“Huaaa!” Alfa menguap lebar saat mendengar rapat anggota di ruang OSIS yang dipimpin Nana dan Rino. Sudah hampir 2 jam sejak rapat yang dimulai pukul 10 siang dan menjelang pukul 12 siang ini belum juga selesai. Alfa mendengar dengan mata lelah karena mengantuk.
Alfa sedikit bernafas lega karena rapat sudah selesai. Ia segera beranjak untuk keluar dari ruangan OSIS. Namun sebelum ia pergi, Nana menahannya.
“Alfa, mau ke mana?” tanya Nana menatapnya curiga.
“Gue mau balik Na, rapatkan sudah kelar.”
“Iya rapat kelar, tapi gue ada urusan sama lo, sini ikut gue!”
“Apa lagi sih Na, gue mau ketemu nih sama Alia.”
“Udah, ikut gue sebentar!” Nana menarik paksa Alfa untuk kembali duduk di meja yang sebelumnya diduduki anggota OSIS lain yang yang tadi rapat. Kini hanya ada Nana dan Rino selaku Ketua OSIS.
“Fa, gue mau minta tolong sama lo!” pinta Rino memberikan selebaran di depannya.
“Apaan nih?” Alfa tak paham.
“Lo tahukan sebentar lagi sekolah kita ngadain Pensi buat perayaan ulang tahun sekolah.”
“Iya, terus?”
“Tugas lo, bujukin si anak baru buat jadi guest star acara pensinya,” lanjut Rino.
Alfa sontak terkejut, “Kok gue sih?”
“Anak-anak yang lain sudah punya kerjaan masing-masing. Tinggal lo yang belum.”
“Enggak, gue nggak mau. Males banget gue ngajakin dia.”
“Dia?” Nana mengernyit heran, sejak kapan Alfa memanggil si anak baru ‘dia’ seakan ada kalimat akrab di dalamnya.
“Iya, maksudnya anak baru itu.” Alfa menolak.
“Ayolah Fa, lo kan satu kelas sama dia, gue yakin dengan hadirnya dia di acara pensi sekolah. Pasti rame.”
Alfa menghela nafas panjang, ia terlalu malas dengan urusan ini. “Iya oke, gue akan bujuk tuh anak!”
Nana dan Rino tersenyum puas. “Nah gitu dong!”
“Mana brosurnya, biar gue lempar ke muka dia langsung!”
“Alfaaa” Rino kesal.
“Awas kalau lo sampai berbuat masalah.” Nana memperingatkan.
“Siap boss!” Alfa pamit dengan membwa brosur itu meninggalkan ruangan OSIS.
***
Saat berniat mencari keberadaan Alan—si anak baru itu. Beruntung, Alfa melihat Alan sedang berdiri di lapangan sambil memegang bola basket dengan tatapan mengarh ke ring basket. Alfa segera menghampirinya.
“Gue ada urusan sama lo!” seru Alfa dari kejauhan.
Alan berbalik arah, mendapati Alfa berdiri di belakangnya. “Alfa!”
Alfa berjalan mendekat, “Ngapain dilihatin aja bolanya?”
Tanpa basa-basi, Alfa langsung menunjukkan brosur yang harus diberikan kepada Alan. “Nih!”
Alan terdiam mengambil brosur itu, “ini apa?”
“Baca aja, anak OSIS minta lo jadi guest star buat acara sekolah minggu depan,” jelasnya.
“Oh, pensi ya? Sepertinya menarik, lo ikut?” tanyanya balik.
“Enggak. Oke kalau lo setuju nanti gue bilang sama anak OSIS.” setelah mengucapkan itu, Alfa langsung pergi tanpa kembali bertanya lagi.
“Alfa!” Alan memanggil namanya untuk yang kedua kalinya.
Langkah Alfa terhenti dengan masih membelakanginya. Kepalan di kedua tangan Alfa seakan tak terbendung. Ia menahan perasaan ini sejak tadi.
“Gimana kabar lo?” tanya Alan.
Alfa menghela nafas pendek, dan masih membelakangi Alan. “Nggak usah sok akrab, dan jangan pernah ngajak gue ngobrol lagi, ini yang terakhir.” Alfa pun bergegas pergi. Namun Alan langsung mengejar dan menarik tangannya.
“Alfa!”
Alfa dengan kasar menampik tangan Alan, dan spontan mendorong tubuh Alan menjauh. “Jangan sentuh gue!” tatapan Alan memperlihatkan kebenciannya.
“G-gue—“ Alan merasa bersalah.
Alan pun membiarkan Alfa pergi meninggalkannya. Alan tak bisa berbuat apa-apa termasuk mencegahnya. Dari sikap Alfa padanya sudah jelas, ia sangat membencinya. Alan bisa terima dengan sikap Alfa padanya.
…
Arghhhh, satu pukulan mengenai kaca kamar mandi hingga menimbulkan keretakan dengan tetesan darah di sela-sela ujung jari Alfa. Ia menatap pantulan dirinya dalam cermin dengan sorot mata penuh amarah.
“Kak Alan nggak akan tinggalin aku kan?” mohon Alfa menggenggam tangan kakaknya erat, wajahnya sembab menahan air mata.
Namun, Alan hanya terdiam menatap adiknya tanpa merasa iba, ia lalu melepaskan tangan adiknya dan pergi begitu saja. “Kak Alfa!” Alfa berteriak sambil menangis.
Hari itu, Alan mendapatkan orang tua yang akan mengadopsinya. Beruntung Alan mendapatkan orang tua asuh dari keluarga berada.
“Aku ingin menjadi penyanyi, dan meraih mimpiku Alfa, dan orang itu akan mewujudkannya Alfa.” Begitulah kalimat Alan dengan egoisnya meninggalkan Alfa adiknya. Seorang produser mengetahui bakat Alan dan berniat untuk mengangkatnya sebagai seorang anak.
“Aku nggak mau pisah sama Kak Alan!” Alfa menangis.
“Maafin aku Alfa, nanti kalau aku akan menjemputmu lagi. Jangan menangis. Berjanjilah untuk selalu kuat Alfa.” Alan memeluk adiknya untuk yang terakhir kalinya karena hari itu juga, Alan sudah harus berpisah dengannya.
Sementara Alfa, ia menangis sesenggukkan dengan mata merahnya. Bunda Riana selaku pemilik panti hanya bisa berusaha menengkan Alfa dan memeluknya.
“Apa Kak Alfa akan kembali bunda?” tanya Alfa dengan polosnya.
Bunda Susi hanya tersenyum. “Pasti, Alfa masih ada bunda di sini.”
***
“Alia!” Alfa tetiba masuk ke kelas Alia saat jam istirahat, ia berdiri di depan Alia yang tengah mengobrol dengan teman-temannya.
“Alfa, ada apa?” Alia menatap bingung.
Langsung saja, Alfa menarik tangan Alia dengan dengann tangan kirinya dan keluar dari kelasnya. Pemandangan seperti ini sudah biasa bagi anak-anak di kelas Alia. Jadi wajar saja dengan ekpresi keterkejutan Alfa yang datag hanya untuk menemui Alia.
Alfa mmenarik tangan Alia dengan sedikit paksaan menuju ke ruang kesehatan. Alia dibuat bingung, untuk apa Alfa membawanya ke sini. “Alfa kita mau ngapain ke UKS?” tanyanya.
Tak ada jawaban, Alfa tetap menarik paksa tangan Alia masuk ke dalam. Alia tanpa sengaja melihat tetesan darah dari tangan kanna Alfa, ia trekejut, apa yang sedang terjadi dengan Alfa? Apa dia berkelahi lagi atau memukul orang lain? Pikiran Alia berkecambuk.
“Alfa, tangan kamu kenapa?” Alia mulai cemas.
Tetap tak ada jawaban sampai Alfa membawa Alia masuk ke ruang kesehatan yang kebetulan saat ini sedang kosong, Alfa kemudian mengambil beberapa obat merah, kapas, dan perban.
“Obatin!” perintahnya pada Alia, ia lalu duduk di ranjang UKS sementara Alia masih berdiri dengan menatapnya bingung.
“Tangan kamu kenapa?” tanyanya lagi.
“Pasti kamu berantem lagi, atau kamu melakukan sesuatu—“
Bosan mendengar celotehan Alia, ia langsung membungka mulut Alia agar diam sebentar. “Cepat obatin!”
Alia pun menurut, ia mulai meneteskan obat merah ke kapas dan mulai mengobati jemari Alfa yang berdarah. Alfa meringis menahan sakit saat obat merah mengenai luka tangannya walaupun Alia melakukan dengan hati-hati.
Kemudian, Alia membalutnya dengan perban dengan posisi melingkar menutupi seluruh luka dari jemari Alfa, dan terakhir member plester sebagai perekatnya. “Cukup rapi.” Alfa mulai mengulas senyum tipis, puas.
“Kamu belum jawab pertanyaan aku, kenapa tangan kamu bisa terluka Alfa?”
“Seperti katamu, aku habis memukul orang,” jawab Alfa nyengir.
Alia seperti tak percaya dengan ucapannya, dari tatapannya, Alfa jelas berbohong padanya. “Kamu jangan berbohong.”
Tiba-tiba mata Alia sembab seakan menahan air matanya, ia seperti ingin menangis di depan Alfa. Mengetahui hal itu, Alfa langsung menangkup wajah gadis itu. “hei, jangan menangis, aku baik-baik saja.”
Air mata Alia tak bisa bertahan, ia mulai menangis di depan Alfa. “Hu hu hu.”
“Bagaimana kamu bilang baik-baik saja dengan luka seperti itu, pasti terjadi sesuatu.” Alia sesenggukkan.
“Jangan khawatir!” Alfa tersenyum berusaha menenangkan Alia.
Baru kali ini, Alfa melihat Alia menangis hanya karena melihat luka pada dirinya. Tak seperti biasanya Alia bersikap sekhawatir ini.
“Siapa punya mata ini?” Alfa memainkan sebuah permainan kecil
Alia menjawab, “Aku!”
“Pipi ini?” tanyanya lagi.
“Aku!” jawabnya lagi.
“Lalu bibir ini?” sebelum Alia menjawab ‘aku’, Alfa sudah lebih dulu mengecupnya pelan. Sontak saja Alia terkesiap tak percaya. Bersamaan dengan ciuman singkat yang diberikan Alfa, seketika itu juga air mata Alia berhenti.
Permainan berhasil.