Chapter 17 : Medali

1142 Words
Alfa mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya saat ia berdiri di balkon atas sekolah. Sebuah medali yang tadi sempat dibuangnya. Rupanya laki-laki itu mengambilnya kembali. Ia kembali membayangkan saat Alia tersenyum bahagia di depan Raka. Saat laki-laki itu memberikan medali untuknya. Kenapa harus Raka, selalu Raka yang bisa membuat Alia tersenyum, kenapa harus dia? Alfa merutuki ketidakadilan ini. Bagaimanapun Alfa sudah bersama Alia lebih dulu sebelum Raka bukan, lalu kenapa gadis itu tak pernah sekalipun melihat ke arahnya. Pertanyaan demi pertanyaan terus menghantui pikirannya. Arghhh, Alfa meremas medali itu. Medali kemenangan dari Raka. *** “Kak Raka!” Alia pun berdiri saat laki-laki memayunginya. “Apa yang sedang kamu cari?” tanyanya “A-aku.. aku mencari…” “Udah nggak perlu dicari, nanti kamu sakit, ini hujan.” Alia menatap Raka, laki-laki itu bahkan tak marah padanya. Raka—laki-laki itu tersenyum padanya, seolah tak terjadi apa-apa, padahal sangat jelas tadi ia melihat Raka melihatnya saat berciuman dengan Alfa siang tadi. “Kak Raka!” “Aku antar kamu pulang!” Alia menurut saat Raka merangkul pundaknya dan membawanya pergi. Sementara Alfa yang dari atas balkon menatap kesal ke arah mereka. *** “Alfa pulang!” Alfa masuk ke rumah dengan kondisi tubuhnya yang basah kuyup, laki-laki itu kehujanan—lebih tepatnya ia memang membiarkan tubuhnya diguyur hujan tadi. “Dari mana saja kamu!” baritone keras dari arah belakang sontak mengejutkan Alfa yang baru sampai di rumah. Ia berbalik dan menemukan ayahnya telah pulang. “Papa!” kejutnya. Plak, satu tamparan kembali diterimanya padahal tamparan Alia tadi masih membekas sekarang ia kembali mendapatkan tamparan cukup keras dari ayahnya. “Cukup, apa yang kamu lakukan dengan Alfa!” Mira—ibunya datang dan langsung melindungi Alfa dari suaminya. “Katakan sama anak kamu itu, ini sudah jam berapa baru pulang, hujan-hujanan lagi, apa kamu tidak pernah mendidik anak ini dengan benar?” teriakan ayahnya membuat Alfa hanya bisa diam—dalam hati ia marah dengan perlakuan ayahnya. Memang, selama ini Alfa jarang melihat ayahnya di rumah. Joni—ayahnya lebih sering menghabiskan waktunya di luar untuk kerjaan yang bahkan tak pernah diketahui Alfa ataupun Mira—istrinya. “Sudah cukup, Alfa baru saja pulang, jangan memarahinya!” bela Mira. “Makanya didik anakmu dengan benar, jangan seenaknya saja!” Joni yang masih marah memilih pergi.    “Alfa, kamu nggak papa sayang? Kenapa kamu bisa basah kuyup gini?”  Mira terlihat khawatir. “Alfa kehujanan Ma!” “Sekarang kamu cepat ganti pakaian kamu, Mama nggak mau kamu sakit.” “Iya Ma!” “Jangan diambil hati sikap Papa kamu, dia baru saja pulang, mungkin dia kelelahn.” Alfa mengangguk, ia tak terlalu mempedulikan ayahnya, baginya baik laki-laki yang disebut ‘papa’ itu pulang atau tidak, bukan urusannya. Sudah cukup lama hubungan ayah-anak mereka renggang. Sejak kecil, apapun yang dilakukan Alfa tak pernah dinilai baik oleh Joni. Semua yang dilakukan Alfa hanya sia-sia. Joni selalu memarahi, bahkan memaki anaknya sendiri ketika ia marah. Kalau bukan karena Mira, mungkin Alfa bisa saja kabur dari rumah melihat tingkah laku ayahnya yang menyebalkan. “Alfa, Mama buatkan s**u hangat buat kamu!” Mira masuk ke kamar Alfa dengan membawa nampan berisi s**u putih hangat dan roti selai. Alfa baru saja selesai mandi dan telah berganti pakaian, ia menoleh pada ibunya yang datang membawa makanan untuknya. “Mama!” “Kamu jangan lupa minum susunya, lalu istirahat ya, Mama nggak ingin kamu sakit lagi.” “Iya, Ma!” Mamanya tersenyum. Kini ia berhadapan dengan anaknya, dibelai dengan lembut pipi Alfa penuh kasih, “Apa hari ini sekolah kamu lancar?” Alfa mengangguk.  “Bagaimana dengan Alia, apa hubungan kalian baik-baik saja?” “Kami baik,” ucap Alfa terpaksa bohong. Sebenarnya hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. “Baguslah kalau begitu, kamu selalu harus bersikap baik sama Alia, Mama hanya bisa dukung kalian.” “Mira!” teriak Joni dari luar. Mira menoleh. “Cepat kemari, di mana kopiku?!” “Papa kamu manggil, mama keluar dulu ya Alfa!” “Miraa, cepat!” “Iya sebentar, apa kamu nggak bisa bersabar dulu!” Mira ikut kesal ketika ia keluar dari kamar Alfa. Alfa hanya bisa mendengar samar-samar suara kedua orang tuanya yang sedang berseteru. “Jangan lupa minum susunya, lalu istirahat ya. Mama nggak mau kamu sakit lagi.” Alfa menatap nampan yang tadi diletakkan mamanya di meja. Ada segelas s**u putih hangat dan roti selai. Ia mengambil gelas s**u dan meminumnya. Manis dan hangat, mamanya memang sangat pintar membuat minuman seenak ini. Malam itu, Alfa merebahkan diri di ranjang sembari menatap lekat langit-langit kamarnya yang bernuansa putih. Sesekali bayangannya teringat kejadian tak mengenakan saat di sekolah tadi. Siapa lagi kalau bukan tentang Alia. Huft, Alfa menghela nafas panjang. Kenapa tadi ia bersikap sekasar itu sama Alia, padahal ia sudah berjanji untuk tak membuat Alia menangis lagi. Alfa kembali mengambil medali milik Raka yang sudah ia buang sebelumnya. Gara-gara medali ini, semua kacau. *** Di tempat lain, Alan berdiri di depan jendela apartemennya sambil menatap suasana kota bertabur cahaya lampu. Tatapannya sendu mengisyaratkan kepedihan. “Alan!” panggil Jazz yang masuk ke dalam begitu saja. “Lo di sini rupanya, tadi produser nyariin, lo malah ngilang aja pas pemotretan.”  Jazz tampak kesal. “Aku nggak suka difoto dengan pose seerotis itu Jazz, apalagi aktris perempuan. Lo tahu kan gue pernah kena skandal dengannya.” Jazz tertawa, “Oh, Karin. Apa jangan-jangan lo masih belum bisa melupakannya,” goda Jazz “Gue nggak ada hubungan dengannya Jazz!” “Iya, gue tahu. Tapi Lan, coba lo pikir lagi. Karin itu cantik, pinter, aktris papan atas, dan popular, dan satu lagi, dia suka sama lo!” “Gue nggak suka dia!” jawaban telak Alan membuat Jazz mendengus. Memang laki-laki seperti Alan tak mudah untuk menyukai seseorang. “Lo itu ya, dikasih cewek cantik, pinter tapi malah lo sia-siain gitu aja. Memang tipe cewek yang lo suka itu kaya gimana?” “Tipe cewek?” “Gue bisa cariin yang bahkan lebih cantik dari Karin kalau lo mau.” “Lo kaya makelar!” “Gue serius Lan, dari jaman gue kenal sama lo, jadi manager lo, nggak ada satupun kalimat keluar dari mulut lo kalau lo suka sama cewek.” “Gue males ngurusin sesuatu yang nggak berguna.” “Dasar keras kepala.” …. Alan merebahkan diri di ranjang, ia teringat kata-kata Jazz soal perempuan. Ah, kenapa sesulit ini. Untuk apa ia harus memikirkan sesuatu yang menurutnya tak penting. Tipe cewek? Hahaha, Alan tertawa. “Tipe cewek yang gue suka?” “Berapa semuanya?” “100 ribu!” “Apa, mahal sekali. Ini cuma beberapa tangkai bunga mawar. Anda mau menipu saya?” “Eh Nona, ini sudah murah. Kualitas bunga disini sangat baik.” “Semua bunga sama saja, apa bedanya!” “Kualitas di sini itu premium.” “Nggak bisa, 100 ribu itu kemahalan. Aku minta potonga harga.” “Nona, ini sudah sangat murah.” “Aku nggak peduli, beri potongan harga!” Alan tersenyum mengingat kejadian kemarin. Saat itu, karena tak ada jadwal rekaman dan pemotretan, Alan memilih untuk jalan-jalan sendirian ke salah satu pasar. Agar tak dikenal orang, ia terpaksa menyamar dengan memakai kacamata dan topi hitamnya. Ia juga berdandan selayaknya orang biasa. Dan ketika berjalan, ia berhenti di salah satu toko bunga, saat ia memilih bunga, ia mendengar perdebatan pelanggan dan penjual di sana. Seorang gadis dengan penampilan sederhana tengah memarahi penjual bunga hanya karena harga yang terlalu mahal. Lucu sekali tingkah gadis itu. Tunggu, Alan tersadar sesuatu. Untuk apa ia memikirkans seorang gadis sekarang, dan kenapa tiba-tiba wajah gadis pembeli bunga itu muncul dipikirannnya. Ini aneh. “Arghhh, aku mikir apaan sih!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD