Raka menatap medali yang menjadi kebanggannya saat memenangkan pertandingan renang waktu perlombaan bulan lalu, ia berhasil mendapatkan juara kedua yang diikuti beberapa peserta seluruh sekolah di Jakarta. Raka cukup puas dengan kemenangannya, dan kali ini ia ingin mendapatkan medali lagi di perlombaan renang berikutnya.
“Besok lusa, ada pertandingan renang antar sekolah, aku mau ngundang kamu buat datang besok!”
“Aku mau kak, aku pasti datang buat dukung Kak Raka.”
Membayangkan saja membuat hati Raka berbunga-bunga, ia sudah tak sabar memperebutkan medali yang ia impian selama ini, selain itu, Alia juga akan datang melihatnya. Entah kenapa, ia begitu sangat menunggu hari itu.
“Alia!”
Dari kejauhan salah satu teman Raka menghampiri saat ia kedapatan melamun sendiri. Hampir saja ia mengejutkan Raka yang sedang termenung sambil senyum-senyum menatap medali milikknya.
“Oi, Ka, ngapain lo senyum-senyum sendiri?” Revan—salah satu teman di klub renangnya mendekat.
“Enggak ada apa-apa, gue lagi seneng aja.”
“Seneng? Tumben, pasti ada sesuatu nih!” Revan curiga.
“Apaan sih lo!” Raka tampak malu.
“Udah nggak usah ngelamun, ayo latihan lagi. Lo harus lebih giat buat latihan buat pertandingan lomba besok,” ingat Revan.
“Iya, gue tahu!” Raka pun bangkit, dan kembali ke tempat latihan.
***
“Alfaa, balikin dong!” seru Alia kesal saat Alfa berusaha menggoda dengan mengambil buku miliknya.
“Yaudah ambil sini, masa ngambil doang nggak bisa sih!” ejeknya terus membuat Alia semakin kesal.
Alia cemberut, ia berusaha meraih buku miliknya. Namun sial, tangannya tak bisa meraih buku itu dari tangan Alfa, justru Alfa semakin menggodanya dengan mengangkat tinggi-tinggi buku milik Alia.
“Alfaa!”
Raka dan Revan yang melewati tempat itu tak sengaja melihat keduanya saling berkejaran dari koridor kelas saat instirahat. Raka berhenti sejenak menatap keduanya dari jauh.
Tampak Alfa memang suka menggoda Alia, bahkan ia tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Raka hanya bisa menatap keduanya dari jauh. Menatap mereka dengan perasaan sendu.
“Alfa, awas ya kamu!” Alia akhirnya berhasil mengambil bukunya, kemudian ia langsung mengejar Alfa sebagai bentuk balas dendam.
“Ayo Ka, lo ngelihatin apa sih?” Revan menyadarkan Raka yang melamun sejak tadi.
Raka menepis perasaan tak sukanya, ia kembali berjalan untuk segera berlatih.
Sepulang sekolah, Alia terlihat sendirian menunggu di gerbang depan. Beberapa kali ia melirik jam tangan di pergelangan tangan kanannya seperti menunggu seseorang.
Bersamaan dengan itu, Raka yang baru selesai latihan melihat Alia seorang diri. “Alia!” Raka tersenyum dan berniat menghampirinya. Namun sesaat sebelum langkahnya mendekati Alia, sebuah motor ninja hitam berhenti di depan mereka. pengemudi motor itu membuka helmnya—Alfa, tidak salah lagi.
“Maaf lama!”
“Kamu suka banget telatnya, mendingan tadi aku pulang naik bus daripada nungguin kamu,” geram Alia cemberut.
“Iya, tadi si Nana ngasih aku kerjaan banyak banget. Jadi ya aku kerjaain dulu sebelum pulang,” Alfa beralasan.
Raka terdiam di tempat, melihat keduanya dari kejauhan. Bahkan setelah Alia menerima helm dari Alfa dan naik ke motornya, Raka—tak bisa berbuat lebih walau sekedar mendekati Alia saja.
Raka tersadar sesuatu, Alia sudah menjadi milik Alfa, bahkan satu sekolah juga tahu tentang hubungan mereka. Akan tetapi—kenapa ia seperti tak merelakan Alia bersama Alfa?
***
“Alfaaa, jangan ngebut-ngebut!” Alia memeluk erat pinggang Alfa saat laki-laki itu melaju dengan kecepatan tinggi.
Alfa menyeringai senang, “makanya, pegang yang erat!”
Bukannya melambatkan kecepatannya, Alfa malah menambah kecepatan motornya setelah melewati lampu merah seakan ingin menguji ketakutan Alia agar memeluk dirinya lebih erat lagi. Dasar!
Motor Alfa berhenti di sebuah taman bermain, tepat di depannya ia melihat banyak anak-anak sedang bermain lompat tali dan beberapa bermain kejar-kejaran.
“Alfa, kenapa berhenti?” tanya Alia bingung.
“Nggak ada apa-apa kok, cuma lagi pengen berhenti aja,” jawab Alfa.
Setelah puas, Alfa kembali melajukan motornya untuk segera pulang. Terlebih dulu mengantar Alia ke rumah, namun kali ini ia malah berbelok menuju ke rumahnya. Alia dibuat bingung saat berhenti di depan rumah Alfa.
“Kenapa kita ke rumah kamu?” tanya Alia.
“Mama mau ketemu sama kamu,” jawab Alfa
“Tante Mira?” Alia bertanya balik.
“Ayo masuk!” Alfa menarik tangan Alia untuk masuk ke dalam rumahnya.
Walau bukan untuk pertama kali Alia datang ke rumah Alfa, namun baginya, ia tetap asing saat berada di rumah orang lain, terlebih rumah Alfa. Tapi walaupun begitu, hubungan Alia dan mamanya Alfa—Ananta cukup harmonis sejak Alfa mengenalkan Alia untuk pertama kalinya.
“Mama, Alfa pulang!” teriak Alfa saat masuk ke dalam rumah.
“Mama ada di dapur sayang, buat kue!” terdengar suara dari dalam.
Alfa langsung menuju ke dapur mencari keberadaan mamanya, dan benar saja, mamanya sedang membuat kue di sana. “Ma, aku bawa seseorang!”
“Siapa?” Mira melepas celemek dan sarung tangan plasti yang dia gunakan saat masak.
“Siang Tante!” sapa Alia tersenyum.
“Alia, ternyata kamu. Ya ampun, Tante sudah lama nggak ketemu sama kamu sayang!” Alia tak lupa mencium tangan Ananta sebagai tanda hormat. Sementara Alfa mencium pipi mamanya.
“Aduh sayang, kamu tambah cantik saja,” puji Mira.
“Makasih Tante.”
“Tante lagi buat kue ya, biar Alia bantu ya!” pinta Alia.
“Nggak usah, ini Tante juga sudah selesai kok, tinggal menunggu kue matang. Kamu sama Alfa makan dulu sana, pasti lapar!”
“Sudah kok Tan, tapi kita udah makan di luar!” kata Alia.
“Oh begitu, ya sudah, kamu istirahat saja, nanti Tante bawain kue buatan Tante ini, pasti kamu suka.”
Alfa meninggalkan Alia sendirian di ruang tamu sementara dirinya masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Rumah Alfa memang taka sing bagi Alia, tidak ada yang berubah bahkan saat Alia datang ke rumahnya untuk pertama kalinya, perabotan, cat, bahkan suasana di dalamnya tak jauh berbeda.
Ada banyak deretan foto yang terpanjang di dinding dan meja—salah satunya foto Alfa dan juga masa kecilnya. Alia mengambil salah satu foto Alfa saat masih kecil, ia tersenyum mengingat anak kecil yang suka mengganggunya dulu adalah Alfa, selain itu, Alfa selalu melindungi dirinya saat diganggu anak-anak sewaktu di sekolah.
“Alia, bisa bantuin tante buat bungkus kue?” panggil Mira membuyarkan lamunan Alia saat itu juga.
“I-iya Tan!” Alia bergegas menuju ke dapur untuk membantu.
Alia mengenakan apron sebelum membantu tante Mira.
“Kamu tata kue kering itu ke dalam wadah, nanti biar Tante yang hias sisanya,” pinta Ananta.
Alia mengangguk mengerti, ia mengambil wadah kosong dan menata sedemikian rupa agar tampak rapi, ada berbagai macam kue yang dibuat Mira, terlebih kue kering yang ia jual nanti di tokonya.
Kriing…
Terdengar dering telepon dari ruang tamu, Mira langsung melepas apron dan segera menuju ke ruang tamu untuk mengangkat telepon. “Tante tinggal dulu ya Alia!”
“Iya tan!”
Sepeninggalan Mira, Alia yang sudah selesai menata semua kue kering ke dalam wadah pun merasa puas dengan hasil kerjanya. “Sudah selesai.”
***
“Baik, akan saya bayar secepatnya!” ucap Mira dari balik telepon, bersamaan Alfa baru saja turun dari tangga dan tak sengaja menguping suara mamanya yang tengah menelpon.
“Jangan… jangan libatkan Alfa dalam urusan ini,” mohon Mira.
Mendengar namanya disebut membuat Alfa terkejut, apa yang sedang mama bicarakan dengan seseorang dari balik telepon itu? Diam-diam Alfa bersembunyi untuk sekedar menguping pembicaraan mamanya.
“Saya akan membayar semuanya, ini tidak ada hubungannya dengan Alfa!”
“Alfa!” panggil Alia tetiba datang dari arah belakang memanggilnya. Sontak saja, MIra langsung menutup teleponnya. Alfa berdecak kesal.
“Kamu ngapain di sini?”
“Alia, Sst!!” Alfa member isyarat Alia untuk diam sebentar.
Alia memincingkan mata bingung, kenapa ia harus diam?
“Eh Alia!” Mira baru saja keluar dari ruang tamu dan tak sengaja bertemu dengan Alia dan Alfa di sana.
“Alfa!” Ananta berubah canggung saat berhadapan dengannya.
“Mama tadi nelpon siapa?” Alfa menatapnya curiga.
Mira menyelipkan anak rambut ke belakang, raut wajahnya terlihat waswas ketika melihat Alfa. Ia mencoba bersikap senormal mungkin untuk menyembunyikan. “Nggak ada apa-apa kok, tadi temen mama nelpon!”
“Temen?” Alfa memincingkan mata seakan tak percaya.
“Oh ya, apa kalian lapar, Mama tadi buat kue, kalian nyoba ya?” Mira mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Nggak Ma, hari ini aku sama Alia mau keluar,” tukas Alfa.
“Oh, kalian mau keluar ya, ya sudah!”
Alia yang tak tahu apa-apa menoleh pada Alfa. “Memang kita mau ke mana?”
“Udah, ikut aja!” Alfa menarik tangan Alia dengan sedikit paksaan. “Ma, kita keluar dulu ya!” pamit Alfa.
“Iya, hati-hati sayang!”
“Permisi Tante!” Alia melempas senyum setelah berpamitan.
….
“Alfa, aku belum ganti baju, kamu mau ajak aku ke mana?” Alia cemberut saat Alfa menyuruhnya naik motor.
“Itu gampang, ayo naik!” Alfa memberikan helm pada Alia. Mau tak mau Alia hanya bisa menuruti ajakan Alfa.
Motor melaju dengan kecepatan sedang menuju jalan raya. Kali ini tidak ada lagi kebut-kebutan, Alfa membawa motornya pelan. “Alfa kita mau ke mana sih?” tanya Ali di samping telinga Alfa saat laki-laki itu fokus menyetir.
Tak ada jawaban, Alfa fokus dengan jalanan di depan. Mereka berhenti di salah satu mall lalu mereka turun. Alia hanya menurut saat Alfa menariknya masih ke dalam. “Alfa, kenapa kita ke sini?” Alia bingung.
“Nggak usah banyak tanya, ayo masuk!”
Untuk apa Alfa mengajaknya ke mall, lebih tepatnya mereka masuk ke salah satu toko baju, Alfa memilih beberapa dress perempuan dan memberikan pada Alia untuk dipadupadankan. “Ini cocok!” Alfa memberikan dress itu pada Alfa. Lalu laki-laki itu kembali berkeliling mencari baju yang lain.
“Ini juga cocok!”
Alia menggeutu kesal, sebenarnya apa maksud Alfa mengajaknya ke sini? Apa dia ingin membelikan baju untuknya? Alia hanya bisa pasrah mengekori kemana pun Alfa berjalan, dengan tumpukan baju yang dipilih Alfa tentunya.
Setelah puas memlih, Alfa menggiring Alia untuk masuk ke ruang ganti. “cepat ganti!” perintahnya.
“Semua baju ini?” tanyanya lagi.
“Iya, cepetan!”
Alia pun masuk ke ruang ganti dan mencoba satu persatu baju yang dipilih Alfa.
Satu dress selutut berwarna peach menyatu dengan kulit Alia, dipadukan dengan jaket jeans untuk menutupi bagian atasnya. “Coba ganti lain!” Alfa tak puas
Alia masuk ke dalam, mencoba baju yang kedua, kali ini baju dengan kaos panjang dan rok pendek diatas lutut. Alf a menimba-nimba kecocokan baju yang sedang dipakai Alia, ia masih belum puas.
“Coba ganti lain!” perintahnya lagi.
Lia menggerutu, baju apa lagi yang harus ia pakai, semua tak cocok untuknya, sebenarnya masu Alfa apa sih? Geram Alia.
Ini baju terakhir, baju kaos pendek sebagai dalaman, lalu dipadukan dengan rok model kodok berwarna cokelat, tampak elegan dan simple. Alfa tersenyum puas dengan bajunya kali ini. “Cocok!”
Alfa langsung menarik tangan Alfa dan segera membayar dengan kartu kreditnya, merekapun keluar dar toko kembali ke motornya. “Alfa, kenapa kamu membelikanku baju?” tanya Alia sambil memandang baju yang saat ini dikenakannya.
“Kamu bilang kamu nggak bisa keluar dengan seragam sekolahkan, jadi aku belikan baju!” kata Alfa.
Alia menghela nafas pendek, “kamukan bisa bawa aku pulang ke rumah, jadi nggak perlu beliin aku baju,” gerutunya.
Selanjutnya, Alfa melepas jaket jeans miliknya dan memberikan pada Alia. “Cepet pakai!”
Alfa hanya mengenakkan kemeja yang ia gulung sepertiga berwarna hitam. Sangat kontras dengan kulit Putih Alfa yang menonjol saat memakai baju berwarna hitam.
“Kenapa kasih ke aku?” Alia bertanya.
Alfa mengembuskan nafas panjang, menatap Alia, “kamu tuh selau banyak nanya ya, cepet pakai, aku nggak mau kamu kedinginan!”
Alia mengulas senyum, ia tak menyangka Alfa begitu perhatian padanya. Akhirnya Alia memakai jaket dari Alfa kemudian naik ke atas motornya.
“Pegangan yang erat!” peringat Alfa.
“Kamu mau ngebut lagi?” tanya Alia menjauhkan tubuh agar tak menempel di punggung Alfa.
“Pegangan yang erat aja!”Alfa menarik tangan Alia untuk melingkar di kedua pinggangnya.
Mereka pun berkeliling menikmati sore hari yang tak begitu padat akan keramaian, Alia terlhat begitu senang diajak jalan-jalan, kedua tangannya memeluk erat pinggang Alfa saat laki-laki itu sedikit mengebut.