Chapter 14 : Kisah Vega dan Altair

640 Words
Keputusan untuk kabur dan melihat hujan meteor menjadi keputusan terburuk sekaligus sebuah tantangan yang kini dialami Alia. Pasalnya, ia malah mengiyakan ajakan Alfa untuk melihatnya sama-sama. Mereka kabur, melewati jendela tempat Alfa tadi masuk, turun melalui pepohonan sebagai tumpuan. Alia—gadis itu tak sehebat Alfa saat memanjat. Saat Alfa sudah turun ke bawah, gadis itu masih nangkring di atas pohon—takut. “Ayo Alia!” Alia bahkan tak berani menatap ke bawah, terlalu tinggi, kedua kakinya gemetaran. “Alfa!” “Jangan takut, aku di bawah, kalau jatuh aku akan menangkapmu!” Alia memberanikan diri, turun secara perlahan, dan yak.. Saat kaki Alia terpeleset jatuh ke bawah, Alfa dengan sigap menangkap tubuh mungilnya. Alia selamat. Selanjutnya mereka pun keluar dari rumah. Di depan motor Alfa sudah dipersiapkan, Alfa memberikan helm pada Alia untuk dipakainya. “Pegangan yang erat, oke!” Alia naik ke atas motor Alfa, melihat kondisi Alfa yang sepertinya baik-baik saja membuat Alia tenang. “Apa kondisi tubuhmu sudah membaik?” tanya Alia cemas. “Tenang saja, aku ini orangnya kuat!”   Motor Alfa melaju dengan kecepatan tinggi, melewati jalan kota malam hari, Alia seperti menikmati pemandangan indah di malam hari. Ia sudah lama tak merasakan angin malam berhembus. “Aku mau ajak kamu jalan-jalan dulu, sebelum melihat bintang!” kata Alfa. Alia menurut, ia mengeratkan pelukan di pinggang Alfa—nikmat. … “Alfa, kalau ketahuan mama gimana?” Alia waswas. “Nggak akan, ini sudah malam kan? Aku janji akan bawa kamu pulang tepat waktu.” Alia percaya saja omongannya. Tapi memang sih selama ini Alfa selalu menepati janjinya. Di balik sikapnya yang menyebalkan dan pemaksa, Alfa tak lebih dari laki-laki yang hangat, kalau sudah mengenal lebih dekat. Can you smile, you want this, you hope for this I can’t seem to have you with only my heart I said to go, I said I’m okay It seems like I can give nothing but this to you at the end *** “Eta aquarid adalah nama salah satu bintang di rasi Aquarius. Biasanya puncaknya tengah malam hari nanti,” kata Alfa menjelaskan. “Jadi hari ini kita nggak bisa melihatnya?” “Siapa bilang, kita masih bisa melihatnya!” Alfa menarik Alia ke sebuah bukit—tempat Alia dan Alfa dulu bermain. Bukit bintang, itulah tempat yang kini didatangi Alia dan Alfa. “Lihat!” Alfa menunjukkan tangan ke atas tepat ke salah satu benda langit yang bergerak seperti cahaya. Malam ini, deretan bintang bertaburan di bukit itu. Itulah kenapa Alia dan Alfa menamai bukit ini bukit bintang. Tempat inilah yang sering mereka datangi saat melihat bintang. “Tapi Alfa, walaupun nggak bisa lihat meteor jatuh, malam ini bintangnya sangat indah ya!” Alia takjub. “Hm.” Alfa tesenyum. “Canopus, Altair, Rigel, Vega, lalu ada..” Alia menyebutkan nama bintang yang ia ketahui, untuk keseluruhan ia lupa. “Antares, salah satu bintang super raksasa merah di rasi bintang scorpio, bintang itu adalah salah satu dari empat bintang paling terang.” “Kamu tahu kisah bintang Vega dan Altair?”   Alfa menoleh “Vega dan Altair?” Alia menaikan sebelah alis. “Konon ada sepasang bintang bernama Vega dan Altair yang dipisahkan oleh sungai Milky way. Mereka hanya diizinkan bertemu sekali dalam setahun, tepatnya di tanggal tujuh bulan ketujuh. Jadi setiap tahunnya di tanggal itu. Salah satu bintang akan menyebrangi Milky Way dan mereka akhirnya berada di sisi yang sama.” “Wah, benarkah. Bagaimana kamu tahu kisah itu?” Alia takjub “Aku membaca baca buku, nggak kaya kamu!” Alia mendengus. “Alia!” tatapan Alfa masih menatap langit. “Apakah bisa berada di sisi yang sama seperti Altair dan Vega?” tanyanya. “Maksud kamu?” “Apa kita bisa bersatu seperti bintang-bintang itu? Bercahaya, dan saling menyatu membentuk rasi bintang.” “Alfa, lihat! Itu bintang paling terang apa namanya?” tanya Alia seperti mengalihkan perhatian. “Apa itu bintang juga?” “Itu namanya Alpha centauri, bintang yang paling dekat dengan matahari.” “Alpha? Seperti nama kamu?” Detik itu juga, Alfa langsung merangkul Alia dari belakang, mengeratkan tangan kanannya dari leher Alia, mendekapnya intens. “Seperti halnya bintang, aku juga ingin menjadi cahaya untuk Alia!” Kata-kata Alfa membuat Alia tertegun. Ia sempat membisu dengan ucapannya. Laki-laki itu merangkul erat leher Alia sambil memanggil lirih nama Alfa.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD