Alia tampak begitu senang sambil sesekali melihat medali yang baru saja diberikan Raka untuknya. Untukny—yah, medali ini untuknya. Alia tak habis pikir, bagaimana bisa Raka memberikan medali kemenangan ini padanya—sulit dipercaya.
“Apa besok kamu ada waktu?”
“Aku ingin mengajakmu makan, bagaimana?”
Alia tak salah dengar dengan ucapan Raka barusan. Seorang Raka mengajaknya kencan—bukan, Alia menepis harapannya.
“Makan siang Alia, bukan kencan, ingat itu!”
Ehem, saat melewati koridor menuju kelasnya, langkah Alia terhenti mendengar suara deheman dari seseorang. Alia menoleh ke belakang—tak ada siapapun di sana. Namun ketika ia kembali berbalik, Alia terkejut melihat Alfa sudah ada di depannya. “Alfa!”
“Kamu ngagetin tahu!”
Sorot mata Alfa tak seperti biasa, ia mulai memincingkan mata menatap Alfa curiga. Alia menelan ludah payah saat laki-laki di depannya menatapnya intens.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu?”
“Habis dari mana?”
“Melihat pertandingan Kak Raka!” jawab Alia polos.
“Oh.” Bisa dilihat, saat menyebutkan nama’Raka’, Alfa tak suka.
“Apa itu yang dibelakang?” tanya Alfa.
“Nggak ada apa-apa!” Alia berusaha menyembunyikan dari Alfa.
“Aku mau lihat!”
“Aku nggak bawa apa-apa Alfa!” Alia berhasil menyembunyikan medali itu di balik jaket yang dipakainya. Ia lalu memperlihatkan tangan kosong di hadapan Alfa. “Lihat, aku nggak bawa apa-apa!”
Alfa tak percaya, ia mulai menggerayangi tubuh Alia untuk menemukan benda itu.
“Alfa, apa yang kamu lakukan!” Alia berteriak tak suka.
Tak peduli, Alfa tiba-tiba mendorongnya ke tembok, menempelkan kedua tangan mengurung Alia. Gadis itu tak bisa berkutik. Kedua iris cokelat mereka saling bertemu.
“Alfa!” Alia berteriak kesal di depannya.
“Berikan medali itu!”
“Medali apa?”
“Yang diberikan Raka tadi.” Rupanya Alfa sudah tahu semuanya.
“A-aku nggak bawa.”
“Jangan bohong!” Alfa mulai marah
“Kamu kenapa sih? Memangnya kenapa kalau Kak Raka ngasih aku medalinya, itu bukan urusanmu.”
“Apa kamu bilang?” Alfa tersulut.
“Iya memang, Kak Raka memberiku medali atas kemenangannya tadi. Dan itu bukan urusan kamu.”
Alfa mendengus, berani-beraninya Alia menentangnya. Amarah Alfa tak terbendung, ia merampas paksa medali itu dengan kembali menggerayangi tubuh Alia, dan ya—medali itu berhasil ditemukan dari balik jaket yang dipakainya.
“Medali ini kan?”
“Alfa, kembalikan!”
“Enggak!”
Alia berusaha meraih medali itu dari tangan Alfa, namun laki-laki itu justru menggodanya untuk terus meninggikan tangannya agar Alia tak berhasil meraih medali itu.
“Alfa, kembalikan!
“Apa jadinya kalau medali ini hilang!” Alfa langsung melempar medali itu jauh ke taman belakang. Alia berteriak kesal dengan ulah Alfa yang keterlaluan.
“Alfa!”
Bukannya merasa bersalah, Alfa justru tertawa senang. Ia melihat raut Alia berubah kesal, bahkan matanya terlihat menahan air mata. Alfa tak peduli, ia lebih tak suka saat Alia bahagia karena laki-laki lain.
“Kamu menyebalkan!”
…
“Ka, gue duluan ya!” dari kejauhan Raka dan teman-temannya yang telah selesai perlombaan kembali. Alfa tersenyum sinis melihat Raka akan berjalan ke arahnya.
“Coba kita lihat apa yang akan Raka lakukan sekarang!” Alfa mendorong tubuh Alia ke tembok, gadis itu merintih sakit dengan perlakuan Alfa yang kasar.
“Alfa sakit!”
“Lebih sakit mana, perasaan aku apa perasaan Alfa?”
“Apa yang mau kamu lakukan?”
“Mengingatkanmu sesuatu Alia, milik siapa kamu.”
Alfa langsung mengecup bibir Alia kasar, tak ada kelembutan sedikitpun bahkan ketika gadis itu meronta mendorong d**a bidang Alfa untuk menjauh, namun tak kuasa, kekuatan Alfa tak sebanding dengan tubuhnya yang mungil. Alfa terus melumat kasar bibir gadis yang telah menjadi candunya itu sesekali menggigit bibir bawah Alia untuk membawa lidah mereka saling bergulat.
Alfa semakin memperkuat ciuman itu dengan menarik tengkuk gadis itu semakin dekat, semakin Alia memberontak, semakin pula Alfa mengencangkan pelukannya.
Alfa tersenyum puas, rencananya berhasil. Raka melihat mereka—melihat mereka saat berciuman. Alfa tak kunjung melepas ciuman itu, tanpa sadar Alia terlena dan pasrah dengan perlakuan Alfa. Kedua tangannya melemah.
“Emmppt..cu..kupp!”
Alfa melepas ciuman mereka saat dirasa Alia terengah-engah membutuhkan udara untuk bernafas. Alfa tersenyum puas.
“Sekarang kamu sadar milik siapa?” Alia menoleh ke samping, ia terkejut mendapati Raka berdiri di sana—melihatnya.
“Kak Raka!”
….
Plak, satu tamparan mengenai pipi Alfa keras. Alia menatap jijik dengan apa yang baru saja dilakukan Alfa sungguh keterlaluan.
Alfa merasakan pipinya panas dengan tamparan itu. Sangat sakit memang, tangan kecil Alia berhasil membuat Alfa merintih. Tapi dibalik itu semua, ia justru tersenyum puas. Tak peduli seberapa marah Alia padanya, yang jelas, ketika Raka melihat mereka ciuman tadi, Raka akan berubah pikiran untuk mendekati gadisnya—iya gadisnya. Alia adalah miliknya. Camkan itu Raka!
Alia berlari menjauh, ia langsung masuk ke toilet perempuan. Tubuh gadis itu merosot disertai tangisan. Tak percaya dengan apa yang dilakukannya di depan Raka. Ia memandang jijik dirinya di balik toilet.
“Aku benci kamu Alfa!”
Alfa menatap sinis pada Raka setelah apa yang dilakukan pada Alia. Lalu berjalan menjauh. Sementara Raka—tubuh laki-laki itu mematung tak percaya. Benarkah apa yang dilihatnya tadi nyata. Alfa dan Alia berciuman?
***
Sore itu, Alia tak langsung pulang. Ia kembali ke belakang sekolah, tepatnya di taman. Ia harus mencari medali milik Raka yang dibuang Alfa di sana. Ia harus menemukan medali itu.
“Di mana ya!” Alia terus menelusuri setiap semak-semak mencari beda itu, namun hasilnya nihil.
Alia hampir frustasi, sudah hampir sore dan ketika ia melihat ke langit. Rupanya awan mendung, pasti sebentar lagi akan hujan. Alia harus segera menemukan medali itu sebelum hujan.
Tes…tes...tes…
Alia menengadah tangannya, tetesan hujan mulai turun namun ia belum juga menemukan medali itu. Tak peduli dengan hujan, Alia terus mencari benda itu secepatnya.
Tetesan hujan semakin deras, Alia terus mencari di semak-semak dan beberapa tempat di sekitarnya.
“Di mana sih?”
Di saaat keputusasaan mencari medali, seseorang memayunginya dari belakang. “Apa yang sedang kamu cari?” suara itu tampak tak asing baginya. Ia menoleh ke arah samping dan mendapati Raka—tengah berdiri memayunginya.
“Kak Raka!”