“Ma, aku pulang!” sahut Alfa saat memasuki rumahnya. Suasana rumah yang kosong, ia langsung menuju ke halaman belakang tempat di mana mamanya berada.
Seorang perempuan paruh baya duduk di kursi sambil merajut syal di tangannya, hampir setengah syal sudah ia selesaikan. Panggilan dari Alfa membuyarkan lamunannya. “Alfa, kamu sudah pulang!”
“Mama!” Alfa langsung menghampiri mamanya dan memeluknya dari belakang. “Apa yang sedang mama lakukan?” tanyanya
“Mama sedang membuat syal untuk kamu, lihat, bagus nggak?” perempuan yang dipanggil mama oleh Alfa tampak tersenyum memperlihatkan syal merah buatannya.
“Cantik, seperti Mama!” puji Alfa.
“Kamu bisa saja, bukannya yang paling cantik itu Alia?” goda mamanya sambil tersenyum.
“Tentu, Alia memang cantik, sama seperti mama, pokoknya kalian berdua adalah yang terbaik!” kata Alfa.
“Kamu ini Alfa, bisa saja!”
“Ma, buatin syal buat Alia dong, bentar lagikan dia ulang tahun, aku mau buat kejutan special buat Alia,” pinta Alfa pada mamanya.
“Ulang tahun ya? boleh, nanti Mama buatin syal buat Alia.”
“Makasih Ma, Alfa sayaang banget sama Mama!”
“Mama juga sayang sama Alfa.”
***
Sementara itu, di tempat lain, Alan tengah berlatih piano ditemani jazz yang yang duduk di dekatnya. Alan memainkan tuts piano dengan lembut menciptakan nada-nada baru yang ia ciptakan dari lagu barunya. Ia juga menggubah lagu lamanya menjadi melodi yang berbeda.
Jazz hanya mengamati dan sesekali melirik ponsel kalau ada panggilan yang masuk. Tak beberapa menit kemudian ponsel Jazz berdering, ia pun mengangkatnya.”Halo!”
“Iya, kami ada di rumah, untuk rekaman ya? Saya akan bujuk Alan untuk rekaman hari ini…oke, baik, terima kasih banyak!”
Jazz menutup teleponnya, ia menoleh Alan yang masih fokus dengan pianonya. “Lan!” panggil Jazz.
Suara dentingan piano melambat, ia menoleh pada Jazz. “Produser rekaman musik minta kita datang hari ini.”
Tak ada respon, Alan kembali menyibukkan diri dengan pianonya. Merasa kesal, Jazz mulai mendekat. “Lan, lo dengerin gue nggak sih, hari ini kita ada rekaman musik.”
“Jam berapa?” tanya Alan datar.
“Jam 8 malam sampai selesai.”
“Oke,” jawab Alan masih datar.
“Oh ya, gimana hari pertama lo tadi di sekolah. Udah ketemu sama saudara lo?” tanya Jazz memulai topik baru.
“Sudah.”
“Terus dia ngenalin lo?” tanyanya.
Alan menghentikan dentingan piano itu, ia menoleh pada Jazz.
“Apa dia nggak ngenalin lo?” tanya Jazz lagi.
Alan kembali fokus pada pianonya, ia menciptakan nada melodi yang berbeda dengan nada yang tadi dimainkan.
“Apa dia benar-benar nggak inget lo, siapa lo, dan hubungan kalian berdua?”
“Dia udah tahu kok, hanya saja—” Alan tak malnjutkan kalimatnya. “Mungkin akan sedikit sulit.”
Lantunan lagu yang diputar di kedua headsetnya membuat Alfa bersandar di atas bantal sembari memejamkan matanya, ia tak menyadari lagu yang ia dengarkan adalah lagu yang sama yang ia putar berkali-kali tanpa jeda.
Suara musik piano dan lembutnya nada yang diciptakan membuat Alfa tak beranjak sedikitpun dari tempat tidurnya, bahkan ia tak sempat berganti pakaian, dan hanya menyisakan kemeja putih yang ia lepas dua kancing atasnya.
Alfa membuka mata, menatap langit-langit putih kamarnya yang kosong, ia menoleh ke samping lalu meraih kaset yang ada di sebelahnya. Benda persegi panjang tipis itu ia tatap lekat, tertulis dengan jelas nama Alano Alvaro—sang penyanyi yang sedang naik daun sekarang.
Alan sosok yang sempurna dan mendapat banyak penghargaan di usinya yang masih muda, tak banyak yang tahu tentang masa lalu laki-laki itu. mungkin hanya segelintir orang terdekat yang mengenal siapa Alano dan bagaimana dia bisa setenar itu sampai sekarang.
Alfa menyeringai menatap foto yang ada di depan kaset itu, ia seperti menyimpan sesuatu yang tersembunyi di balik senyumannya.
“Alan!” gumam Alfa memanggilnya.
“Kak Alan, jangan lari. Tungguin aku!” seru seorang anak kecil tertinggal di belakang saat mengejar bersama saudaranya.
“Alfa, sini!” anak kecil yang berada di depan melambaikan tangan memanggilnya.
Alfa, anak kecil yang tertinggal mulai berlari menghampirinya.
“Alfa, Kalau sudah besar, kamu mau jadi apa?” tanya Alan saat keduanya duduk bersandar di balik pohon besar sebagai sandaran.
“Aku? Aku mau jadi—emm, jadi apa ya?kalau Kak Alan mau jadi apa?”
“Kalau aku—“ Alan mulai berpikir.
Tiba-tiba Alan bangkit dan berdiri di depannya, ia mulai menampilkan salam layaknya seseorang yang berada di panggung. Kemudian Alan mulai memposiikan tangannya seperti memegang mic layaknya penyanyi.
Bintang di langit, kerlip engkau di sana
Memberi cahayanya di setiap insan
Malam yang dingin kuharap engkau datang
Memberi kerinduan di sela mimpi-mimpinya.
“Wahh, bagus banget!” dengan polosnya, Alfa yang menjadi penonton memberi tepuk tangan yang meriah, wajahnya juga tersenyum gembira.
Alan mengakhiri pertunjukkan musiknya dengan salam yang paling menawan layaknya penyanyi yang baru saja menyelesaikan konser tunggalnya.
“Aku juga mau jadi penyanyi seperti Kak Alan nanti.”
Alan membuka mata mengingat tentang masa lalunya yang hampir 7 tahun ia ingin lupakan. Kebencian tentang masa lalunya telah membuat sikapnya beubah dan menjadi laki-laki dingin yang dipenuhi dendam masa lalu.
Studio rekaman.
Alan ditemani Jazz telah sampai di studio. Banyak orang yang telah menunggu kedatangannya, salah satunya produser music yang menaungi Alan—Starizv Intertainment.
“Alan, akhirnya kamu datang juga, ayo kita bicarakan tentang album baru yang akan rilis bulan depan. Saya sudah menyiapkan lagu special dari musisi hebat untuk menulis liriknya!” Produser membawa Alan masuk ke ruangannya untuk membicarakan, diikuti Jazz dari belakang.
Alan hanya menurut saja saat mendapat tawaran dengan lagu barunya.
“Love Hurt? Ini judulnya?” tanya Alan saat mengeja judul lagu barunya.
“Benar, lagu ini memiliki makna yang sangat dalam,” jawab produser.
Alan mencari siapa penulis lagu ini, di bagian kiri kertas tertulis inisial nama ‘A’
“A? siapa A?” tanyanya penasaran.
Produser menghela napas panjang, ia juga tak begitu mengenal siapa penulis lagu ini karena sang penulis tak menginginkan namanya diketahui. Alan kembali membaca lirik lagu terbarunya dan sesekali menghayati makna yang tertulis dalam lagu ini.
“Lagu ini—“
Blam, seseorang perempuan berkacamata masuk dengan membawa berkas di tangannya. “Alan, sudah waktunya!” rupanya perempuan itu juga salah satu staf yang mengurusi artis di manajemennya.
Alan dan Jazz keluar dari ruangan produser dan mulai rekaman untuk lagu barunya.
***
“Huft, kenapa susah sih!” Alia mengeluh menatap mesin kaleng di depannya, ia sudah memasukkan beberapa koin kecil agar ia bisa memilih minuman dingin yang ada di dalamnya. Namun ia malah tak mendapatkannya.
“Apa mesinnya rusak?” gerutunya kesal.
Dari arah belakang, seseorang mendekat tanpa Alia sadari. Dengan Alia yang masih menatap mesin kaleng minuman itu, laki-laki di belakangnya mengeluarkan koin kecil dan memasukkan ke dalam mesin itu. Melihat tangan dari arah belakang membuat Alia tersentak kaget, ia menoleh dan mendapati Alfa ada di belakang.
“Alfa?” kejutnya tak percaya, bagaimana dia bisa ada di sini.
Plung, mesin itu bekerja dan mengeluarkan minuman yang diinginkan Alfa. “Dapat!” Alfa tersenyum puas. Alia hanya bisa berdecak kesal merutuki kesialannya dengan mesin minuman itu.
Alfa tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu, ia mengeluarkan koinnya lagi dan memasukkan pada mesin itu. Dua minuman dingin telah ada di tangannya. Namun gadis itu malah memilih pergi menghindar.
“Alia!” Alfa berlari mengejarnya. Gadis itu berhenti dan duduk di kursi panjang. Wajahnya tertekuk karena kesal. Alfa pun mengikuti Alia dan duduk di sampingnya. Ia memberikan kaleng minuman dingin pada Alia. “Nih!”
Alia dengan wajah cemberutnya langsung mengambil kaleng minuman itu dan membukanya.”Akhh,” Alia merasa segar setelah meminum jus kaleng yang diberikan Alfa padanya.
“Kamu tahu nggak, kenapa tadi mesinnya nggak jalan?” tanya Alfa menyeringai.
Alia menyipitkan mata menoleh padanya. “kenapa?”
Alfa langsung mengacak-acak rambut Alia dengan gemasnya. “Alia, kamu belum milih kaleng minuman yang kamu mau, gimana sih!” dengan geramnya Alfa mengacak rambut Alia hingga gadis itu menggerutu kesal.
“Alfa!”
“Dasar ceroboh!” kata Alfa kemudian.
“Ih Alfa, nanti rambutku kusut tahu!”
“Masa sih? Coba sini aku cium!” Alfa menarik kepala Alia lebih dekat dan mencium rambut Alia yang dibuatnya berantakan. “Em, masih wangi kok, wangi stroberi!”
“Ih Alfa!” Alia langsung menjuhkan kepalanya dan menggerutu kesal.
“Manyun gitu, senyum dong!”
Tak ada respon, Alia masih cemberut.
Pandangan Alfa beralih menatap jepit rambut yang menempel di rambut Alia. “Sejak kapan kamu pakai jepit rambut?” tanya Alfa.
Alia menoleh sambil memegang jepir rambut yang ia pakai. “Oh ini, nggak papa, aku pengen aja pakai. Memang kenapa, jelek ya?” Aia merasa tak pede, ia pun langsung melepas jepir rambut yang dikenakannya untuk menghalangi poin menyampingnya.
“Jangan dilepas!” Alfa menahan tangan Alia yang hendak melepas jepit rambutnya. “Udah cantik nggak usah dilepas!” Alfa kemudian membenahi rambut Alia dan membenarkan jepit itu kembali.
Mata keduanya saling bertemu, tanpa disadari, Alia tersenyum senang melihat sikap Alfa yang begitu manis hari ini.
Dug dug dug…
Sebuah bola menggelinding ke arah mereka, tepat berhenti di kaki Alfa yang membuatnya tersentak. Dari kejauhan seorang anak kecil berlari menghampiri mereka. namun langkahnya berhenti saat melihat bola miliknya dipegang orang lain.
“Hai, mau bola ini?” seru Alfa pada anak kecil yang ketakutan itu.
Anak itu hanya mengagguk tanpa berani mendekat.
“Kemarilah!” pinta Alfa melambaikan tangan untuk mendekatinya. Anak itu pun berlari medekat.
Anak kecil bertumbuh gempak itu tersenyum saat mendapatkan bola miliknya lagi, saat ia tersenyum, terlihat giginya yang tanggal yang membuat Alfa dan Alia ikut tersenyum. “Siapa nama kamu?” tanya Alfa
“Ando!”
“Ando, lain kali kalau main di lapangan, okey!” pinta Alfa.
“Baik Kak, terima kasih Kak!” anak itu langsung lari dengan cerianya.
“Tumben kamu jadi bersikap manis gitu sama anak-anak,” celetuk Alia yang masih duduk.
“Kayaknya kamu salah mengira deh, aku ini suka anak-anak. Kamu tahu, aku berasal dari panti asuhan. Banyak anak-anak yang menghabiskan waktu untuk bermain bersama, itu yang menjaga hubungan mereka tetap terjalin.”
Mendengar nama panti asuhan, membuat Alia terdiam. Sebenarnya Alia sudah lebih dulu kalau Alfa berasal dari sana. Namun dibalik semua itu, Alia menatap Alia sendu seakan ada sesuatu dari dirinya yang hilang.
“Apa aku mengingatkan kamu tentang masa lalu?” tanya Alia
Alfa menoleh, ia tersenyum. “Jangan khawatir, aku baik-baik saja, bahkan lebih baik saat kamu ada di sini!” ungkap Alfa.
“Alfa!” lirih Alia.
“Ngomong-ngomong, anak kecil gendut itu kaya ngingetin aku sama seseorang di masa lalu. Anak kecil chubby dengan dua kuncir kuda, giginya ompong, dan kalau lagi menangis JELEK!” Alfa sengaja menekan kaimat akhir dengan menatap ke arah Alia sambil terkekeh.
Alia merasa tersindir, ia menarik ekor matanya menoleh pada Alfa, menatap kesal kepadanya. “Alfaa, ih jangan diingetin lagi. Itu memalukan!”
Alfa malah tertawa, “Ngapain malu, waktu itu kamu lucu, manis, dan yang pasti pipi kamu bisa diginiin!” Alfa mencubit kedua pipi Alia dengan gemasnya.
“Alfaaa!” Alia meringis kesakitan saat pipinya dicubit oleh Alfa.