CHAPTER 4 : Alasan

1021 Words
Reading. "Sharen!!" Radith dengan pakaian khas Dokter menghampiri Sharen yang saat ini duduk di salah satu taman Rumah sakit. Radith lalu duduk di sebelah Sharen. "Apa semua baik-baik saja?" "Ya." "Bagaimana kondisinya sekarang, apa dia sering mengeluh sakit di kepalanya?" tanya Radith. Sharen hanya tersenyum tipis. " Dia lebih kuat dari Dokternya sendiri." jawab Sharen menoleh ke arahnya. "Aku harap sesuatu yang buruk tidak terjadi selama dia meminum obatnya teratur." ujar Radith. "Aku harap juga begitu." *** "Aww.... sakit...sakit!!" Avelo meringis kesakitan saat Alea mencoba mengobati luka lecet di siku tangannya akibat jatuh tadi. Sementara anak-anak panti hanya berdiri menatap ke arah laki-laki yang sama sekali tak di kenal itu. Alea selesai mengobati luka laki-laki itu dengan menempelkan plester di sikunya. Ia bahkan sama sekali tak bersuara sejak tadi. Wajahnya terlihat datar tanpa ekpresi. "Thanks." "Lain kali hati-hati." nasihat Alea membereskan kotak obat di sampingnya. "Kak Lea...si putih udah ketemu Kak!" seorang anak panti menghampiri Alea sambil menggendong seekor kucing. Kucing yang sama yang membuat Avelo tadi berteriak. "BWAAAA!!" dengan sigap Avelo bersembunyi di balik punggung gadis itu sesaat kucing yang dibawa mendekat. Suara tawa dari anak begitu riuh saat melihat Avelo takut dengan seekor kucing. "Ihh kakak... Udah gede takut kucing!" ledek anak panti. "Kucingnya kan lucu kak... Lihat!!" anak itu memperlihatkan kucing itu mendekat ke arahnya. "Jauhin makhluk itu!!" teriak Avelo. "Rika... Bawa si putih ke dalam!" perintah Alea. "Baik kak." Dengan sedikit gemetar, mata Avelo mendelik sedikit dari persembunyian di balik punggung Alea untuk memastikan kucing itu benar-benar pergi jauh. "Kalian balik aja ke dalam, nanti kak Lea nyusul!" pinta Alea. "Baik kak!" Segera anak-anak panti itu masuk ke dalam rumah. Avelo bernapas lega akhirnya kucing itu sudah pergi. "Kamu bisa pulang sekarang!" pinta Alea. "Heh?!" Saat Alea beranjak bangkit, tangan laki-laki itu justru menahannya. "Tunggu!!" Alea kembali menoleh saat kedua tangannya dipegang laki-laki itu. "Sorry!" segera Avelo melepaskan tangan itu dengan sedikit ada rasa canggung. "Nama gue Velo, nama lo siapa?" "Velo?" Alea menautkan kedua alis seakan pernah mengenal nama itu. "Lo udah ngobatin luka gue, jadi gue harus tau nama lo." Avelo mengulas senyuman. Dengan tangan gemetar Alea membalas uluran tangan Avelo. "Lea!!" "Lea? Makasih udah nolongin gue." Alea hanya mengangguk. "Ini panti asuhan milik lo?" tanya Avelo kemudian. "Aku tinggal di sini!" "Oh ya, sorry tadi gue ngangetin lo!" Avelo terlihat kikuk sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. Alea hanya mengangguk sambil mengulas senyum tipis. "Nggak papa!" Glup. Avelo menelan ludahnya payah, baru kali ini merasakan sesuatu bergemurung di dadanya. Seperti sesuatu yang mungkin akan lepas dari dalam saat melihat senyuman dari gadis di hadapannya sekarang. "Lo cantik!" tanpa sadar Avelo tersenyum. "Huh?" "Oh, maksud gue. Rumah ini cantik... Gue baru tahu, kalau ternyata di balik bukit ada panti asuhan. Padahal gue sering main ke bukit di belakang,tapi gue nggak tahu tempat." Avelo terkekeh. Alea kembali tersenyum. "Kamu lucu." "Oh ya?" Avelo tersipu. "ALEA!!" teriak om Fariz memanggilnya dari dalam. "Maaf, aku harus balik ke dalam,"pamit Alea meninggalkan Avelo. "Oh ya Lea, apa nanti gue boleh datang lagi ke sini?" tanyanya. Hanya anggukan yang diperlihatkan Alea saat ia berjalan menjauh. "Yes!" Avelo tersenyum senang sebelum berbalik. *** Di rumah Alfa duduk sendiri sembari menatap sebuah bingkai di meja kamarnya, sebuah foto keluarga yang tak lain adalah keluarganya. Diusap satu persatu wajah kedua orang tua kandungnya. "Aku rindu kalian!" Alfa menghela napas panjang dan berbaring telentang di kasurnya. ada sebuah bingkai foto keluarga barunya. Keluarga Vernandes sangat baik padanya terutama Sharen, orang yang pertama kali mengangkatnya sebagai anak saat itu. 10 tahun yang lalu Alfa kecil saat itu tengah duduk di taman rumah sakit dengan ditemani suster, lalu datang Dokter Radith dan juga Sharen menghampirinya. "Alfa!!" panggil Dokter Radith mendekat. "Bagaimana kondisi kamu? " Alfa hanya diam seakan acuh dengan kehadiran orang lain. "Oh ya, ada yang ingin bertemu kamu."Sharen mulai mendekat dan duduk di samping Alfa. "Hallo Alfa!" sapa Sharen. Alfa hanya diam, mungkin trauma dan rasa kesepian karena kehilangan kedua orang tuanya membuatnya sulit menerima semua ini. "Oh ya, tante punya permen. Kamu mau?" tawar Sharen. Alfa hanya menggelengkan kepala. Sharen berusaha membujuknya namun sepertinya akan membutuhkan waktu lama. .... "Ini wajar karena anak itu baru saja kehilangan keluarganya." ujar Radith saat mereka berada di ruangan Dokter. "Kamu yakin mau merawat anak itu?" tanya Radith sedikit ragu. "Kak Radith tenang aja, aku pasti akan bisa membuat anak itu kembali ceria lagi." "Baguslah kalau begitu. Aku harap anak itu kembali ceria lagi dengan kehadiran keluarga baru." Setiap hari Sharen menemui Alfa di rumah sakit dengan membawakan banyak hadiah mulai dari mainan dan buku, karena Alfa sangat suka membaca. Alfa yang awalnya acuh dengan kehadiran Sharen perlahan mulai menerima kehadiran orang lain--dan untuk pertama kalinya Alfa tersenyum saat mendapat hadiah mobil-mobilan yang diberikan Sharen. Dan hari itu, Alfa yang sudah dinyatakan sembuh diperbolehkan untuk pulang, ia juga sudah mau untuk pergi bersama Sharen pulang ke rumah--hanya ada satu masalah saat ia pertama kali masuk ke keluarga Vernandes. Sosok anak yang juga seumurannya nampak tak menyukai kedatangannya. "Avelo, kenalkan mulai sekarang Alfa akan tinggal disini, dia akan jadi kakak kamu." Alfa tersenyum mengulurkan tangan untuk bersalaman--namun apa balasannya, Avelo dengan kasar menampik uluran tangan itu dan memilihberlari ke kamarnya. "AVELO!!" teriak Exel mengejar anaknya yang marah dan masuk ke kamarnya. Pertemuan pertama dengan Avelo memang tak semulus yang ia bayangkan, jelas Avelo tak setuju saat orang lain masuk ke kehidupannya apalagi menjadi saudara. Alfa bisa menerima itu--bagaimana kebencian Avelo saat itu padanya. .... "Velo, lo dari mana?" tanya Alfa saat melihat kedatangan Avelo nampak kusut dan baru pulang sore harinya. "Bukan urusan lo, urus diri lo sendiri!" ketus Avelo masuk dan langsung menuju ke kamar. Avelo menutup pintu kamar dan langsung menjatuhkan diri di kasur. Ia merogoh sesuatu di saku celananya. Diambil ponsel miliknya dan kembali mencari foto gadis yang baru saja ia foto diam-diam. Avelo tersenyum penuh arti. Baru kali ini ia merasakan ketertarikan pada seorang gadis, tapi ada aneh dengan gadis bernama Lea yang baru saja ditemuinya, wajah dalam foto itu menunjukkan sisi lain dari Lea yang begitu murung seakan menyimpan sesuatu yang memang sengaja ia sembunyikan. "Lea!" "Padahal lo lebih cantik kalau tersenyum."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD