Beberapa anak perempuan begitu antusias. Sementara anak laki-laki tampak tak suka dengan kedatangan murid barunya karena telah menyita perhatian dari para gadis-gadis di kelasnya. Tatapan Alan tak begitu peduli, pandangannya terfokus pada Alfa. Kedua mata mereka akhirnya saling bertemu. Namun sorot mata Alfa menunjukkan ketidakpedulian.
“Sudah cukup, kalau kalian ingin berkenalan. Nanti kalian bisa kenal Alan saat istirahat. Sekarang kita lanjutankan materi yang kemarin. Alan kamu bisa duduk di meja yang masih kosong!” pinta pak Thony.
“Baik Pak!” Alan berjalan menuju ke meja kosong yang berada di paling belakang, bersebelahan dengan meja Alan.
“Sekarang kita mulai pelajarannya, buka buku kalian halaman 120!” kata Pak Tony memulai menulis materi di papan tulis.
Alan melirik ke arah Alfa saat ia tengah menyimak di papan tulis, merasa diperhatikan, Alfa pun menoleh ke arah Alan. Tatapan mereka bertemu.
“Alan, bisa kamu selesaikan soal ini di depan kelas!” tiba-tiba Pak Tony memanggilnya. Sontak saja ia langsung bangkit dan berjalan ke depan, mengambil spidol hitam dan mulai menulis jawaban dari soal matematika di depan dengan tenang.
Belum sampai 10 menit, Alfa berhasil menyelesaikan soal Trigonometri yang cukup susah di depan. Beberapa anak kagum dengan kemampuannya termasuk pak Tony. Ia hanya manggut-manggut saat jawaban yang diterima sangat tepat dan jelas.
“Sudah Pak!”
“Bagus, tumben kamu langsung bisa menyelesaikan dengan mudah!”
“Bapak ingin menguji saya dengan soal baru lagi?” tawar Alfa nyengir.
“Cukup, kamu bisa balik ke meja kamu!” pelajaran pun kembali dilanjut.
Kriiing…
Bel berdering, anak-anak di kelas bersorak senang. Langsung mereka bubar dan keluar dari kelas setelah Pak Thony selesai mengajar—berbeda dengan murid perempuan yang langsung merubung ke meja Alan untuk sekedar berkenala.
“Kak Alan, aku sering lihat konser Kakak di panggung, sumpah keren banget!” celetuk salah satu murid dengan gaya centilnya.
“Kak Alan, kenalin aku Vida!” gadis berambut pendek sebahu dengan bandu di kepalanya ikut nimbrung.
“Aku Lara Kak, aku juga sering lihat konser Kak Alan, aku juga beli album Kakak lho!” satu demi satu para murid mulai menunjukkan kegenitan dengan bertanya banyak hal pada Alan.
Sementara Alan sendiri hanya tersenyum melihat begitu ramainya anak-anak di kelas ini, bahkan hampir semua mengenalnya sebagai seorang penyanyi. Mau tak mau ia harus meladeni semua anak perempuan di kelas itu.
Kedatangan Alan di sekolah Serin langsung menjadi perbincangan di seluruh sekolah, termasuk anak kelas X.
“Sumpah demi apa, Alan artis pop itu?”
“Dia ada di sini? Gue harus ketemu sama dia!”
Hampr di koridor kelas ramai dengan perbincangan yang sama. Alan dan Alan. Bahkan terdengar sampai di kantin sekolah. Alia dan Keira yang asyik makan di kantin menatap hal tak biasa dari anak-anak di sekitarnya. Hampir semua membicaran Alan. Alia yang tak sengaja menguping pembicaraan mereka terlhat bingung tentang Alan.
Slurp, satu gelas pop ice cokelat telah habis diminum olehnya. “Enak banget!”
“Lihat nih, ini yang namanya Alan!”
“Duh ganteng banget!”
“Gue pengen lihat orangnya langsung deh, nanti ke sana yuk!”
Mata Alia kedap-kedip menatap anak-anak terlihat sibuk semua dengan ponsel masing-masing. “Kei, ada apa sih?” tanyanya
Keira yang juga tak begitu tahu hanya mengangkat kedua bahu saat ia makan.
“Anak-anak sini kok pada heboh semua?”
“Mungkin gara-gara murid baru di kelas 11,” jawab Keira.
“Murid baru?”Alia penasaran. “Siapa murid barunya?”
Keira berhenti makan, “Ya mana gue tahu Al, lo tanya aja sama Alfa!”
Alia mengernyit, “Alfa? Kok Alfa?”
“Soalnya murid barunya di kelas Alfa!”
“Tumben lo nggak tertarik sama anak baru, biasanya kalau ada kaya gini, lo paling heboh,” ucap Alia.
“Lagi males, lagian kalau dibandingin sama murid baru itu, lebih gantengan Alfa kok!” Keira tersenyum.
“Lebih ganteng Alfa? Lo suka sama dia?”
“Eits, gue nggak akan main belakang sama sahabat gue. Bagaimana pun gue suka sama Alfa, Alfa cuma suka sama lo!”
“Apa itu pujian?” wajah Alia mendadak lesu mendengar nama Alfa lagi.
Keira hanya menggelengkan kepala melihat sahabatnya yang memiliki hati sekeras batu seperti Alia. “Jangan benci sama Alfa Al, ntar lo jadi suka lho!”
“Iya iya, terserah lo!”
“Tapi serius Al, kan ada yang bilang, kalau benci itu bisa jadi cinta, hari ini aja lo benci banget sama dia, tapi bisa jadikan suatu hari nanti lo bakal cinta banget sama dia,” ucap Keira bak seorang penasehat bijak yang sok tahu.
Alia mengembuskan nafas panjang seakan menhiraukan celotehan Keira yang menurutnya tak penting itu.
“Udah selesai ngomongin Alfa?”
“Belum dong!”
Belum sempat Keira bercerita tentang Alfa lagi, tiba-tiba mulutnya terkatup saat melihat sosok yang tak asing berdiri di ambang pintu kantin. Alfa mengedarkan pandangan pandangan mencari sosok yang dicari—dan ketemu.
“Alia!” panggil Alfa tersenyum dan berjalan menghampiri.
Tangan Alfa membawa jus jambu dan langsung memberikan pada Alia yang tengah makan siomay. Alia mendongak menatap Alfa yang memberinya jus untuknya.
“Cieee!” sorak cemburu Keira di depan mereka.
“Nih jus jambu buat kamu!” Alfa memberikan jus itu di meja, ia lalu duduk di sebelahnya menatap Alia yang sedang makan dengan lahapnya. Merasa diperhatikan membuat Alia merasa canggung.
“Kalau kamu lapar, kamu bisa pesan makanan!” kata Alia.
“Nggak usah, aku lihat kamu makan aja udah kenyang kok”!
Uhuk, Keira terseedak, ia merasa menyesal telah berada di tengah-tengah dua sejoli. “Wait kayaknya gue ganggu deh, Al, gue ke perpus duluan ya, bye!”
“Lho Kei, kenapa lo ninggalin gue?” Alia kesal Alfa yang tanpa sengaja telah merusak makan siangnya bersama sahabatnya itu. “Kamu nggak ada kerjaan ya?”
“Ada, nanti ada rapat OSIS, tapi itu masih nanti!”
“Alfa!” panggil Alia.
“Iya!” Alfa menjawab dengan senyuman saat posisi merea kini saling berhadapan setelah Alfa pindah di kursi tempat Keira. Alia memutar bola mata jengah, ia hanya bisa pasrah dengan kedatangan Alfa yang mengganggu makan siangnya.
“Apa enak?” tanya Alfa melihat Alia begitu lahapnya memakan siomay itu.
Tak ada jawaban. Alfa langsung mengambil alih garpu yang dipakai Alia untuk makan, ia mencomot satu siomay dan langsung memasukkan ke dalam mulutnya.
“Alfa!” geram Alia kesal.
Satu kunyahan, dua kunyahan.”Ahh pedas!” Alfa langsung menyeruput es teh Alia. Sontak saja kelakuan Alfa membuatnya semakin geram. “Alfa itu minumanku!”
“Kamu makan sepedes ini Al?” sorot mata Alfa menajam menatap Alia yang tampak biasa-biasa saja memakan siomay miliknya.
“Buang!” perintah Alfa selanjutnya.
“Apaan sih, makanannya belum habis Alfa!” wajah Alia cemberut.
“Itu pedas banget Al, kamu nanti bisa sakit perut!” kata Alfa lagi.
Alia hanya menghela nafas pendek mendengar celotehan Alfa yang terlalu berlebihan padanya.
“Aku pesenin yang baru, makanan itu dibuang!”
“Enggak!” tolaknya spontan
“Alia!”
“Aku bakal habisin makanan ini Alfa!”
Tak terima, Alfa langsung meraih mangkok Alia yang berisi setengah siomay itu dan langsung melempar ke sembarangan arah. Suasana kantin yang tadi ramai mendadak hening. Banyak pasang mata menatap ke arah Alfa.
“Alfa!” Alia bangkit dengan tatapan kesal karena kelakuannya.
“Ikut aku!” dengan gerakan cepat, Alfa langsung menarik tangan Alia dan membawanya keluar dari kantin saat itu juga, tak peduli dengna piring dan tatapan dari orang-orang di sekitar mereka saat ini kepadanya. Alfa terus menarik kasar tangan Alia untuk dibawa entah ke mana.
“Alfa!, lepasin!” Alia berusaha meronta.
“Alfa, tangan aku sakit!” langkah Alfa tiba-tiba berhenti saat mendengar suara Alia yang kesakitan, ia terdasar dan langsung melepaskan cengkramannya. Dapat dilihat pergelangan tangan Alia yang putih menjadi memerah karena Alfa.
“Maafin aku Al!”
“Kamu jahat!” ucap Alia tiba-tiba.
“Alia!” Alfa menyesal.
“Sikap kamu kasar, itu yang nggak aku suka Alfa, kamu udah beda sama Alfa yang aku kenal dulu. Kamu jahat Alfa!” mata binar Alia menandakan kekesalan pada laki-laki itu. saat ini keduanya berada di belakang sekolah yang lumayan sepi.
“Alia!”
“Lepasin!” Alia berusaha meronta.
“Alia maafin aku!” langsung saja Alfa memeluk Alia dari belakang.
“Alfa lepasin!”
“Enggak, aku nggak bakal lepasin kamu sebelum kamu maafin aku Al.”
“Alfa!” Alia semakin kesal.
Melihat sikap Alfa yang seperti ini akhirnya membuat Alia luluh, sikap Alfa memang menyebalkan, tapi melihatnya seperti ini jauh lebih menyedihkan.
“Maafiin aku Alia!”
Pelukan Alfa melemah setelah Alia tak lagi memberontak. “Iya aku maafin kamu.”
“Beneran?” Alfa ragu.
“Iya Alfa!”
“Aku minta maaf!”
“Sudah, lepasin Alfa, nanti orang lain ngelihat kita!”
Mendengar ucapan Alia, kini Alfa mulai melepas pelukannya. Ia benar-benar menyesal atas perbuatannya tadi. terkadang sikap Alan sedikit kekanak-kanakan seperti sekarang, kalau dalam kondisi seperti ini, Alia hanya bisa pasrah dengan kelakuannya.
***
Alia masuk ke kelas dan langsung menjatuhkan kepalanya di meja. Wajahnaya tertekuk dengan raut kekesalan. Keira yang disebelahnya manatapnya bingung. “Kenapa lagi Al?”
“Kacau!”
“Kacau, maksudnya?” tanya Keira penasaran.
“Tau ah, gue males ngomongin!”
“Hei, kenapa sih Al. Lo ada masalah lagi sama Alfa? Dia gangguin lo lagi atau…” tanya Keira semakin dibuat pensaran.
“Kali ini sikapnya berlebihan Kei, masa tadi gue lagi makan siomay pedes, tiba-tiba dia ngelempar mangkoknya ke lantai, gimana nggak kesal coba, mana dilihatin anak-anak?”
Keira tersenyum mengerti, “Lo sih!”
“Kok gue sih?” Alia mengangkat kepalanya dan menatap Keira tajam. Kenapa sahabatnya jadi membela berandalan seperti Alfa.
“Lo yang nggak peka Al!”
“Nggak peka gimana?” Alia menautkan kedua alis bingung.
“Lo lupa sesuatu, lo itu punya magh.”
“Iya gue tahu kalau punya magh, terus hubungannya sama Alfa?”
“Ya ampun Alia, masa gini aja lo nggak ngerti. Kalau magh lo kambuh gimana? Tadi itu Alfa coba ngelarang lo makan siomay pedeskan?” tanyanya lagi.
“Iya.”
“Iya itu maksud dia, dia nggak mau magh lo kambuh sayang.”
“Tapi nggak harus ngelempar mangkok segala kan, orang-orang bakal mikir apa nanti.” Alia masih kesal.
“Ya, itu resiko lo punya pacar kaya Alfa!”
“Dia bukan pacar gue!”
“Iya, calon pacar!”
“Keira!!!”
Pandangan Keira tertuju ke ambang pintu, seseorang laki-laki berdiri di sana kemudian masuk dengan membawa sesuatu di tangannya, ia menghampiri meja mereka. “Eh, itu si Alfa!”
Alia menatap jengah kedatangan Alfa yang ke kelasnya, padahal sebentar lagi bel masuk akan berdering. Ngapain Alfa harus ke kelasnya sih, gumam Alia
“Kayaknya Alfa mau ngasih lo sesuatu deh!” Keira melirik ke arah Alia.
Benar saja, Alfa berhenti di depan meja Alia, keduanya saling bertatapan. Namun kali ini pandangan Alfa terlihat aneh, ia lalu memberikan plastik putih yang berisi banyak makanan ringan di dalamnya.
“Apa ini?” tanya Alia sesaat Alfa meletakkan plastik itu di mejanya.
“Aku nggak mau kamu sakit, ini aku beliin makanan. Kamu harus makan, dan maaf soal kejadian tadi siang dikantin,” ucap Alfa menunjukkan wjah penyesalan.
Keira merasa takjub dengan sikap Alfa yang gentlemen. “Wah, ini makanan semua Fa? Banyak banget!” sela Keira mengintip sedikit makanan yang dibawa Alfa.
“Aku mau kamu makan,” kata Alfa lagi.
“Aku boleh ambil satu nggak Fa?” sambung Keira.
“Bagi sama Keira,” kata Alfa sembari menyentuh kepala Alia dan membelainya lembut. “Kamu mengerti?!”
“Aku ke kelas dulu!” setelah mengucapkan kalimat itu, Alfa langsung keluar dari kelas Alia. Sementara Alia hanya bisa memandang kepergiannya. Kadang ia dibuat bingung dengan sikap Alfa yang sedikit berlebihan padanya. Sekali lagi, sikap Alfa tak bisa ia tebak, hari ini dia terlihat sangat manis, tetapi kadang sikap menyebalkan muncul dan tanpa ia bisa prediksi. Cowok aneh, pikirnya.
“Al, ini banyak banget, ada roti, ada s**u, wah ada cokelat di dalamnya juga, Alfa baik banget ya?”Keira mengeluarkan isi kantong plastik putih itu dan menaruhnya di meja.
“Cokelat?” Alia seketika tertarik dengan cokelat yang diberikan Alfa padanya.
“Cokelat ini?” Alia ingat pernah diberikan cokelat ini oleh Alfa.
“Al, boleh minta satu ya, tadikan Alfa bilang harus dibagi, bolehkan?”tanya Keira.
Alia bangkit sambil membawa cokelat berbungkus biru itu. Ia bergegas pergi dari kelas. “Al, lo mau kemana?” teriak Keira terkejut melihat sikap sahabatnya itu. “Aneh banget anak itu hari ini.”
Alia berjalan dari koridor sekolah, mengedarkan pandangan mencari sosok Alfa. Namun ia tak menemukan, Alia kembali berlari ke tempat lain.”Kemana sih tuh anak, ngilangnya cepet banget!” keluhnya.
Dari kejauhan Raka yang baru selesai berlatih renang, berjalan bersama dua temanya, mereka telah mengenakan training putih dan tas selempang hitam di punggungnya. Langkah Raka terhenti saat melihat Alia yang terlihat celingukan mencari seseorang. “Alia!”
“Fa, gue duluan ya ke kelas, ada ulangan nih!” pamit salah satu temannya.
“Oh, oke, good luck!”
“Gue juga ya Fa!”
Setelah kepergian kedua temannya, Raka tak langsng menuju ke kelas, ia berbelok menuju ke tempat Alia yang tengah kebingungan itu. “Ehem!”
Alia menoleh dan mendapati Raka ada di belakangnya, ia tersenyum sangat manis. “Kak Raka!”
“Kamu nyari apa Al?” tanyanya.
“I-itu, aku lagi…” ucapan Alia terbata-bata, ia juga terlihat canggung saat di depan Raka.
Pandangan Raka teralih melihat batang cokelat yang ada di tangan Alia. “Itu cokelat buat siapa?” tanya Raka.
Alia tersadar, ia membawa cokelat pemberian dari Alfa tadi. “ Oh ini, Alfa yang ngasih!” katanya polos.
“Oh, Alfa ya?” wajah Raka tiba-tiba berubah menjadi datar saat Alia membicarakan tentang Alfa. “Kamu lagi nyari Alfa ya?”
“Apa Kak Raka melihatnya?” tanya Alia dengan wajah polosnya.
Raka hanya menggelengkan kepala tak tahu.
“Ck, cowok itu selalu membuatku kesal, ya udah deh Kak, aku harus cari Alfa dulu,” sahutnya sebelum ia meninggalkan Raka.
“Alia!” panggil Raka saat ia berbalik arah ke belakang. Alia berhenti dan ikut menoleh.
“Iya Kak?”
Raka kemudian mendekati Alia, “besok lusa, ada pertandingan renang antar sekolah, aku mau ngundang kamu buat datang besok!”
“Oh ya? di perlombaan Kak Raka?”
Raka mengangguk. Wajah Alia berubah senang. “Aku mau kak, aku pasti datang buat dukung Kak Raka,” ujarnya.
“Aku tunggu ya!”
Alia mengangguk senang.
Setelah kepergian Raka, Alia yang masih mematung di tempat tampak tak percaya dengan apa yang barusaja dikatakan Raka padanya. Menonton turnamen renang Kak Raka?Membayangkan saja membuat Alia tersenyum gembira.
***
“Apa ini Alfa?” tanya Alia saat diperlihatkan brosur yang ditunjukkan di depannya.
“Kamu nggak baca? Ini ada pertandingan gokart besok, aku mau kamu nemenin aku,” kata Alfa sedikit memaksa.
“Gokart?Besok ?”
“Iya!”
Alia ragu, ia tak bisa membatalkan ajakan Raka untuk melihat turnamen lusa depannya, tapi—menolak Alfa?
“Nanti aku jemput di rumah ya!”
“T-tapi Alfa!”
“Kenapa?” Alfa memincingkan kedua matanya, curiga.
“A-aku…” mulut Alia seakan terkunci untuk menolak ajakannya.
Alfa masih menunggu Alia mengatakan sesuatu. Namun gadis itu tak kunjung berbicara.
“Alia!” tiba-tiba kedua tangan Alfa memegang kedua bahunya, ia menatap lekat mata Alia yang seakan menyembunyikan sesuatu.
“Kamu nggak akan nolak kan?” tanya Alfa memastikan.
“A-aku—“
Kriiing…
Bel berdering tanda jam pelajaran selanjutnya, Alia bahkan belum sempat mengatakan sesuatu pada Alfa tentang ajakan itu. “Udah masuk kelas, aku balik dulu ya, nanti pulang sekolah, aku tunggu di depan, bye sweety!” Alfa mengacak-acak rambut Alia dengan gemas sebelum berpisah dengannya.
“Besok lusa, ada pertandingan renang antar sekolah, aku mau ngundang kamu buat datang besok!”
“Ini ada pertandingan gokart besok, aku mau kamu nemenin aku.”
Glup, Alia tak habis pikir dengan jalan pikirannya. Bagaimana bisa ia menghadiri dua tempat di hari yang sama sekaligus, di sisi lain ia ingin sekali melihat turnament renang kak Raka, tapi di sisi lain, menolak Alfa—kenapa sangat sulit ia lakukan.