Chapter 6 : Pelajaran Basket

1688 Words
“Lo mau pindah sekolah? Yang bener aja Lan, terus sekolah lama lo gimana?” protes Jazz tak menyetujuinya. “Gue juga jarang masuk karena sibuk rekaman, jadi lebih baik gue keluar dari sekolah itu dan pindah ke sekolah lain,” timpalnya mengambil secangkir kopi hangat lalu duduk di depan televisi, sementar Jazz berdiri memandangnya dengan kesal. “Astaga Alan, lo pikir pindah sekolah itu gampang, dan satu lagi. Lo mau pindah ke sekolah mana? Perasaan dari semua sekolah di Jakarta sekolah kita jauh lebih unggul dalam segala hal.” Ujar jazz geram. “SMA Serin.” “Se-serin?”kejutnya “Gue punya alasan buat pindah kesana.” “Tapi Alfa. Produser nggak akan ngijinin, apalagi Nenek lo, dia pasti…” “Dia pasti ngijinin, gue akan bujuk.” “Tapi Alfa?” Jazz masih keberatan dengan keputusan pindah sekolah. “Lo hanya perlu bilang ke produser kalau gue akan pindah sekolah, lo kan manajer gue,” sahutnya membuat Jazz jengkel padanya. Satu alasan kenapa Jazz sangat percaya dan mau menjadi manajer Alan yang bisa dikatakan menjengkelkan dan sangat menyusahkan baginya, karena sebuah janji. Janji untuk terus bersamanya, janji Jazz pada Alan saat masih kecil. Janji yang harus ditepati. “Aishhhh…oke gue akan bicara sama manajer sekarang buat ngurus perpindahan lo, tapi gue punya syarat,” Jazz berbalik menyerangnya. “Gue akan latihan, dan gue akan nurutin semua jadwal yang lo kasih ke gue,” potong Alan menyela pembicaraan. Jazz hanya melongo melihat ucapannya yang bisa menebak apa yang dipikirkannya. Jazz akhirnya menyetujuinya. “Oke kita sepakat,” Jazz tersenyum dan dibalas olehnya. ….. Di sekolah Serin, tepatnya di kelas X B, Alia yang saat ini akan memulai pelajaran olahraga. Semua murid sudah memakai dengan celana training panjang dan kaos pendek berwarna abu-abu. Semua anak berkumpul ke lapangan basket untuk memulai pelajaran hari ini. “Kenapa harus olahraga sih?” keluh Alia mendengus. “Ya biar kita sehat dong Al,” jawab keira. “Kenapa harus basket? Gue kan nggak bisa main basket.” “Hahahaha, ya ampun Al. Pacar lo kan pemain basket, masa lo nggak bisa main basket?” cibirnya. “Bahagia ya lo. Alfa bukan pacar gue ngerti!” Prittt…. Suara peluit panjang mengalihkan obrolan singkat mereka dan segera kembali ke barisan untuk memulai pelajaran olahraga kali ini. “Udah dipanggil tuh, yuk!” Alia menuju ke barisan diikuti Keira di belakangnya. Di tempat lain di jam yang sama, yang seharusnya di kelas Alfa sedang berlangsung pelajaran Biologi namun di bangkunya saat ini kosong, hanya ada tas dan juga satu buku yang tergeletak di meja. Sementara Alfa sendiri sedang tiduran di balkon atap sekolah dengan santainya sambil mendengarkan musik di headsetnya, musik mengalun merdu ditambah hembusan angin semilir yang membuat siapa saja akan langsung terkapar untuk tidur dengan suasana tenang dan damai seperti saat ini. Alfa membolos adalah hal biasa baginya, bahkan kalaupun ia masuk ke kelas ia akan memilih berada di bangku paling belakang untuk tidur, banyak guru yang resah dengan sikap Alfa yang seenaknya, namun saat dilihat dari prestasinya saat ini, jangan salah kalau Alfa mendapat peringkat 5 besar di sekolahnya, bahkan teman-temannya sendiri heran bagaimana bisa dia sejenius itu. Priitttt… Alia melakukan kesalahan lagi saat mendribel bola basket. Yah, saat ini mereka tengah berlatih basket dengan pembagian kelompok perempuan yang pasti dipisah dengan laki-laki. “ALIA…kamu bisa main basket tidak sih, dari tadi salah terus.” Teriak Guru olahraga dengan kumis tebalnya bernama Pak Sandy memarahinya. “ Nggak bisa pak,” ucapnya santai. Semua orang di belakang tertawa geli mendengar ucapan Alia yang begitu polosnya, apalagi saat memainkan bola, bayangkan saja saat ini mereka hanya berlatih untuk mendribel bola dan memasukkan di ring basket, namun bagi Alia. Boro-boro memasukkan bolanya, saat ia memantulkan bola dengan tangannya, justru bola itu mantul entah kemana dan kadang mengenai temannya sendiri. “Yaudah kamu balik ke belakang, nanti setelah pelajaran saya selesai kamu jangan balik ke kelas dulu, bapak akan memberi kamu tambahan pelajaran untuk hari ini,” ujar pak Sandy menyuruhnya kembali ke barisan belakang. Alia hanya mendegus kesal dengan hukuman yang akan diberikan padanya, tambahan pelajaran olahraga, jelas Alia paling tak suka. Soalnya dari semua mata pelajaran di sekolah, ia memang sangat lemah dalam hal olahraga. Bukan karena fisiknya lemah atau perawakannya bertubuh mungil, namun karena ia memang tak bisa melakukannya. “KEIRA… giliran kamu sekarang!” perintah Pak Sandy memanggilnya untuk menggantikan posisi Alia. “Baik pak,” bergegas ia berlari menuju ke lapangan. Alia duduk bersama temna-teman yang lain yang menunggu giliran untuk dipanggil ke depan. “Astaga, Alia… masa gitu aja nggak bisa sih, atau lo memang bodoh dalam segala hal.” Ejek sang ratu Cheerleader bernama Ratu sesuai predikatnya sebagai Ratu kampus dan juga kapten Cheerleader basket. “HAHAHAHA…”gelak tawa diikuti teman-teman yang lain di belakangnya yang juga satu geng dengannya. Alia hanya mendengus kesal mengihiraukan ucapan Ratu yang memang sudah bisa ia dengar setiap hari dan selalu mengejeknya karena lemah dalam segala hal. “Hufft…” Alia mendenguskan napas panjangnya menyadari kelemahan yang ia miliki. Ia melirik kearah Keira yang langsung bisa memasukkan bola dengan sekali dalam percobaan pertama. Tanpa disadari sebuah bola basket melayang kearahnya tepat dan mengenai kepalanya. “Aww..” ia melirik kearah samping, siapa yang melempar bola kearahnya. Terlihat disana sang Ratu Cheerleader tertawa meremehkannya. “Ternyata ini ulahnya, lihat aja lo,” Alia mengambil bola yang baru saja mengenainya dan berancang-ancang mengarahkan bola itu padanya. Ratu dan teman-temannya segera menghindari dan saat bola melayang hampir mengenainya malah meleset dan mengenai Guru olahraga, pak Sandy yang tengah mengamati muridnya. Peluit yang di pegangnya hampir terlepas saat ia meniupnya bersamaan dengan Alia mengenai tepat di belakang kepalanya. DUG “Aduh, gawat!” Alia berbalik dan kembali duduk seakan tak tahu apa-apa. namun ulahnya langsung diketahui oleh pak Sandy saat Ratu memberitahunya. “ALIAAAA…” …… Plakk. Satu tamparan mengenai pipinya saat berhasil menangkap nyamuk yang hinggap di pipi kanannya, hingga membuatnya terganggu tidurnya. “Nyamuk sialan, lo suka sama gue. Huh? Main nyium gue segala, denger ya hanya Alia yang boleh nyium pipi gue yang ganteng ini, lo paham?” geram Alfa berbicara pada nyamuk di telapak tangannya yang sudah mati karena tamparannya. Ia langsung meniupnya dan kembali melanjutkan tidurnya yang berharga. ….. “Ya bapak, jangan gitu dong pak, masa cuma saya doang yang dapat hukuman,” gerutu kesal Alia saat pak Sandy menyuruhnya untuk belajar mendribel dan memasukkan bola, penilaian akan di lakukan besok sore di lapangan ini. “Alia kamu tahu, dari semua murid, yang belum mendapatkan nilai untuk pelajaran saya itu cuma kamu, jadi besok bapak ingin kamu mengulang pelajaran ini, bapak tunggu di lapangan sepulang sekolah besok.” Perintahnya tanpa bisa diganggu gugat.. Alia mendengus kesal, ia paling benci harus mengulang, apalagi untuk pelajaran olahraga, mau tak mau ia harus mengikuti aturan yang diterapkan guru padanya. Akhirnya selesai juga untuk pelajaran olahraga kali ini. Semua murid kembali ke ruang ganti dan segera kembali ke kelas untuk pelajaran kedua yang berlangsung 30 menit lagi. “Al, mendingan lo nyuruh Alfa buat ngajarin basket, diakan kapten basket sekolah ini,” ujar Keira di sela-sela mereka berjalan  menuju ruang ganti. “Alfa?” Alia mengerutkan alisnya “Pasti dia mau ngajarin lo, secarakan diakan pacar lo,” sindirnya menyenggol bahu Alia. “Harus dia ya?” “Kalau bukan Alfa siapa lagi,” “Ogah ah, ntar dia malah nyari kesempatan dalam kesempitan lagi.” Tolaknya. “Maksudnya?” Keira mendelik kearahnya. “ Lu-pa-kan,” dengus Alia dan berjalan lebih dulu menuju ruang ganti. “Alia…”teriak Keira kesal segera berlari mengejarnya. Huftt… Alia berjalan dengan malanya keluar dari gerbang sekolah, ia masih kepikiran tentang esok hrus mengulang pelajaran olahraga seorang diri. Kalau sampai ia tak lolos, nilainya pasti turun. “Apa gue harus minta tolong Alfa aja ya?” pikirnya. “Minta tolong apa?” Alfa muncul secara tiba=tiba di sampingnya tanpa disadarinya. “Alfa?” kejutnya. “Tadi aku denger kamu lagu ngomong nggak jelas, tapi aku juga denger tadi kamu bilang mau minta tolong aku?” Alfa berbalik dan kini menghadap kearahnya. “Sekarang kamu minta bantuan apa?”Tanya antusias. Alia mendorong tubuh Alfa untuk memberi jalan padanya. “Lupakan.” Acuhnya berjalan lebih dulu ke depan tanpa mempedulikan Alfa di belakangnya. “Al-Alia!”panggilnya lalu mengejar Alia yang telah berlalu. ….. Keduanya berjalan bersama sepulang sekolah. Wajah cemberut alia masih terlihat olehnya, sesekali Alfa melirik kearahnya untuk memastikan gadis di sampingnya baik-baik saja, tapi sepertinya dugaannya salah. “Kamu kenapa?” Tanya Alfa memulai pembicaraan saat mereka berjalan melewati komplek perumahan tempat mereka tinggal. “Nggak papa.” “Wajahnya ditekuk gitu, marah ya?” tebaknya. “Enggak.” “Oh pasti gara-gara Raka si b******k itukan, dia ngapain kamu. Huh?” gertak Alfa mulai emosi. “Apaan sih Fa, Aku tuh nggak ada masalah kak Raka, justru masalah aku tuh kamu.” Alia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap kearah Alfa. “Aku?” sambil menunjuk diri sendiri. Hahahaha…. Alia mennyergitkan dahinya melihat sikap aneh Alfa kali ini, apa yang lucu dari ucapannya, kenapa ketawa. “Ada yang lucu?” “Ada, itu kamu.” Alia memutar bola matanya jengah sambil menghembuskan napas kasarnya. Ia kembali berbalik untuk meneruskan jalan menuju ke rumah, namun tiba-tiba sebuah tangan menariknya dari belakang. “Tunggu!” tarikan tangan alfa dari belakang. Alia mendongak bingung. “Aku tahu apa masalah kamu, kenapa nggak langsung bilang. Aku bisa mengajarimu basket.”ujarnya “Darimana kamu tahu?”tanyanya. “Kamu pikir aku  bodoh apa, waktu kamu dimarahi pak kumis tebal itu. Aku melihatnya.”Alfa mendekatkan wajahnya tepat di wajah alia, “Kamu lupa siapa aku di sekolah?” alfa mulai menyombongkan diri di hadapannya. “K-a-p-t-e-n basket.” Ucap Alfa menekan kalimat awalnya. “Iya aku tahu.”jawabnya malas. “Okey, nanti sore di lapangan basket dekat taman, kita bakalan latihan disana, dan aku akan jadi guru privat kamu.” Ujar Alfa menyeringai tajam ke arahnya, “Huh??” alia hanya bisa melongo mendengar keputusan Alfa.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD