Chapter 5 : Rival

1656 Words
“SEDANG APA KALIAN BERDUA?” suara baritone keras yang diketahui dari Alfa yang datang  menghampiri keduanya yang tengah berduan. “Alfa,” kejut Alia melihat kedatangannya. Sebuah tarikan paksa dari tangan Alfa membuatnya terkejut. Alfa paling tak suka Alia berdekatan dengan laki-laki lain kecuali dirinya. Alia yang tak suka langsung menepis tangan kasar Alfa dan menatapnya kesal. “Kamu apa-apaan sih?” kesalnya. “Aku nggak suka kamu deket sama cowok lain,” “IKUT AKU SEKARANG!” Tung-tunggu Alfa …” Alia hanya menoleh sekilas kearah Raka yang terdiam bahkan tak mengucapkan satu katapun tadi. Apa mungkin Raka memang tak peduli padanya selama ini. Tarikan yang Alfa berikan sedikit kasar dan terkesan pemaksaan untuknya , tapi ia tak bisa menolaknya atau sekedar membantah perkataan Alfa kali ini. “Alfa lepasin aku!” rintih kesakitan Alia melihat tangannya memerah karena genggamannya sangat erat. “ALFA!” teriak Alia penuh emosi melepas tangannya. “Kamu apa-apaan sih, “ “Apa yang kalian lakukan tadi?” suara penuh penekanan yang diberikan Alfa membuatnya mundur beberapa langkah ke belakang. “Bu-bukan apa-apa..” Tatapan yang diberikan Alfa membuatnya menciut dan tak berani menatap matanya langsung, ia paling tak suka melihat sorot mata kelam Alfa yang selalu mengintimidasinya. “Aku-aku hanya melihat mading, dan tiba-tiba kak Raka datang menghampiriku,” jawabnya terbata-bata dengan masih menundukan kepalanya tak berani menatap Alfa. “Benarkah?” “Ngapain aku bohong, udahlah aku mau balik ke kelas. Lebih baik kamu juga balik ke kelas, aku nggak mau lihat kamu bolos lagi,” bujuknya kini sedikit luluh. Alia berbalik meninggalkan Alfa yang masih terdiam di tempat, ia tak peduli padanya. ….. “Huftt…” keluh Alia meletakkan kepala di meja sebelah Keira sambil menghembuskan napas kasar. Keira yang masih sibuk dengan buku bacaannya tak terlalu menyadari keberadaan Alia yang duduk disampingnya. Ia masih fokus dengan buku yang sedang dibacanya. “Possesive Boyfriend?” Alia membaca judul buku yang saat ini dibaca olehnya. Tiba-tiba saja ia menegakkan kepalanya untuk melihat lebih jauh lagi. “Wah Kei, ini mah mirip gue,” ucapnya menyambar buku yang dibaca Keira. “ALIA!” dengusnya kesal. “ Lo lihat judulnya, sangat-sangat mirip sama cerita gue,” celotehnya yang tak ditanggapi oleh Keira. Ia kembali mengambil bukunya dari tangan Alia. “Kalau mirip sama lo, terus gue harus bilang WOOW gitu?” “Ih… Keira Mutiara Melody, saat lo baca buku ini hal pertama yang lo pikirin apa?” tanyanya “Apa? gue suka. Mau dong punya pacar kaya cerita ini.” Keira berangan-angan sambil tersenyum tak jelas. “Bukan gitu, maksud gue, dari ceritanya?” “Menarik.” “Dan tokoh di dalamnya mirip siapa?”Alia antusias. “Alfa?” jawabnya spontan “Yupp… Betul banget.” “Tapi dia bukan Alfa, ya sama-sama popular sih. Tapi disini dia itu sayang banget sama ceweknya, apalagi kalau ceweknya deket sama cowok lain, emm… dia pasti marah besar, padahal kan cuman ngobrol biasa.” Jelas Keira menceritaitukan isi dari novel yang sedang dibaca. “Itu mirip gue tadi, kenapa kebetulan?”batin Alia mengingat kejadian tadi saat bersama Alfa. “Terus?” Alia penasaran. “Akhirnya si cewek yang awalnya nggak suka sama kehadirannya perlahan mulai membuka hatinya, dan mereka bisa bersatu,” ujar Keira dengan nada centil. “Membosankan.” “Ini menarik, kalau nggak percaya, mendingan lo baca sendiri.” Keira memberikan buku novelnya untuknya, Buku dengan ketebalan sedang dengan cover putih berjudul Possesive Boyfriend kini ada di tangannya. *** Sebuah mobil sport putih terparkir di depan panti asuhan Kasih Bunda, ia turun dari mobilnya dan tak lupa melepas kacamata hitamnya. Suara tawa dari penghuni panti asuhan yang sangat ceria membuatnya merasa tenang. Seorang perempuan paruh baya dengan gelungan di belakang menatapnya bingung. Ia lalu mendekati laki-laki yang tengah menghampiri anak-anak yang sedang bermain ayunan di sebelah. “Maaf, ada yang bisa saya bantu?” tanya pemilik Panti. Laki-laki itu hanya menyunggingkan senyuman sebelum ia membalikkan badannya. “Bunda!” sapanya ramah. “Alan?” Alan, laki-laki itu menghampiri pemilik panti yang selalu ia panggil bunda, bunda Riana namanya. Keduanya saling berpelukan setelah berpisah cukup lama, mungkin sejak Alan meninggalkan panti asuhan 5 tahun yang lalu. “Alan rindu sama bunda,” ujarnya masih memeluk bundanya erat, rasa rindu dan juga kehangantan yang selalu diberikan bunda Riana padanya dulu masih sama. “Astaga Alan, kamu kemana saja selama ini, kamu nggak pernah mengunjungi bunda dan adik-adik kamu disini,” Bunda Riana sampai terisak menahan air matanya karena terharu. “Maafin Alan ya bunda, Alan jarang jenguk bunda, dan juga adik-adik disini. Sejak kebakaran di panti asuhan dulu. Alan sulit untuk mengubungi bunda dan yang lain,” jelas Alan terharu. “Nggak papa, yang penting kamu masih mengingat bunda dan panti asuhan ini. Kamu juga sudah besar dan bunda lihat kamu pasti jadi penyanyi terkenal sekarang,” Alan hanya tersenyum mengiyakan. Keduanya lalu masuk kembali ke panti asuhan itu, walau bukan panti asuhan tempat tinggalnya dulu, tapi suasanya masih sama, kehangatan yang di dalamnya selalu membuatnya tenang. “Sejak kebakaran 5 tahun yang lalu. Kami kehilangan semuanya. Tempat tinggal, tapi untung saja kami baik-baik saja, waktu itu bunda bingung bagaimana bunda harus mengurus anak-anak disini setelah panti asuhan terbakar. Akhirnya ada relawan yang sangat baik memberikan rumah ini sebagai panti asuhan.” Bunda Riana menceritakan semua kejadian yang dialaminya dulu. “Tapi tempat ini masih sama seperti dulu, “ “Yahh… bunda ingin anak-anak  betah tinggal disini. Jadi bunda buat rumah ini seolah panti asuhan kita yang dulu,” Timpalnya puas. “Alan, bagaimana dengan keluarga baru kamu, bunda yakin mereka pasti snagat menyayangi kamu.” giliran ia bertanya padanya. “Mereka sangat baik, Alan bahagia tinggal bersama mereka.” “Baguslah, bunda ikut senang.” “Alfa juga baik-baik sajakan bunda?” “Alfa?” Bunda menghela napas panjang sebelum kembali menceritakannya. “Kamu tahu sejak kepergianmu dulu, Alfa sangat sedih. Bahkan dia nggak mau keluar dari kamar selama 2 minggu, sampai seseorang datang dan membawanya, dan ingin merawatnya.” “Pasti Alfa sekarang sangat membenci aku bunda, Aku bukan kakak yang baik untuknya, padahal Alfa itu lemah tapi saat dia sakitpun aku nggak bisa melindunginya.” Alfa sedikit berkaca-kaca saat menceritakannya. “Kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Alfa nggak mungkin membenci kamu.” Alan malah tertawa kecil saat bunda Riana mengatakan Alfa tak akan membencinya. “Itu nggak mungkin bunda, Aku bukan Kakak yang baik untuknya,” ujarnya menunjukkan raut wajah sedih. “Alan. Kamu jangan berpikiran seperti itu.” “Tapi aku juga berharap bisa bertemu dengannya lagi,” harapnya menatap bingkai foto anak-anak yang tergeletak di meja dan salah satu anak dalam foto itu terlihat kembar dengan membawa boneka beruang kecil di tangannya. Priiit…. Suara peluit panjang mengakhiri latihan basket hari ini, namun tampaknya Alfa tak menghentikan bermain bola walau satu persatu temannya turun dari lapangan untuk beristirahat. “Alfa… istirahat dulu,” teriak Pelatih dari jauh. “Iya pelatih.” Ia menghentikan latihan basketnya dan kembali ke bangku untuk mengambil tasnya, tak lupa bola itu dibawa sambil memainkan di tangannya. Alfa duduk di bangku panjang bersamaan dengan anggota lain yang nampak kelelahan tadi. Tapi tak berlaku padanya. Justru apa yang dipikirkannya kali ini membuatnya pusing.  “Aku nggak suka kamu deket sama cowok lain,” “Aku-aku hanya melihat mading, dan tiba-tiba kak Raka datang menghampiriku,” “Benarkah?” “Ngapain aku bohong, udahlah aku mau balik ke kelas. Lebih baik kamu juga balik ke kelas, aku nggak mau lihat kamu bolos lagi,” Pertengkaran kecil mereka tadi justru mengganggu pikirannya. *** Alia berjalan dengan membawa setumpukkan buku menuju ke kantor guru sendirian. Tampaknya ia merasa kesusahan harus membawa buku sebanyak itu tanpa bantuan orang lain. Tak jauh dari tempatnya berjalan. Seseorang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah lalu berjalan pergi. Keduanya saling berpapasan saat berjalan berlawanan arah . Alia menoleh ke belakang memandang laki-laki itu seperti tak asing baginya. “Kayaknya pernah lihat sebelumnya,” Alia mencoba mengingat sesuatu “Tapi dimana ya?” kembali ia mencoba mengingatnya Alia menepis semua rasa penasaran dan kembali menuntaskan tugasnya membawa buku itu ke kantor guru. Orang yang baru saja berpapasan dengannya tadi berjalan dan berhenti tepat di depan lapangan basket yang saat ini sepi. Ia kembali tersenyum sekilas mengingat sesuatu. “Alan tangkap!” teriak seorang anak kecil sebaya dengannnya dan keduanya kini tengah bermain basket di lapangan kecil. Keduanya sama-sama menikmati permainan mereka. Anak laki-laki yang bersamanya tersenyum dan keduanya kembali bermain basket dengan semangat. Tapi hal itu berlangsung sangat cepat, sampai suatu hari mereka akan kembali bermain bersama. …… “Kamu nggak bisa main basket lagi Alfa,”  Alan melarangnya. “Kenapa? Aku suka basket,”kukuh Alfa kecewa dengan ucapannya “Percuma, kamu nggak akan bisa.” “Aku bisa, aku pasti bisa.” “Jangan membantah Alfa, kamu terlalu lemah untuk bermain permainan ini,”larangnya. “Tapi aku menyukai basket,” ucap Alfa penuh kekecewaan. Mungkin kata-katanya dulu terlalu berlebihan sampai melarang Alfa untuk bermain basket bersamanya, keduanya sering bermain basket di lapangan dekat panti asuhan saat kecil dulu, dan mereka terlihat sangat menikmatinya. Bukan tanpa alasan kenapa Alan melarangnya waktu itu. “ALFA!” suara teriakan seseorang memanggil Alfa mengejutkannya. Alan menoleh kebelakang mencari siapa yang baru saja memanggil Alfa. “Permainan lo tadi keren banget, gue jamin tim basket kita bakal menang untuk turnamen minggu depan. “ sahut laki-laki di sebelahnya dengan merangkul pundaknya. “Jangan senang dulu, lawan kita juga cukup tangguh. Aku dengar mereka juga pernah memenangkan turnamen tahun lalu,” timpalnya. Keduanya sembari berjalan menuju ke ruang ganti dengan masih memakai seragam olahraga sehabis latihan basket. “Alfa!” kejutnya saat melihat Alfa melewatinya begitu saja sambil merangkul teman di sampingnya. Namun sepertinya Alfa tak menyadarinya kehadirannya dan melewatinya begitu saja. “Alfa!” belum sempat ia memanggil namanya, Alfa dan yang lain telah masukan menghilang dari pandangannya. Aku menemukannya, Alfa ada disini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD