Chapter 12 : Alfa Sakit

1744 Words
Pagi itu di sekolah, Alia baru saja turun dari bus dan segera masuk ke kelasnya. Pemandangan yang berbeda ketika Alia masuk dengan masih mengenakan jaket milik Alfa kemarin. “Pagi Kei!” sapanya lalu ia menaruh tas di meja. “Pagi juga Al, eh tumben kamu berangkat sendirian!” tanya Keira. “Guekan selalu berangkat sendiri,” jawab Alia. “Biasanya sama Alfa?” goda keira sambil senyum-senyum.  “Hari ini dia nggak masuk,” kata Alia datar. Keira tersentak kaget, “Hah, seriusan? Kenapa? Dia sakit?” tanya Keira tak percaya. Alia mengedikkan bahu tak tahu, “Mungkin!” “Kok mungkin sih, dia nggak bilang sama lo apa?” Keira semakin penasaran. “Dia bilang, lagi nggak enak badan, mungkin gara-gara kemarin!” lirih Alia mengingat kejadian kemarin saat keduanya jalan-jalan dan di tengah jalan, huja deras melanda. “Gara-gara kemarin? Hayoo kemarin kalian ngapain coba?” tuduh Keira curiga. Alia mengelak, “kita nggak ngapa-ngapain, kita Cuma jalan-jalan!” “Cie kencan nih!” Keira semakin menyudutkannya sambil terkekeh. Alia bersemu, “Apaan sih Kei, kita cuma jalan-jalan naik motor, eh di jalan hujan deres, ya udah kita berhenti !” ungkap Alia menjelaskan. “Terus?” Keira terlihat tertarik. “Kita—“ Alia menggantungkan kalimatnya. … “Kenapa mendadak hujan sih!” gerutu Alia kesal. Saat ini mereka berhent di tepian jalan untuk berteduh selama hujan deras. Alia melihat Alfa yang terlihat kedinginan dengan kemeja tipis yang ia pakai. ia merasa bersalah dengan memakai jaket miliknya. “Kamu kedinginan ya, nih jaket kamu!” Alia hendak melepas jaket itu, namun Alfa menolak. “Jangan, kamu pakai aja!” ucapnya. “Tapi kamu kedinginan Alfa, aku nggak papa kok!” Alfa menggosok kedua tangannya untuk menghantarkan panas, kemudian meniupnya menggunakan  mulut. “Ini lebih hangat dari tadi” ucap Alfa tersenyum. Alia mengikuti cara Alfa untuk menghangatkan tubuhnya. Hampir setengah jam mereka terjebak di sana. Menunggu hujan, Alia menengadahkan tangan di pinggiran untuk menampung air hujan yang jatuh melewati genting. Gluduk, ctar… “Kyaaa!” sontak Alia beringsut mundur saat mendengar guntur dan petir menggelegar. Ia menutup kedua telinganya dengan tangan karena takut. Dari belakang, Alia merasakan tangan Alfa menopang punggungnya saat ia mundur. Rupanya, Alfa menangkap tubuhnya saat ia berteriak ketakutan tadi. Kedua mata mereka bertemu. Baik Alia atau Alfa menunjukkan keterkejutan yang sama. Merasa canggung, Alia yang trsadar langsung menjauhkan tubuhnya dari Alfa. “Maaf!” “Al..Alia!” Keira melambaikan tangan di depan wajah Alia melihat gadis itu melamun. Tersadar, Alia langsung tersentak kaget. “Lo ngelamun apa sih?” tanya Keira. “Enggak kok, nggak papa.” “Aneh banget lo hari ini, eh Al, lo nggak nyoba buat jenguk Alfa gitu. Bawain makanan atau apa gitu?” “Buat apaan?” Keira memutar bola matanya, “Pake nanya, buat Alfa lah. Siapa lagi. Harusnya lo ngasih dia perhatian di situasi kaya gini, nah kebetulan dia lagi sakit, lo bisa bawain dia sesuatu.” “Kenapa lo nyuruh gue, kenapa nggak lo aja yang jenguk Alfa?” “Aliaa, saat ini orang yang dia butuhin itu lo. Gue ke sana, nggak akan merubah apapun.” Alia menghela nafas panjang, ia malas untuk bertemu dengan Alfa. Sebenarnya, tidak masuknya Alfa menjadi angin segar untuk Alia, karena dia sedikit bebas karena Alfa tak akan mengganggunya, walau hanya sehari saja. Tapi, saat tahu alasan Alfa tidak masuk karena sakit membuat hati Alia tak tenang, Alia juga merasa bersalah membiarkan Alfa kedinginan waktu itu, ia tak mengira kalau kejadian kemarin bisa membuat laki-laki itu jatuh sakit. Memikirkannya saja membuat Alia bingung. “Apa gue ke rumah Alfa ya?” *** Uhuk…uhuk…, Alfa kembali terbatuk, Mira telah memberikan obat penurun panas dan minuman hangat untuknya. Alfa yang terbaring lemah di ranjang hanya bisa menuruti perintah Mira—ibunya saat membantu meminumkan obat untuknya. “Apa perlu kita ke rumah sakit Alfa?” tanya Mira khawatir. “Enggak usah Ma, Aku baik-baik saja!” “Alfa!” Mira mengusap lembut pipi Alfa yang panas. “Kamu istirahat ya, nanti Mama buatin bubur!” Alfa mengangguk. … Sejak tadi pagi, Alan tak melihat kedatangan Alfa di kelas, bangkunya pun kosong, ia sedikit khawatir karena sampai siang Alfa tak menunjukkan batang hidungnya. Alfa pun memberanikan diri menanyakan pada salah satu anak di kelasnya. “Permisi!” sapa Alan pada anak laki-laki yang sedang mengobrol. “Iya?” laki-laki itu menoleh. “Alfa, apa dia hari ini nggak masuk?” tanyanya. Laki-laki itu saling berpandangan heran dengan teman di depannya. Alfa—kenapa Alan menanyakan tentangnya? “Alfa hari ini sakit, itu yang gue denger dari anak-anak!” “Alfa sakit?” ekpresi Alan berubah jadi kecemasan. Pikiran Alan berkecambung seiring dengan kecemasan yang melandanya. Tanpa banyak pikir, Alan bergegas keluar dari kelas saat itu juga untuk menghubungi Jazz. “halo Jazz!’ Alan menelpon manajernya dari balik telepon. “Iya, kenapa Lan?” “Jemput gue sekarang!” “Huh, inikan belum jam pulang sekolah.” “Ini penting Jazz, cepetan!” perintahnya. “Oke-oke, gue akan ke sana sekarang, tungguin!” Jazz menutup teleponnya.  “Eh itu Alan, kita samperin yuk!” seru anak gadis yang tak sengaja berpapasan dengannya. Alan seakan tak peduli, bahkan ketika beberapa anak merubunginya, Alan sedikit menolak mereka. “Maaf ya!” Alan segera menghindar pergi. “Ih, Alan!” raut kekecewaan terlihat dari anak perempuan yang tak bisa bertemu dengan Alan. Ting tong… “Iya sebentar!” suara dari dalam terdengar saat ada tamu datang ke rumah. Salah satu pembantu membuka pintu dan langsung mengenali orang yang bertandang ke rumah itu. “Eh Non Alia, mau ketemu sama Den Alfa ya?” Alia membawa beberapa buah-buahan segar untuk Alfa. “Iya Bi, saya dengar Alfa sakit ya?” tanyanya. “Iya, den Alfa sekarang lagi tidur di kamarnya!” “Alia!” muncul Mira—mama Alfa melihat Alia saat membawakan mangkok berisi bubur untuk Alfa. “Siang Tante!” Sapa Alia. “Mau ketemu sama Alfa ya, sini sayang!” Alia pun mengekori Mira menuju ke kamar Alfa. “Badan Alfa panas, tapi sekarang sudah mendingan, kamu pasti mencemaskannya ya!” Alia malu mengakuinya, tapi itulah kenyataannya. Awalnya ia tak ingin menjenguk Alfa, tapi atas saran sahabatnya—Keira, ia pun memutuskan untuk menjenguk Alfa. Bagaimanapun Alia bertanggung jawab atas sakitnya Alfa. “Ini bubur buat Alfa, kamu yang bawa ke dalam ya!” Mira memberikan nampan yang berisi bubur dan s**u hangat yang sudah ia persiapkan untuk anaknya itu. “Lho, Tante nggak masuk ke dalam?” “Saat ini, Alfa lebih membutuhkan kamu sayang, Tante minta bantuan kamu ya!”  pinta Mira menyerahkan nampan itu. Alia mengangguk tersenyum, ia lalu membawa nampan itu masuk ke dalam. Tok..tok..tok.. “Masuk aja!” terdengar suara parau dari dalam, suara Alfa. Alfa tampak sudah membaik sekarang, ia tengah bersndar di kasur sambil mendengarkan lagu dari headsetnya, matanya tertutup menikmati alunan lagu yang terdengar. “Alfa!” Alfa sangat mengenali suara itu, saat ia membuka mata, ia mendapati Alia sudah ada di ambang pintu membawakan makanan untuknya. Raut wajah Alfa berubah terssenyum dengan kedatangan gadis itu. “Alia!” Saking senangnya, Alfa langsung bangkit dari kasurnya, namun kondisinya yang belum membaik, ia langsung limbung, beruntung Alia dengan cepat menangkap tubuhnya agar tak terjatuh. “Kamu baik-baik aja?” Alia khawatir. Alfa tersenyum melihat sikap Alia yang begitu perhatian seperti sekarang, ditambah kondisinya yang sedang sakit. Alia lalu menuntun Alfa untuk kembali ke tempat tidur, setelah meletakkan nampan di meja, Alia lal duduk di tepi ranjang Alfa sembari memegang dahi Alfa yang masih hangat. “Masih panas!” saat tangan Alia menjauh dari dahi Alfa, laki-laki itu menahannya dan langsung mengeratkan tangannya “Aku senang kamu datang!” Alia yang malu langsung melepas tangan Alfa, ia tertunduk. “Aku datang karena merasa bersalah gara-gara kemarin,” ujar Alia “Alia!” panggil Alfa membuat gadis itu mendongak. Cup, satu kecupan mendarat di bibirnya singkat, tanpa lumatan, hanya kecupan singkat. Mata Alia melotot dengan apa yang telah Alfa lakukan padanya. Laki-laki itu menciumnya lagi—lagi? Tanpa sadar Alia memegang bibirnya setelah kecupan itu. “Alfaaa!” merasa kesal dengan kecolongannya, Alia langsung memukul Alfa karena berani menciumnya. “Aduh Alia, aku lagi sakit!” pukulan Alia terhenti saat Alfa merasakan pusing di kepalanya. “Aw!” “Alfa, kamu baik-baik aja? Apa perlu aku panggilkan tante Mira ke sini?” Alia mendadak cemas dengan perubahan Alfa, laki-laki itu terus memegangi kepalanya. “Alfa!” Alia memegang kepala Alfa dengan kekhawatiran. Namun di luar itu semua, Alfa tiba-tiba menyeringai ketika melihat Alia yang begitu khawatir padanya. Tiba-tiba ia tertawa. “lihat muka kamu, takut gitu!” Merasa dibohongi, Alia kesal. “Aku tadi bohong, aku cuma pengen lihat wajah kamu yang khawatir, dan—“ ucapan Alfa terpotong saat melihat wajah sembab Alia yang menahan tangis, laki-laki itu merasa bersalah. “Hei, aku bercanda, jangan nangis!” “Aku nggak nangis!” Alia menutup wajahnya dengan kedua tangan—malu. Terdengar suara isakan dari balik tangan itu. Alia menangis sesenggukan.  Alfa mencoba menarik kedua tangan Alia yang menutupi wajahnya, gadis itu masih menutup mata dengan air mata mengalir di kedua pipinya. *** Mobil jaguar hitam berhenti tepat di perumahan dengan nomer 67, tepat di rumah berpagar cokelat yang diketahui itu adalah rumah Alfa. Dua laki-laki menatap rumah itu. “Lo mau ke sana?” tanya Jazz yang mengemudi. “Apa menurut lo, gue harus ke sana?” tanya balik Alan. “Lo mau ketemu dia kan?” “Tapi, dia nggak butuhin gue Jazz.” Jazz menghela nafas panjang, “Lo minta gue datang ke sekolah buat jemput lo karena apa? Lo minta gue buat nganter lo ke rumah itukan?” Jazz mulai kesal. “Gue hanya khawatir tadi.” “Dan sekarang lo seolah nggak peduli, gitu?” … “Aaaa!” Alia menyuapi bubur pada Alfa. “Udah Al, aku udah kenyang!” “Ih, kamu baru tiga suapan Alfa.” Alfa menolak, perutnya sudah tak kuat menerima makanan lagi,seakan semua yang ia makan menjadi mual di perutnya. Sementara Alia terus berusaha memaksanya makan. “Alfa, nanti kamu nggak sembuh!” Alfa bungkam, ia cemberut dengan pemaksaan Alia. “Alfa!” Alia kembali menyuapinya. Namun tiba-tiba Alfa membalikkan sendok itu dan mendarat sempurna di mulut Alia terbuka. “Eup, Alfa!” Alia terpaksa menelan bubur itu—hambar. Itulah kenapa Alfa tak bernafsu makan. Alfa tertawa, “Sudah ya, aku udah kenyang!” Alia menaruh mangkok itu di meja, ia lalu mengambil air putih dan obat untuk Alfa. “Sekarang minum obat!” “Gimana kalau kamu minumin?” goda Alfa. “Cepat minum terus istirahat!” Alia mengacuhkan ucapan Alfa, ia lalu memberikan dua pil pada Alfa dan memegang segelas air putih. “Cepat minum!” “Alia, ini pahit!” keluh Alfa. “Namanya obat pahit Alfa, kalau kamu nggak minum, kamu nggak akan sembuh,” kata Alia. Terpaksa, laki-laki itu menerima pil dari Alia dan meminumnya dengan segelas air putih. Glek, obat sudah diminum, Alia merasa senang. “Sekarang kamu istirahat!” Alia hendak beranjak dari ranjang Alfa, namun laki-laki itu menarik tanganya menahan. “mau ke mana?” tanyanya. “Aku mau pulang Alfa!” “Pulang? Secepat itu?” Alfa seakan tak rela. “Kamu harus istirahat, jadi aku nggak mau ganggu kamu!” “Jangan pergi!” tahannya. Alia berbalik, ia kembali duduk di ranjang Alfa. “Alfa, kamu harus istirahat biar cepet pulih, kalau aku di sini, kamu nggak bisa istirahat.” “Aku bilang, jangan pergi!” nada bicara Alfa seakan memaksa untuk mengingat Alia untuk tak keluar dari kamarnya. Alia menghela nafas, “baiklah, aku akan tetap di sini sampai kamu tertidur!” “Kalau gitu aku nggak mau tidur!” “Alfa!” Alia frustasi, sebenarnya apa sih maunya anak ini? “Kalau aku tidur, kamu akan pergi, iyakan?” Alia kini paham, Alfa tak ingin ditinggal sendirian sekarang. Alia pun menurut, ia membalas genggaman Alfa sambil tersenyum. “Aku akan di sini selama kamu mau.” Alfa puas mendengarnya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD