Chapter 13 : Kabur

1274 Words
Byurr, Raka memulai sesi latihan berenangnya bersama anggota klub yang lain, pelatih membawa stopwatch guna mencatat setiap perkembangan dari anak didiknya. Ia merasa puas dengan kecepatan renang Raka yang berkembang pesat, tidak heran pelatih memilih dia menjadi perwakilan dalam perlombaan sekolah.  “Perkembangan yang bagus Raka, tingkatkan kemampuan kamu untuk kejuaraan besok!” ujar pelatih sambil menepuk bahunya—bangga. “Siap pelatih!” “Persiapkan untuk besok, jadilah kebanggan sekolah Raka!” Raka beristirahat sejenak setelah ia selesai berganti baju dengan seragam training. I duduk di area bangku penonton menyaksikan teman-teman satu klubnya masih berlatih. Tampaknya ia cukup puas hari ini. “Besok ya!” Raka sudah tak sabar dengan pertandingan yang akan digelar besok. “Aku harap kamu datang, Alia!” lirik Raka. …  Alfa terbangun dan mendapati Alia masih ada di kamarnya. Posisinya sekarang, ia tengah tertidur di sisi ranjannya. Alia terlihat sangat kelelahan sampai ia tertidur puas seperti sekarang. Alfa tersenyum sambil sesekali mengegerakan posisinya agar tak membangunkan Alia yang tengah tertidur. Tangan Alfa terulur menyentuh poni yang menutupi wajah cantiknya, menyelipkan sebagian rambut yang jatuh di pipi Alan, manis—itulah gambaran dari diri Alia saat ini. Kondisi Alfa sudah mulai membaik, mungkin karena obat yang tadi diberikan Alia padanya. Alis mata Alia mengkerut seakan tak nyaman, beberapa kali terlihat naik turun. Alfa menyadari, mungkin gadis ini sedang mimpi buruk di siang hari. Tangan Alfa menyentuh pucuk dahi Alia seperti member perantara energi untuk Alia agar lebih tenang. “Kak Raka!” Mendengar nama orang lain yang disebut Alia membuat d**a Alfa bergerumun—kesal. Ia berdecak, kenapa harus nama laki-laki itu yang ada di mimpi Alia? Mata Alia bergerak, gadis itu mulai membuka kelopak matanya dan mulai menyadari kalau dirinya masih di kamar Alfa. “Alfa!” Alia tersentak bangun. Alia panic, sudah berapa lama ia tertidur? Ia melirik jam tangan tangan yang melingkar di pergelangannya. “Jam 4 sore?” “Alfa, kenapa nggak bangunin aku?” Alfa diam, ia menatap Alia datar. “Pasti mama nyariin aku sekarang!” bergegas, Alia mengambil tas selempangnya untuk segera pamit pulang. “Alfa aku harus pulang sekarang!” Alia terlebih dahulu mengecek kondisi Alfa dengan memegang dahinya, ia lega, panas Alfa sudah turun. “Syukurlah, udah nggak panas lagi. Alfa, aku pulang ya!” Alia pamit padanya. Tetap belum ada jawaban, Alia segera keluar dari kamar Alfa. “Kenapa haris dia?” langkah Alia terhenti sebelum ia menarik gagang pintu kamar Alfa, gadis itu menoleh ke belakang. “Kenapa harus dia? Suara Alfa terdengar lirih. Alia bingung dengan ucapan Alfa, “maksud kamu?” Alfa bangkit, ia langsung menghampiri Alia, sebelum Alia keluar dari kamarnya, Alfa mengunci tubuh mungil gadis itu dalam kukuhannya. Kedua tangan Alfa memenjarakan di kedua sisi kepala Alia, kedua iris mereka saling bertemu. “Alfa!” Alia terlihat ketakutan dengan perubahan sikap Alfa. “Alia, tatap mata aku! Apa yang kamu lihat?” Alia mengedipkan matanya, menatap intens iris cokelat dari Alfa, laki-laki itu tampak menyimpan sebuah kekecewaan. “mata.” Begitulah ucapan Alia dengan nada datarnya. “Kamu salah!” Alfa mulai menekan tubuh Alia intens. “Lihat mata aku Alia, apa yang kamu lihat?” Alia tak mengerti, ia hanya bisa membisu. “Alfa.. Alia!” terdengar ketukan dari arah luar, tante Mira mengetuk pintu. “Mama kamu manggil Alfa!” Alia menoleh ke arah pintu, mengalihkan pandangannya. “Kalian masih di dalam?” tanya Mira dari luar. “Alfa!” Alia berusaha menyadarkan Alfa yang masih menjeratnya, laki-laki itu masih menatap intens dengan kedua matanya. Pandangan yang tak biasa. “Al—emppt.” Alfa langsung membungkam mulut gadis itu agar tak bersuara. “Kenapa harus dia Alia, kenapa?” Alfa mulai meracau. Kalimat ‘dia’ yang dimaksud menyulitkan Alia untuk paham, siapa yang dimaksud ‘dia’ oleh Alfa? Namun dengan mulut yang mash terbungkam menyulitkan Alia untuk buka suara. “Aku nggak akan ngebiarin kamu memanggil nama orang lain lagi, ingat itu Alia!” ancam Alfa lalu melepas bungkaman dari mulut Alia, gadis itu dapat bernafas lega. Alfa juga melepas tubuh Alia agar terbebas dari kukungannya. “Keluarlah!” pinta Alfa tiba-tiba. Alia masih bingung dengan sikap Alfa yang mendadak aneh hari ini. “Apa kamu masih sakit?” Alia menjadi khawatir. Ia kembali menyentuh dahi laki-laki itu lagi. “Lebih sakit lagi, saat kamu memanggil nama orang lain selain aku!” “Maksud kamu?” Alia tak paham dengan apa yang sedang dibicarakan Alfa. Orang lain? “Keluarlah, aku mau istirahat!” Alfa beranjak menuju ke tempat tidurnya. Alia masih mematung di tempat. Kriet, pintu terbuka, Mira berdiri di ambang pintu. “Alia, kamu masih di sini rupanya.” “I-iya Tante. Ini sebentar lagi Alia mau pamit pulang kok!” Mira beralih menatap Alfa dan berjalan ke arahnya. Ia lalu memegang dahi Alfa sekilas. “Syukurlah, panas kamu sudah turun Alfa!” “Alia terima kasih sudah mau merawat Alfa ya?” “Sama-sama Tante! Ya udah Tante, saya permisi pulang dulu.” “Kamu hati-hati ya pulangnya Alia!” “Alfa, aku pulang!” pamit Alia, namun laki-laki itu tak merespon dan tetap terdiam membisu seperti tak rela Alia pergi dari hadapannya. *** Malam harinya, Alia tengah menikmati senandung lagu yang ia dengarkan melakui headset di kedua telinganya, posisi tubuhnya telengkup sambil menyandarkan kepala pada boneka beruang cokelat sembari membaca buku novel di kedua tangannya. Terlihat mulutnya seakan komat-kamit mengikuti lirik lagu yang ia dengarkan. Selamanya kau berada dalam hatiku Selamanya kau tak akan pernah terganti Memilikimu sepenuhnya hanya untuk diriku Bagai keajaiban yang tak ternilai [Selamanya-Utopia] Tuk, suara kerikil kecil yang mengenai jendela kamar mengagetkan Alia. Berulang kali suara itu didengarnya, ia pun melepas headset dan bangkit dari posisinya. Tuk, kerikil kecil itu mengenai jendela kamarnya, siapa sih yang iseng malam-malam? Batin Alia kesal. Alia kemudian gordin jendelanya, ia menunduk ke bawah menemukan seseorang berjaket hitam dengan hoodie yang menutupi kepalanya melambaikan tangan. Alia mendesah. “Alfa?” Alia langsung menutup gordinnya kembali, ia berbalik. “Ngapain Alfa malam-malam ke sini?” Alia kembali membuka gordinnya. Laki-laki itu masih di sana. Merasa diabaikan, Alfa tak tinggal diam, ia pun nekat memanjat pepohonan yang bersebelahan dengan kamar Alfa, hal itu pernah ia lakukan saat ia diam-diam masuk ke kamar Alia tanpa izin dulu. “Alfa, apa yang kamu lakukan?” Alia geram, ia berusaha menghentikan aksi Alfa untuk tak masuk ke kamarnya lewat jendela, kalau mamanya tahu, bisa gawat. “Alfa!” Alia waswas, terlebih saat mamanya memanggil dari balik pintu. “Alia, kamu sudah tidur sayang?” Alia bingung. Belum lagi, Alfa yang masih harus berusaha mencapai balkon kamar Alia. Sungguh perjuangan yang melelahkan harus menemui Alia dengan cara seperti ini. “Belum Ma, Alia lagi belajar!” teriak Alia mengalihkan perhatian mamanya. Ia tak mau mamanya tahu kalau Alfa sekarang ada di dalam kamarnya. “Ya udah, cepet tidur ya sayang!” “I-iya ma!” Berhasil, akhirnya ia sudah mencapai balkon depan kamarnya. Alia keluar dan langsung menatap kesal dengan ulah Alfa yang keterlaluan. “Kamu ngapain malam-malam ke sini Alfa?” Laki-laki itu menatapnya datar seakan tak ada rasa bersalah dengan apa yang dilakukannya. “Alfa, jawab pertanyaanku, jangan diam saja!” Alia semakin kesal. Alfa langsung masuk tanpa permisi ke kamar gadis bernuansa pink itu, ia langsung merebahkan diri di kasurnya. “Apa kamu sudah sembuh, kenapa langsung keluar? Harusnya kamu istirahat di rumah Alfa!” Alis terus memarahinya. Namun laki-laki itu tetap diam membisu. “Alfa!” “Iya, aku denger Alia. Aku ke sini karena aku rindu!” Alia mengembuskan nafas—kesal. Alasan klasik macam itu, padahal tadi siang ia sudah menunggu Alfa yang sedang sakit. Sekarang, Alia berdiri sambil menyilangkan kedua tangan menatap Alfa yang sudah mengacak-acak kamarnya. “Wah, boneka beruangnya masih ya!” Alfa mengalihkan perhatian dengan mengambil boneka beruang milik Alia disebelahnya. “Aku pikir sudah kamu buang!” “Alfa, ini sudah malam, kamu harus pulang!” Alfa malah menopang kepalanya dengan tangan kiri untuk menjaga keseimbangannya, menatap lekat Alia yang kesal kasurnya ia acak-acak. Alfa malah terkekeh. “Apanya yang lucu, kamu ngerti nggak sih, ini udah malam Alfa!” “Hari ini akan ada hujan meteor eta aquarid, mau lihat?” “Hujan meteor?” Alia menimba-nimba. Alfa bangkit, ia menepuk kedua bahu Alia memastikan. “Ayo kita lihat!” “T-tapi—“ Alia ragu, bagaimana ia bilang sama mama kalau akan pergi. “mama nggak mungkin ngizinin aku keluar malam-malam Alfa!” “Ayo kita kabur!” senyum smirk terlihat dari wajah Alfa. Sungguh keputusan di luar dugaan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD