“Alfa udah ya, aku udah capek.” Keluh Alia memegang kedua lututnya sambil mengatur napasnya yang kelelahan harus berlatih basket bersamanya. Sementara jangan Tanya, ia bahkan tak sedikitpun merasa kelelahan. Mungkin salah satunya karena Alfa sering berlatih basket tidak seperti dirinya.
“Aku capek Alfa. Udah ya kita istirahat dulu!” bujuknya.
Alfa menghela napas panjang melihat Alia yang ternyata memang sangat lemah dalam hal olahraga. Baru juga setengah jam mereka latihan, tapi Alia sudah berkeringat cukup banyak.
“Yaudah deh, kita istirahat sebentar.” Alia menuruti keinginannya. Keduanya lalu duduk disalah satu kursi panjang di dekatnya. Alfa menoleh sekilas kearah Alia yang mengeluarkan keringat cukup banyak darinya, tangannya terulur menghapus keringat Alia yang mengucur cukup deras.
“Kamu tuh lemah ya?” ujarnya menyibakkan helai rambut kebelakang kupingnya.
“Kamu menghinaku?” cibirnya.
“Enggak, tapi kamu memang lemah, masa cuma masukin bola aja nggak bisa?” ledeknya membuat Alia menatap jengah kesal sambil mengerucut bibirnya memalingkan wajah ke sisi lain.
“Kalau kamu nggak mau bantuin aku yaudah.” Gerutunya masih cemberut.
“Aku nggak bilang nggak mau bantuin kamu, justru kamu memang perlu dibantu, ya setidaknya untuk membuktikan kalau pacar Alfa itu nggak lemah.” Ceplosnya.
Memang gue pacar lo apa, sejak kapan ngaku-ngaku, gerutunya dalam hati.
“Kamu bilang apa tadi?” Alfa menautkan kedua alisnya menatap tajam kearahnya.
“Enggak…aku bilang apa-apa,” ujarnya mencoba tersenyum paksa ke arahnya.
Alfa dapat melihat raut wajah Alia yang berubah seketika saat menatapnya, sangat jelas Alia menyembunyikan sesuatu.
Dug dug dug…
Sebuah bola menggelinding kearah Alia saat ia duduk. Bola berwarna orange yang sama seperti yang dipegang Alfa saat ini,
“Tunggu. Kalau Alfa sekarang memegang bola, lalau ini bola siapa?” pikirnya sambil menoleh kearah Alfa yang saat ini memutar bola basket dengan jari telunjuknya.
“Itu bola aku, mama itu bola aku.” teriak seorang anak kecil berusia 6 tahun merengek menarik tangan mamanya dan berlari kearahnnya.
“Jimmy jangan lari-lari!” pinta mamanya mengikutinya dari belakang.
Anak kecil itu mendekati Alia yang membawa bolanya.
“Kakak, itu bola aku….” Ucapnya polos.
“A.. iya ini.., ini punya kamu ya?” dengan sedikit terbata-bata Alia menyerahkan bola itu pada anak kecil dan langsung diambilnya begitu saja. Alfa hanya menatapnya sekilas dengan masih memainkan bola di tangannya. Pandangan anak kecil itu teralih melihat kearah Alfa dan bolanya
“Wah kakak hebat banget.” Puji anak itu terkagum melihat saat Alfa memutar bola basket di jari telunjuknya. Alfa hanya tersenyum dan menghentikan permainannya lalu berjongkok tepat di hadapan anak itu.
“Iya dong,”
“Pasti kakak pemain basket, kalau aku udah besar nanti. Aku juga mau jadi pemain basket yang tampan seperti kakak.” Harapnya yang langsung membuat Alfa terkekeh mendengarnya.
Mamanya yang melihatnya hanya tersenyum melihat sikap polos anaknya.
“Pasti bisa kok, asalkan mau berusaha dan terus berlatih.” Ujar Alfa menyunggingkan senyuman.
“Mah, nanti aku bisa seperti kakak yang tampan inikan?” tunjuk Jimmy dengan wajah polosnya kearah Alfa, Alia hanya meringis mendengar perkataan anak kecil sekecil itu ingin seperti Alfa.
“Iya, Jimmy pasti bisa kok. Kita pulang yuk, nanti papa nungguin lagi dirumah.” Perempuan muda berusia 30 tahun itu menarik anaknya pergi meninggalkan keduanya.
Alfa dan Alia melihat kepergian anak itu sambil tersenyum.
“Lucu juga ya?” ucap Alfa.
Alia mendongak kearah Alfa sekilas saat melihat raut wajahnya yang berubah seketika. Alfa tersenyum melihat kepergian anak itu dari jauh.
“Anak kecil memang lucu.” Sahutnya lalu mengambil bolanya kembali.
“Waktu istirahat selesai. Kita latihan lagi.” Ujar Alia melempar bola kearahnya yang langsung ditangkapnya. Alfa tersenyum dan mereka kembali berlatih.
…..
“Fokuskan bola tepat di ring basket, tangannya jangan kaku, sedikit dorongan kaki untuk melambungkan bola. Kamu mengerti?” Tanya Alfa memulai sesi latihannya kembali. Ia mengamati setiap gerak tubuh Alia untuk melempar bola.
“Alia, jangan kaku, tangan kamu jangan gemeteran dong. “ Alfa mendekat dan mulai mempraktekkan dengan bantuan tangannya untuk membuat tangan Alia sedikit lemas.
“Fokus, dan lempar!” Alia mendongak kebelakang saat Alia kini dalam posisi seperti memeluknya dari belakang.
“Fokus dan lempar! Kamu mengerti?” ulangnya lagi.
“I-iya.” dengan bantua dorongan dari Alfa bola itu terlepas dari tangan Alia dan melambung tinggi sampai ke ring basket dan masuk.
“Yeeehhh… masuk!” teriak Alia senang dan tanpa sadar ia memeluk Alfa yang berada di belakangnya yang langsung dibalas olehnya. Keduanya sama-sama tersenyum. Tanpa sadar Alia melepas pelukannya, ia terlihat sangat gugup saat ini.
“Sekarang coba kamu sendiri.” Pintanya.
Alia mengambil bolanya kembali dan memulai memasukkan bola sesuai perintah Alfa tadi, dan MASUK.
“Aku berhasil, yeeh.” Alia begitu sangat gembira.
Alia kembali mengulang untuk beberapa kali dan berhasil. Alfa tersenyum puas melihat perkembangan Alia yang lebih cepat dari sebelumnya.
“Sekarang giliran kamu!” Alia melempar kembali kearahnya yang langsung ditangkapnya dengan cepat. Alia tersenyum kearahnya.
“Sekarang giliranmu Alfa!” teriak anak laki-laki melempar bola kearahnya.
“Alfa!”
“Alfa!”
“Alfa kamu dengerin aku nggak sih?” sentaknya menyadarkannya dari lamunannya.
“Aa..iya maaf.” Alia menaik turunkan alisnya melihat perubahan sikap Alfa kali ini.
Ia mendribel bola itu dan memasukkan dengan cepat di ring basket. Keduanya akhirnya bermain bersama sesekali tawa menghiasi keduanya saat bermain basket.
****
Dug…dug…dug…
Seorang laki-laki mendribel bola dan dengan gerakan cepat ia memasukkan bola di ring basket. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Cukup lama ia bermain basket sendirian di belakang rumahnya yang memang telah disediakan lapangan kecil untuknya bermain basket.
Suara handphone berdering mengalihkan pandangangnya. Ia menghentikan permainannya dan berjalan menuju handphonenya dengan. Terlihat nama Jazz terpampang di layar handphonennya.
“Hallo, kenapa?”
“Gue udah bisa bujuk produser buat nyetujuin lo pindah ke sekolah.” Ucap Jazz dalam telepon
“Lo serius?” Alan antusias.
“Ya seriuslah, masa gue bohong. Sekarang lo dimana?”
“Gue dirumah.”
“Oke, 30 menit lagi gue akan kesana, tunggu!” Jazz mematikan teleponnya.
“Yes.” Alan terlihat begitu bahagia.
…
Pagi harinya di sekolah, terutama di kelas 2 A, kelas Alfa sedang ramai-ramainya membicarakan perihal anak baru yang merupakan artis yang cukup terkenal Alano Alvaro, yang saat ini sedang naik daun memutuskan untuk pindah ke sekolah itu.
“Gue udah nggak sabar pengen ketemu sama Alan.” kata seorang gadis menatap poster yang terpampang di majalah pagi ini.
“Gue juga nggak nyangka. Alan yang artis penyanyi terkenal itu bakal sekolah di sini.” Sahut yang histeris.
“Dan rumornya lagi, Alan bakal masuk ke kelas ini. Kelas kita!” ujar yang lain saling bersautan.
“Gue udah nggak sabar pengen ketemu sama dia.”
Dari keramaian yang melanda kelasnya saat ini, Alfa lebih memilih mendengarkan lagu di headphone yang terpasang di kedua telinganya, mengalun music rock kesukaannya.Ia seakan tak terlalu mempedulikan tentang kabar anak baru yang akan masuk ke kelasnya seperti yang dibicarakan anak lain.
Bel berdering terdengar cukup keras membubarkan gerombolan anak-anak yang masih berada diluar untuk segera masuk. Termasuk gerombolan para gadis yang tadinya bergosip kini sudah kembali ke tempat duduk masing-masing. Beberapa menit kemudian guru masuk ke kelasnya dengan membawa setumpuk buku besar kebanggaannya, wajahnya terlihat sangat beringas dengan kacamata menggantung di hidungnya, rambut botak dengan tubuhnya yang gemuk terutama di bagian perut. Pak Tony, guru matematika paling killer yang akan mengajar pagi ini.
“ Rio, pakai dasi kamu,” dengan malas ia mengeluarkan dasi di saku celananya dan mengantung dilehernya memakai asal.
Sebuah kebiasaan pak Tony saat mengajar di kelas, ia akan lebih dulu berkeliling melihat siapa saja yang tak patuh terhadap aturan di kelasnya, disiplin dan kepatuhan adalah poin utama yang sangat dijunjung tinggi. Kerapian kebersihan sangat ia utamakan di kelasnya.
“Apa-apaan ini Mimi, di kelas bawa bedak, taruh kembali di tas.” Bentak pak Tony memarahi salah satu perempuan yang menaruh perlengkapan makeup di meja bersebelah dengan buku.
“Ini lagi, baju dilipat-lipat, mau jadi preman pasar kamu.” Bentaknya lagi pada seorang laki-laki yang sedikit berandal karena ketahuan melipat lengan seragamnya sampai keatas.
“Ingat kalian, peraturan di kelas saya. Disiplin dan kepatuhan adalah poin utama. Sekali lagi saya melihat kalian yang tidak bisa mematuhi peraturan, bapak akan kasih kalian tugas yang banyak,” ancamnya yang langsung disambut keluhan semua penghuni di kelas pagi ini kecuali Alfa yang masih diam mendengarkan musik di telingannya.
Pandangan pak Tony menangkap kearah Alfa yang dengan santainya memakai headphone di kelas..
“ALFAA…” Alfa yang masih tak mendengar hanya diam.
“Alfa!” panggilnya mendekatinya. Alfa langsung menoleh kearahnya dengan melepas headphonennya.
“Eh bapak, sejak kapan bapak masuk, kok saya nggak tahu?” ucapan santai Alfa membuat seisi kelas tertawa kecil. Satu-satunya murid yang berani menentang ucapan pak Tony hanya Alfa.
Dengan geram, pak Tony mengelus d**a melihat salah satu muridnya yang menyebalkan setengah mati seperti Alfa. Berurusan dengannya hanya akan menambah tekananan darahnya naik kembali. Pak Tony memilih untuk kembali ke depan.
“Hari ini, kelas kita akan mendapatkan satu tambahan murid baru dari SMA Galazie, kalian pasti sudah tahu siapa dia. Alan kamu bisa masuk kedalam.” Suara sorakan langsung menggema saat Alan Alvaro laki-laki yang tadi dibicarakan kini ada dihadapan mereka. Dengan membawa tas ranselnya ia berdiri di depan kelas. Para murid mulai berbisik kearahnya, terutama para gadis yang langsung terpesona padanya.
“Perkenalkan, nama saya Alano Alvaro, panggil saja Alan, senang bisa bertemu dengan kalian.” Suara sorakan akhirnya menyeruai. Para gadis histeris melihatnya yang begitu tampan apalagi senyumannya, bahkan bisa dibilang lebih tampan aslinya dari pada majalah.
Pandangan Alan teralih melihat kearah Alfa yang terdiam seakan tak mempedulikannya, ia lebih membaca buku daripada mendengarkan pidato panjang di depan kelasnya.
“Kamu sudah bisa duduk Alfa, kamu bisa duduk disebelah ….” Pak Tony menyapu pandangan mencari tempat duduk yang masih kosong untuk ditempatinya.
“Disebelah Rio.” Suara sorakan ikut menggema saat Rio yang akhirnya menjadi teman satu mejanya.
“Alan kamu bisa kembali duduk dan kita akan memulai pelajaran hari ini.”
“Iya pak.”
Alan hanya tersenyum melihat meja yang disebelah Alfa.
“Akhirnya aku menemukanmu Alfa.”