkan!” “Dia menyebalkan…dia menyebalkan, itu kalimat yang sering lo bilang soal Alfa.” “Memang dia itu menyebalkan Kei.” Alia semakin emosi. Alia menyeruput jus mangga dengan wajah ditekuk—kesal. Namun ketika ia melihat Raka dan beberapa temannya masuk ke kantin, wajah kesal Alia menjadi bungah. Ia tersenyum. “Itu Kak Raka!” “Mana?” Keira menoleh ke tempat yang dimaksud Alia, tapi sepertinya Keira tak memiliki ketertarikan sedikitpun soal Raka. “Oh!” “Soal Kak Raka aja lo seneng banget!” “Kak Raka seribu kali lebih baik dari Alfa, dan dia nggak pemaksa!” Keira mendengus, “Iya…iya!” Tak disangka, Raka juga melihatnya, ia lantas berjalan mendekati meja Alia. “Kak Raka ke sini!” Alia tampak canggung. “Hai Al!” sapa Raka mendekati Alia sembari membawa makanannya. “Aku boleh nggak duduk di sini?” pintanya. Alia mengangguk mengiyakan, “tentu Kak!” Raka pun duduk di depan meja Alia dan Keira. “Lho, kamu nggak makan? Cuma minum doang?” Raka melihat tak ada piring di depan Alia. “Oh, aku udah kenyang Kak, jadi aku cuma nemenin Keira makan aja!” Keira mendengus, bukannya tadi yang membawa dirinya kesini itu Alia. Keira seperti obat nyamuk diantara Alia dan Raka, pasalnya sejak tadi mereka mengobrol dengan nyamannya bahkan tak memedulikan dirinya yang ada di tengah mereka. Keira kembali mendengus kesal. Sruuuut, Keira menghabiskan minumnnya. “Oh ya Al, hubungan kamu sama Alfa baik-baik ajakan?” tiba-tiba Raka menyebut nama ‘Alfa’ di tengah mereka mengobrol. Wajah Alia tertegun, ia menoleh pada Keira yang jelas tak tahu menahu tentang masalah mereka, ia hanya mengedikkan bahu sembari menyeruput minuman di mejanya. “Aku nggak mau gara-gara aku, hubungan kalian jadi rusak.” Alia mencoba tersenyum, “kami baik, Kak Raka nggak usah khawatir. Lagipula, aku sama Alfa nggak ada hubungan apa-apa kok. Kami cuma temenan.“ Raka menautkan satu alisnya, “teman?” seakan tak percaya dengan hubungan keduanya kalau sebatas ‘teman’ kenapa mereka pernah berciuman. “I-iya teman. Iyakan Kei?” Alia menyenggol bahu Keira untuk memihaknya kali ini di depan Raka. “I-iya, ya begitulah Kak.” Keira terpaksa menurut. Raka manggut-manggut percaya. Namun di balik itu semua, Alia seperti tak percaya dengan apa yang barusaja ia sebut, Teman, dirinya dan Alfa? Benarkah begitu hubungan mereka? Dan dibalik keraguan Alia yang menyebut kata ‘teman’ untuk Raka. Dari balik dinding yang bedekatan dengan kantin, Alfa berdiri di sana. Sejak tadi ia mengamati keduanya. Bahkan menguping isi pembicaraan mereka, dan ketika Alia mengatakan kata ‘teman’ entah kenapa ia malah tersenyum lalu murung. “Teman ya?”  *** Gerimis cukup deras saat waktu pulang sekolah, terpaksa murid-murid SMA Serin harus menunggu reda karena tak membawa payung. Beberapa anak lain memilih menerobos hujan. Alia—gadis itu berdiri dengan wajah bête, ia merutuki dirinya tak membawa payung. “Gimana pulangnya?” keluh Alia. 15 menit menunggu, hujan tak kunjung reda. Ia pun sudah ditinggal Keira jadi terpaksa ia harus menunggu hujan seorang diri. Sesekali ia mengecek ponsel miliknya, mungkin ada pesan masuk di sana. Kosong, tak ada chat masuk. “Tumben?” “Alfa nggak ngechat ya? Itu anak kemana?” “Biasanya kalau hujan kaya gini, Alfa selalu datang lebih dulu. Apa dia ada rapat OSIS?” Pandangan Alia beralih pada Nana dan Dani yang baru keluar dengan masih mengenakan jas OSISnya, sepertinya benar, kalau sedang ada rapat OSIS tadi. “Wah hujan dan, gimana kita pulang?” “Gue cuma bawa payung satu doang. Sialan tuh Alfa, nggak ikut rapat malah kabur duluan,” geram Dani “Awas aja besok kalau ketemu.” Nana ta kalah sebal dengan salah satu temannya itu. Alia tak sengaja menguping pembicaraan Dani dan Nana, teman satu kelasnya. Ketika ia mendengar Alfa sudah pulang dari tadi membuat Alia tak percaya, kenapa cowok itu nggak menghubunginya? Alia kembali mengecek ponselnya, tak ada pesan masuk atau telepon dari Alfa. “Alia!” panggil seseorang dari belakang, Alia tersenyum, pasti itu Alfa yang memanggilnya. Namun saat gadis itu menoleh ke belakang, bukan Alfa yang dimaksud melainkan Raka. Wajah Alia yang tadi senang menjadi murung. “Kak Raka!” Raka menghampirinya, ia juga membawa payung di tangannya. “Kamu masih belum pulang?” tanyanya. Alia menggelengkan kepala, gadis terlihat murung. “Aku bawa dua payung, nih kamu pakai!” Alia tersenyum, “Makasih Kak!” “Kamu pulang naik apa?” tanya Raka. “Aku naik motor sama Al—“ suara Alia tersendat saat akan mengucapkan nama ‘Alfa’ di depan Raka. “Aku naik bus!” “Biasanya kamu sama Alfa ya? Apa dia belum datang?” “Mungkin dia udah pulang duluan.” “Mau pulang bareng sama aku?” tawar Raka. “Boleh, yuk!” Raka dan Alia pun merentangkan payung masing-masing, mereka menerobos hujan dengan payung itu. Raka lebih dulu berlari meninggalkan Alia yang masih tertinggal di belakang. Baru beberapa langkah saat Alia berlari, langkahnya tiba-tiba berhenti menlihat sebuah motor yang taka sing baru saja lewat dari arah depan. Motor ninja yang selalu ia tumpangi. Motor Alfa. “Alfa!” Motor itu memang milik Alfa, ia baru saja pergi membawa motornya, yang membuat Alia tersentak kaget. Alfa—laki-laki itu, tengah membonceng seorang perempuan di motornya. “Alfa!” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD